Sandiwara

Sandiwara
Ep.24 -


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu sejak insiden pelecehan yang dialami Edelweis, juga dimana dia berhubung badan dengan Jonathan. Sejak saat itu pula dia tak pernah bertatap muka dengan Jonathan dikarenakan pria itu tak pernah pulang ke apartemen, ditambah Edelweis memutuskan untuk tak pergi ke kantor terlebih dahulu.


“Gue gak bisa kayak gini terus,”


Edelweis beranjak dari duduknya, dia menatap penampilannya di cermin. Decakan pelan pun terlontar dari mulutnya, meratapi keadaan dirinya yang kacau. Edelweis yang ada sekarang, berbeda dari Edelweis yang biasanya. Rasa percaya diri juga sikap arogan pun tak terlalu terlihat kini.


“Lo bukan Edel, lo cuma cewek lemah!”


“Mana pernah Edel lemah kayak gini? Mana pernah Edel ngerasa frustasi berlebihan kayak gini? Gak ada! Gue harus lanjutin hidup, gue harus balik jadi putri Badja. Gue Edelweis Nequila, gue harus bisa bertahan!”


Edelweis segera bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri dan mulai melakukan beberapa perawatan pribadi yang sempat dia lewatkan satu minggu terakhir ini. Setelah selesai, dia merias diri, kembali menunjukkan sosok Edelweis yang sebenarnya.


Disaat Edelweis tengah merias diri, notifikasi di ponselnya mengalihkan atensinya. Senyuman penuh kemarahan juga kepuasan tercipta di bibirnya kala dia membaca artikel yang dikirimkan kepadanya.


“Lo salah main-main sama gue, Awan. Gue gak akan tinggal diam, gue bakal balas semua perbuatan lo itu.” Edelweis menghapus cepat air matanya yang selalu menetes kala mengingat pelecehan yang dia dapatkan.


Setelah selesai dengan penampilannya, Edelweis segera beranjak. Dia memutuskan untuk pergi ke kantor sekaligus menemui suaminya, Jonathan.


***


“Kok aku jadi khawatir, ya sama mbak Edel? Udah lebih seminggu dia gak datang ke kantor.” Adinda mencebik pelan, dia menoleh pada Sinta. “Seriusan kamu gak tahu, kenapa mbak Edel gak masuk kerja?” tanya Adinda memastikan, pertanyaan yang sama yang dia lontarkan.


Sinta menghela napas kasar, “Enggak, Din. Aku gak tahu sama sekali. Lagian, gimana mungkin sih aku tahu, emangnya aku dekat sama mbak Edel? Gak juga.”


“Ya, aku pikir kamu bakalan tahu gitu. Soalnya kan kalian sama-sama sekertaris Pak Jo.” jawab Adinda yang mendapat gelengan dari Sinta.


“Aku jadi nyesel sama kejadian di resto, kayaknya aku udah keterlaluan. Pengen minta maaf, tapi aku terlalu takut ketemu mbak Edel, ditambah mbak Edel juga gak masuk ngantor. Mana kita gak tahu tempat tinggalnya dimana.”


Sinta menggeleng heran, “Kamu kenapa sih, Din? Kekeh banget pengen ketemu mbak Edel. Gak lupa kan gimana sikap dia sama kita? Jauh banget sama sikap yang kamu kasih sama dia.”


Adinda menghela napas kasar, "Aku tahu, mungkin banyak orang di kantor ini gak suka mbak Edel, salah satu alasannya mungkin karena sikap mbak Edel sendiri. Tapi, percaya sama aku, Sin. Setiap orang itu punya sisi baiknya juga, cuma mungkin mbak Edel gak dilihatin sisi baik itu.”


Sinta mencebik, “Kamu kayak yang tahu banget mbak Edel.”


“Tapi, serius Sin. Aku pernah loh lihat mbak Edel baik banget sama pemulung di jalanan. Tahu banget aku kalau setiap jumat sore, dia bagi-bagi amplop sama orang jalanan.”


“Masa?” Sinta tak percaya.


Adinda menatap jengah Sinta, “Ih, serius Sin. Masa iya aku bohong. Nanti deh aku ajak kamu lihat sendiri. Makanya, sejak awal aku gak mau menjudge mbak Edel yang enggak-enggak, karena aku tahu, dia tuh sebenarnya baik orangnya.”


“Iya, deh, iya, terserah kamu.”


Adinda berdecak, dia memilih kembali melanjutkan makanannya pun begitu dengan Sinta. Tanpa disadari ada Edelweis yang mendengar itu.


“Ternyata, masih ada orang yang berpikir kalau gue tuh baik.” lirih Edelweis, dia tersenyum tipis karena ucapan Adinda.


