Sandiwara

Sandiwara
Ep.30 - Waffle buatan Edelweis


__ADS_3

“Oh... Jadi, Jo suka waffle? Udah, itu aja Mam?” tanya Edelweis, handphone dia tempelkan disebelah telinga, sedangkan tangannya yang lain sibuk mencatat apa-apa saja yang diucapkan ibu mertuanya.


“Gak ada request topping khusus gitu?”


“Oh... Oke, deh Mam. Makasih banyak, ya mam buat infonya. I love you. Bye...”


Edelweis tersenyum lebar, dia menatap tab nya yang berisikan catatan dari Emmeline yang ditulisnya. Namun, senyumnya hilang seketika saat dia sadar jika dia tak begitu hapal dengan bahan-bahan untuk membuat waffle.


“Terus, gimana dong? Apa gue pesan online aja, ya? Suruh orang buat beli? Atau—”


Edelweis menatap Sinta yang baru saja kembali dari toilet, senyuman pun kembali terbit dibibirnya. Sinta yang bingung dengan tatapan Edelweis pun, mengerutkan keningnya.


“Kenapa, mbak?” tanya Sinta sambil duduk di kursinya, dia tersenyum kikuk.


“Lo bisa bikin waffle, gak?”


“Waffle?” Edelweis mengangguk. “B aja sih, mbak. Disebut bisa, ya, emang bisa gitu. Tapi, kadang banyak gagalnya.”


Edelweis langsung mengerucutkan bibirnya.


“Emangnya kenapa, mbak? Mbak mau bikin waffle?” tanya Sinta yang diangguki Edelweis. “Kenapa gak minta tolong sama Adinda aja? Dia kan bisa tuh bikin brownies, pasti juga bisa bikin waffle.” saran Sinta.


Edelweis menjentikkan jarinya, membenarkan saran yang diberikan Sinta. “Yaudah, lo punya kan nomor Adinda? Coba deh, lo hubungin dia dan tanya apa dia bisa atau enggak? Kalau bisa, sepulang kantor, dia bantuin gue gitu.”


Sinta mengangguk, “Oke, mbak. Aku telpon Adinda dulu, ya.”


Edelweis mengangguk, dia tersenyum lebar. Tak sabar nantinya membuat waffle kesukaan Jonathan kemudian mendapat pujian dari pria itu. Semoga saja.


***


“Maaf, ya mbak. Soalnya aku udah janji sama ibu hari ini pulang cepat, mau antar ibu ke tempat saudara.”


Edelweis mengerucutkan bibirnya, dia kecewa dengan penolakan yang diberikan Adinda. Namun, mana mungkin dia memaksa. Bisa sih Edelweis memaksa dengan syarat alasan Adinda bukan tentang ibunda. Kalau sudah berhubungan dengan seorang Ibu, apalagi janji pada ibu, Edelweis tak bisa untuk merusaknya begitu saja.


Edelweis berdehem, dia mengangguk.


“Mbak Edel jangan marah dong. Janji deh, lain waktu aku pasti bakal ajarin mbak.”


Edelweis menghela napas kasar. “Yaudah sih, mau gimana lagi. Gakpapa kok.”


“Beneran mbak?”


“Iya...”


“Gimana kalau sebagai gantinya, aku antar mbak buat beli bahan-bahan nya? Kayaknya masih keburu deh kalau cuma buat beli bahannya aja.”


Edelweis menggeleng, “Gak usah deh, gue bisa pesan online. Lo cuma kirimin aja, ya apa yang perlu gue siapin.”


“Oh... Oke deh, kalau begitu nanti aku chat, ya. Eh, tapi kan aku kan gak punya nomor mbak.” ucap Adinda, dia lupa jika dia tak satupun menyimpan kontak Edelweis.


Edelweis mengulurkan ponselnya, “Ya, makanya lo tulis nomor lo.”


“Oke, mbak.”


Setelah nomor Adinda tersimpan di ponsel Edelweis, dia menghubungi Adinda kembali untuk memastikan jika nomor tersebut benar adanya. Dan, saat ponsel Adinda berdering artinya nomor itu benar.


