Sandiwara

Sandiwara
Ep.26 - Mencari Cara untuk Jatuh Cinta


__ADS_3

“Din, lo kan pernah bilang mau bantuin gue kan, ya. Nah, gue butuh bantuan lo sekarang!”


Adinda menoleh, dia menaikkan sebelah alisnya. “Bantuan apa, mbak?” tanya Adinda bingung, Edelweis bicara padanya sambil berbisik-bisik.


Edelweis terdiam, dia mengetik tangannya pada meja. Dia menggigit bibirnya, “Gue mau, lo jadi mata-mata Din!”


“Hah? Maksudnya gimana, mbak?”


“Gue mau, lo cari tahu semua hal tentang Retha. Divisi lo kan bagian ngurusin artis-artis tuh, gue mah lo cari tahu semua hal tentang Retha.”


Adinda langsung terdiam seketika, “Mbak Retha Franklin, mbak?” tanya Edelweis memastikan, dia takut salah menduga.


Edelweis memutar malas bola matanya, “Yaelah, Din. Emangnya artis di Indonesia yang namanya Retha Franklin itu ada berapa sih? Banyak?” tanya Edelweis malas.


Adinda menggeleng, “Enggak tahu, mbak. Tapi, aku sih tahunya yang namanya Retha Franklin dan jadi artis tuh, ya, mbak Retha yang sering kesini.”


“Nah, lo tahu itu! Ngapain pakai nanya lagi sih!”


Adinda mengerucutkan bibirnya, “Lah, kan aku cuma memastikan aja. Takut salah orang.”


Edelweis berdehem, "Yaudah. Jadi, gimana? Lo mau kan bantuin gue?” tanya Edelweis, dia mengangguk-angguk sambil menatap lekat Adinda.


“Gak bisa lah, mbak. Itu sama aja aku melanggar privasi, aku melanggar kode etik pekerjaan dong.”


“Lo kerja sama siapa?”


“Sama Pak Jo,”


Edelweis berdecak, “Asal lo tahu. Gue sama Jonathan itu, kita punya kekuatan yang sama di perusahaan ini. Bedanya, gue gak pernah turun langsung dan sekalinya turun, gue terpaksa jadi sekertaris doang. Tapi, sebenarnya gue sama Jo tuh sama gitu. Artinya, lo juga kerja sama gue. Ngerti?” jelas Edelweis.


“Iya sih, mbak. Tapi, kan—enggak, ah mbak! Aku gak mau.”


“Ah, gimana sih lo! Katanya mau bantuin gue. Tapi, gue minta bantuin hal gampang aja lo langsung tolak gini.”


“Ya, aku mau bantuin mbak Edel. Tapi, enggak dengan hal-hal kayak gini. Takut, ah!” tolak Adinda, dia tak mau melakukan hal seperti itu. “Lagian, mbak. Emangnya kenapa sih mbak tuh penasaran banget sama mbak Retha?”


“Bukan urusan lo.”


Adinda mencebik kesal, “Tuh, kan. Aku tambah yakin deh, sebenarnya tuh emang ada sesuatu antara mbak Edel, mbak Retha dan Pak Jo. Apa jangan-jangan, ada cinta segitiga lagi diantara kalian.”


Edelweis tersenyum, dia menarik sinis sudut bibirnya. “Kalaupun ada cinta segitiga, yang menang itu gue, bukan cewek kampungan itu.”


“Tapi, mbak—”


“Udah, ah! Gue gak mau ngomong sama lo! Gak mau bantu sama sekali, ngapain juga!”


“Ih, mbak Edel!”


Edelweis beranjak pergi meninggalkan Adinda yang menghela napas kasar.


***


Jantung berdebar tak karuan, merasa tak suka melihat dia bersama yang lainnya. Itu, pertanda apa?


Banyak artikel yang langsung bermunculan kala Edelweis mengetikkan itu di pencarian. Dan, semua jawaban yang keluar itu sama. Apa yang tengah dirasakan Edelweis itu adalah pertanda jatuh cinta dan cemburu.


“Dih, masa gue beneran jatuh cinta sih?” Edelweis tak percaya, dia masih coba mencari jawaban yang lainnya. “Yaelah, murahan banget sih nih hati. Langsung jatuh cinta aja.”


Edelweis menghela napas kasar, dia meletakkan asal ponselnya. “Ini beneran artinya gue jatuh cinta sama Jo, gitu?” Edelweis jadi bingung sendiri bagaimana harus menanggapi perasaannya ini.


