Sandiwara

Sandiwara
Ep.25 - Insiden Makan Siang


__ADS_3

Edelweis tak pernah se penasaran ini pada orang. Dia bukan orang yang akan peduli dengan kehidupan pribadi orang lain, sudah cukup kehidupannya saja yang dia jalani, kalau harus mengurus kehidupan orang lain juga, rasanya Edelweis tak bisa.


Tapi, kali ini berbeda. Pernah satu malam dimana dia mendengar bagaimana mesranya seorang Jonathan. Sayangnya, kemesraan yang ditunjukkan itu bukan untuk Edelweis, melainkan perempuan lain yang tak bukan adalah Retha.


Hal tersebut lah yang membuat Edelweis bisa ada disini sekarang.


Dengan rasa penasaran yang begitu besar, Edelweis memberanikan diri mengikuti kemana perginya Jonathan saat ini. Dan, disinilah dirinya. Di sebuah restoran sederhana yang lumayan jauh dari perkotaan, tempatnya hampir mendekat ke pinggiran. Namun, tak bisa di pungkiri jika suasana di restoran ini begitu mengenakan. Kesan-kesan sederhana, barang-barang yang ditata sedemikian rupa juga aroma makanan yang dimasak langsung di hadapan pengunjung lah yang menjadi daya tarik utamanya.


Tak jauh dari Edelweis saat ini, ada Jonathan juga Retha yang juga tengah menikmati makanan ditempat ini. Mereka berdua mengenakan topi yang menutupi wajah, sehingga kemungkinan media menangkap basah mereka kecil. Mungkin, mereka tak mau kalau sampai media tahu jika artis yang sedang naik daun saat ini ketahuan pergi berkencan dengan seorang bos pemilik perusahaan media.


Kalau ditanya, apakah Edelweis tak ketahuan?


Maka jawabannya semoga saja tidak. Karena sebisa mungkin Edelweis memanipulasi penampilannya, sebisanya dia bergaya bukan seperti dia biasanya, tak lupa juga topi yang sama juga digunakannya untuk menutupi wajahnya.


Melihat Jonathan yang tertawa lepas membuat Edelweis tersentak seketika, melihat bagaimana romantisnya mereka berdua semakin membuatnya yakin jika tak mungkin kalau diantara mereka tak ada hubungan khusus. Sudah pasti ada hubungan lebih diantara mereka.


Entah kenapa, ada perasaan tak suka yang dia rasakan melihat bagaimana hebatnya seorang Retha membuat Jonathan tertawa dan bahagia.


Mungkinkah Edelweis sudah jatuh cinta pada pria yang berstatus sebagai suaminya?


***


“Mbak Edel, kenapa diam aja?”


Edelweis mendongak, dia menatap Sinta yang duduk di hadapannya. Sinta tengah berkutat dengan beberapa dokumen, namun dia dibuat penasaran dengan diamnya Edelweis. Meskipun sebenarnya sejak awal Edelweis memang tak banyak bicara, namun semenjak mereka makan bersama di pecel lele, sedikit demi sedikit mereka mulai dekat.


“Menurut lo, Sin. Apa mungkin kalau cewek cowok barengan terus dan mereka keliatan bahagia kalau sama-sama itu mereka gak punya hubungan?”


Sinta menaikkan kedua alisnya, “Mungkin-mungkin aja sih mbak. Lagipula zaman sekarang banyak tuh orang-orang yang bahagia sama orang lain tanpa status yang jelas. Jadi, kalau pada akhirnya sama-sama suka, ya, mungkin-mungkin aja.”


Edelweis menghela napas kasar. “Kalau lo jadi cowok, tipe cewek idaman lo kayak gimana?” tanya Edelweis, dia menaikkan sebelah alisnya.


“Yang baik sih paling penting. Bukan cuma cantik diwajah, tapi juga cantik di sifat dan sikapnya. Kadang gini loh, mbak. Jangan jauh-jauh deh, kita realistis aja. Kalau ada cowok ganteng, udah pasti kita langsung suka tanpa kita tahu gimana sifatnya. Tapi, pas kita tahu sifatnya yang mungkin 'buruk' gitu, pasti tuh cowok ganteng jadi minus dimata kita. Begitupun sebaliknya sama cowok yang punya muka biasa-biasa aja, kalau sifatnya bagus, ya pastinya jadi nilai plus jadinya. Iya kan, mbak?”


Edelweis memikirkan ucapan Sinta, dia membenarkannya kalau dia pikir-pikir lagi.


“Kalau lo disuruh pilih antara gue sama Retha, lo pilih siapa?”


Sontak, Sinta jadi terdiam mendengar pertanyaan Edelweis itu. Ingin jujur, dia tak mau menyakiti hati orang lain. Tapi, Edelweis menatapnya lekat meminta jawaban cepat.