”Yaudah, lo jangan lupa kabarin gue, ya.”


Adinda mengangguk, “Siap, mbak. Nanti aku chat, ya. Yaudah, aku pulang duluan.”

__ADS_1


“Oke, hati-hati.”


“Mbak juga hati-hati.”


Edelweis melirik jam di pergelangan tangannya, dia harus sampai di rumah lebih cepat dari Jonathan. Dan harus mempersiapkannya agar saat Jonathan sampai, waffle yang dia buat sudah siap. Meskipun biasanya juga Jonathan pulang malam, bahkan tengah malam. Entah kemana sebenarnya pria itu pergi.


***


“Tepung terigu, milk, margarin, gula pasir, telur, baking powder.”


Edelweis rasa, semua info bahan untuk waffle yang dia dapat dari Adinda sudah semuanya ada. Jadi, sekarang Edelweis tinggal mengeksekusinya.


“Oke, Del. Ini gampang banget buatnya, lo tinggal ikutin aja step by step nya and tara... Pasti waffle yang enak bakalan tercipta. Gue yakin itu. ”


Sebelum memulainya, Edelweis mencuci tangannya terlebih dahulu.


“Campurkan tepung terigu dengan baking powder, lalu campur dengan gula pasir.”


Edelweis mengangguk-angguk, dia mengambil tepung terigu yang masih terbungkus rapat itu. Diambilnya gunting untuk membuka kemasan tepung tersebut. “250 gram itu seberapa banyak? Mana gue gak ada timbangan lagi. Gimana nih.” ucap Edelweis, dia mendesah frustasi. Baru saja memulai, sudah ada saja kesulitannya.


Namun, bukan Edelweis namanya jika tak menyelesaikan apa yang sudah dia mulai dan niatkan itu. “Bodoh amat, gue pakai feeling aja deh. Orang-orang juga banyak tuh yang masak pakai feeling.” Edelweis menuangkan begitu saja tepung tersebut kedalam bowl berukuran sedang. “Eh, kebanyakan gak sih? Ya elah, feeling gue jelek banget sih.”


Edelweis menghela napas kasar. Merasa terigu yang dia tuangkan terlalu banyak, dia pun berinisiatif mengembalikan tepung tersebut ke kemasannya kembali. Naasnya, Edelweis kurang ber hati-hati, alhasil tepung yang seharusnya masuk ke kemasan justru tumpah begitu saja mengotori meja dapur.


“Yaelah... Gak benar banget sih gue. Oke, itu gakpapa, namanya juga permulaan kan? Biasanya yang berantakan gini, hasilnya selalu memuaskan.”


Entah teori darimana, Edelweis percaya saja dengan keyakinan itu.


“Baking powder,” Edelweis mengambil kemasan baking powder, membukanya dan langsung memasukkan satu sendok teh sesuai instruksi kedalam bowl berisi tepung itu. “And, telur.”


Meski dengan segala kesusahan yang dia lakukan, Edelweis bisa juga memecahkan dua telur tersebut meskipun harus dibarengi dengan pecahan kulit telur yang tercampur di adonan juga kuning telur yang langsung pecah begitu saja.


Edelweis kembali membaca pandangannya, dia mengangguk-angguk dan mengambil bahan selanjutnya. “Milk and sugar. Dan, gue tinggal campur aja.” Edelweis segera mengeluarkan hand mixer, dia tersenyum lebar.


Edelweis bukan tipe perempuan yang suka di dapur, bahkan dia dilarang hanya untuk menyentuh dapur sejengkal pun. Tapi, demi Jonathan dia memberanikan diri. Dan, waffle adalah makanan kedua yang dia buat setelah bubur sebelumnya.


“Pegal juga ternyata.” Edelweis sudah mengeluh saja, padahal baru beberapa saat dia mencampur bahan-bahan itu, bahkan belum tercampur sepenuhnya itu adonan. “Lah, ini cair banget gila. Mana jadi waffle ini? Apa, gue tambahin tepung lagi?”


