Sandiwara

Sandiwara
Ep.38 - Obrolan di Rumah Sakit


__ADS_3

“Jo, bisa, gak? Gak usah nginap disini. Gue mau pulang aja.”


Jonathan mendongak, menatap Edelweis yang baru saja berucap lirih padanya. “Lo gak dengar dokter bilang apa tadi?” tanya Jonathan, dia malas berdebat dengan Edelweis hanya karena hal yang seharusnya Edelweis sudah tahu apa dampaknya.


Edelweis mengangguk pelan, “Dengar kok, kan telinga gue masih berfungsi normal. Tapi, gue gak mau nginap disini. Gue—”


“Yaudah, kalau lo dengar apa yang dokter bilang harusnya lo gak usah tanya lagi. Lo ikutin aja apa yang dokter minta. Sekali-kali jangan batu apa! Jangan egois, ini juga demi kebaikan lo sendiri.”


Edelweis menghela napas kasar, dia menatap sebal Jonathan. “Yang egois itu, lo! Bukan gue! Coba aja tadi lo mau sedikit aja cicipi masakan gue, mungkin gak akan kayak gini. Gue gak akan masuk rumah sakit, bahkan harus di rawat semalam disini.”


Jonathan tak terima disalahkan, dia hendak menyangkal namun Edelweis lebih dulu berucap kembali.


“Iyalah, salah lo. Gue capek-capek belanja, belajar, masak, cuma demi lo. Tapi, balasan lo apa? Lo malah tolak dan justru lempar makanan gue gitu aja. Makanan yang udah gue buat jadi terbuang, semua yang udah gue lakuin pun jadi sia-sia.”


Jonathan memicingkan matanya, “Gue gak lempar itu makanan, ya. Lo nya aja yang—”


“Ya, harusnya lo terima lah, cicip dikit kek.”


“Tapi, kan gue udah bilang kalau gue—”


“Sttt... Gak usah mendebat gue! Diam!”


Jonathan langsung diam, sedangkan Edelweis mencebik kesal.


“Gak mau tahu! Pokoknya gue mau pulang sekarang!”


“Del—”


“Gue gak suka disini! Gue gak betah ditempat ini! Pokoknya, gue mau pulang!”


Jonathan menghela napas kasar melihat keras kepalanya Edelweis. Dia mendongak angkuh, melipat tangan didepan dada kemudian mengedikkan dagunya. “Yaudah, pulang. Tapi, jangan salahi gue lagi kalau dia kenapa-napa.”


Edelweis langsung terdiam, refleks dia menatap perutnya.


“Kalau lo gak suka tempat ini, seengaknya berusaha buat bertahan semalam aja buat dia. Supaya dia gak kenapa-napa.” ucap Jonathan yang sukses membuat Edelweis melirik pria itu. “Itu pun, kalau lo peduli.” Jonathan mengedikkan bahunya, dia berbalik berniat pergi meninggalkan Edelweis.


“Emangnya lo juga peduli? Lo peduli sama anak ini?”


Pertanyaan Edelweis sukses membuat Jonathan mengurungkan niatnya yang hendak pergi. “Kalau gue gak peduli, gue gak akan bawa lo kesini.” jawab Jonathan kemudian berlalu pergi meninggalkan Edelweis yang tanpa sadar tersenyum simpul.


“Ternyata kamu diterima.” gumam Edelweis sambil mengusap janin di perutnya saat Jonathan menghilang dibalik pintu.


***


“Lo belum tidur?”


Edelweis menatap Jonathan yang baru saja memasuki kamar inapnya setelah tadi pergi selama hampir 2 jam.


Edelweis mengerucut bibirnya, “Lo darimana sih? Pergi lama banget.” keluh Edelweis, dia mendengus kesal pada Jonathan yang menghampirinya.


“Gue abis makan, lapar.”


“Ih, jahat banget! Gue disini kelaparan dan lo malah enak-enakan makan. Parah banget.”


“Loh, emangnya lo belum makan?” tanya Jonathan terkejut, namun dengan cepat dia mengubah raut wajahnya jadi biasa-biasa saja. Jangan sampai Edelweis berbesar hati.


