Sandiwara

Sandiwara
Ep.13 - Pujian menyebalkan


__ADS_3

Sudah tak aneh jika semua mata tertuju pada Edelweis. Parasnya yang cantik, tubuhnya yang menarik, penampilannya yang selalu berbeda dari yang lain. Apalagi saat perempuan itu melintas, aroma parfum mahal yang digunakannya menyerebak cepat ke indra penciuman setiap orang. Sehingga kalau Edelweis jadi pusat perhatian, ya, itu sudah biasa.


Edelweis memilih meja di dekat jendela, sehingga dia bisa melihat beberapa orang yang berlalu lalang. Seorang pelayan datang, meletakkan buku menu di hadapan Edelweis. Dia memilih-milih, menu makan siang apa yang akan dia pilih kali ini.


“Saya mau grilled salmon with....”


Setelah memesan makanan, Edelweis mengecek ponselnya, ada pesan yang dikirimkan Emmeline padanya tentang bagaimana keadaannya saat ini dan kenapa dia belum berkunjung ke rumah. Dia tersenyum lebar, bukannya membalas pesan tersebut, Edelweis justru menekan tombol telpon. Dia menelpon Emmeline, ibu mertuanya.


“Hallo, Del...”


“Hai, Mam. Gimana kabarnya? Sorry banget, aku belum main ke rumah. Kerjaan hectic banget, Mam. Jo benar-benar ngasih aku kerjaan diluar nalar.” adu Edelweis, biar saja nantinya Jonathan mendapat ceramah dari Emmeline.


“Jo, tuh, ya! Biarin, biar nanti Mama yang bilang sama Jo untuk gak kasih kamu banyak kerjaan. Kan, kasihan putri Mama ini jadi kecapean.”


“Iya, Mam. Bilangin tuh, Jo nya!”


“Btw, hubungan kamu sama Jo, baik-baik aja kan?”


Edelweis terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Hubungannya dengan Jonathan itu biasa-biasa saja sebenarnya.


“Del?”


Edelweis tersenyum kembali, “Baik-baik aja kok, Mam. Gak usah khawatir.”


“Kalian masih sering ribut?”


“Ya, gimana, ya Mam. Kayak gak tahu kita aja.”


“Kalian tuh, ya... Harusnya tuh, diantara kalian tuh ada yang mau kalah, mendekatkan diri gitu. Masa mau kayak gini terus, sampai kapan coba?”


“Ya, gimana lagi. Aku juga bingung.”


“Yaudah, bilang sama Jo kalau malam ini kalian pulang ke rumah sini. Oke? Yaudah, kamu keliatannya juga lagi di restoran ya, mau lunch kan?”


Edelweis mengangguk.


“Yaudah, makan dulu. Obrolannya bisa kita lanjut lagi nanti.”


“Oke, mam. Take care!”


“Take care sweetie.”


Edelweis terdiam sejenak memikirkan ucapan mertuanya itu. Memang tak ada kemajuan di pernikahannya ini, bahkan rasanya semakin memburuk, Jonathan sebenarnya pelaku utamanya.


Tak lama kemudian, pesanan Edelweis pun datang. Dia menikmati seorang diri makanan itu. Baru juga satu suap, kedatangan beberapa orang yang tiba-tiba duduk di kursi di hadapannya, satu meja dengannya membuat dia menghentikan suapannya itu. Edelweis mendongak untuk melihat siapa mereka.


Adinda dan Sinta. Mereka justru menunjukkan senyum lebar saat Edelweis menatap mereka.


“Kalian ngapain disini?”


“Makan siang, mbak.”


Edelweis memutar bola matanya malas, “Iya, gue tahu. Tapi, maksudnya ngapain kalian satu meja sama gue. Emangnya gak ada meja lain apa?” ketus Edelweis.


“Gak ada, mbak. Udah penuh semua, tuh lihat.”


Edelweis berdecak kesal saat apa yang mereka ucapkan benar adanya. Semua kursi dan meja sudah penuh oleh pengunjung, maklum ini jam makan siang.


