
“Ke Jepang?”
Retha mengangguk-angguk, “Iya, Jepang mas. Aku mungkin di Jepang bakalan beberapa hari, soalnya ada beberapa scene di filmnya yang lokasinya itu di Jepang.”
Jonathan mengangguk-angguk, dia menyuapkan waffle yang tengah dimakannya. Retha membuat kan makanan itu untuknya saat dia berkunjung ke rumah perempuan itu. “Apa aku ikut ke Jepang aja, ya?” tanya Jonathan, dia menoleh pada Retha yang langsung mengerutkan kening bingung.
“Kamu ada urusan juga di Jepang?” tanya Retha.
“Enggak juga sih. Aku emang ada anak perusahaan di Jepang, cuma aku gak terlalu ngurus yang di sana.”
“Terus, kenapa kamu ikut ke Jepang?”
Jonathan mengendikkan bahunya, “Ya, ikut kamu lah.”
Retha tersipu malu karena jawaban Jonathan. Dia terkekeh pelan, “Ngikut aku? Ngapain?” tanya Retha, dia tak habis pikir dengan kekasihnya itu.
“Ya, aku mau jaga kamu. Seminggu lama loh, mana tahan aku gak ketemu kamu.” jawab Jonathan polos.
Retha tak bisa menahan tawanya, dia langsung merangkul lengan Jonathan dan menyandarkan kepala ke bahu pria itu. “Adudu... Sayangku ini, bisa aja ya kalau ngomong. Ingat gak kalau dulu aja kita pernah loh gak ketemu lama... banget, tapi kamu bisa tuh tahan.”
Jonathan terkekeh, “Ya kan dulu, itu sebelum kita punya hubungan resmi kayak gini. Sekarang beda lagi lah.”
“Iya deh, iya yang lagi bucin-bucin nya sama aku. Mas Jo, mas Jo.”
“Emangnya kamu gak bucin sama aku?” tanya Jonathan, dia terlihat merajuk.
“Ih, bukan gitu maksudnya. Aku juga bucin kok sama mas Jo, tapi mas Jo tuh sweet banget gitu. Gak sangka aku, orang kalem kayak mas Jo yang selama ini aku kenal, bisa bucin kayak gini.”
Jonathan tersenyum menanggapinya. “Aku bucin juga sama kamu doang.”
“Iyalah, harus sama aku aja. Jangan sama cewek lain, gak boleh itu.”
“Iya dong. Jadi, gakpapa nih aku ikut kamu ke Jepang?” tanya Jonathan kembali, dia serius dengan niatnya.
Retha menegakkan tubuhnya kembali, “Jangan lah, mas. Nanti banyak yang curiga lagi.”
“Tapi kan di sana gak ada wartawan kita, Tha.”
Retha mengangguk, mengerti maksud Jonathan. “Iya, tahu. Tapi, kan banyak kru juga mas. Aku gak mau aja, hubungan kita ini ketahuan jadinya.” jelas Retha. “Lagian, seminggu doang mas, gak lama itu.”
“Aku kangen nanti,”
“Kan ada telpon, kita bisa telponan mas.”
“Iya, tapi kan—”
“Mas... Tolonglah, ngertiin aku sekali lagi.”
Jonathan menghela napas kasar, “Yaudah, mau gimana lagi.”
Retha tersenyum lebar, dia memeluk kembali Jonathan. “Makasih, ya mas Jo.” ucap Retha yang mendapat anggukan dari Jonathan.
“Oh, iya mas. Ada yang mau aku tanyain sama kamu.”
“Tentang?”
“Mas Jo tahu, gak mbak Edel sakit apa?”
Pertanyaan Retha itu sukses membuat Jonathan mengerutkan kening bingung. “Maksudnya?”
“Ituloh, mas. Kemarin aku gak sengaja ketemu mbak Edel di rumah sakit, aku pikir mungkin mbak Edel sakit?”
