Sandiwara

Sandiwara
Ep.34 - Sikap yang berbeda


__ADS_3

Hoek... Hoek...


Edelweis tak memuntahkan apapun, hanya cairan bening yang keluar saat dia muntah. Tapi, perutnya terus bergejolak sejak tadi, tak kuasa untuk menahannya lagi. Rasa mual itu mengganggu tidurnya. Ini kali pertama semenjak kehamilannya, Edelweis muntah. Selama ini, padahal dia baik-baik saja. Tapi, semenjak minum susu ibu hamil yang disarankan dokter, sejak saat itu dia mulai merasakan gejala ibu hamil pada umumnya.


Apa ibu hamil yang lain ada yang seperti Edelweis?


Edelweis tak kuasa menahan air matanya. Tubuhnya lemas sekali, sedangkan rasa mual tak kunjung hilang dia rasakan. Bahkan, untuk bertumpu pada wastafel saja rasanya Edelweis sudah tak sanggup, kalau saja tidak ada tangan yang cepat menangkap tubuhnya.


Edelweis mendongak, menatap orang yang menangkapnya. Air mata pun menetes dari matanya. “Jo, mual...” rengek Edelweis, dia menangis kini. Tak peduli bagaimana tanggapan Jonathan padanya, dia memang benar-benar lemah kali ini.


Jonathan tahu, Edelweis tak mungkin berbohong kali ini hanya untuk menarik perhatiannya. Wajah pucat perempuan itu tak bisa disembunyikan. Pun, Jonathan bisa merasakan bagaimana lemas nya muntah tanpa memuntahkan apapun, dia pernah berada di posisi Edelweis sebelumnya.


“Lo tahu, lo mual-mual. Ngapain pakai masuk kantor segala sih.”


Edelweis pikir, Jonathan akan iba padanya. Namun, pria justru memarahinya dengan nada sinis seperti itu membuat Edelweis kesal dibuatnya.


Edelweis menegakkan tubuhnya, sebisa mungkin berdiri tegak. “Gue tuh lagi mual, Jo. Lo ngapain marah-marah sama gue coba? Lagian, gue juga gak mau kali mual-mual di kantor, malu.” kesal Edelweis, dia menghapus air matanya yang tak kunjung berhenti.


“Siapa yang marah, Del? Gue—”


Edelweis tak peduli, dia melenggang pergi melewati Jonathan begitu saja. Jonathan segera mengikuti Edelweis, dia menyusul langkah perempuan itu. Beruntungnya ini jam istirahat, jadi tak ada Sinta yang membuat dia bisa bersikap bebas pada Edelweis tanpa takut membuat orang-orang curiga.


“Masuk ke ruangan gue,”


Edelweis memijat pelipisnya, dia menghirup minyak angin ditangannya. “Gak!” tolak Edelweis tanpa menatap Jonathan, dia memasang wajah masam.


“Del,—”


“Apaan sih!” Edelweis menatap kesal Jonathan, “Gak usah sok peduli sama gue deh! Lo juga mau marah-marah kan sama gue, makanya lo minta gue ke ruangan lo? Gak mau!” tolak Edelweis keras.


“Lo tuh, ya. Pikiran lo negatif terus. Gue cuma mau bantuin lo. Gue pernah ada diposisi lo, kalau lo lupa. Jadi, gue tahu apa yang harus dilakuin kalau lagi mual kayak gini tuh.”


Edelweis memutar tubuhnya, memunggungi Jonathan. Dia kesal pada pria itu.


Jonathan menghela napas kasar, dia menggeleng heran. “Gue tunggu di ruangan gue.” ucap Jonathan sambil berlalu pergi meninggalkan Edelweis masuk ke ruangannya.


Edelweis mencebik kesal, dia menjatuhkan kepalanya diatas meja sambil menghirup minyak angin ditangannya. Benar-benar menyiksa rasa mual ini, dia sampai lemas sekali rasanya.


Tak lama kemudian, Sinta datang menghampiri nya sambil membawa bungkusan yang berisikan makanan. Dia membawa makan siang untuk Edelweis karena perempuan itu sepertinya belum makan, ditambah saat dia hendak pergi pun dia tak menemukan keberadaan Edelweis. Dan, sekarang Sinta justru menemukan Edelweis yang tergelak lemas.


