Sandiwara

Sandiwara
Takut


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 20:49 namun Rara belum juga siuman.Angga tetap setia menjaga nya.


Ya, Angga membawa Rara ke rumah sakit mana mungkin ia membiarkan Rara di parkiran dalam keadaan pingsan,dan tidak mungkin juga ia membawa kerumahnya, bisa-bisa ia akan di interogasi oleh Ayah dan Bundanya.


"Engghh," lenguhan Rara yang mulai tersadar dari pingsannya selama kurang lebih 3 jam dan sekarang ia memakai infus karena bila tidak menggunakan infus akan membuat Rara semakin parah.


"Aduhh gue dimana?" tanya Rara pada Angga yang sedang duduk disamping ranjangnya.


"Udah sadar,lo di rumah sakit," jawab Angga kurang senang karena waktunya tersita hanya untuk menjaga Rara dan dia pun belum pulang ke rumah, pasti kini orang tuanya sedang khawatir.


"Ha dirumah sakit, kenapa lo gak antar ke rumah gue?" tanya Rara pada Angga dengan nada yang sedikit protes.


"Mana gue tau rumah lo,nama lo aja gak tau," jawab Angga dengan nada yang memberi kode.


"Bilang aja lo ngode gue biar kenalan,gue Rara Angeline," ujar Rara memperkenalkan nama lengkapnya.


"Gue Angga Praditya Saputra," ujar Angga pada Rara.


"Ehh,minjam hp dong," Ujar Rara pada Angga.


Angga memberi handphone nya kepada Rara,Rara pun mencoba menelpon nomor Papanya namun tidak diangkat,ia pun menghubungi nomor Mamanya dan diangkat.


"Halo ini siapa ya?" ujar orang diseberang sana yg tak lain adalah Mamanya.


"Ini Rara Ma," jawab Rara.


"Ohh Rara,kamu lagi dirumah kan, maaf ya Mama tadi pergi ke luar kota gak nunggu kamu pulang dulu dan gak bilang-bilang karena tadi mendadak," ujar Mamanya panjang lebar.


"Ma tapi Rara lagi di ..." belum sempat Rara menjelaskan tetapi sudah dipotong oleh Mamanya.


"Sayang nanti telepon lagi ya Mama sibuk," ujar Mamanya yang menutup secara sepihak telepon itu.


Tut..tut..tut


Rara pun membeku ditempatnya tak habis pikir dengan jalan pikiran kedua orangtuanya baru saja dua hari yang lalu mereka datang namun sekarang sudah pergi lagi, tanpa diizinkan setetes air mata telah membasahi pipinya.


"Kok lo nangis, cerita dong sama gue?" ujar Angga yang penasaran mengapa Rara menangis setelah menerima telepon itu.


"Gue baru kenal sama lo," ujar Rara yg tiba-tiba bersikap dingin kepada Angga, sikapnya sangatlah berbeda dengan yang tadi.


"Kan gak ada salahnya cerita siapa tau gue bisa bantu?" ujar Angga yang mencoba mencairkan suasana.


"Semua orang butuh privasi," jawab Rara dengan nada yang masih dingin dan dengan wajah yang datar.

__ADS_1


"Yaudah gue antar lo pulang."


••••


Canggung


Begitulah suasana didalam mobil sekarang tak ada yang membuka suara ,Rara hanya menunjukkan jalan kerumahnya dengan arahan tangannya.


Dan sekarang mobil itu sudah ada di depan rumah Rara, gelap itulah suasana dirumah Rara tak ada penerangan karena bi iyem pembantu di rumah Rara sedang pulang kampung, dan mang kasep supir Rara menjadi supir orang tuanya keluar kota.


"Makasih," ucap Rara dingin sambil membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.


"Sama-sama," balas Angga, Angga pun menunggu sampai Rara masuk ke dalam rumah namun Rara hanya berdiri di depan gerbang rumahnya sambil menatap rumah mewah nya itu.


"Nih anak kenapa," batin Angga yg melihat Rara tak kunjung masuk,ia pun memutuskan untuk keluar dari mobil dan menghampiri Rara.


"Lo kenapa?" tanya Angga pada Rara namun Rara diam tak menjawab,Rara pun melihat ekspresi Rara yang ketakutan, Angga berpikir apakah Rara takut dimarahi oleh orangtuanya? tapi tak mungkin dirumah nya saja tak ada satupun orang


Satu kata terlintas dipikiran Angga.