Hingga pintu apartemen terbuka yang menampilkan Jonathan disana dan kedatangan pria itu sukses membuat Edelweis terdiam kikuk seketika. Rasanya, jadi aneh sekarang kalau bertemu Jonathan dan debaran itu jadi sering dirasakannya.

__ADS_1


Jonathan mengerutkan kening bingung melihat diamnya Edelweis, apalagi melihat senyuman yang ditunjukkan perempuan itu. “Lo kenapa, Del?” tanya Jonathan bingung.


“Hah? Gue kenapa? Emangnya gue kenapa?” Edelweis tersenyum kikuk.


“Aneh.”


Jonathan melewati Edelweis begitu saja, namun Edelweis justru memanggilnya.


“Jo!” Jonathan hanya menaikkan sebelah alisnya untuk bertanya.


Edelweis menarik napas dalam, dia tersenyum kembali menatap Jonathan. “Udah makan malam?” tanya Edelweis perhatian, dia berharap Jonathan berkata tidak dan bisa makan malam bersamanya.


Namun, justru bukan jawaban yang diberikan Jonathan melainkan sebuah tindakan dimana Jonathan melangkah mendekat pada Edelweis. Jonathan yang mendekat membuat Edelweis refleks mundur, hingga dia terhenti saat punggung nya menabrak kabinet. Jonathan yang dekat dengannya membuat dia menelan kasar ludahnya sendiri, bola matanya membulat sempurna. Namun, saat wajah Jonathan mendekat justru membuat Edelweis perlahan memejamkan matanya. Edelweis pikir, akan terjadi sesuatu yang romantis, yang panas, yang—


“Aduh!”


Edelweis membuka matanya seketika, dia mengusap pelan keningnya yang disentil oleh Jonathan. “Ih, sakit tahu, Jo!” kesal Edelweis, dia mengusap-usap keningnya.


“Lo gak usah sok perhatian sama gue deh, Del. Sebelumnya juga kita itu sama-sama gak peduli dan emang seperti itu seharusnya, bahkan sampai sekarang. Jadi, gak usah bersikap lain, ya. Karena aneh dilihatnya!”


Jonathan melenggang pergi meninggalkan Edelweis yang langsung mendengus kesal menatap pria itu. Namun, dengusan itu hilang tergantikan dengan senyuman kala mengingat bagaimana dekatnya seorang Jonathan tadi dengannya.


“Gue gak mau cinta sendirian, Jo. Gue gak mau cinta gue bertepuk sebelah tangan. Jadi, gue pastiin, lo juga akan jatuh cinta sama gue, apapun caranya.”


***


“Pagi, Jo... Lihat, gue udah siapin sarapan buat lo. Bubur spesial tanpa kacang karena gue tahu, lo alergi kacang.”


Edelweis tersenyum lebar menyambut Jonathan yang baru saja keluar dari kamarnya dan sudah siap dengan setelan kerjanya seperti biasa.


Jonathan menatap lekat Edelweis, dia melirik bubur yang disiapkan Edelweis padanya. “Darimana nih?” tanya Jonathan.


“Yang dipinggir jalan?”


“Pinggir jalan?” Edelweis tertawa sumbang, “Ya, enggak lah Jo. Mana ada sih pedagang pinggir jalan yang jadi langganan gue? Gak ada lah. Lagian, ini bubur tuh disiapin langsung sama chef kita di rumah Mama. Gue beli langsung ke resto chef nya.”


Jonathan mengangguk, “Oh.” Jonathan melenggang pergi begitu saja.


Edelweis tersentak kaget, “Kok oh doang sih, Jo?” Edelweis mengikuti langkah Jonathan. “Mau lo makan kan itu buburnya?”


“Enggak lah! Gue sehat, ngapain makan bubur.”


“Loh, tapi kan gak harus orang sakit yang makan bubur.”


“Emang iya. Tapi, kalau ada pilihan sarapan yang lain, kenapa harus bubur?”


Edelweis mengerucutkan bibirnya, “Yaudah, lo mau sarapan apa? Biar gue beli atau minta chef buat bikinnya.”


“Gak usah, biasanya juga gue sendiri. Lagian, gue udah mau berangkat ini.”


“Ih, tapi Jo—”


“Bye.”