Jonathan terdiam, dia tak tahu jika Edelweis sakit. Namun, dia sempat mendengar kemarin jika Edelweis jatuh pingsan di kantor. Namun, Jonathan tak peduli dengan itu.
“Mas,” panggil Retha saat Jonathan justru terdiam.
Jonathan tersentak kaget, dia menggeleng. “Aku gak tahu dia sakit.”
“Semoga mbak Edel baik-baik aja, ya mas. Semoga dia sehat selalu.” ucap Retha, dia tulus mengatakan itu.
“Kamu kenapa baik banget ngedoain dia? Padahal kita tahu loh, gimana buruknya sikap dia sama kamu.”
Retha menggeleng, dia tersenyum tipis. “Setiap orang itu pasti baik. Dan, kalaupun dia jahat mungkin ada alasannya dan kita gak tahu kan alasannya apa. Bisa aja dulu ada sikap atau perlakukan aku yang gak bisa mbak Edel terima, makanya mbak Edel bersikap demikian sama aku. Tapi, aku yakin kalau mbak Edel tuh, baik sebenarnya.”
__ADS_1
Jonathan tersenyum senang mendengar ucapan Retha. “Gak salah aku jatuh cinta sama kamu.”
***
Edelweis memasuki area kantor seperti biasa, dia dengan santainya berjalan tanpa peduli dengan tatapan orang-orang terhadapnya. Mau mereka berpikir apa tentang Edelweis, perempuan itu tak akan peduli. Masa bodoh.
“Mbak Edel!”
Edelweis berhenti, dia menunggu Adinda yang berlari menghampirinya. Sontak apa yang dilakukan Adinda ini tak lepas dari mata semua orang yang melihatnya.
Adinda tersenyum lebar, ditangannya sudah ada goodie bag yang dia ulurkan untuk Edelweis.
“Apaan nih?”
“Ini makanan mbak. Ibu aku bilang, ini bagus buat...” Adinda tak melanjutkan ucapannya, dia hanya mengedip-ngedipkan matanya untuk mengode maksud dari ucapannya selanjutnya.
Edelweis yang paham pun langsung mengangguk. “Baik banget nyokap lo bawain ini. Berarti lo tinggal sama nyokap gitu?” tanya Edelweis, dia menerima goodie bag tersebut.
Adinda mengangguk, namun kemudian menggeleng yang membuat Edelweis mengerutkan kening bingung. “Enggak juga sih, mbak. Kadang-kadang aja ibu nginep di kontrakan aku. Dan, kebetulan sekarang ibu lagi nginep.”
Edelweis berohria, “Oh, jadi lo cerita dong sama nyokap lo tentang gue yang lagi—” Edelweis menatap perutnya.
Adinda meringis pelan, “Sorry, ya mbak. Soalnya ini tuh terpaksa banget. Aku kan lagi searching tentang makanan sehat buat ibu hamil, eh malah ketahuan sama ibuku. Dan, dia malah salah paham sama aku. Daripada aku kena omel, apalagi ibuku kalau marah tuh, serem mbak. Terpaksa deh aku bilang. Tapi, mbak tenang aja, ibuku—”
“Iya, iya, gak papa. Lagian, nyokap lo ini kan bukan anak kantor sini. Seenggaknya, lo gak melanggar janji lo.”
“Makasih, ya mbak udah gak marah.”
Edelweis mengangguk-angguk, “Makasih juga, ya udah bawain ini buat gue. Bilangin juga sama nyokap lo, thank you.”
“Siap, mbak! Berarti, mbak udah gak marah lagi sama aku karena masalah kemarin?” tanya Adinda hati-hati sekali, dia tak mau merusak suasana hati Edelweis yang sepertinya sedang baik-baik saja.
“Pengennya sih marah. Tapi, udahlah, biarin aja. Toh, sebenarnya kalau lo gak bisa, gue bisa suruh yang lainnya.”
“Makasih, ya mbak... Makasih... Banget!”
Edelweis berdehem, "Yaudah sana, balik kerja lo!”