"Ppffrrt, hahahhh," tawa Angga seketika meledak membuat Rara menoleh kepadanya,ntah apa yang sekarang ada dipikiran Angga.


"Lo takut gelap ya?" tebak Angga dengan nada menggoda disertai dengan tawa,membuat Rara malu.


Angga lah orang ketiga yang mengetahui bahwa Rara takut pada gelap setelah bibi dan supir nya, orangtuanya tentu saja tak mengetahui hal itu karena mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Iya gue takut gelap, puas lo," ujar Rara dengan ekspresi yang marah.


"Hmm yaudah gue temanin deh masuk." Angga pun memegang tangan Rara.


Rara pun membuka rumahnya menggunakan kunci yang biasa ia bawa kemana-mana karena orang tuanya sangat sering pergi secara mendadak.


Sesampainya didalam rumah Rara pun menghidupkan semua lampu dengan dibantu penerangan dari hp Angga dan tangan Angga senantiasa menggenggam jari jemari Rara.


"Udah kan gue balik dulu," ujar Angga pada Rara sembari melepaskan genggaman mereka.


"Makasih ya," ujar Rara pada Angga bukan dengan wajah dingin dan datar tapi dengan senyum yang hangat.


"aduh manis banget sih senyumnya," batin Angga sambil menatap Rara lekat.


"Yaudah sana balik," ujar Rara seperti nada mengusir ,membuat Angga tersadar dari lamunannya.


"I-i-ya iya." Angga ia pun keluar dari rumah Rara dan langsung mengendarai mobil nya.

__ADS_1


••••


Angga pun sudah sampai di rumahnya pukul 09:02 ia pun memarkirkan mobilnya di samping rumah dan masuk mengendap-endap agar tidak ketahuan orangtuanya untung saja pintu rumahnya tak dikunci.


Angga mengendap-endap sampai menuju kamar nya dilantai dua ia pun telah tiba didepan kamar nya tinggal selangkah lagi maka ia akan selamat dari orangtuanya, namun,


"Dari mana kamu?" tanya orang itu yg tidak lain adalah BundanyaAngga pun berbalik badan dan melihat Bundanya yang sedang melipat tangan didepan dada.


"m..mm a-anu Bun itu ta-tadi main PS dirumah temen," jawab Angga dengan nada yang sangat gugup.


"Gak usah bohong, kamu kemana?" tanya Bundanya lagi dengan nada penekanan,ia tau bahwa putra semata wayangnya ini pasti sedang berbohong.


"Tadi Angga nolongin teman pingsan, terus Angga bawa kerumah sakit,ya mau gak mau Angga tungguin sampai sadar," jawab Angga dengan jujur.


"Lain kali telepon dong Bunda jangan bikin khawatir,kamu udah makan kan?" ujar Bundanya yang terlihat cemas dengan keadaan Angga.


"Udah Bun," jawab Angga singkat.


"Yaudah ganti baju terus tidur," ujar Bundanya lalu pergi meninggalkan Angga, belum sempat Bundanya pergi sudah ditahan oleh Angga.


"Bun jangan bilang Ayah ya," ujar Angga dengan nada yang cemas.


"Iya," ucap Bundanya lalu segera pergi.


Angga memang sangat takut bila Ayahnya tau kalau ia pulang malam bisa bisa ia diikat di pohon kelapa belakang rumah seperti waktu itu saat ia kelas 2 SMP sungguh mengerikan apalagi Angga diikat semalaman lalu pagi nya dilepas ditambah lagi ceramah gratis dari Ayahnya.


Angga pun segera masuk kamar lalu membersihkan dirinya setelah itu ia berbaring diranjang namun ia belum tertidur ia memikirkan kejadian hari ini.


"gila imut banget tu cewek tadi, tapi sayangnya tomboy, cewek langka kayak gini yg gue suka." Angga membatin sambil menghayalkan wajah Rara tak lama kemudian ia telah memasuki dunia mimpi.


📖📖📖📖


Hello kelen-kelen


Halo para readers jadi gimana cerita aku


Bagus gak?


Comment ya kasih juga bintang buat aku biar tambah semangat nulisnya


Salam


Lyra

__ADS_1


Next.....


__ADS_2