Sandiwara

Sandiwara
Ep.22 - Sebuah Rencana


__ADS_3

Edelweis mengerjap-ngerjapkan matanya, hal pertama yang dia lihat saat membuka mata adalah dada bidang milik seseorang. Saat ini dirinya dalam gendongan seseorang yang entah siapa, dia tak tahu. Namun, saat diperhatikan dengan jelas ternyata orang yang menggendong Edelweis adalah Jonathan.


“Jo,”


Jonathan menghentikan langkahnya saat melihat Edelweis yang tadi tak sadarkan diri memanggilnya. Keadaan Edelweis tak karuan saat ini, banyak luka di tubuh juga wajah perempuan itu. Bahkan, pakaian yang Edelweis kenakan sudah tak berbentuk, karena itu pula jas yang tadi digunakan Jonathan, dia kenakan pada perempuan itu.


“Lo tenang, ya, Del. Kita ke rumah sakit, lo harus diobatin. Lo bertahan, ya.”


Edelweis menangis pelan, dia masih teringat dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Dia menggeleng pelan, “Enggak, Jo. Jangan ke rumah sakit, gue gak mau.” tolak Edelweis pelan, dia berucap lirih.


“Tapi, luka lo harus diobatin, Del.”


“Jangan ke rumah sakit, gak mau.”


“Tapi, Del—”


“Jo...”


Jonathan menghela napas kasar, dia tak punya pilihan lain selain mengiyakan ucapan Edelweis. “Iya kita gak ke rumah sakit, kita langsung ke apartemen.” ucap Jonathan yang membuat Edelweis sedikit tenang.


Jonathan melanjutkan kembali langkahnya, dia bergegas masuk ke mobil yang sudah menunggunya.


“Jalan, pak! Kita ke apart.”


Jonathan menatap Edelweis yang dia dudukan disampingnya, perempuan itu masih menangis saat ini. Dengan cepat, Jonathan menutup tirai pembatas antara kursinya dengan kursi supir.


Jonathan menatap Edelweis kembali, “Del. Lo yang tenang, ya. Bajingan itu—”


“Gue gak mau dengar apapun, Jo. Gak mau.”


Jonathan menghela napas kasar, dia mencoba mengerti kini. Alhasil, dia memilih diam dan membiarkan Edelweis menangis sambil meringkuk ketakutan. Tak dapat dipungkiri, melihat apa yang baru saja terjadi pada Edelweis membuat Jonathan iba sendiri. Alhasil, Jonathan langsung merangkul Edelweis, dia membiarkan perempuan itu menangis dalam dekapannya.


“Lo tenang aja, Del. Gue ada buat lo. Sorry udah buat lo ada di situasi kayak gini.”


Entah kenapa, Jonathan jadi merasa salah sendiri dengan apa yang baru saja menimpa Edelweis. Sebenarnya, dia bisa saja pergi meeting seorang diri, dengan atau tanpa sekertaris tak akan berpengaruh apapun pada pertemuan tadi. Hanya saja, dia ingin membuat Edelweis mengerti akan satu hal. Tapi, ternyata niatnya justru membawa Edelweis pada kejadian buruk yang menimpa perempuan itu.


***


“Gimana, dok keadaannya?”


Dokter mengangguk pelan, “Pasien baik-baik saja, luka di kepalanya bukan luka yang cukup dalam, tapi saya sarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit. Supaya kita tahu, kalau kondisi bagian dalamnya baik-baik aja.”


Jonathan mengangguk-angguk, “Oke, dok. Terimakasih, ya.”


“Sama-sama Pak Jo. Kalau begitu saya permisi.”


“Mari saya antar dok.”


Jonathan yang baru akan mengantar dokter yang memeriksa Edelweis, justru dibuat terkejut dengan kedatangan kedua orangtuanya yang tiba-tiba. Mereka sudah ada didepan pintu unit apartemen nya.


“Loh, dokter Wijaya.”


“Pak Angga.”


Angga mengangguk-angguk, dia tersenyum kikuk. Sebenarnya dia terkejut mendapati dokter keluarganya ada di kediaman putranya. “Siapa yang sakit, dok?” tanya Angga.


“Mbak Edel, Pak Angga.”


“Edel?” Emmeline tersentak kaget mendengar jawaban dokter. “Edel sakit apa, dok?” tanya Emmeline cemas.


Dokter Wijaya tak langsung menjawab, namun dia menatap Jonathan meminta persetujuan. Melihat tatapan Jonathan membuatnya langsung paham.


“Jo?”


Jonathan merangkul pundak Edelweis, “Nanti Jo jelasin. Mama sama Papa masuk dulu aja.” Jonathan menatap dokter Wijaya kembali. “Dok, sekali lagi terimakasih, ya. Nanti sekertaris saya yang urus biaya administrasi nya.”