Edelweis menggeram kesal, “Ih, Jo! Tungguin gue, gue nebeng!” Edelweis berlari mengambil tasnya yang sudah dia siapkan, dia segera menyusul langkah Jonathan yang sudah berjalan cepat bahkan sampai sudah tak terlihat keberadaannya.


“Ih... Jo nyebelin! Gue kan pengen berangkat ngantor bareng dia.”


Alhasil, sekarang Edelweis berangkat kerja seorang diri menggunakan taksi. Sampai di kantor, bukannya langsung ke mejanya, Edelweis justru masuk ke ruangan Jonathan. Dimana dia menemukan pria itu tengah menikmati sarapan.


“Jo, gue kan minta lo tungguin gue dulu. Lo kenapa langsung pergi gitu aja sih!” kesal Edelweis, dia mendekat pada Jonathan. Dia sontak terkejut melihat apa yang tengah di makan pria itu. “Wait, wait! Lo bilang, lo gak mau sarapan bubur. Tapi, ini apa?”

__ADS_1


Jonathan menatap jengah Edelweis, “Bukan urusan lo, Del. Mending lo keluar sekarang!”


“Enggak, enggak. Gue butuh penjelasan sekarang! Kenapa lo gak mau makan bubur yang udah gue siapin, tapi ternyata lo justru makan bubur disini.”


“Gue bilang, bukan urusan lo. Keluar sekarang!”


“Enggak! Gue—”


Jonathan mendengus kesal, dia beranjak dengan cepat menghampiri Edelweis dan langsung menarik perempuan itu keluar dari ruangannya.


“Ganggu!” setelahnya, Jonathan menutup pintu dan menguncinya.


Sedangkan, Edelweis yang diusir pun mendengus kesal. Dia mencoba masuk kembali namun ruangan sudah terkunci dari dalam.


“Ih... Jonathan nyebelin!”


Edelweis duduk di kursinya dengan malas, dia masih memikirkan cara untuk membuat Jonathan tertarik padanya. Hingga kedatangan Sinta berhasil membuatnya mendongak.


“Baru datang mbak Edel?”


“Menurut lo?”


Sinta terkekeh, dia duduk di kursinya. “Mbak Edel kurang gercep nih datangnya. Coba aja kalau agak pagian, pasti mbak Edel juga kebagian.” ucap Sinta yang membuat Edelweis bingung.


“Kebagian apa?”


“Bubur mbak.”


“Bubur?” Edelweis bergumam pelan. Apa bubur yang sama yang dimakan Jonathan tadi? Tanya Edelweis penasaran. “Bubur dari siapa emangnya?” tanya Edelweis, tapi hatinya sudah menebak satu nama.


“Mbak Retha, mbak.” Sinta tersenyum senang, perutnya benar-benar kenyang sekarang. “Tadi mbak Retha datang mbak, datangin gerobak bubur ke kantor. Dia bagi-bagi bubur gratis tadi. Enak tahu mbak buburnya, porsinya juga pas, gak sedikit ataupun kebanyakan. Pas pokoknya, bikin kenyang.”


Tuhkan, tebakan Edelweis benar tentang siapa yang membawakan bubur itu.


“Dih, caper banget.”


“Tapi, mbak Retha tuh emang sering mbak bawain anak kantor makanan. Dia—”


“Iya, itu namanya caper.”


"Bukan caper mbak, tapi berbagi. Dia itu—”


“Eh, berbagi tuh sama yang membutuhkan. Anak-anak kantor ini sangat berkecukupan, jadi gak perlu dapat yang kayak gituan. Emang tuh cewek kampung caper aja, dih najis banget.”


Sinta salah sepertinya memberitahukan ini pada Edelweis.


“Mana ngasih juga sama bos sini, dikira gak mampu apa. Fix, itu mah caper namanya!”


Sinta membulatkan matanya, dia tersenyum simpul mendengar gerutuan Edelweis. “Mbak Edel, cemburu, ya sama Mbak Retha?”


Edelweis menatap kesal Sinta. “Cemburu apaan sih lo?”


“Ya, karena mbak Retha suka bagi-bagi disini terus di notice sama Pak Jo.”


Edelweis membuang muka, gengsi hanya untuk membenarkan ucapan Sinta itu.


“Gak level banget cemburu sama cewek kampung gitu.”


“Mbak, kalau mbak cemburu. Kenapa mbak gak melakukan hal sama kayak mbak Retha juga biar di notice sama Pak Jo.”


Edelweis langsung terdiam. Apakah dia harus melakukan itu?

__ADS_1


__ADS_2