Sandiwara

Sandiwara
Ep.42 - Ngidam Seblak


__ADS_3

Jonathan selesai memarkirkan mobilnya, dia melepas seatbelt dan melirik Edelweis yang masih tertidur, bahkan tidur wanita itu terlihat begitu lelap.


“Del, bangun. Kita udah nyampe.”


Bukannya bangun, Edelweis justru semakin meringkuk kan tubuhnya, tak membuka mata dan kembali melanjutkan tidurnya. Jonathan menghela napas, dia bisa saja memaksa Edelweis untuk bangun dan beranjak keluar untuk masuk ke kediaman mereka. Namun, saat matanya tanpa sengaja melihat tonjolan di perut Edelweis, seketika ada desiran aneh yang dia rasakan.


Jonathan membenarkan posisi Edelweis agar duduk tegak, kemudian dirinya keluar dan berjalan kearah sisi dimana Edelweis berada. Dibukanya pintu mobil itu, ditatapnya Edelweis dengan lekat untuk beberapa saat sebelum akhirnya perlahan dia mengangkat tubuh perempuan itu, membawanya masuk ke apartemen mereka.


Jonathan masuk ke lift, menekan dengan susah payah tombol angka ke apartemennya. Setelah itu dia masuk, masih dengan Edelweis dalam gendongannya.


Menunggu sampai di lantai apartemennya, Jonathan menatap Edelweis kembali untuk waktu yang cukup lama.


“Andai lo jadi cewek normal Del, yang gak sombong dan gak banyak mau. Mungkin, gue gak akan sebenci ini sama lo. Sayangnya, sifat jelek lo yang keterlaluan udah bikin image lo buruk di mata gue. Jadi, jangan salahin gue kalau sampai sekarang pun gue belum bisa terima lo.”


Jonathan menarik sinis sudut bibirnya, “Dan, bisa-bisanya lo keliatan alim gini kalau lagi tidur. Dan, langsung berubah jadi iblis kalau udah bangun. Bagus...”


Ting!


Lift terbuka membuat Jonathan segera keluar, dia berjalan ke gedung nya dan langsung masuk dengan akses fingerprint. Kakinya berjalan menuju kamar Edelweis, namun saat ingat jika AC dikamar perempuan itu rusak membuatnya membelokkan arah menuju kamarnya.


Perlahan dan hati-hati, Jonathan merebahkan tubuh Edelweis di ranjangnya.


Jonathan berdiri tegak, meregangkan otot-ototnya. “Ngerepotin.” cibir Jonathan menatap Edelweis yang masih terjaga dalam tidurnya.


Seharusnya Jonathan langsung pergi saat ini juga, namun dirinya justru bersimpuh sehingga wajahnya berada didepan baby bump Edelweis. Tak tahu apa yang terjadi padanya, hanya saja dirinya terenyuh untuk menyentuhnya. Tangan besarnya yang gemetar terulur, menyentuh itu.


Tak berucap apapun, hanya diam termenung merasakan sesuatu yang baru dia rasakan. Dan, tangannya kini tak hanya tinggal diam, justru bergerak pelan dan lembut mengusap calon anaknya yang ada di perut Edelweis.


Dan, kembali desiran hebat itu dia rasakan.


Cepat-cepat Jonathan berdiri, bergegas pergi meninggalkan Edelweis yang terlelap. Aneh, dia merasa aneh namun justru ada suatu perasaan bahagia yang muncul dihatinya.


Apakah ini pertanda jika Jonathan sudah menerima kehadiran janin itu? Tunggu, tapi bukannya sejak awal dia tak pernah menolak?


***


“Onigiri yang semalam mana, Jo?” tanya Edelweis saat melihat Jonathan yang telah selesai membersihkan diri dan hendak masuk ke ruang kerjanya.


“Di kulkas,”


“Semuanya?”


Hanya deheman yang diberikan Jonathan sebelum pria itu memilih masuk ke ruang kerjanya meninggalkan Edelweis yang mendengus kesal mendapat respon acuh seperti itu.


Edelweis segera menuju dapur, menuju kulkas untuk mengambil onigiri yang dia inginkan semalam. Namun, rasa ingin itu tiba-tiba hilang begitu saja saat sesuatu di ponselnya menunjukkan tayangan tentang makanan.


“Ih... Kok jadi ngiler gini liatnya?” gumam Edelweis, dia mengecap saat air liur terasa penuh di mulutnya. “Tunggu dulu, ini apa namanya? Seblak? Kerupuk gitu namanya seblak? Makanan apaan?”

__ADS_1


Jujur, baru kali ini Edelweis mendengar ada makanan bernama Seblak. Sebelumnya dia tak tahu, bahkan belum pernah mendengarnya. Dan, baru sekarang saat satu video yang ditonton jutaan orang menunjukkan apa itu seblak.


Cepat-cepat Edelweis menuju ruang kerja Jonathan, masuk begitu saja tanpa permisi yang membuat Jonathan didalam tersentak kaget sekaligus kesal dengan tindakannya.


Edelweis terkekeh, menunjukkan deretan giginya.


“Ngapain sih, Del? Ganggu gue aja.”


