
“Mba Retha, setelah ini kita ada take lagi, sekitar jam setengah duaan. Jangan lupa, ya mbak!”
Retha terkekeh, dia menunjukkan kedua jempol tangannya. “Siap-siap, tenang aja, aku gak mungkin lupa. Tapi, makasih ya udah diingetin.” ucap Retha, dia menatap cermin yang memantulkan mereka. Saat ini dirinya tengah dirias, lebih tepatnya hanya di touch up saja.
“Mbak Retha, aku ke toilet sebentar, ya. Kebelet banget ini.”
“Oh, iya, Nan. Ini juga udah selesai ini kok. Santai aja.” jawab Retha yang membuat makeup artisnya terkekeh. “Buruan sana, nanti beser disini lagi.”
“Iya, mbak, iya. Bentar, ya mbak...”
“Iya...”
Retha menatap ponselnya kini, senyuman tak lepas dari bibirnya kala dia membaca pesan yang dikirimkan seseorang padanya. Pesan sederhana yang mampu menggetarkan hatinya.
“Mas Jo bisa aja,” gumam Retha saat dia membaca pujian yang diberikan Jonathan untuknya.
“Ya ampun, ini mas Jo kenapa harus video call segala sih?”
Retha jadi cemas sendiri, dia menatap pantulan dirinya di cermin, memastikan dirinya sudah dalam situasi yang tenang sebelum akhirnya dia mengangkat panggilan dari Jonathan itu. Meskipun nyatanya, dia tengah deg-degan kini.
“Hai, mas.”
“Hai, Tha. Kok lama banget angkat telepon nya?”
Retha mengerjapkan matanya, dia tersenyum simpul sambil menggeleng pelan.
“Masa sih? Enggak, ah. Aku angkatnya gercep kok, kayak biasanya.” jawab Retha, pipinya terasa panas kini. Apakah merona?
“Yaudah, iya. Kamu lagi di lokasi syuting?”
Retha mengangguk, “Iya, mas. Cuma lagi break bentar.”
“Oh... Btw, kamu ambil projek baru itu?”
Retha tahu projek yang dimaksud Jonathan, dia sendiri yang bercerita padahal mungkin Jonathan sudah tahu sebelumnya. “Iya, mas. Aku ambil, soalnya aku pikir karakter nya cocok sama aku. Sosok Lara disitu, sedikit kayak menggambarkan diri aku. Dan, kalau akunya udah cocok, aku pasti enjoy banget ngejalaninnya.” jelas Retha.
“Yaudah, aku serahin semuanya sama kamu. Lagipula benar kata kamu, kalau suka pasti enjoy.”
Retha tersenyum senang, dia mengangguk mengiyakan.
“Oh, iya. Kamu udah pikirin jawaban dari pertanyaan aku semalam?”
Semalam?
Iya, semalam Jonathan mengajak Retha jalan, pergi makan malam di suatu restoran. Retha pikir, hanya makan malam biasa. Namun, bukan sekedar itu saja, malam itu Jonathan juga mengungkapkannya perasaannya, lagi dan kali ini sekaligus mengajak Retha untuk menjalin hubungan serius dengannya.
Retha mengangguk. “Udah, mas. Aku udah tahu jawabannya.”
“Apa?”
Retha terkekeh melihat antusiasme Jonathan, “Nanti aku kasih tahu, tapi bukan sekarang.”
“Terus kapan?”
“Malam ini mungkin,”
***
Edelweis mengerutkan kening penasaran mendengar kalimat terakhir yang dia dengar.
“Jawaban apaan?” tanya Edelweis bingung.
Edelweis mendengus kesal, dia berdecak pinggang sambil memikirkan apa maksud dari obrolan Jonathan dan Retha tadi.
“Kira-kira mereka lagi ngomongin apa, ya? Gue harus cari tahu sih!”
“Mbak Edel,”
Edelweis tersentak, dia mengerutkan keningnya saat Sinta menghampirinya dengan berkas-berkas yang dia bawa. Edelweis memicingkan mata, “Kenapa?”
__ADS_1
Sinta tersenyum kikuk, dia menatap berkas yang dibawanya. “Ini mbak, ada berkas—” belum selesai Sinta bicara, Edelweis lebih dulu memotongnya.
“Lo berani suruh-suruh gue?”
Sinta membelalakkan matanya, dia menggeleng cepat. “Bukan gitu mbak maksud aku. Tapi, —”
“Asal lo tahu, ya. Gue tuh seharusnya jadi atasan lo, cuma karena Jo pengen gue belajar, makanya gue sejajar sama lo. Tapi, karena nyatanya gue tuh udah bisa sebenarnya, udah pinter, gue gak mau belajar. Malesin banget.”