“Ya, tapi ngapain kalian harus sama gue sih? Duh!”


Edelweis tak suka sebenarnya dengan Adinda dan Sinta yang akhir-akhir ini sering merecokinya, seakan mereka ini sedang mencoba dekat dengan dirinya. Dia tak mau berteman dengan mereka, sepertinya.


“Ayolah, mbak Edel... Bolehin kita makan disini, ya. Masa kita pergi sih? Mana kita udah pesan makanan lagi. Bolehin ya, mbak...”


“Iya, mbak... Bolehin dong. Lagian, kita gak akan minta traktiran kok, kita bayar masing-masing. Serius!”


Edelweis menghela napas kasar, dia menatap tajam mereka berdua yang menunjukkan permohonan padanya.


“Yaudah, cuma kali ini aja ya gue izinin. Nanti-nanti, gak mau gue.”

__ADS_1


“Makasih, ya mbak.”


Edelweis segera menarik tangannya yang digenggam tiba-tiba oleh Adinda. “Ih, jangan pegang-pegang gue!”


“Eh, iya, maaf-maaf.”


Tak lama kemudian, pesanan Adinda dan Sinta pun datang mereka menikmatinya sambil sesekali mengobrol ria, sedangkan Edelweis hanya diam dan mendengarkannya dengan malas.


“Tapi, mbak Retha tuh emang keren tahu. Aku aja jadi suka tahu sama sinetron itu, gara-gara mbak Retha yang jadi peran utamanya.”


“Iya sih, akting mbak Retha tuh gak bisa diadu. Dia emang the best deh kalau akting, hebat banget gitu penjiwaan nya. Buat kita jadi baper kan, ya.”


Edelweis memutar jengah bola matanya mendengar pujian mereka pada Retha. Dalam hati dia berdecak, “Mana ada.” celetuk Edelweis.


“Maksudnya, mbak?” tanya Sinta tak mengerti.


“Lo pada tuh, terlalu memuji-muji dia. Kita gak tahu, dibalik layar tuh dia kayak gimana. Bisa aja kan didepan layar dia jadi sosok yang baik, tapi dibelakang?”


“Tapi, mbak. Mbak Retha tuh emang baik, kita aja sering loh ditraktir makan tiap akhir pekan kalau kebetulan dia ada urusan di kantor. Mbak Retha juga aktif banget sama kegiatan amal, dia paling gercep kalau ada suatu musibah atau apa gitu buat kasih donasi. Dia gercep banget, mbak. Dan, yang bikin aku salut tuh, mbak Retha gak pernah ninggalin salat lima waktunya, di manapun dan dalam keadaan apapun. Serius, mbak!”


Edelweis terdiam, dia jadi memikirkan ucapan yang dilontarkan Adinda ini. “Oh ya? Yakin, itu bukan karena dia cari muka?”


“Enggak lah, mbak. Kita kan bisa menilai, mana yang tulus sama yang cuma cari muka doang.”


Edelweis memutar bola matanya malas, “Sok tahu!”


“Ih... Tapi, serius mbak! Mbak Retha tuh—”


“Stop! Gue gak mau dengar nama cewek itu disebut lagi! Gue gak suka dengarnya.” kesal Edelweis, dia menatap tajam Adinda dan Sinta yang langsung menutup rapat mulut mereka. “Bikin mood gue jelek aja!”


Edelweis mendengus kesal, dia berdiri dan menarik kasar tasnya kemudian pergi meninggalkan Adinda dan Sinta yang saling tatap dan saling menyalahkan.


“Lo sih!”


“Lo lah!”


***


“Panas banget kuping gue! Gak disana, gak disini, cewek kampungan itu terus yang dibahas. Kayak gak punya bahan obrolan lain aja.” gerutu Edelweis, dia sudah bosan mendengar pujian untuk Retha sejak tadi.


Edelweis menunggu lift terbuka, dia akan kembali ke mejanya. Namun, saat lift terbuka menampilkan Retha di sana membuat keduanya jadi terdiam kikuk.