Menuruti instingnya, Edelweis memasukkan kembali tepung. Namun, bukannya mendapat adonan yang pas, dia justru membuat adonannya menjadi kental, sangat kental malah. Hingga akhirnya dia terus mencoba hingga akhirnya mendapat adonan yang dia rasa sudah sempurna.


“Udahlah, udah pas kali ini.” Edelweis mengedikkan bahunya saat dia mengangkat adonan tersebut dan dirasa lebih baik dari sebelumnya. “Margarin deh terakhir, udah, selesai. Tinggal di cetak aja.”


Hasil melihat tutorial internet, Edelweis bisa juga menggunakan alat pemanggang waffle tersebut. Satu persatu adonan dia tuangkan ke cetakan, dia menunggu dengan harap-harap cemas waffle yang akan dia buat. Beruntungnya, Edelweis menggunakan alat pemanggang waffle electric, jadi tinggal menunggu alat tersebut bunyi, artinya waffle yang dia buat sudah siap.


“Ah... Ternyata buatnya gak sesulit gue kira.”


Memang, ya kalau belum dicoba itu pasti tidak tahu sulit mudahnya hal tersebut. Beruntungnya Edelweis mau mencoba, jadi dia tahu jika apa yang dia anggap sulit, ternyata mudah juga. Dan, sepertinya memang harus ada alasan khusus untuk mematahkan pemikiran buruk itu, contohnya Edelweis. Demi Jonathan, dia rela turun ke dapur, melawan sesuatu yang bukan dirinya sebelumnya.


“Ah... Mudah sekali. Tinggal gue plating, jadi deh. Gak sabar, lihat reaksi senang Jo nyobain waffle yang gue buat.” Edelweis tersenyum lebar, dia tak sabar.


Namun, sayangnya Jonathan tak pulang tepat waktu seperti biasanya pria itu pulang. Bahkan, waktu hampir menunjukkan jam satu malam pun, pria itu belum juga terlihat tanda-tanda akan pulang.


“Jo mana sih, kok gak pulang-pulang.” keluh Edelweis, dia mengerucutkan bibirnya, rasa kantuk sejak tadi menyerangnya. Namun, sebisa mungkin dia melawannya, dia mau melihat langsung reaksi Jonathan memakan waffle buatnya.


Edelweis menguap, dia melipat tangan diatas meja dan menjatuhkan kepalanya disana. Niatnya bukan untuk tidur, namun apa daya dia tak bisa menahan rasa kantuk semakin lama lagi. Alhasil, dia jatuh tertidur dengan waffle yang ada disampingnya.


Pukul setengah dua dini hari, Jonathan baru sampai di apartement. Dia sengaja pulang lebih lambat karena menghabiskan waktu dengan Retha sebelum perempuan itu pergi ke Jepang esok hari. Niatnya ingin menginap di tempat perempuan itu, namun Retha menolaknya, perempuan itu tak mengijinkan sama sekali. Alhasil, Jonathan pun memilih pulang. Sebenarnya, dia bisa saja menginap di hotel dekat rumah Retha, tapi entah kenapa dia merasa ingin pulang ke apartemen saja. Alhasil, disinilah dia sekarang, di apartemen nya.


Sampai di apartemen, Jonathan tak langsung pergi ke kamarnya, dia justru pergi ke dapur. Dan, justru dikejutkan dengan keadaan dapur yang super berantakan.

__ADS_1


“Ya ampun... Apa-apaan nih!”


Rasanya Jonathan kesal melihat keadaan dapur yang berantakan, dia ingin marah pada pelaku utamanya. Dan dia sudah tahu siapa pelakunya itu. Siapa lagi orang di rumah ini selain dirinya juga Edelweis dan tak mungkin Jonathan sengaja membuat dapurnya berantakan, sudah pasti Edelweis lah pelaku utamanya.


“Kurang aja Edel!”