Edelweis menghampiri Jonathan, langsung mengulurkan ponselnya. “Lihat!”


Jonathan mengerutkan keningnya, dia tak berniat menerima ponsel Edelweis untuk melihat apa yang ingin ditunjukkan perempuan itu. Namun, diamnya justru membuat Edelweis mendengus kesal sehingga perempuan itu semakin mendekat pada Jonathan.


“Lihat, Jo!”


“Apa sih!?”


“Lihat dulu makanya!”


Dengan malas, Jonathan melihat, lebih tepatnya menonton video yang ditunjukkan Edelweis. Sedangkan, Edelweis tersenyum lebar, menunggu respon yang akan diberikan Jonathan.


Video selesai diputar, Jonathan menatap jengah Edelweis. “Terus?”


“Gue mau makan itu!”


“Ya, terus?”


Edelweis mencebik, rasanya ingin mengacak wajah acuh Jonathan yang sialnya benar-benar tampan. “Ya, terus gue mau lo cari makanan yang namanya seblak ini. Gue mau makan itu.”


“Enggak, harus ke tempatnya!”


“Gue gak bisa dan gak tahu tempatnya dimana.”


“Ada alamatnya kok! Nih, disini ditulisin alamatnya, jalan—”


“Gue sibuk!”


“Ih, sibuk apa? Ini weekend, ya. Berarti harusnya gak ada kerjaan, ya!”


Jonathan mengedikkan bahunya acuh, dia menatap kembali layar laptopnya. “Itu sih lo, bukan gue. Lagian, bukannya hari sama aja buat lo? Mau itu weekend ataupun weekdays, lo gak ada kerjaan.”


Edelweis mencebik, membulatkan matanya kesal. “Sembarangan!” tukas Edelweis, dia mengerucutkan bibirnya.


Bukan Edelweis namanya jika apa yang dia inginkan tak terlaksana.


“Udah, ayo, ah! Buruan... Kita cari makanan yang namanya seblak itu. Ayo!” Edelweis menarik Jonathan untuk beranjak dari duduknya, dia akan memaksa pria itu.


“Apaan sih, Del? Ah! Lepasin!”

__ADS_1


“Enggak! Pokoknya, ayo kita cari. Ayo!”


“Enggak! Lepasin!”


“No! Gue mau seblak!”


Edelweis yang terus memaksa Jonathan dan Jonathan yang terus menerus menolak. Perempuan itu yang terus menarik, pria itu yang masih mempertahankan dirinya untuk tetap duduk. Mereka saling tarik menarik.


“Jo!” kesal Edelweis, dia menghempaskan dengan kasar tangan Jonathan saat pria itu masih saja tetap menolaknya.


Edelweis menatap kesal Jonathan dengan matanya yang sudah memanas, bibirnya juga bergetar dengan napas yang memburu karena marah. Hentakkan kaki Edelweis sebelum perempuan itu pergi menjadi pertanda jika Edelweis sedang kesal sekaligus marah.


“Iiih!”


Jonathan hanya diam, menatap kepergian Edelweis bersama kekesalannya.


***


Sungguh, Edelweis bukan tipe perempuan cengeng yang akan menangis begitu saja saat apa yang dia kehendaki tidak terlaksana. Dia tak akan menangis untuk hal apapun, apalagi hal sepele seperti ini. Namun, semenjak kehamilannya, apa-apa saja yang tidak sesuai dengan hatinya mudah sekali membuatnya meneteskan air mata. Seperti saat ini, hanya masalah seblak saja dia menangis.


“Ih... Ngapain nangis sih? Ih... Kesel!”


Edelweis mencoba menghapus air matanya, namun tak kunjung berhenti mengalir juga bahkan semakin deras.


“Jahat banget sih Jonathan. Padahal cuma pengen seblak doang, gak minta yang aneh-aneh. Tapi, pelit banget gak mau nganterin.” Edelweis terisak. “Padahal kan yang pengen juga anaknya, bukan cuma gue doang. Tapi, dia jahat banget gila.”


“Ayo, kita cari seblak itu.”


Edelweis menoleh dengan air mata yang masih tersisa, “Beneran?”


“Iya. Ayo!”


Edelweis tersenyum lebar, dia menghapus air matanya. Rasa bahagia seketika menyelimuti hatinya. Dengan cepat dia beranjak berdiri. “Ayo!”


Baru saja Edelweis hendak melangkah, namun tangannya dicekal oleh Jonathan yang membuat Edelweis berbalik kembali dengan raut bingung.


“Kenapa?”


“Ganti baju. Pake pakaian yang agak beneran dikit.”


Edelweis menatap penampilannya, tak ada yang salah. Kaos dengan hotpants. Dia nyaman dan suka dengan penampilannya. “Enggak mau, udah enak gini. Lagian, di luar panas banget, gerah jadinya.”


“Yaudah, berarti gak jadi.”


“Iish! Yaudah, gue ganti baju dulu! Ribet deh, ah.”


Edelweis segera menuju kamarnya dan suara Jonathan kembali menginterupsi nya.

__ADS_1


“Pake celana panjang, gak usah dress. Mau makan seblak, bukan fine dining kalau lo lupa.”


“Iya, iya, bawel!”


__ADS_2