“Tapi kan, mbak. Pak Jo sendiri yang bilang kalau mbak Edel itu—”
“Ya, omongan Jo lo dengerin. Janganlah! Lagian, lo juga biasanya ngerjain sendiri, bisa kan? Udah sih, gak usah manja.”
Sinta hanya bisa menghela napas kasar, seharusnya dia tak mengharapkan apapun dari seorang Edelweis ini. “Yaudah, mbak. Iya.”
Edelweis memutar bola matanya, "Emang seharusnya iya. Yaudah, sana balik kerja!” Sinta mengangguk, pergi kembali ke mejanya.
Edelweis pun kembali ke mejanya, dia bersandar sambil memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi kedepannya.
“Sinta,”
Sinta yang duduk di hadapannya mendongak, “Iya, mbak?”
“Udah berapa lama lo jadi sekertaris Jo?”
“Mau hampir dua tahun, mbak.”
Edelweis mengangguk-angguk, “Jo, gimana orangnya? Dia kan omongannya pedas banget, suka nyakitin.”
Sinta mengerutkan keningnya bingung mendengar itu, “Enggak kok, mbak. Pak Jonathan baik orangnya, marah pun dia gak banyak omong.”
Edelweis terkejut mendengarnya, “Masa?”
“Iya, mbak, serius.”
Sudah jelas sih, artinya selama ini omongan Jonathan yang menyakitkan hanya berlaku untuk Edelweis saja.
“Pilih kasih banget sih!” dengus Edelweis yang masih bisa didengar Sinta. “Btw, dia dekat gak sih sama cewek-cewek. Perasaan gak ada deh satu berita pun yang ngomongin dia sama cewek, gak curiga lo kalau dia tuh sebenarnya... You know lah.”
“Salah?”
Sinta mengangguk, “Iya, mbak. Ternyata Pak Jo itu lagi menjaga satu hati.”
“Siapa?”
“Mbak Retha.”
Raut wajah Edelweis berubah seketika. Sinta yang melihat perubahan itu pun langsung meringis pelan, dia merutuki kebodohannya yang asal saja bicara meskipun sebenarnya itu fakta. Tapi, semuanya juga tahu jika Edelweis sudah mendeklarasikan dirinya sebagai calon istri Jonathan.
“Mbak maaf, aku gak bermaksud. Aku—”
Edelweis mengendikkan bahunya, “Iya, gue maafin. Tapi, gue harus ingetin lo lagi kalau gue ini calon istrinya. Gak peduli hati siapa yang Jonathan jaga, yang jelas gue pemiliknya.”
Sinta tahu sekarang. Edelweis bukan hanya angkuh, sombong tapi juga orang yang sangat berambisi.
***
“Mam, ngapain disini?” tanya Jonathan saat Emmeline ada di kantor menemuinya, dia melirik Edelweis yang berdiri di samping Mamanya itu.
Emmeline menghampiri Jonathan, “Jo, mama kan udah chat kamu semalam. Masa masih tanya juga kenapa?” tukas Emmeline.
“Jo, gak mau, Ma.”
“Mama gak minta persetujuan kamu.”
“Ma, tapi yang menikah itu aku. Jadi apapun harus sesuai persetujuan aku karena kehidupan aku kedepannya yang jadi taruhan.”
“Kamu bicara seperti itu kayak masa depan kamu akan hancur aja. Jangan konyol deh.”
Jonathan menatap Edelweis yang terus tersenyum penuh arti padanya. “Memang akan hancur kalau nantinya aku menikah sama dia.”
__ADS_1
“Jaga omongan kamu, Jo!” kesal Emmeline, dia seketika menatap Edelweis yang menunjukkan wajah sedihnya. “Tante...”
“Mama gak mau tahu! Sore ini kamu datang ke butik tante Syika. Mama udah buat janji untuk kalian fitting baju pernikahan kalian.”
“Ma,—”
Emmeline merangkul Edelweis, dia membawa putrinya itu untuk ikut pergi bersamanya.
“Kalau kamu menolak, kamu tahu sendiri apa akibatnya. Papa kamu gak akan mungkin tinggal diam, Jo.” ucap Emmeline tanpa menatap Jonathan yang benar-benar marah kini.