“Iya Pak Jo. Kalau begitu saya permisi. Mari semuanya.”

__ADS_1


“Jo, ada apa sama Edel?”


“Ayo, Mam masuk dulu aja.”


Mereka pun masuk ke unit apartemen Jonathan. Emmeline segera menghampiri Edelweis di kamarnya, gadis itu masih terbaring tak sadarkan diri. Yang membuat Edelweis terkejut bukan main adalah saat melihat kondisi putrinya itu, mengenaskan kalau boleh dia katakan demikian.


“Jo, ini Edel kenapa?” tanya Emmeline lirih, dia meringis saat menyentuh luka di beberapa bagian wajah juga tubuh menantunya.


Jonathan terdiam. Dengan helaan napas kasar, dia mulai menjelaskan apa yang terjadi pada Edelweis berdasarkan yang dia tahu. Dimana, saat Edelweis tak kunjung datang, dia merasa aneh, ditambah Dexa yang merupakan rekan bisnisnya pun tak kunjung kembali. Awalnya, dia berprasangka buruk pada Edelweis, namun saat mendengar teriakan yang berasal dari salah satu kamar membuatnya bergegas datang. Dan, betapa terkejutnya Jonathan saat melihat apa yang terjadi pada Edelweis juga apa yang dilakukan Dexa.


Tanpa berpikir panjang, Jonathan langsung menghajar habis Dexa tanpa peduli konsekuensi apa yang akan dia dapatkan. Termasuk putusnya hubungan kerjasama antara perusahaan mereka yang sudah dipastikan seharusnya memberikan untung yang begitu besar. Namun, saat harus dihadapkan pada orang yang berperilaku buruk seperti demikian, hal tersebut tak jadi masalah kalau dia harus kehilangan kesempatan besar itu.


“Kurang ajar!” desis Angga, tangannya mengepal marah.


“Ya ampun, Edel...” ringis Emmeline, dia tak bisa menahan tangisnya. Meratapi apa yang baru saja terjadi pada menantunya.


“Tapi setelahnya gak terjadi apapun kan?”


Jonathan menggeleng, “Enggak, aku datang di waktu yang tepat.”


“Syukurlah. Jo, Mama mohon, setelah kejadian ini tolong kamu jaga Edelweis sebaik mungkin. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi sama dia, Jo. Mama khawatir dengan Edelweis, kasihan dia, terlalu banyak menyimpan memori buruk. Kasihan, dia punya banyak trauma.”


Jonathan tak berjanji, namun dia hanya mengangguk saja. Bagaimanapun, dia juga kasihan dengan Edelweis setelah apa yang terjadi pada perempuan itu hari ini.


***


Edelweis mengerjap-ngerjapkan matanya, hal pertama yang dia lihat adalah pundak bidang milik seseorang. Seketika, rasa takut dia rasakan yang tanpa sadar membuat dia menjerit histeris seorang diri.


Jonathan yang terkejut mendengar jeritan Edelweis segera mematikan panggilannya, dia berbalik dan menghampiri Edelweis yang menangis dan meringkuk ketakutan.


“Del, Del, tenang.”


“Jangan dekat, dekat. Gue minta maaf, gue minta maaf...”


“Del, tenang. Ini gue, ini gue Del, Jo.”


“Del, Del. Ini gue, Jo. Gue disini Del, lo tenang, ya.”


Edelweis masih saja memberontak, menjauh dari Jonathan hingga pada akhirnya Jonathan sedikit menaikkan intonasi suaranya juga mencengkram kuat pundak Edelweis yang membuat perempuan itu langsung terdiam.


“Tenang, Del. Lo aman, ada gue disini. Jonathan!”


Edelweis perlahan mengangkat wajahnya, masih ada sisa-sisa air mata juga ketakutan di matanya. “Jo, dia jahat...” lirih Edelweis, bibirnya bergetar saat bicara demikian. “Dia mau lecehkan gue, Jo... Cowok itu jahat.”


“Iya, Del, iya. Lo yang tenang, ya sekarang. Dia gak ngapa-ngapain lo, dia langsung gue kasih pelajaran. Gue juga udah bawa kasusnya ke kepolisian. Lo yang tenang, ya, Del.”


“Enggak, Jo, enggak. Dia lecehkan gue. Dia pegang-pegang gue. Dia—” Edelweis menangis kembali, dia terisak.


Jonathan diam, bingung harus melakukan apa kini.


Edelweis mendongak cepat, dia menarik tangan Jonathan. “Jo, lo bisa kan hapus jejak-jejak cowok brengsek itu?” tanya Edelweis, dia menggenggam erat tangan Jonathan dengan memohon. Jonathan sendiri yang tak mengerti justru mengerutkan keningnya bingung.