Edelweis kembali melanjutkan langkahnya, dia telah sampai didepan pintu ruangan Jonathan. Belum sempat dia mengetuk pintu, namun pintu tersebut sudah terbuka terlebih dahulu dari dalam. Yang membuatnya terkejut adalah orang yang keluar dari ruangan itu, juga senyum lebar yang tercipta di bibir mereka. Bahkan, Edelweis tak pernah mendapat senyuman demikian.


“Mbak Edel,”


Edelweis menatap Retha, orang yang saat ini berdiri di hadapannya. Ditatapnya lekat perempuan itu, perempuan yang dicintai Jonathan.


“Mau ketemu Mas Jo, ya mbak?” tanya Retha ramah, dia masih berusaha memperbaiki hubungannya bersama Edelweis.


Bukannya dibalas dengan hangat, Edelweis justru menjawabnya dengan ketus. “Bukan urusan lo. Lagian, lo ngapain sih sering datang kesini? Lagi sepi job apa gimana? Perasaan rutin banget datang ke kantor orang.” cemooh Edelweis.


“Del, apaan sih lo.” Jonathan menghampiri mereka. “Lagian, lo ngapain disini?” tanya Jonathan.


“Ngapain? Gue kan sekertaris lo. Wajar dong kalau gue disini, aneh.” cibir Edelweis, dia melipat tangan didepan dada.


“Aku ada urusan mbak sama mas Jo. Dan, soal job. Alhamdulillah, Tuhan masih beri aku nikmat dengan beberapa film yang aku mainin.” jawab Retha, dia menjawab pertanyaan Edelweis sebelumnya dengan tenang tanpa tersinggung sedikitpun.


Edelweis memutar jengah bola matanya, “Nyombong ceritanya?” Retha menggeleng cepat, “Bukan gitu maksudku, mbak.”


“Yaudah sih, terserah lo. Gue gak peduli. Tapi, urusan lo udah selesai kan sama Jo? Bisa pergi sekarang, gue ada perlu sama Jo. Dan, gue gak mau diganggu siapapun, termasuk lo.” tukas Edelweis, dia menatap tajam Retha.


Jonathan berdecak kesal mendengarnya. “Del, lo kan bisa—”


“Gakpapa, mas. Lagian, aku juga mau langsung pergi, udah ditunggu di lokasi sekarang.” potong Retha, dia tak mau semakin memperkeruh keadaan dengan keberadaannya disini. “Yaudah, mbak Edel. Aku permisi dulu, mari. Mas, aku pulang, ya.”


Edelweis memutar bola matanya malas, tanpa mau membalas ucapan Retha dia memilih masuk begitu saja ke ruangan Jonathan. Dia duduk di kursi hadapan Jonathan, tanpa dipersilahkan.


Jonathan memasuki ruangannya, menatap datar Edelweis yang sudah duduk di sana. “Ada apa sih, Del?”


“Lo kenapa seminggu ini gak pulang?”

__ADS_1


“Bukan urusan lo,”


“Ya, urusan gue lah. Lo gak pulang selama seminggu dan ninggalin gue gitu aja. Lo pikir gue apaan? Gue ini istri lo, Jo.”


Jonathan menghela napas kasar, “Kalau niat lo datang kesini cuma buat marah-marah, mending lo pergi Del. Pusing gue dengarnya. Udah mending seminggu ini gue gak dengar ocehan lo.”


Edelweis mencebik, dia beranjak menghampiri Jonathan. “Terus lo tidur dimana, Jo selama seminggu ini?” tanya Edelweis cemas, dia memang mencemaskan Jonathan sejujurnya.


“Gak usah sok pusing deh. Gue bisa tinggal dimanapun, semau gue. Lagian, lo ngapain sih kesini?”


“Ya, kan gue sekertaris lo. Gue udah absen seminggu lamanya. Jadi, gue mau minta maaf sama lo.” ucap Edelweis tulus.


“Gak perlu minta maaf, lagipula ada atau enggak adanya lo, gak berpengaruh apapun.”


Secara tidak langsung, Jonathan mengatakan jika Edelweis tak berguna disini.


Edelweis mendengus kesal, “Kok lo ngomong gitu sih? Gue kan—”


“Udah, udah, mending lo keluar deh dari sini. Gue sibuk.”


“Tapi, Jo—”


“Del!”


Edelweis berdecak, dia menyentak kakinya kesal. Dengan kekesalan yang dia rasakan, dia melangkah pergi keluar. Namun, belum sempat tangannya menggapai pintu, ucapan Jonathan berhasil menghentikan langkahnya.


“Del, soal malam itu. Lupain aja.”


Edelweis tak menyangka jika Jonathan akan berucap demikian, hal ini semakin menyakinkan nya jika memang pada akhirnya tak akan pernah ada keseriusan dalam hubungan mereka. Takdir memang menginginkan mereka untuk bersama tanpa dasar keyakinan yang sama, hanya sebatas melakukan kehendak yang sudah ditentukan para orang tua.