“Mbak Edel, baik-baik aja kan?” tanya Sinta.


Edelweis hanya mendongak, “Sin, gue lemas banget. Pusing, mual, pengen muntah terus bawaannya.” keluh Edelweis, dia rasanya ingin menangis juga di hadapan Sinta saat ini.


Sinta meringis pelan, merasa prihatin melihat keadaan Edelweis kali ini. “Mbak Edel diisi makan dulu aja, biar nanti kalau muntah ada yang dikeluarin mbak.”


“Gak mau, Sin. Gue cium bau makanan aja udah mual ini. Lo bawa makanan, ya?”


Sinta mengangguk, “Iya, mbak. Ini Adinda bawain makan siang, takutnya mbak belum makan jadi dia minta aku kasih ini ke mbak.” ucap Sinta, dia menunjukkan apa yang dia bawa.

__ADS_1


Edelweis menggeleng cepat, dia menjauhkan dirinya saat Sinta menunjukkan makanan itu. “Duh, Sin. Jangan dideketin ke gue, mual gue, Sin.” ucap Edelweis, dia meringis sambil menutup mulutnya.


Sinta bergegas menjauhkan makanan itu, dia meletakkan makanan itu di mejanya. “Iya, iya, mbak. Sorry, sorry. Jadi, mbak mau gimana sekarang? Apa mau pulang aja? Iya, mbak mending pulang aja, istirahat di rumah.”


“Gak tahu deh gue.”


“Apa mbak ke ruangan kesehatan aja? Istirahat dulu di sana. Ayo, aku anterin.”


Edelweis terdiam memikirkan, dia mengangguk akhirnya. “Yaudah deh, gue istirahat di sana aja.”


Belum sempat Edelweis beranjak dari duduknya, telpon Sinta berdering membuat perempuan itu mengurungkan niatnya terlebih dahulu mengantar Edelweis.


“Bentar, mbak. Angkat telpon dulu.” Edelweis mengangguk.


“Iya, pak Jo. Ada apa?”


Edelweis mengerutkan keningnya saat tahu jika yang menelpon Sinta adalah Jonathan, ditambah tatapan Sinta padanya membuat dia jadi semakin bingung.


Sinta mengangguk-angguk, “Baik, pak. Saya sampaikan.”


Sinta meringis pelan, dia menatap Edelweis dengan senyum kikuk. “Mbak Edel, disuruh masuk ke ruangan pak Jo.”


Edelweis menghela napas kasar, dia mendesah berat. “Aduh, kenapa lagi sih?” kesal Edelweis.


“Gak tahu, mbak. Mending mbak masuk dulu aja, temuin pak Jo sekalian izin kalau mbak mau istirahat di ruang kesehatan.”


“Ribet banget sih!”


“Apa lagi sih, Jo!?” kesal Edelweis saat dia membuka pintu ruangan, menemukan Jonathan yang duduk di kursinya.


Jonathan menatap Edelweis, dia beranjak dari duduknya. “Duduk dan makan!” titah Jonathan, menunjuk pada sofa untuk Edelweis duduk juga makanan yang sudah tersedia di sana.


Edelweis menatap makanan yang ada di meja, keningnya mengerut bingung. “Lo minta gue kesini cuma buat suruh gue makan?” tanya Edelweis tak percaya.


“Lo tuh muntah-muntah, Del. Dan, gak ada yang lo muntahin kan? Karena, apa? Ya, karena lo gak ngisi perut lo itu dengan makanan apapun. Jadinya, yang lo muntahin tuh cuma cairan-cairan doang. Makanya, sekarang lo makan!”


“Gak! Gue gak mau.”


“Jangan keras kepala, deh. Hilangin dulu sikap egois lo itu! Ingat, lo lagi hamil sekarang. Jangan egois!”


“Tapi, Jo. Gue tuh mual, gue—”


“Lo pikir, gue gak pernah ada diposisi lo apa?” potong Jonathan cepat, dia mencoba mengingatkan Edelweis jika dia juga pernah merasakan apa yang perempuan itu rasakan sebelumnya. “Jadi, dengerin gue. Lo makan sekarang dan lo boleh istirahat setelahnya kalau lo masih ngerasa lemas.”