Namun, saat Edelweis menempelkan bibirnya dibibir Jonathan, pria itu langsung paham.


“Del, gak kayak gini!” tolak Jonathan, dia menarik diri dari Edelweis. Raut wajah marah terlihat jelas di wajah Jonathan.


Edelweis yang mendapat penolakan pun langsung terdiam, dia sadar dia baru saja merendahkan dirinya sendiri. Dan, penolakan dari Jonathan semakin membuat Edelweis merasa jika dirinya sangatlah rendah.


“Del—”


“Keluar, Jo.” lirih Edelweis sambil membuang muka. Dia sudah tak punya muka lagi di hadapan Jonathan.


Jonathan pun bukannya memberikan pengertian, justru beranjak dan memilih pergi meninggalkan Edelweis yang langsung menangis setelah kepergian pria itu.


***


“Mama, Papa nginap disini?”

__ADS_1


“Iya, Mama mau menginap disini.” Emmeline melirik suaminya yang langsung mendapat anggukan. “Papa juga.”


Jonathan mengangguk, “Yaudah, iya, gakpapa.”


“Tapi, apa Edel belum mau ketemu siapapun?”


Jonathan mengangguk, “Edel masih trauma, Mam. Dia belum mau ketemu siapapun, bahkan tadi aja ketemu aku dia masih histeris.”


“Kasihan Edel.” lirih Emmeline, dia menatap pintu kamar dimana Edelweis berada saat ini. “Tapi, Jo. Mungkin kalau Mama yang ketemu, itu gak akan masalah. Edel pasti butuh Mama.”


“Yaudah, Mama coba aja sendiri.”


Emmeline mengangguk, dia segera melangkah pergi menuju kamar Edelweis. Namun, yang dia dapat justru pintu kamar yang terkunci dari dalam.


“See?”


“Semoga Edel baik-baik aja.”


“Yaudah, Mam. Mending sekarang Mama makan dulu aja, aku udah pesan makanan. Papa udah di sana.”


Emmeline mengangguk, “Yaudah, iya. Ayo!”


“Aku nanti nyusul.”


“Kamu mau kemana?”


“Aku ada urusan bentar,”


“Keluar?”


“Enggak, di ruangan lain.”


“Yaudah, iya. Mama sama Papa tunggu kamu di ruang makan, ya.”


“Iya, Mam.”


Jonathan bergegas pergi ke kamarnya, dia segera membereskan barang-barang miliknya, memasukkannya ke dalam koper dan koper itu dia sembunyikan dibawah ranjang. Sebisa mungkin dia membuat kamar ini seakan tak pernah ditempati, agar tak mengundang curiga nantinya. Akan sangat mengejutkan jika kedua orangtuanya tahu kalau dirinya juga Edelweis tak sekamar.


Setelah dirasa selesai, dia tak meninggalkan bekas. Jonathan bergegas menghampiri kedua orangtuanya yang sudah duduk di meja makan.


“Kenapa Mama belum makan?”


Emmeline terdiam, dia menatap lekat Jonathan. “Mama kecewa, Jo.”


Jonathan dan Angga terkejut mendengar jawaban Emmeline. Angga yang memang sudah makan terlebih dahulu, menatap Jonathan yang memberikan jawaban berupa gelengan.


“Kecewa kenapa, Mam?”


Emmeline beranjak berdiri, dia mengambil hand bag nya. “Pap, ayo kita pulang sekarang.”


“Mam?”


“Mama mau pulang sekarang. Dan, untuk kamu Jo. Jangan lupa, minum jus yang ada di lemari. Kasih juga untuk Edel. Mama bawa itu untuk kalian.” Emmeline menatap suaminya. “Ayo, Pap!”


Jonathan menatap bingung kepergian orang tuanya, terutama Mama nya yang memberikan tatapan penuh kekecewaan. Ada apa ini sebenarnya?


Sedangkan, Emmeline dan Angga baru saja memasuki lift.


“Mam, ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba minta kita pulang? Bukannya kamu khawatir sama keadaan Edel?” tanya Angga tak mengerti dengan perubahan sikap yang ditunjukkan istrinya.


Emmeline menggeleng. “Mama emang khawatir sama Edel, tapi mama gak sanggup kalau melihat secara langsung bagaimana hancurnya Edel.”


“Mam?”


Emmeline menoleh pada Angga, matanya berkaca-kaca. “Pap, maafin Mama. Mama melakukannya, mama terpaksa demi Edel dan Jo, demi pernikahan mereka.”


Angga membelalakkan matanya tak percaya. “Mam?”

__ADS_1


__ADS_2