
Oke. Edelweis hanya harus mengurus orang yang sakit demam, bukan harus bertempur hebat yang bisa menyebabkan pertumpahan darah. Tapi, kenapa perempuan itu bersikap seakan hal yang harus dia lakukan itu sulit bukan main.
Mungkin untuk sebagian orang, mengurus orang sakit demam adalah hal yang mudah. Namun, tidak untuk Edelweis yang sangat awam dengan itu. Dia tak pernah melayani, mengurus atau segala bentuk pengabdian pada orang lain. Justru orang-orang lah yang bersikap sebaliknya padanya.
Edelweis menyingsingkan lengan bajunya, menatap lekat tab yang ada di hadapannya. “Oke, gue siap buat bikin bubur!” ucap Edelweis yakin, dia menyemangati dirinya sendiri.
“Pertama, beras. Gue harus cari beras. Tapi, dimana?”
Satu persatu laci dan kabinet di dapur dia buka, mencari keberadaan beras yang jadi bahan utama untuk membuat bubur. Alhasil, setelah semua pintu laci juga kabinet dia buka, dia menemukan keberadaan beras tersebut.
“Oke, google. Cara mencuci beras yang bersih.”
Satu persatu artikel muncul, Edelweis memilih artikel paling atas. Dibacanya dengan seksama isi artikel tersebut, setelah mengerti apa maksudnya dia langsung mengeksekusinya. Dalam hidupnya, ini kali pertama dia mencuci beras. Pokoknya, segala hal yang berbau pekerjaan di dapur yang dia lakukan adalah kali pertama dalam hidupnya. Bukannya bermaksud bagaimana, hanya saja dia memang tak pernah diizinkan untuk menyentuh dapur. Pantang baginya untuk pergi ke dapur, itu aturan dalam keluarganya selama ini.
“Oke, cuci beras udah. Sekarang apa.” Edelweis membaca setiap urutannya. “Rice cooker! Masukkan berasnya ke rice cooker dan masak hingga menjadi lumer dan lembut, kira-kira setengah jam.” Edelweis berdecak pinggang. “Terus, ini seberapa banyak airnya?”
Edelweis mencari-cari lagi, akhirnya dia putus asa dan memilih memasukkan asal jumlah airnya. “Semoga aja jadi buburnya.”
Sambil menunggu buburnya masak, Edelweis bergegas kembali ke kamar Jonathan. Dia mengecek kembali suhu tubuh pria itu menggunakan termometer. Ternyata, masih sama, demam Jonathan masih tinggi.
“Bentar, ya, Jo. Gue lagi bikin bubur buat lo makan, semoga aja jadi. Setelah itu, baru deh lo minum obat.”
Edelweis melirik jam dinding, sudah pukul setengah satu malam namun rasa kantuk belum dia rasakan. Beruntungnya, besok weekend yang artinya tidak ada aktifitas untuk nya pergi ke kantor. Jadi, kalau kesiangan, ya gak papa. Meskipun sebenarnya Edelweis bisa dengan bebas berangkat kapanpun, hanya saja dia bosan sekali jika mendengar sindiran dari Jonathan saat dirinya datang telat.
Beberapa saat pun berlalu. Edelweis menatap rice cooker di hadapannya. Senyuman langsung tercetak lebar saat dia membuka benda itu dan bubur yang dia buat telah masak.
“Ya ampun, emang cerdas banget gue. Baru sekali bikin udah berhasil gini.” puji Edelweis pada dirinya sendiri. Pada dasarnya Edelweis ini memang cerdas, mudah menangkap segala sesuatu dengan cepat, hanya saja background keluarga terpandang terkadang membuat semua orang meremehkan. Banyak yang berpikir, dia bisa hanya karena keluarga. Logikanya, orang-orang berpikir uang lah yang bekerja, padahal tidak begitu semestinya.
Edelweis segera mengambil mangkuk, memindahkan bubur dari rice cooker ke mangkuk tersebut. Kelemahan Edelweis, dia orang yang terlalu terburu-buru, kurang stok sabarnya. Alhasil, akibat ulahnya itu tangannya juga yang jadi korban. Bukannya bubur tersebut masuk dengan sempurna ke mangkuk, justru jatuh berceceran bahkan mengenai tangannya.