“Mbak Retha artis itu?”


Edelweis mengangguk, “Iya.” Edelweis menaikkan kedua alisnya, "Siapa? Lo bakal pilih siapa?” tanya Edelweis memaksa.


“Hm... Aku pilih, hm...—bentar, mbak. Aku angkat telpon dulu.”


Edelweis berdecak pelan, lain halnya dengan Sinta yang merasa bersyukur dan berterima kasih pada orang yang menelponnya sehingga dia terbebas dari pertanyaan yang menyakitkan nya.


“Baik Pak, akan saya sampaikan.”


Sinta meletakkan kembali telepon ke tempatnya semula saat orang yang menelponnya memutus telpon tersebut. Dia menatap Edelweis kini, "Mbak Edel, disuruh masuk sama Pak Jo sekarang.”


Edelweis mengerutkan keningnya, “Loh, yang tadi telpon lo itu Jonathan?” tanya Edelweis yang di angguki Sinta. “Dih, kenapa dia gak telpon gue langsung coba? Kenapa harus lewat lo?”

__ADS_1


Sinta menggeleng pelan, “Gak tahu, mbak.”


Edelweis menghela napas pelan, dia pun beranjak dari duduknya dan bersiap masuk ke ruangan Jo. Tanpa mengetuk pintu, dia segera masuk.


“Lo bisa kan Del, ketuk pintu dulu? Belajar sopan deh.”


Edelweis acuh, “Lo ngapain panggil gue kesini? Mana, lo minta gue masuk lewat Sinta lagi. Kenapa gak langsung telpon gue coba?” kesal Edelweis.


Jonathan tak menjawab, dia justru beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah sofa sambil membawa berkas yang entah apa Edelweis sendiri tak tahu.


“Lo baca ini, Del.”


Edelweis menghampiri Jonathan, dia duduk di hadapan pria itu dan mengambil berkas yang disodorkan Jonathan padanya. Dengan seksama dia membaca juga memahami isi dari berkas tersebut dan alangkah terkejutnya dia saat tahu isinya apa.


Edelweis mendongak, menatap tak percaya Jonathan. “Jo, ini serius?” tanya Edelweis memastikan.


Jonathan mengangguk, “Ya. Sebenarnya gue gak perlu juga ngasih tahu lo tentang ini, toh lo juga sebelumnya gak pernah bersangkutan dengan ini semua. Tapi, gue rasa setelah apa yang terjadi sama lo, lo juga harus tahu ini semua.”


Edelweis terdiam, dia mengangguk mengerti maksud ucapan Jonathan. Isi berkas yang diberikan Jonathan adalah sebuah informasi yang menerangkan beberapa kerugian perusahaan yang didapat atas batalnya kontrak kerja sama dengan perusahaan Dexa Group. Dan, kerugian yang didapat bukan jumlah yang sedikit, namun bisa mencapai ratusan milyar rupiah.


“Gue kasih tahu lo ini tuh bukan buat bikin jadi beban lo.” Jonathan menjelaskan maksudnya, terlebih Edelweis langsung terdiam seketika setelah dia beritahu ini semua.


“Rugi segitu, bukan masalah besar sebenarnya. Kita masih bisa cari partner kerja yang lainnya dan kerugian itu bisa ditutupin, meskipun gak bisa dipungkiri kalau satu kontrak dengan Dexa group sama dengan 2 kontrak perusahaan besar lainnya.”


“Tapi, apa kerugian itu penting? Gue rasa enggak. Saat ada harga diri perempuan yang dilecehkan dan direndahkan sama pimpinan perusahaan besar itu secara langsung. Gue rasa keputusan ini adalah keputusan yang tepat.” Edelweis semakin terdiam mendengar penjelasan Jonathan.


“Mungkin kita kehilangan banyak uang, tapi seengaknya kita berhasil menyelamatkan satu harga diri, yaitu harga diri lo.”


Yang Edelweis tangkap dari penjelasan Jonathan adalah pria itu memihak padanya, pria itu peduli akan kehormatan juga harga dirinya. Kalau sudah tahu begini, kenapa Edelweis semakin jatuh hati pada sosok Jonathan? Dan, membuatnya semakin menginginkan pria itu sepenuhnya, ingin Jonathan benar-benar menjadi miliknya.


***


Sinta menceritakan apa yang ditanyakan Edelweis padanya tadi, saat ini dia tengah menikmati makan siang bersama Adinda seperti biasanya. Kalau makan siang sih, Edelweis jarang bergabung, sesekali mungkin pernah. Tapi, kalau disebut sering mungkin tidak juga.


“Terus, kamu gak kasih jawaban apapun?”


“Enggak lah, takut salah aku. Lagian, kalau aku pengen jujur, udah pasti nyinggung mbak Edel. Kita kan tahu Din, mbak Edel tuh paling gak suka kalau Pak Jo di gosipin sama Mbak Retha.”