“Ya, belum lah! Apa perlu gue perjelas lagi kejadian tadi? Kejadian dimana masakan gue—”


“Udah, udah, stop! Capek gue dengar lo ngeluh hal yang sama terus!”


Edelweis mencebik, dia memutar bola matanya malas.


“Jadi, lo mau makan?”


Edelweis menatap Jonathan, dia mengangguk.


“Yaudah.”

__ADS_1


Edelweis menahan tangan Jonathan saat pria itu hendak beranjak. Jonathan menatap tangan Edelweis di lengannya, ada desiran sebenarnya namun dengan cepat dia melepaskan tangan wanita itu.


“Mau kemana?”


“Lo bilang lo mau makan. Yaudah, gue pesan makanan dulu.”


“Kok gak tanya sih gue mau makan apa?” keluh Edelweis, dia mencebik. “Nanti kalau makanannya gak sesuai kemauan gue, gimana? Kan ke buanglah, sayang.”


Jonathan menghela napas kasar, “Yaudah. Mau apa?”


“Terserah.”


Jonathan ternganga mendengar jawaban Edelweis, kesal dia rasakan saat mendengar jawaban itu. Sedangkan, Edelweis justru terkekeh melihat raut wajah yang ditunjukkan Jonathan.


“Becanda... Ya Allah... Biasa aja dong mukanya, gak usah mesem gitu!” ucap Edelweis, dia terkekeh.


Jonathan berdecak, dia memutar malas bola matanya. “Buruan, mau apa?” yang Jonathan malas.


“Tadi lo makan apa?”


“Apa sih, Del? Tinggal jawab aja lo pengen makan apa. Gampang banget juga.”


“Ya, lo juga tinggal jawab aja tadi abis makan apa. Kenapa susah banget coba?”


Edelweis tak pernah mau kalah.


“Nasi Padang.”


Edelweis tersenyum lebar, “Oh, nasi Padang.” Edelweis mengangguk-angguk.


“Lo juga mau nasi Padang?”


Edelweis menggeleng, “Enggak. Siapa yang bilang?”


“Ya, terus maksud lo tanya gitu apa?”


“Nyebelin lo.”


Edelweis terkekeh, “Iya, iya, sorry... Gemas banget sih lihat lo yang kesal kayak gini.”


Jonathan mengibaskan tangannya, dia berbalik meninggalkan Edelweis. “Terserah lo lah!”


“Gue pengen bakso, ya, Jo. Bakso Malang. Gue tunggu loh...” ucap Edelweis, dia sedikit berteriak karena Jonathan sudah keluar dari kamarnya.


Edelweis terkekeh membayangkan wajah kesal Jonathan.


***


“Kan gue minta bakso Malang, Jo. Lah, kenapa yang datang justru nasi sama sayuran coba? Perasaan gak ada yang request makan itu deh.”


Edelweis menatap tak berselera makanan dihadapannya.


“Jangan aneh-aneh deh, Del.” timpal Jonathan, dia menatap jengah Edelweis. “Lo baru aja pendarahan, masa makan bakso. Aneh.”


Edelweis mendongak, dia mengerutkan keningnya. “Loh, emangnya gak boleh?”


“Menurut, lo?”


“Boleh kayaknya.”


Jonathan menghela napas kasar. “Udah, jangan aneh-aneh. Buruan makan, abis itu lo minum obat.”


Edelweis menggeleng, dia menjauhkan piring makanan itu dari hadapannya. “Enggak, ah. Gue gak mau makan itu, gak nafsu.”


“Del, itu makanan bagus buat lo. Sehat. Brokoli, asparagus, nasi, ada dagingnya juga kan? Itu bagus, Del.”


“Tapi, gue gak mau, Jo. Gue kan maunya bakso.” tolak Edelweis, dia memang sangat ingin bakso tiba-tiba.

__ADS_1


“No!”


“Ih, gue kan—”


“Demi dia, Del.”


Kalau Jonathan sudah mengatakan itu, maka tak ada alasan untuk Edelweis menolaknya. Sulit rasanya untuk menolak sesuatu yang sebenarnya baik untuk janin dikandungnya, mengingat juga dia baru saja mengalami pendarahan.


