Sandiwara

Sandiwara
Ep.21 - Pelecehan tak terduga


__ADS_3

Jika biasanya Edelweis adalah tipe orang yang tak akan peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain padanya. Namun, entah kenapa jika Adinda dan Sinta, orang yang baru-baru ini mencoba dekat dengannya justru berpikir lain tentang dirinya membuat Edelweis jadi cemas sendiri. Kenapa dia jadi takut disangka buruk oleh mereka. Padahal sebenarnya, penilaian dari mereka tak akan mempengaruhi apapun. Apalagi mempengaruhi kehidupannya.


Seperti sekarang ini, melihat Adinda yang biasanya akan datang menghampirinya bahkan saat baru melihat ujung sepatunya. Namun, kini saat mata mereka bersitatap justru Adinda langsung memutar langkahnya dan pergi begitu saja tanpa berniat menyapa Edelweis.


“Kurang ajar banget sih Adinda. Bisa-bisanya dia melengos gitu aja. Dasar!”


Edelweis pun yang berniat mendatangi Adinda langsung dan memberikan pelajaran, justru harus mengurungkan niatnya saat Jonathan datang menghampirinya.


“Kita siap-siap, lo ikut gue pergi meeting hari ini.”


Edelweis membulatkan matanya, dia tersenyum senang mendengar ajakan Jonathan. “Ikut lo meeting? Serius?” Edelweis mengejar langkah Jonathan yang memasuki lift.


Mereka hanya berdua lagi di lift ini.


“Terpaksa. Kalau bukan karena Sinta gak datang hari ini, gue juga gak akan ajak lo.” jawab Jonathan datar, dia berdiri dengan gagahnya menunggu lift sampai di lantai ruangannya.


Edelweis tak peduli alasan apa yang diberikan Jonathan. Hanya saja, dia pikir ini adalah waktu yang tepat untuk dia menunjukkan kemampuannya. Setidaknya nantinya Jonathan akan melihat secara langsung kecerdasan yang dia miliki. Jadi, tak ada alasan lagi untuk pria itu merendahkannya.


Dan, disinilah mereka saat ini, di sebuah executive lounge di hotel berbintang. Tempatnya yang memang di desain untuk para tamu VIP juga kaum elit memungkinkan mereka untuk melakukan pertemuan pekerjaan yang sifatnya private.


“Jadi, ini siapa Pak Jo?”


Edelweis tersenyum simpul saat rekan kerja dari Jonathan menatapnya. Dalam hati dia mengumpat, kesal dengan tatapan mata pria itu.


“Perkenalkan Pak Dex, dia Edelweis, sekertaris saya.”


“Edelweis?” Pak Dexawan, pria muda yang memiliki kharisma sama seperti Jonathan, hanya saja terlihat dari tampangnya jika Pak Dexa ini tipe pria bajingan yang suka bermain wanita. Terlihat jelas sekali dari tatapan matanya, apalagi menatap Edelweis seakan dia sedang menelanjangi perempuan itu. “Nama yang cantik, sama seperti orangnya.”


Bukannya tersanjung mendapat pujian, Edelweis justru tersenyum kecut. “Terimakasih.” ucap Edelweis ketus, dia tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang kesal.


“Maaf sebelumnya, tapi saya mau ke toilet sebentar.” ucap Edelweis, dia melirik Jonathan yang menatapnya kesal. Masa bodoh dengan Jonathan, Edelweis sudah tak bisa menahan lagi hajatnya untuk buang air kecil.


Akhirnya, Edelweis pun beranjak pergi meninggalkan meja pertemuan.


“Najis banget sih tuh cowok! Pengen gue colok itu mata! Berani-berani nya tatap gue kayak gitu!”


Edelweis membersihkan tangan di wastafel, menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya memicing tajam, “Gue tahu, gue cantik pake banget. Tapi, bisa gak sih itu mata gak usah ngeliat gue kayak gitu?” Edelweis masih kesal dengan tatapan Pak Dexa itu. “Jo aja yang ketemu gue tiap hari, gak pernah tuh sekalipun ngeliat gue kayak gitu.”


Edelweis segera mengeringkan tangannya, dia bersiap keluar. Namun, saat pintu baru terbuka yang dia temukan justru tubuh tegap Pak Dexa yang menghalangi jalannya.


Edelweis menatap tajam Pak Dexa, “Saya mau lewat.”


“Ya, tinggal lewat.”


“Tapi, bapak menghalangi jalan saya. Jadi, tolong minggir.”