Jonathan sudah bersiap marah, namun saat menemukan Edelweis yang tertidur dengan dengan bersandar pada meja, membuat niatnya itu urung seketika. Apalagi melihat waffle yang ada disamping perempuan itu.


Jonathan mendekat pada Edelweis, dia memperhatikan sesaat perempuan itu sebelum akhirnya tatapannya beralih pada waffle.


“Edel buat waffle?” Jonathan tak percaya jika Edelweis benar membuat makanan ini.


Jonathan memotong waffle tersebut, dia tersenyum tipis saat merasakan rasanya. “Dingin dan keras, udah pasti emang dia yang bikin waffle ini.” karena menurut Jonathan, kalau waffle nya memiliki rasa enak, sudah jelas bukan Edelweis yang membuatnya.


“Del, bangun.”


Bukannya bangun, Edelweis justru menggeliat, dia terus melanjutkan tidurnya. Sepertinya perempuan itu kelelahan.


“Gak kerja aja lo secapek ini, Del. Apalagi kerja.” Jonathan tahu, jika selama ini di kantor pun Edelweis tak banyak bekerja, semua pekerjaan perempuan itu limpahkan pada Sinta.


“Del, bangun.”


Edelweis membuka matanya yang terasa berat itu, samar-samar dia melihat Jonathan. “Jo, lo baru pulang?” tanya Edelweis yang hanya mendapat deheman dari Jonathan.


“Pindah ke kamar, Del. Buruan!”


Edelweis mengangguk patuh layaknya anak kecil, dia beranjak berdiri dengan susah payah karena rasa kantuknya yang tak bisa ditolong lagi. “Jo, gue ngantuk banget. Lo makan, ya waffle nya. Gue yang bikin itu. Bye, Jo...”


Jonathan hanya bisa terkekeh sambil menggeleng heran menatap kepergian Edelweis.


Jonathan menatap waffle yang ada diatas meja itu, dia duduk di sofa. Jonathan sendiri sudah tahu jika rasa waffle tersebut seperti apa, namun ada dorongan dari dirinya yang ingin memakan waffle tersebut.


“Sebenarnya gak enak, tapi mungkin karena gue lapar, gue makan deh.”


Jonathan pun menikmati waffle itu dengan tenang bahkan hingga tandas tanpa sisa.


***


”Jo, Jo, Jo. Gimana waffle buatan gue semalam?”


Edelweis langsung menodong Jonathan dengan pertanyaan saat pria itu keluar dari kamar. Dia mengikuti langkah pria itu yang hendak memakai sepatu kerjanya.


“Oh, jadi itu waffle buatan lo?”


Edelweis tersenyum senang, dia mengangguk. “Iya. Gimana, gimana? Enak kan?”


Jonathan tersenyum sinis, “Enak dari mana coba? Keras gitu.”


Senyum Edelweis luntur seketika.


“Lain kali, kalau gak bisa bikin apapun, gak usah bikin. Buang-buang bahan makanan aja. Mana dapur jadi berantakan kayak kapal pecah, bikin pusing, sakit mata melihatnya.”


Edelweis mengerucutkan bibirnya, dia sedih dengan respon Jonathan yang tak sesuai ekspektasi nya. “Terus, waffle nya lo ke mana in?” tanya Edelweis, pasalnya dia tak menemukan sisa waffle sedikitpun sehingga sempat berpikir jika Jonathan menyukainya.


“Gue buang lah! Gak layak makan gitu, mau diapain lagi.” bohong Jonathan, terlalu gengsi mengatakan jika dia menghabiskan semua waffle tersebut.


Edelweis semakin sedih dibuatnya.


Sedangkan, Jonathan langsung beranjak, dia sudah bersiap pergi. Tanpa peduli dengan Edelweis yang merasa sedih, Jonathan melenggang pergi meninggalkan Edelweis. Dia harus mengantar Retha ke bandara pagi ini.

__ADS_1


Edelweis hanya bisa menatap pilu kepergian Jonathan tanpa berniat meneriaki pria itu. “Jahat banget, Jo. Masa dibuang. Gak berperikemanusiaan.”


__ADS_2