“Iya, mbak, iya. Orang belum jam masuk ini. ”
“Dia bawain gue apa sih?” tanya Edelweis, dia penasaran dengan menu yang dibawakan Adinda untuknya. Awalnya dia bingung dengan menunya, namun saat dia memakannya dia bisa tahu makanan apa ini. “Tempe,” gumam Edelweis.
Edelweis tersenyum lebar dibuatnya, tak menyangka jika tempe yang merupakan menu sederhana bisa disulap jadi makanan lezat ini. “Enak juga ternyata.” puji Edelweis, tanpa sungkan dia menikmati makanan tersebut. Isi menunya itu ada tempe yang dipotong berukuran sedang di orak-arik, cah bayam juga nasi putih.
“Fix sih ini. Makanan yang Adinda bawa gak pernah ada yang gagal. Gue harus minta dia rutin bawain makanan buat gue.”
Dengan lahapnya Edelweis memakan kembali makanan itu.
“Pagi mbak Edel,”
Edelweis mendongak, dia tersenyum tipis pada Sinta yang menyapanya.
“Mbak Edel lagi sarapan, ya?” tanya Sinta melihat Edelweis tengah lahap menyantap makanan di pagi hari. Edelweis hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Oh, iya mbak. Kebetulan di tempat tinggal aku ada yang jualan rujak enak banget. Ini aku bawain buat mbak, biasanya kan yang hamil suka sama yang asam-asam seger, rujak pas banget sih mbak."
Edelweis tersenyum kikuk, “Oh, ya? Lo bawain ini buat gue?”
Sinta mengangguk, “Iya, mbak. Tapi, dimakannya nanti pas abis makan siang aja. Kalau sekarang, bisa-bisa mbak sakit perut lagi.”
Edelweis terkekeh, “Thank you, ya. Lo sama Adinda, perhatian banget sih sama gue.” ucap Edelweis, ada kesenangan yang dia rasakan karena ketulusan mereka.
“Iyalah. Kan kita gak sabar nunggu keponakan kita lahir.”
Edelweis langsung terdiam mendengar ucapan Sinta, entah kenapa dia justru tak yakin jika akan sampai tahap itu kehamilannya. Dia justru berpikir lain jadinya.
Dan, melihat keterdiaman Edelweis membuat Sinta meringis pelan. Dia sepertinya baru saja salah bicara.
“Sorry, ya mbak. Aku jadi anggap anak mbak nantinya keponakan. Padahal kan—”
“It's okay. Gue sih gak masalah kalau kalian mau menganggap kayak gitu.” potong Edelweis cepat, dia mengendikkan bahunya.
Sinta tersenyum lebar dan senang karena ucapan Edelweis. “Beneran mbak? Asik... Gak sabar deh jadinya. Pasti kalau perempuan, cantik kayak mbak,” ucap Sinta riang, dia benar-benar menantikan kelahiran anak Edelweis ini.
__ADS_1
“Dan ganteng kayak ayahnya.” ucap Edelweis dalam hati, tanpa sadar dia tersenyum tipis membayangkannya.
***
Entah kenapa, setiap kali dia memulai pekerjaan rasa mual selalu dia rasakan. Alhasil pekerjaannya jadi terbengkalai yang berakhir dia harus membawa kembali beberapa pekerjaan ke rumah.
“Lemas banget.” keluh Jonathan sambil menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya.
Terdengar pintu yang diketuk, tak lama kemudian pun terbuka menampilkan Roy yang datang membawa beberapa berkas sambil tersenyum lebar.
“Lemas amat bro.” ucap Roy saat pintu tertutup, dia menghampiri atasan sekaligus temannya itu.
Jonathan tak menjawab, dia yang tadi sudah bersikap seolah baik-baik aja kini kembali bersandar lemas ke kursi saat dia tahu siapa yang menemuinya.
“Gila Roy. Gue benar-benar lemas banget ini, gak ngerti lagi.”
“Lo kan gak punya riwayat lambung, ya? Kok bisa-bisa nya lo muntah terus. Apa lo abis salah makan?”