__ADS_1


“Kalau saya gak mau?”


Edelweis mengerutkan keningnya bingung melihat sikap dari rekan bisnis Jonathan. Dia menatap jijik Pak Dexa yang justru tersenyum lebar padanya. Dia langsung melewati begitu saja Pak Dexa, namun justru pria itu menarik tangannya dan membawanya masuk kembali ke dalam kamar mandi.


“Apa-apaan sih!” kesal Edelweis, dia menghempaskan dengan keras tangan Pak Dexa yang menariknya. Ditatap nya tajam pria itu.


“Sekali pakai, berapa?”


“Hah?” Edelweis bukan orang yang bodoh, dia langsung paham dan mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan Pak Dexa padanya. “Maaf, ya pak. Saya bukan perempuan seperti itu. Bapak salah mengira.”


“Saya bisa bayar kamu, lebih besar daripada bayaran Jo. Gimana?”


Edelweis menggeleng heran, “Sembarangan banget sih!” Edelweis berniat pergi, namun Dexa kembali menghalangi jalannya.


“Apaan sih lo!”


“Gue mau lo sekarang, disini.”


“Najis!”


Dexa yang tak terima dengan penolakan juga ucapan yang dilontarkan Edelweis membuatnya dengan cepat mencengkram lengan perempuan itu, tanpa bicara dia langsung menempelkan bibirnya dibibir perempuan itu.


Edelweis yang tak mau pun menolaknya, dia mencoba menjauhkan dirinya dari Dexa. Namun, tenaga Dexa cukup besar membuatnya jadi kesulitan. Bahkan, tangan Dexa tak tinggal diam, meraba-raba tubuh Edelweis yang lainnya.


Ini pelecehan! Edelweis tak terima diperlakukan seperti ini. Sekuat tenaga Edelweis menolaknya, dia mencoba menjauhkan Dexa darinya. Dia menarik bagian belakang kepala pria itu, tak peduli jika kuku-kukunya yang panjang itu melukai Dexa. Bahkan, dia juga tak peduli saat Dexa marah ketika dia menendang aset pria itu.


Edelweis langsung membuka cepat pintu kamar mandi, dia berlari keluar meskipun pada akhirnya tangannya berhasil digapai kembali oleh Dexa.


“Kurang ajar kamu Edelweis!”


“Lepasin! Lepasin!”


Edelweis sudah tak bisa menahan lagi, dia menangis juga saat Dexa dengan kurang ajarnya menarik baju yang dia kenakan, sehingga bagian lengannya tersobek yang menunjukkan kulit tangannya.


“Gue gak akan ngelepasin lo.”


Edelweis menggeleng, dia menendang kembali Dexa. Dia tetap memberikan perlawanan dan coba pergi dari pria itu. Namun, berkali-kali dia berhasil, berkali-kali juga dia tertangkap kembali.


Penampilan Edelweis sudah tak karuan kini. Namun, dia tak peduli. Yang terpenting sekarang adalah dirinya pergi dari pria bajingan seperti Dexa ini. Namun, siapa sangka, saat tangannya sudah mencapai pintu keluar, dirinya berhasil ditangkap kembali oleh Dexa. Satu perlawanan dari Edelweis justru membuat dia harus mendapat balasan berupa dorongan keras hingga kepalanya membentur meja kabinet. Alhasil, darah pun menetes deras dari jidatnya.


“Tolong, lepasin gue.” ucap Edelweis lemas, suaranya bergetar, dia sudah tak bisa melawan lagi. Tubuhnya sudah tak mampu bahkan hanya untuk berdiri tegak saja, tak bisa.


Dexa tersenyum sinis, dia pun sama acak-acakannya seperti Edelweis. Dia bersimpuh di hadapan perempuan itu, menarik kasar dagu Edelweis agar menatapnya.


“Lepasin lo? Buat apa?”

__ADS_1


Edelweis menggeleng, dia takut.


“Gue salah apa sama lo? Gue ini bukan perempuan bayaran, gue bukan perempuan yang bisa dipakai gitu aja. Wajar kalau gue menolak. Tapi, kenapa lo justru memperlakukan gue kayak ini? Lo nyakitin gue, bastard!


“Wait... Ini gak seberapa. Ini gak ada apa-apa nya dengan rasa sakit yang lo kasih sama gue.”


Edelweis mengerutkan kening bingung. “Bahkan kita ketemu baru hari ini.”