Sedangkan, Edelweis menoleh dan tersenyum miring, dia mengedipkan sebelah matanya sebelum keluar meninggalkan Jonathan yang langsung menggebrak meja setelah kepergian mereka.
***
“Turun!”
Edelweis mengerutkan kening saat Jonathan memintanya untuk turun dari mobil saat mereka baru saja sampai di depan butik dimana Emmeline sudah membuat janji untuk fitting gaun pernikahannya bersama Jonathan.
“Lo juga masuk kan?”
Jonathan tersenyum miring, dia menoleh pada Edelweis. “Harus lo tanyain itu? Lo bahkan tahu jawabannya apa.”
“Emangnya lo mau kemana? Sampai-sampai lo gak mau ikut masuk kedalam.”
“Bukan urusan lo. Lagipula, kalaupun gue gak kemana-mana, gue juga gak mau masuk. Buat apa? Toh, ini semua gak pernah gue harapin.”
“Lo pikir, gue juga mengharapkan ini?”
Jonathan mengangguk cepat, “Iya, lo mengharapkan ini semua. Karena kalau enggak, seharusnya dari awal lo tuh tolak semuanya. Lo bilang sama nyokap bokap gue buat batalin ini semua.”
“Lo pikir gampang gitu? Gue juga—”
“Gampang lah! Lo ngerek sedikit aja, pasti orang tua gue langsung turutin. Apa pernah mereka tolak permintaan lo?” Edelweis terdiam, dia tak pernah mendapat penolakan apapun sejauh ini dari orang tua Jonathan. “Enggak, kan? Makanya, kalau lo emang gak setuju, lo tolak. Tapi, enggak, lo kayaknya emang mau married sama gue. Lo masih mau hancurin hidup gue.”
Edelweis mendengus kesal, “Lo kenapa sih? Selalu aja bilang kalau gue mau hancurin hidup lo. Enggak, ya! Gue gak pernah ada niatan kayak gitu! Gue gak mungkin mau bikin hidup orang sengsara.”
“Basi banget omongan lo!”
“Lo gak pernah mau percaya sama gue.”
Jonathan menghela napas kasar. “Udah, gue malas ribut sama lo. Turun sekarang!”
“Enggak! Lo juga harus ikut masuk, gue gak mau tahu!”
“Turun!”
“Jo—”
Jonathan keluar dari mobilnya, memutari bagian depan mobil dan langsung membuka pintu samping dimana Edelweis berasa. Dia langsung melepaskan sabuk pengaman perempuan itu, menarik Edelweis untuk keluar dari mobilnya.
“Jo, gue gak mau!”
Jonathan tak peduli, dia tetap memaksa Edelweis untuk turun.
Jonathan menghempaskan tangan Edelweis saat perempuan itu sudah keluar dari mobilnya, ditatap nya perempuan itu dengan tajam. “Batu!”
Jonathan bergegas kembali masuk ke mobilnya, namun langkahnya seketika terhenti saat Edelweis kembali bicara.
“Gue tahu lo sebenarnya mau ketemu cewek kampungan itu kan?”
“Kalau iya, kenapa? Bukan urusan lo juga.”
Edelweis kesal dan marah, dia kalah saing. “Lo tuh buta atau gimana sih, Jo? Buat apa lo ngejar cewek itu? Apa spesial nya cewek kampungan itu? Gak ada. Lo harusnya bersyukur dijodohin sama gue, disaat semua laki-laki diluar sana mengharapkan gue, lo dengan mudahnya bisa miliki gue. Dan, begonya lo malah milih cewek kampungan itu!” Edelweis menunjuk kepalanya kesal, “Pakai otak lo!”
Jonathan tertawa hambar mendengar ucapan Edelweis yang membanggakan dirinya.
“Lo tanya, kenapa gue lebih pilih Retha daripada lo?” Jonathan tersenyum miring, “Harusnya lo ngaca, apa yang spesial di diri lo sampai-sampai gue harus pilih lo. Cewek manja, sombong, gak pernah mau kalah kayak lo, gak ada apa-apa nya dibanding Retha. Bahkan, kayaknya kalau lo dibandingin sama Retha, lo kalah dalam segi apapun. Lo minus.”
Edelweis mengepalkan tangannya kesal, marah karena penghinaan Jonathan.
__ADS_1
“Jadi, sebelum lo ngerendahin orang lain, ngaca dulu! Lo bahkan lebih rendah dari orang yang lo ejek itu.”
Setelah mengucapkan itu, Jonathan kembali masuk dan melajukan mobilnya pergi meninggalkan Edelweis yang masih diam menahan marah.