Jonathan berdecak, “Kalau salah makan harusnya udah sembuh. Lagian ini udah berhari-hari tapi gak sembuh juga.”
“Ya, lo udah periksa ke dokter?”
Jonathan menggeleng, “Gue pikir, ini bukan sesuatu yang harus sampai pergi ke dokter.”
“Nah, itu! Karena lo menganggap gitu, makanya tuh mual-mual gak hilang.”
Jonathan menghela napas kasar, dia menatap jengah Roy. “Lo ada apa kesini?” tanya Jonathan.
“Ada beberapa berkas yang harus lo tanda tangani.”
“Ya, lo kan bisa kasih ke sekertaris gue.”
“Pengennya sih gitu. Tapi, gue bingung nih mau kasih kesiapa. Sinta atau Edel. Mau kasih ke Sinta, gue takut Edel marah tapi kalau gue kasih Edel, lo pasti yang marah. Makanya, mending gue aja kasih langsung ke lo. Lagian, gue ada perlu yang lain juga.”
Jonathan menaikan sebelah alisnya, “Urusan apa?”
“Nih,” Roy tersenyum lebar saat melihat Jonathan terkejut kala dia menyerahkan surat undangan.
“Really?”
“Yaelah, gue gak sejelek itu kali sampai-sampai gak ada yang mau.”
“Bukan gitu maksud gue.”
Roy terkekeh, “Iya, iya, gue ngerti kok. Lo jangan lupa datang, ya ke acara pernikahan gue. Sekalian gue minta lobian lo dong. Kasih gue izin kek beberapa hari, agak banyakan gitu.”
Jonathan tersenyum lebar. “Bisa gue atur.” Jonathan beranjak dari duduknya dan menghampiri Roy kemudian menepuk-nepuk punggung temannya itu.
“Selamat, ya bro.”
***
Wajah Edelweis langsung berubah saat dia baru saja menggigit satu potong mangga dari rujak yang diberikan Sinta padanya. Sontak saja, air liur terasa penuh di mulutnya.
“Gila, asam banget!”
Edelweis menggeleng keras, dia membuang sisa potongan mangga yang di gigitnya, dia bahkan tak berminat sama sekali. “Ibu hamil suka yang asam-asam?” Edelweis bergidik ngeri. “Ih... Teori darimana coba. Gue bahkan gak berminat sama sekali makan mangga asam kayak gitu. Hoek.”
Edelweis segera membereskan rujak tersebut, kembali membungkusnya namun Jonathan yang baru saja keluar dari ruangannya membuat Edelweis dengan cepat beranjak berdiri. “Jo, lo mau makan siang, ya?” tanya Edelweis, dia tersenyum manis pada Jonathan yang menatapnya datar.
Jonathan tak tertarik dengan pertanyaan Edelweis, dia justru tertarik dengan potongan berbagai buah di meja Edelweis. “Apa tuh?” tanya Jonathan, dia mengendikkan dagunya.
Edelweis mengikuti kemana arah pandangan Jonathan, “Oh, itu rujak. Dibawain Sinta, tapi asam banget gila mangganya. Gue— Eh...” Edelweis tak percaya saat melihat Jonathan mengambil begitu saja potongan mangga tersebut menggunakan tusukan yang ada di sana.
“Enak,”
Edelweis mengerutkan keningnya bingung, dia terkejut melihat respon Jonathan. “Dih, enak dari mananya coba? Itu asam, gila!”
“Yaudah kalau lo gak mau, gue ambil.” Jonathan bahkan tanpa sungkan mengambil rujak tersebut bersama bungkus-bungkusnya.
“Ih, jangan Jo! Lo bisa sakit perut gila makan mangga asam kayak gitu.”
Jonathan mengendikkan bahunya acuh, dia melenggang begitu saja meninggalkan Edelweis.
__ADS_1
Edelweis mendengus pelan, dia memicingkan mata menatap kepergian Jonathan. “Yang hamil siapa, yang ngidam siapa.”