Sejujurnya, Edelweis tak berharap Jonathan akan bicara seperti itu. Sehingga rasa sesak tiba-tiba dia rasakan. Dan, hanya jawaban singkat yang bisa dia utarakan.


“Ya.”


Edelweis bergegas keluar dari ruangan Jonathan dengan perasaan aneh yang dia rasakan. Disaat Edelweis memutuskan pergi dari kantor, langkahnya terhenti saat dirinya berpapasan dengan Adinda.


“Loh, mbak Edel?”


Edelweis pikir, Adinda akan menghindarinya kembali. Namun, ternyata tidak. Perempuan itu justru menghampiri Edelweis dengan senyum senang yang terlihat jelas di wajahnya.


“Mbak Edel apa kabar? Mbak Edel baik-baik aja kan? Seminggu ini mbak gak datang ke kantor, semuanya oke kan mbak?”


“Mbak Edel?”


Edelweis tersentak, “Gue baik kok.”


Adinda tersenyum lebar, “Syukur deh kalau ternyata mbak Edel baik, aku senang dengarnya.”


Edelweis mengangguk-angguk, dia jadi teringat dengan kejadian di resto saat itu dimana Adinda terlihat tersinggung sekali dengan ucapannya. “Lo marah sama gue?” tanya Edelweis akhirnya.


“Marah? Enggak.”


“Tapi, lo pergi malam itu dari resto.”


Adinda terdiam, bingung harus menjawab apa sehingga yang bisa dia lakukan hanya tersenyum kikuk.


“Gue gak bermaksud kok, bukan itu niat sebenarnya. Lagian, gue gak ada niatan buat ngerendahin lo ataupun Sinta.”


Adinda mengangguk-angguk, “Iya, mbak. Aku juga minta maaf, ya karen udah ngomong sesuatu yang pastinya nyakitin mbak. Tolong dimaafin ya mbak...” Adinda meringis pelan, “Beneran deh mbak. Aku sampai kepikiran itu karena omongan aku kemarin. Jangan sakit hati, ya mbak.” ucap Adinda, dia menarik tangan Edelweis dan menggenggamnya.


Edelweis yang tak terbiasa disentuh oleh orang lain pun hanya diam, mengingat kebaikan Adinda selama ini padanya membuat dia bingung harus melakukan apa. Sedangkan, Adinda yang melihat keterdiaman Edelweis seketika sadar, dia menarik cepat tangannya yang menggenggam tangan Edelweis.


“Maaf, mbak. Gak sengaja.”


“It's okay.”


***


Sinta terlonjak kaget saat melihat kedatangan Adinda bersama Edelweis. Ditatapnya penuh tanya Adinda yang justru tersenyum lebar membalasnya.


“Mbak Edel,” sapa Sinta. Sejak kapan Edelweis ada di kantor sedangkan sejak tadi dia tak melihat keberadaan perempuan itu sejak seminggu yang lalu.


Edelweis hanya berdehem, menaikkan sebelah alisnya saja. Untuk saat ini, yang dia rasa aman untuk dekat hanya mereka berdua, terutama Adinda.


“Sin, kita jadi ya makan di kang pecel langganan kita.” Adinda melirik Edelweis yang diam, “Mbak Edel juga mau ikut, aku yang ajak. Gakpapa kan, Sin?” tanya Adinda polos.

__ADS_1


Sinta tersenyum, mana mungkin dia menolak jika Edelweis sendiri sudah berada di sini. “Iya, gakpapa kok. Tapi, mbak kita naik motor, apa gakpapa?” tanya Sinta memastikan.


“Gakpapa. Toh, yang bonceng gue, Adinda. Jadi, it's okay.”


“Yaudah, ayo.”


Mereka pun mengendarai motor masing-masing dengan Edelweis yang dibonceng oleh Adinda. Harap-harap cemas Edelweis rasakan saat motor yang dikendarai Adinda menyalip beberapa kendaraan beroda empat yang sibuk berbaris karena kemacetan, maklum ini sudah jam pulang. Edelweis meringis pelan melihat Sinta yang diam-diam mahir mengendarai motor tersebut. Dan, saat mereka sampai di tempat makan yang dimaksud, saat itulah Edelweis baru bisa bernapas lega dibuatnya.


“Gila,”


Edelweis rasanya shock sendiri dibuatnya, ini kali kedua dia naik motor dan Adinda juga yang memboncengnya.


“Mbak Edel, okay?”