Adinda mengangguk-angguk, “Iya juga sih. Waktu itu kan dia juga pernah marah, ya sama kita karena kita ngomongin mbak Retha sama Pak Jo.”


Sinta menjentikkan jarinya, mengangguk setuju. “Tuh, kamu aja masih ingat kan sama hari itu.”


“Tapi, kamu percaya gak sih Din kalau ternyata emang antara Pak Jo sama Mbak Edel tuh punya hubungan? Apalagi ada gosip kalau mereka tuh tinggal bareng, mana mungkin gak ada hubungan sama sekali.”


Adinda terdiam memikirkan, dia mengetuk-ngetuk jarinya di meja. Dia jadi ingat pada saat dirinya bersama Edelweis mengikuti mobil Jonathan, dimana saat itu Jonathan pergi menemui Retha.


“Din! Kok bengong sih!”


Adinda tersentak, “Enggak kok. Tapi, mungkin aja sih kalau mbak Edel sama Pak Jo tuh emang punya hubungan.”


“Kayaknya mah hubungan serius gitu gak sih?”


“Mungkin.”

__ADS_1


***


Jonathan membuka kotak makan siangnya, dia tersenyum senang melihat apa yang dikirimkan Retha ke kantor untuknya. Tak lupa, satu note tertempel disana.


...‘Dimakan ya Jo makan siangnya. Itu ada telur bacem, ayam goreng sama sayur tumis. Semoga kamu suka sama masakan aku. Oh, iya, brownies nya juga jangan lupa dimakan, enak tuh dijadiin dessert. ...


...Enjoy sayang... ...


...Retha’ ...


Jonathan tak lepas tersenyum melihat tulisan tangan Retha. Dia mengambil sendok dan garpu yang sudah disediakan juga oleh Retha, kemudian mulai mencicipi satu persatu menu nya. Dan seperti biasa, masakan Retha tak pernah salah. Selalu berhasil membuat dia senang.


Namun, saat suapan ke dua, tiba-tiba perutnya terasa bergejolak membuat dia dengan cepat beranjak pergi ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya itu.


Jonathan segera membersihkan mulutnya, dia menatap dirinya di cermin. “Gue kenapa?” tanya Jonathan, dia bingung dengan dirinya.


Jonathan keluar dari toilet dan justru menemukan Edelweis yang sudah berada di ruangannya, berdiri dengan tentengan yang dibawanya.


“Lo ngapain disini, Del?” tanya Jonathan, dia menghampiri Edelweis.


“Gue... Gue...” Edelweis bingung harus menyampaikan nya bagaimana, dia tak mau salah bicara yang justru nantinya akan merugikan dirinya.


“Lo, kenapa?”


“Gue salah order dan justru beli banyak. Dari pada gue buang-buang makanan, mending gue kasih aja nih makanan buat lo. Tuh, makan siang buat lo.”


Jonathan terdiam, dia menatap makanan yang dibawakan Edelweis. “Gak usah deh, gak perlu. Lagian, gue udah ada makanan juga. Lo kasih aja ke yang lain.”


Edelweis menatap meja kerja Jonathan, dia mencebikkan bibirnya dan melihat dengan jelas makanan apa disana. “Ih, makanan apaan tuh. Udah, paling enak makanan yang gue bawa. Lo makan makanan gue aja.” ucap Edelweis sambil meletakkan makanannya dan mulai menutup kotak makan itu tanpa peduli dengan Jonathan yang sudah mencegahnya.


“Apaan sih lo, Del. Siniin makanan gue!”


“Enggak! Lo makan makanan yang gue bawain.”


“Ogah!”


“Ih! Lo tuh, ya! Lagian, makanan apaan sih ini? Ayam goreng doang juga! Sama kali kayak yang gue bawa!”


“Bedalah! Yang lo bawa itu junkfood semua, gak sehat! Masih mending gue makan, makanan dari kotak makan itu, lebih sehat.”


Edelweis menggeleng, dia menyembunyikan kotak makan itu. “Enggak! Lo makan makanan yang gue bawa!”


Jonathan mendengus kesal, “Del...”


“No!”


Jonathan berdecak kesal, dia mencoba mengambil kembali kotak makan yang diberikan Retha itu. Namun, Edelweis terus menerus menyembunyikannya, menjauhkan dari jangkauan Jonathan.


“Del!”


“Ih... Jo!”


Edelweis yang menahan kotak makan itu, Jonathan yang terus menariknya. Alhasil terjadi adegan saling tarik menarik kotak makan tersebut yang berakhir tragis, dimana kotak makan itu terjatuh yang membuat semua isinya berserakan.

__ADS_1


“Edelweis!”


Edelweis meringis, “Sorry. Sengaja.”


__ADS_2