Kalau Edelweis mengurungkan niatnya untuk masuk ke lift, Retha bisa saja berpikir jika dia kalah atau tak punya keberanian untuk bertemu dengan Retna. Maka, dia memutuskan tetap masuk ke lift yang kini hanya diisi oleh mereka berdua.


Edelweis dengan wajah angkuhnya, Retha dengan wajah cemas dan kikuknya. Entah kenapa, rasanya lift ini bergerak dengan lambat, pun begitu dengan waktu. Suasana dingin pun dirasakan kini.


“Mbak Edel, gimana kabarnya?”


Bola mata Edelweis naik keatas, malas mendengar pertanyaan Retha. “Menurut lo, kalau gue disini itu artinya apa?” ketua Edelweis, wajahnya terlihat semakin masam.


Retha tersenyum kikuk, dia menggaruk tekuknya yang tak terasa gatal. Tak pernah berubah sikap Edelweis ini dari dulu sampai sekarang, masih dingin dan ketus, apalagi pada Retha.


Retha ingat sesuatu, dia segera mengambil sesuatu dari tasnya. Dengan senyuman percaya dirinya, dia mengulurkan sebuah amplop yang isinya adalah tiket eksklusif untuk premier film layar lebar terbarunya.


Edelweis hanya menaikkan sebelah alisnya, tanpa niatan mengeluarkan suara untuk bertanya.


“Ini tiket premier buat film aku, mbak. Mbak bisa datang, acaranya itu—”


“Gak berminat. Gue gak suka nonton film yang kualitasnya di bawah, apalagi yang main film nya bukan artis profesional. Tambah malas aja.”


Kembali, Edelweis menolak niat baik Retha sekaligus merendahkan perempuan itu.


“Lagian, lo gak usah sok baik deh sama gue. Dan, gue yakin, lo sebenarnya cuma mau nunjukin sama gue kalau lo tuh udah jadi artis kan? Sorry aja, gue gak peduli sama kehidupan lo. Lagipula, lo tetap sama di mata gue,” Retha mengerutkan kening menunggu kelanjutan ucapan Edelweis. “Cewek kampung, yang sok baik cuma buat memikat orang-orang kaya dan tujuannya cuma demi harta. Gue udah gak bisa lo tipu, terlalu sering gue ketemu orang modelan kayak lo.”


Retha menggeleng, “Tapi, aku gak kayak gitu, mbak. Aku—”


“Udah, udah, gue gak mau lagi dengar apapun keluar dari mulut lo itu. Cukup. Sakit telinga gue.”


Ting! Lift terbuka. Edelweis melangkah hendak keluar, namun dia urungkan terlebih dahulu. “Dan, satu lagi gue ingetin. Jangan sok baik, apalagi sama gue.” lanjut Edelweis kemudian melangkah pergi meninggalkan Retha yang hanya bisa diam sampai pintu lift tertutup kembali.

__ADS_1


***


“Makasih, ya mas udah anterin aku ke tempat shooting.”


Jonathan menatap Retha yang duduk disamping nya, tak pernah dia tak tersenyum pada perempuan itu. “Yang seharusnya terimakasih itu, aku. Makasih, ya kamu udah repot-repot datang ke kantor cuma buat anterin makan siang buat aku.”


Retha terkekeh, “Gak repot kok. Sekalian aja kan aku antar ke kamu, kebetulan aku masaknya lumayan banyak.”


“Emangnya kamu gak capek apa? Pulang shooting pagi, tidur bentar, terus masak, ke kantor aku lagi. Dan, sekarang kamu mau shooting lagi.”


Retha menggeleng pelan, “Enggak lah, mas. Lagian aku juga masak gak sering juga, paling sesekali, itupun karena aku mau. Dan, karena aku yang mau, makanya gak kerasa capek, nya. Aku menikmati aja sih.”


Jonathan semakin kagum pada Retha, jarang sekali melihat perempuan seperti dia.


“Istri idaman banget, ya kamu.”


“Ah, bisa aja kamu.”