Edelweis menggeleng heran, dia menatap tak percaya Adinda dan Sinta yang sudah memarkirkan motor mereka. “Gila, ya, kalian. Kelihatan diam-diam gini, tapi ternyata kalau bawa motor kayak orang kesetanan. Hampir jantungan gue naik motor sama kalian, apalagi lo Sin. Ih, gila sih!” Edelweis bergidik ngeri.


Namun, justru ucapan jujur Edelweis itu sukses mengundang tawa Adinda dan Sinta. Padahal mereka membawa motor dengan kecepatan biasa, bukan di atas rata-rata. Tapi, ternyata respon yang diberikan Edelweis tak biasa.


“Gak tahu deh nanti pulang, apa gue masih mau atau enggak naik motor.”


“Jangan gitu lah, mbak. Nanti pulangnya tetap kita anterin.” ucap Adinda, dia melirik Sinta. “Iya, gak, Sin?” Sinta sontak saja mengangguk.


“Yaudah, yuk. Kita pesan. Keburu banyak orang lagi nantinya.” ajak Sinta yang diangguki Adinda. “Ayo, mbak Edel!”


Edelweis mengangguk, dia menatap semua penjuru tempat makan ini. Tempatnya sederhana, hanya ada meja-meja panjang kayu dengan alasan seadanya ditambah beberapa kursi plastik juga kayu panjang. Kalau biasanya Edelweis hanya melihat saja tempat seperti ini, kali ini dia merasakan langsung duduk di tempat seperti itu.


“Mbak Edel mau pesan apa?”


“Pesan apa?” Edelweis sendiri bingung harus memesan apa, dia bahkan tak tahu menu di tempat makan ini. “Terserah kalian deh.”


“Mbak Edel, sebelumnya gak pernah makan pecel ayam atau pecel lele?”


Edelweis menepis pertanyaan Sinta itu. “Sembarangan! Pernah lah, masa iya gak pernah. Tapi, ini kali pertama gue datang ke tempat ini secara langsung. Soalnya gue gak pernah makan di pinggiran kayak gini.”


“Terus, kalau belum pernah ke tempat ini, mbak Edel makan pecel lele dimana?”


“Di hotel, pas gue staycation tahun lalu.”


Adinda dan Sinta, mereka saling tatap juga tersenyum mendengar jawaban Edelweis. Mereka mengangguk-angguk.


“Beda level, Sin.”


“Iya, gak sama kayak kita.”


Edelweis mengerutkan keningnya bingung. “Kenapa? Gue salah kalau makan pecel lele di hotel?”


“Oh, enggak-enggak. Mbak Edel gak salah, gak pernah salah!”


***


“Mbak tinggal disini?”


Edelweis mengangguk, “Iya. Kenapa?”


Sinta dan Adinda menatap takjub gedung di hadapan mereka, gedung besar yang dilihat dari luar saja sudah bisa dinilai betapa mewahnya tempat ini. Sudah bisa dipastikan, orang-orang yang menetap didalamnya pun orang-orang berduit dan berkualitas, seperti Edelweis contohnya.


“Gakpapa, mbak. Cuma, seharusnya kita gak aneh lah kalau tahu mbak Edel tinggal disini.”


Edelweis mengendikkan bahunya, “Emang seharusnya begitu. Kalian tahu sendiri, gue ini siapa.”


“Iya, mbak. Yaudah, kita mah langsung pulang, ya mbak. Udah malam juga.”


“Iya. Btw, thank you ya buat makanannya. Ternyata makan dipinggir jalan, gak seburuk yang gue kira. Meskipun gue masih ada culture shock sedikit makan di tempat kayak itu. Tapi, bukan masalah besarlah.”


“Iya, mbak sama-sama. Lagian, yang harusnya terima kasih itu bukan mbak, tapi kita. Iya gak, Din?”


“Iyalah. Orang niatnya kita yang mau bayarin, ini malah mbak Edel yang traktir kita. Mana tadi abisnya lumayan banyak lagi.”


“Yaelah, duit segitu mah bukan apa-apa buat gue.” ucap Edelweis, kesombongan masih saja dia tunjukkan.


“Iya, iya, mbak Edel emang banyak uangnya. Kita mah apa atuh.” tukas Sinta, dia terkekeh begitupun Edelweis.


“Next time, gue yang ajak kalian makan dan gue sendiri yang bakal pilih tempatnya.”


“Iya deh, sekali lagi makasih ya udah traktir kita hari ini. Senang banget bisa dekat sama mbak.”

__ADS_1


“Senang bisa ditraktir gue, maksudnya?” mereka langsung terdiam kikuk seketika mendengar ucapan Edelweis. “Ah, elah, gue becanda. Yaudah, kalau kalian mau pulang, buruan. Takut kemalaman. Gue gak mau terjadi sesuatu dan nantinya gue yang disalahin.”


“Yaudah, mbak. Kita pulang dulu, ya...”


__ADS_2