Edelweis mencebik, “Gak, gue gak mau!”


“Del, dia juga butuh asupan kali! Kalau lo gak mau makan, seenggaknya lo ingat buat siapa lo makan, buat dia, Del.”


Edelweis langsung diam.

__ADS_1


“Gimana juga, dia anak gue kan?”


***


“Del, bangun...”


Edelweis menggeliat dalam tidurnya, bukannya bangun, perempuan itu justru semakin mengeratkan pelukannya pada guling. Dia masih asik bergelut dalam tidur nyenyak nya yang baru saja terlaksana beberapa saat yang lalu.


Jonathan melirik jam dipergelengan tangannya. Sudah waktunya jam pulang, namun Edelweis masih juga belum terbangun dari tidurnya.


“Permisi, pak?”


Jonathan mendengar suara Sinta, dia bergegas keluar dari kamar ini dan menghampiri Sinta di ruang kerjanya.


“Maaf, pak. Semua file untuk hari ini sudah saya kirim ke bapak lewat email, mohon di cek ulang, ya pak. Kalau ada beberapa masalah atau ada yang mau di benarkan lagi. Bapak bisa langsung hubungi saya.”


Jonathan mengangguk, “Oke, Sin. Terimakasih, ya.”


Sinta mengangguk. “Saya boleh pulang sekarang kan, pak?” tanya Sinta, dia berharap dibolehkan karena dia sudah lelah sejujurnya seharian ini.


“Iya, boleh.”


“Terimakasih, pak.” Sinta senang mendengarnya. Namun, dia jadi teringat Edelweis yang tak kunjung keluar dari ruangan Jonathan sejak jam makan siang tadi saat Jonathan meminta Edelweis menemuinya di ruangan pria itu. “Maaf, pak. Mbak Edel?”


“Kamu gak usah khawatir, dia baik-baik aja kok.”


Sinta tersenyum kikuk, “Mbak Edel sekarang dimana, ya, pak? Saya tadi gak lihat dia setelah ke ruangan bapak?” tanya Sinta pelan, dia meringis pelan saat melontarkan pertanyaan demikian.


“Harus banget saya jawab pertanyaan kamu ini?”


“Eh, bukan begitu pak maksudnya. Saya cuma khawatir aja sama mbak Edel, udah itu doang kok pak. Saya gak menaruh curiga apapun, apalagi sama bapak.”


“Yaudah. Saya kan udah jawab kalau dia baik-baik aja, jadi kamu bisa tenang.”


“Iya, pak. Tapi,—”


“Kamu mau lembur?” potong Jonathan cepat yang langsung mendapat penolakan dari Sinta. “Yaudah, kamu bisa pulang sekarang.” sambung Jonathan.


“Yaudah, pak. Saya permisi kalau begitu.”


“Iya.”


Setelah Sinta pergi, Jonathan kembali menemui Edelweis yang masih juga tertidur pulas. Sebenarnya bisa saja Jonathan acuh, namun mengingat kehamilan perempuan itu, entah kenapa sikap yang biasanya dia tunjukkan pada perempuan itu seakan menghilang perlahan. Sulit untuk tak peduli pada Edelweis barang sedetikpun.


Entah dengan paksaan atau tidak, Jonathan langsung mengangkat Edelweis. Dia mengangkat Edelweis ala bridal style, tangan Edelweis pun otomatis melingkar pada leher Jonathan.


Jonathan bisa melihat wajah Edelweis sedekat ini dan seharusnya dia merasa biasa-biasa saja, namun entah kenapa ada yang berbeda yang dia rasakan kini yang sulit dia jelaskan apa maksudnya.


Sinta yang belum pulang dan sengaja bersembunyi, terlonjak kaget saat melihat Jonathan yang menggendong Edelweis yang tertidur atau pingsan, dia tak tahu. Yang jelas, tanpa sadar ponsel ditangannya langsung mengarah pada kamera, satu jepretan dimana Jonathan menggendong Edelweis berhasil dia abadikan di ponselnya.

__ADS_1


“Benar sih, ada sesuatu diantara pak Jo sama mbak Edel. Yakin banget ini mah!”


***


__ADS_2