Ditengah obrolan mereka di mobil, ponsel milik Retha berdering menandakan ada panggilan yang masuk. “Mas, manager aku udah telpon aku nih dari tadi. Kayaknya, aku udah diburu-buru suruh datang deh.”


“Yaudah, kamu langsung ke sana aja.”


Retha mengangguk, dia menyampirkan tasnya. “Iya mas. Sekali lagi, makasih ya udah anterin aku. Kamu hati-hati pulangnya, kabarin aku juga kalau udah nyampe.”


“Iya.”


Retha segera membuka pintu mobil, baru saja dia hendak keluar namun suara Jonathan kembali menghentikannya.


“Tha, hati-hati, ya.”


Retha terkekeh. “Iya mas, kamu juga ya.”


***


Jonathan masuk ke apartemen nya, dia langsung menuju lemari pendingin dan mengambil sebotol minuman iso tonik, membawanya menuju meja pantry dan meneguk nya di sana.


Jonathan segera mengeluarkan ponselnya, memeriksa pesan yang dia kirimkan pada Retha sebelumnya mengenai dia yang baru saja sampai di apartemen. Satu pap foto yang dikirimkan Retha membuat Jonathan terkekeh dibuatnya.


“Bisa ketawa juga lo,”


Jonathan mendongak, terdiam langsung saat melihat Edelweis dengan setelan baju tidurnya seperti biasa yang selalu berbahan satin.


Jonathan mengacuhkan Edelweis, dia berniat beranjak pergi.


“Eh, Jo. Gue kan udah bilang sama lo, kalau kita tuh harus nginep di rumah Mama malam ini. Tapi, lo nyebelin banget pakai acara gak mau segala. Sok sibuk lo.”


Jonathan menatap datar Edelweis, “Kenapa gak lo aja yang nginep? Kenapa harus selalu bareng-bareng?”


Edelweis mendengus kesal, “Dih, gampang banget lo bilang gitu.” kesal Edelweis. “Pikir dong, gue sama lo tuh udah married, kita ini suami istri. Kalau gue harus nginep disana, itu artinya lo juga harus ikut nginep. Kalau lo gak ikut, gue juga yang kena masalah. Gue harus kasih alasan apa sama Mama, sama Papa? Pikir dong!”


“Lo kan jagonya akting, lo akting kayak biasanya. Lagian, otak lo kan biasanya juga dipake buat bikin segala alasan. Masa, cuma kali ini aja lo gak bisa. Lemah lo.”


“Dih, gak jelas lo!”


Pertengkaran mereka terhenti saat pintu bel apartemen berbunyi yang membuat Edelweis beranjak pergi. Sebenarnya Jonathan tak peduli, dia bisa saja melenggang pergi ke kamarnya, namun saat melihat apa yang dilakukan Edelweis membuat dia merasa ingin sekali mengeluarkan kata-kata.


Edelweis datang membawa bungkusan yang berisikan pesanan makanan nya.


“Lo tuh cewek, harusnya lo tuh belajar masak. Jangan apa-apa order! Boros!”


Edelweis memicingkan matanya, menatap tajam Jonathan. “Duit-duit gue, bukan duit lo. Ya, terserah gue lah. Lagian, gue order makanan juga gak ngerepotin lo, gue pesan sendiri juga. Ingat, poin dua! Gak usah ikut campur!”


Jonathan tersenyum miring. “Semakin meyakinkan gue kalau lo tuh emang gak ada apa-apanya kalau harus dibandingkan sama Retha. Soal makanan aja, lo malah pilih pesan, gak masak. Udah jelas sih, itu artinya lo gak punya keterampilan buat masak, jangan kan masak, mungkin pegang alat-alat dapur aja gak bisa.”


Edelweis mendengus kesal, dia menatap tajam Jonathan yang kembali menghinanya. “Bodoh amat! Gue gak peduli. Lagian gue emang gak pantas dibandingin sama cewek itu. Beda level!”


Jonathan terkekeh, dia melenggang menuju kamarnya. “Level lo rendah.”


“Jo!”

__ADS_1


__ADS_2