Edelweis meringis saat bubur yang panas itu mengenai tangannya. Dengan cepat, dia berlari ke arah wastafel untuk mendinginkan tangannya yang terkena bubur panas itu. “Ya ampun...” Edelweis frustasi melihat dapur yang jadi sangat berantakan akibat ulahnya, padahal makanan yang dia buat hanya bubur semata.
Edelweis menghela napas kasar, dia merutuki dirinya sendiri yang ceroboh. “Dasar, Edel. Kerja tuh gak bisa hati-hati banget sih, jatuh semua kan.” Sangat disayangkan bubur yang Edelweis buat tumpah semua. “Untung aja masih ada yang jatuh ke mangkuk, masih mending lah.”
Edelweis segera membersihkan mangkuk itu, sehingga terlihat bagus dan indah dipandang bubur yang tak terlalu banyak itu. Setelahnya, dia segera membersihkan tangannya kembali. Lalu, bergegas pergi ke kamar Jonathan dengan bubur yang dibawanya.
“Jo, bangun dulu. Lo harus minum obat.”
Jonathan mengerjap-ngerjapkan matanya, samar-samar dia melihat seseorang.
“Bangun dulu. Lo makan, ya abis itu minum obat.”
Jonathan meringis saat merasakan pening di kepalanya, dia menggeleng pelan sambil memejamkan matanya kembali.
“Gak boleh gitu, Jo, harus dipaksain. Lo mau minum obat soalnya, jadinya harus makan. Biar lo sembuh.”
__ADS_1
Edelweis segera menyuapi Jonathan. Meskipun awalnya ada penolakan, namun karena paksakan dari Edelweis akhirnya Jonathan mau juga makan. Walaupun hanya masuk beberapa suap saja, namun masih lumayan. Setidaknya perut Jonathan diisi makanan sebelum nantinya harus minum obat.
“Minum dulu.”
Edelweis membantu Jonathan untuk minum, dia juga membantu pria itu untuk beranjak duduk karena harus minum obat nantinya.
“Nih, obatnya di minum.”
Edelweis memperhatikan Jonathan yang langsung meminum obatnya. “Udah, lo istirahat lagi aja. Tidur, ya.” Edelweis merebahkan Jonathan, dia menarik selimut sebatas dada pria itu.
Seulas senyum pun muncul di bibirnya saat melihat Jonathan yang mulai terlelap, “Cepat sembuh, ya, Jo.”
***
Jonathan mengerjapkan matanya, dia mengerutkan kening dalam saat rasa pening menghinggapi kepalanya. Dibuka matanya perlahan, hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamarnya.
Tangannya pun bergerak ke kepala, melihat ada kain yang menempel di sana juga mangkuk bekas makan, gelas berisi air juga mangkuk berukuran sedang diatas nakas kamarnya. Apakah Edelweis yang merawatnya saat dia sakit? Jonathan bertanya-tanya. Namun, pikiran itu segera dia tepis karena mustahil jika hal tersebut memang terjadi.
Semalam, sepulang dari kantor dia memang merasakan pening yang luar biasa. Seharian kemarin memang tubuhnya sudah terasa tak baik-baik saja, namun pekerjaannya yang harus dia handle sendiri membuatnya terpaksa harus memaksakan diri. Alhasil karena terlalu di forsir, tubuhnya yang sakit pun tumbang saat malam setelah dia membersihkan diri.
Dering ponsel milik Jonathan yang berbunyi menyadarkannya dari lamunan, dia segera mengambil ponselnya itu. Ternyata ada panggilan yang berasal dari Mamanya.
“Halo, Mam.” dengan suara serak Jonathan menjawab panggilan itu.
“Aku baik-baik aja kok.”
“Demam nya udah turun?”
“Mama tahu?”
“Tahu lah. Mama semalam ditelpon Edel kalau kamu ternyata sakit.”
Mendengar ucapan Mama nya membuat Jonathan berpikir, mungkin yang semalam mengurusnya yang sakit bukanlah Edelweis namun Mama nya. Buktinya, Edelweis menelpon Mamanya semalam, itu sebagai bukti jika perempuan itu tak sanggup dan tak mampu.