“Salah. Lo salah!” Dexa menatap dalam Edelweis. “Coba perhatikan gue, coba ingat kembali siapa gue. Lo pasti ingat kan siapa gue?”


Edelweis menatap lekat Dexa, dia menggeleng pelan. Dia tak tahu siapa pria dihadapannya ini, bahkan baru kali ini dia bertemu.


“Gue Awan, cowok yang lo tolak dan lo permalukan didepan banyak orang!”


Awan? Edelweis tak asing dengan nama itu. Memorinya tiba-tiba berputar pada kejadian beberapa tahun yang lalu saat dirinya masih duduk di bangku perkuliahan.


Awan, si cupu yang ternyata jatuh hati pada sosok Edelweis. Pria itu rela melakukan apapun untuk bisa mendapatkan perhatian Edelweis, termasuk bersedia mengerjakan beberapa tugas milik perempuan itu juga bersedia menjadi suruhan Edelweis.


Saat itu, Awan merasa Edelweis baik padanya. Karena kebaikan itu pula dirinya berpikir jika mungkin Edelweis sudah membuka hati untuknya. Terlebih semua orang juga tahu, sangat jarang untuk seorang Edelweis baik pada orang.


Hal tersebut lah yang membuat Awan dengan percaya dirinya menganggap kalau Edelweis jatuh hati padanya. Hari itu juga, Awan mengutarakan perasaannya pada perempuan itu dan meminta Edelweis untuk menjadi kekasih hatinya di hadapan banyak orang. Awan pikir, cintanya akan diterima dan terbalas. Namun, justru tidak. Penolakan juga penghinaan lah yang justru diberikan Edelweis.


Dexa tersenyum sinis melihat diamnya Edelweis, “Ingat sekarang?”


Edelweis menggeleng-geleng, “Enggak, lo bukan Awan. Awan baik, dia gak pernah jahat sama gue!”


“Awan yang baik itu udah lo bunuh! Lo bunuh dia tepat dihari lo mempermalukan dia didepan banyak orang.”


Edelweis menggeleng keras, dia menjauhkan wajahnya saat Dexa semakin mendekatkan diri padanya. “Gue minta maaf, gue gak bermaksud.”


Edelweis langsung menjerit histeris saat Dexa justru menggebrak kabinet dibelakangnya, jantungnya berdebar kuat. Dia benar-benar takut, berharap ada orang yang menyelamatkannya saat ini. Dia berharap, Jonathan datang.


“Gak bermaksud lo bilang? Udah jelas lo permalukan gue didepan banyak orang. Lo injak-injak mawar yang gue bawa, lo bilang didepan banyak orang kalau gue yang cupu gak pantas buat lo! Lo cuma manfaatin gue!” teriak Dexa, kemarahan teramat dua rasakan. Rasa sakit itu tak pernah hilang ataupun bisa dilupakan. “Dan, lo masih bisa bilang kalau lo gak bermaksud? Wow. Edelweis, lo jagonya dalam sandiwara.”


“Gue minta maaf, Wan. Gue minta maaf. Tolong, lepasin gue sekarang.” lirih Edelweis.


“Gak! Gue gak akan lepasin lo. Gue bakal bikin hidup hancur, Edel. Lo harus bayar semua omongan yang keluar dari mulut kotor lo itu! Lo harus bayar semuanya, Del. Lo harus bayar. ”


Plak! Satu tamparan berhasil Edelweis dapatkan. Bahkan, bukan hanya satu tamparan karena detik berikutnya tamparan bertubi-tubi Edelweis terima. Bahkan, tubuhnya sudah tak berdaya, terbaring lemas di lantai kamar hotel ini.


Edelweis semakin takut dengan tindakan Dexa. Dia tak bisa berbuat apapun lagi saat dengan kasarnya Dexa membuka pakaian bawahnya, menyingkap roknya yang langsung memperlihatkan paha juga ****** ********.


“Gue bakal bikin hidup lo hancur. Lo harus tanggung semuanya.”


Edelweis semakin menangis kencang, dalam hati dia terus berdoa semoga ada keajaiban. Dia berharap ada satu orang yang menyadari keanehan saat dirinya tak kunjung datang kembali. Dia berharap ada yang membantunya terbebas dari tindakan pelecehan ini. Dia berharap—

__ADS_1


“Jo! Jonathan!” teriak Edelweis.


Bukan pertolongan yang Edelweis dapat justru pukulan keras yang membuatnya kehilangan kesadaran.


__ADS_2