“Yaudah, deh.” putus Edelweis akhirnya. “Tapi, gue pengen disuapin sama lo.” pinta Edelweis, dia tersenyum simpul.


“Gak usah manja.”


Edelweis mengerucut kan bibirnya, dia langsung menjatuhkan pelan tubuhnya, kembali merebahkan diri diatas ranjang. Dengan wajah dibuat pilu, dia mulai bersandiwara.


“Aduh... Gue lemas banget, abis pendarahan tadi. Pengen makan, tapi lemas banget. Pengen disuapin deh.”


Mata Jonathan sudah menyipit melihat Edelweis yang melakukan sandiwara. “Apaan sih, Del? Gak jelas banget.”


“Huhuhu... Suami ku gak peka. Istrinya lagi sakit karena pendarahan juga. Mau makan disuapin aja, dia gak mau. Padahal kan juga demi kebaikan anaknya sendiri.”


Jonathan menghela napas kasar, dia memutar malas bola matanya. Dia beranjak dari duduknya, mendekat pada Edelweis. Dengan malas, dia mengambil piring berisikan makanan untuk Edelweis dan menyendokkannya kemudian mengarahkannya pada wanita itu.


“Buruan, makan!”


Edelweis tersenyum lebar, dia merasa menang. Dia langsung membuka mulutnya, menerima suapan dari Jonathan.


“Hm... Enak deh disuapin sama suami.”


“Jangan banyak omong, makan yang benar.”


“Iya, iya, suami.” ucap Edelweis, dia terkekeh. “Makasih, ya, ayah. ” ucap Edelweis lagi, dengan suara khas anak kecil yang dibuatnya.


Jonathan hanya diam saja, pria itu seakan tak peduli dengan apa yang diucapkan Edelweis.


“Enak banget ternyata, Jo. Eh, tapi ini karena makanannya emang enak atau karena lo yang suapin?” tanya Edelweis, dia membulatkan matanya, menaikkan kedua alisnya kemudian terkekeh.


“Lo cukup diam dan makan dengan tenang, gak usah banyak omong.”


“Lah? Mulut kan diciptakan supaya kita bisa berkomunikasi, bisa bicara. Kalau kita diam, gak banyak omong, terus manfaatnya mulut diciptain apa? Nanti sia-sia dong. Udah dikasih mulut buat ngomong, tapi gak boleh ngomong, disuruh diam aja, mingkem.”


“Emang mulut diciptain supaya kita bisa ngomong. Ingat, ngomong! Bukan banyak omong! Paham kan sampai sini?”


Edelweis mencebik saat Jonathan bisa membalas ucapannya. “Tapi, sayangnya gue mau memanfaatkan mulut gue ini buat banyak omong. Gimana, dong?”


Jonathan diam, tak berminat membalas kembali ucapan Edelweis.


“Lo gak ada niatan minta maaf gitu?”


“Buat apa?”


“Ya, kan gue bisa ada disini tuh karena lo. Coba aja kalau lo—”


“Maaf.” potong Jonathan cepat, dia menaikkan sebelah alisnya. “Puas?” tanya Jonathan yang mendapat gelengan dari Edelweis membuat dia mengerutkan kening bingung.


“Ya, karena lo gak ikhlas minta maafnya. Coba aja kalau minta maafnya tulus, pasti gue juga maafin kok.”


Jonathan memgendikkan bahunya, “Yaudah, gak masalah kok. Lagian, gue juga gak berharap dimaafin sama lo.”


“Tuh, kan...” Edelweis menyipitkan matanya, dia menunjuk Jonathan. “Gak ikhlas tadi minta maafnya.”


“Udah, deh, Del. Jangan banyak omong. Pusing gue dengarnya. Udah, lo makan aja. Masih mending loh gue mau disini dan suapin lo. Kalau gue udah males, gue udah cabut dari tadi.”


“Lo gak akan mungkin pergi.” ucap Edelweis, dia menatap lekat Jonathan.


“Kenapa, enggak?”


“Karena lo peduli sama kita. Iya, kan?”

__ADS_1


__ADS_2