“Tapi, maafin Mama, ya. Mama gak bisa datang ke tempat kamu. Tiba-tiba Papa ada panggilan ke luar kota, alhasil karena terpaksa dan gak bisa diwakilkan siapapun, Papa kamu harus pergi. Dan, Mama gak mungkin membiarkan Papa kamu pergi sendiri, jadinya mama ikut.”
Jonathan mengerutkan keningnya, “Jadi, semalam yang rawat aku—”
“Ya, Edel lah Jo. Siapa lagi. Mana mungkin orang lain.”
“Masa, iya?”
“Jo, jangan gitu deh kamu. Lagipula, Mama itu titipin kamu sama dia dan mama yakin dia jaga kamu. Lagian, kamu aneh aja, Jo. Kalian kan suami istri, udah pasti lah Edel akan rawat kamu yang notabene suami dia. Gimana sih.”
“Iya, Mam. Tapi, ini Edel. Mana mungkin.”
__ADS_1
“Tck, jangan gitu. Kamu belum tahu aja. Oh, iya, jangan lupa bilang makasih sama Edel karena udah rawat kamu. Ngerti?”
Jonathan masih tak yakin jika memang Edel yang merawatnya semalam. Pasti perempuan itu menelpon seseorang untuk datang kesini mengurusnya yang sakit.
“Jo, kamu dengar omongan Mama kan?”
“Iya, Mam, iya.”
“Yaudah, Mama tutup dulu telpon nya. Kamu yang sehat, ya. Jangan terlalu di forsir kerjanya. Oke.”
Jonathan hanya berdehem saja.
“Yaudah, Mama tutup, ya. Bye...”
Panggilan pun terputus, tepat saat itu pintu kamar Jonathan terbuka yang menampilkan Edelweis datang dengan nampan yang dibawanya.
“Jo, lo udah bangun?”
Jonathan terdiam, menatap lekat Edelweis yang semakin dekat dengannya.
“Lo masih pusing?” Edelweis meletakkan nampan berisi sarapan juga obat untuk Jonathan. “Yaudah, lo sarapan dulu aja. Nanti abis itu minum obat. Nih, gue udah pesenin bubur ayam sama sup bening. Lumayan lah, lebih baik daripada bubur yang semalam.”
“Btw, mbak yang biasanya hari ini gak datang. Dan—”
“Lo yang rawat gue semalam?”
Edelweis seketika terdiam saat ucapannya dipotong oleh Jonathan, dia berdehem. “Menurut lo siapa?” tanya Edelweis balik, dia mendongakkan wajah angkuh. Dia butuh pengakuan ini.
“Gak mungkin lo,”
Edelweis mencebik, dia melipat tangan didepan dada. “Kok gak mungkin sih?” kesal Edelweis, dia kesal dengan jawaban Jonathan.
“Mana mau lo urusin orang. Mustahil hal itu terjadi.”
“Kok mustahil sih? Ya, mungkin aja lah. Lagian, kalau bukan gue, siapa lagi coba? Aneh deh lo, ah!” Edelweis menghela napas kasar. “Lagian, gue gak setega itu juga kali. Masa iya ada yang sakit di rumah, berduaan doang sama gue disini. Gak mungkin gue biarin gitu aja. Ah, nyebelin lo.”
Jonathan terdiam.
“Makan tuh, abis itu diminum obatnya.” Edelweis beranjak dengan kesal, dia bergegas pergi. “Males banget. Baik aja masih dianggap salah.” gerutu Edelweis sambil berlalu pergi dari kamar Jonathan.
“Makasih Del.”
Edelweis seketika menghentikan langkahnya. Sekuat tenaga dia untuk merasa biasa-biasa saja, namun tetap saja dia tersanjung luar biasa hanya karena ucapan yang tak pernah dia dengar sebelumnya keluar dari mulut Jonathan untuknya, apalagi dengan nada yang luar biasa indah terdengar nya.
Oh, tunggu. Ada apa dengan hatinya? Kenapa berdebar tak karuan dan terasa berbunga-bunga?
__ADS_1