
“Del, buka pintunya. Lo harus makan.”
Tak ada respon dari Edelweis di dalam sana, pintu kamar perempuan itu masih juga tertutup rapat dan terkunci.
Jonathan menghela napas kasar, ponselnya berdering menandakan ada panggilan yang masuk. Dia mengangkat panggilan tersebut dan menempelkan benda pipih itu di telinganya sambil berjalan kearah sofa.
“Halo, Tha.”
“Mas Jo, ada apa? Kenapa semalam aku sempat dengar ada teriakan cewek, mas. Semuanya baik-baik aja kan?”
Jonathan bingung, apakah dia harus menjawab jujur atau tidak pertanyaan Retha ini. Di satu sisi dia ingin terbuka, namun di sisi lain dia tak mau membuat semuanya jadi salah paham. “Gak ada, Tha. Mungkin itu dari unit sebelah. Aku baik-baik aja kok.”
“You sure?”
“Iya... Terima kasih ya udah perhatian sama aku.”
Jonathan merasa hawa jadi panas seketika, dia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ada sesuatu yang memaksanya untuk melakukan satu hal.
“Mas Jo,”
“Tha, udah dulu, ya. Aku ada urusan bentar.”
“Oh, oke mas. Kalau begitu, aku tutup telpon nya.”
“Iya.”
Jonathan mematikan panggilan, dia meletakkan asal ponselnya. Tenggorokannya terasa kering, ditambah suaranya jadi serak seketika. Keringat pun langsung mengucur dari dahinya. Dia bingung, ada apa dengan diri juga tubuhnya saat ini. Terdengar pintu kamar yang terbuka membuat Jonathan menoleh ke sumber suara. Di sana, ada Edelweis yang keluar dari kamar dengan pakaian tertutup yang menutupi tubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai sedikit acak-acakan, wajah penuh dengan kemerah-merahan dan masih ada sisa-sisa air mata di sana.
“Del,” suara serak Jonathan memanggil Edelweis yang sama sekali tak peduli dan lebih memilih melanjutkan langkahnya.
“Lo harus makan, Del. Meskipun gue tahu, mungkin masih berat buat lo ngelakuin semua nya disaat sesuatu terjadi sama lo.”
Edelweis mengambil gelas di meja makan, dia menuangkan air dan meneguknya. Rasa dahaga yang ditahan sejak semalam terbayar sudah oleh air di pagi ini.
“Del,”
“Gak usah ngomong sama gue, Jo.” ucap Edelweis datar, dia tak berekspresi sama sekali. “Gue tahu, lo pasti senang lihat keadaan gue kayak gini. Lo kan gak pernah senang lihat gue baik-baik aja, mungkin disaat gue kayak gini lo justru bahagia.”
Jonathan mengerutkan kening bingung, “Del, lo kok—”
“Nyatanya emang gitu kan!” Edelweis berbalik menatap Jonathan, matanya sudah berkaca-kaca. Dia menahan tangisnya. “Lo emang senang lihat gue hancur, lo bahagia sama kehancuran gue.” lirih Edelweis, air matanya jatuh.
Jonathan mendesis kesal, dia menggeleng tak percaya. “Kalau gue senang lihat lo hancur, gue gak akan tolongin lo kemarin. Gue akan biarin lo gitu aja, Del.” balas Jonathan.
Edelweis memejamkan matanya sejenak, dia menghapus air matanya. “Lo cuma takut disalahin sama Mama, Papa. Makanya, lo tolongin gue waktu itu.”
“Pikiran lo pendek banget, Del.”
__ADS_1
“Ya, terus kenapa lo gak bantuin gue lagi!?” marah Edelweis, dia menangis kembali. “Bantuin gue hilangin bekas-bekas cowok brengsek itu...” lirih Edelweis, dia bertumpu pada meja.
“Cuma lo yang bisa bantuin gue, Jo. Cuma lo, lo suami gue.” isak Edelweis, dia terisak pelan. “Tapi, lo gak mau bantuin gue. Lo senang lihat keadaan gue kayak gini. Lo—”
“—Del.”
Edelweis tersentak kaget dengan apa yang dilakukan Jonathan. Untuk beberapa saat dia terdiam, menatap lekat bola mata Jonathan yang ada didepan matanya. Dia mencoba untuk menyakinkan diri, apakah yang dilakukan Jonathan ini nyata atau hanya halusinasinya semata. Namun, saat bibirnya digigit oleh Jonathan yang membuatnya meringis sekaligus tersentak, dia tahu jika ini nyata.
“Gue bakalan bantu lo, Del.”
***
Tak terasa, matahari yang tadi bersinar terang kini sudah terbenam kembali. Kamar yang tadinya terang, kini sudah gelap karena tak ada cahaya yang masuk kedalamnya, lampu-lampu kamar pun belum dinyalakan. Sedangkan, sepasang insan masih bergelut dibawah selimut yang sama dengan tubuh tanpa busana.
Jonathan mengerjapkan matanya perlahan, dia mengerutkan kening bingung sesaat. Namun, saat melihat siapa yang ada dalam dekapannya saat ini membuatnya sadar akan satu hal. Dia baru saja berhubungan badan dengan Edelweis yang notabene nya adalah istrinya sendiri. Istri yang tak dia harapkan sebelumnya.
Jonathan melepaskan Edelweis perlahan dari dekapannya, lengannya yang tadi dijadikan bantal oleh perempuan itu dia tarik pelan. Dia menatap sekitar kamar, menyadarkannya bagaimana kacaunya keadaan kamar karena aktifkan yang dilakukannya bersama Edelweis sebelumnya.
Jonathan menghela napas kasar, dia mengusap kasar wajahnya. “Kenapa bisa?” tanya Jonathan pada dirinya sendiri. Dia benar-benar marah atas apa yang dia lakukan. Gejolak yang tiba-tiba tak bisa tertahan membuatnya sampai melakukan hal demikian, ditambah saat itu Edelweis memaksa. Sehingga tanpa disadari Jonathan pun kelepasan melakukan itu.
Jonathan segera mengambil celananya, dipakainya celananya itu kemudian bergegas pergi dari kamar Edelweis. Tak lupa, sebelum benar-benar pergi, dia menyalakan lampu kamar perempuan itu juga membenarkan posisi selimut yang sedikit melorot dari dada Edelweis.
Beberapa saat setelah kepergian Jonathan, Edelweis baru terjaga dari tidurnya. Dia membuka matanya perlahan dan dia temukan adalah dirinya seorang diri dalam balutan selimut. Dia terdiam, menatap keadaan kamar yang berantakan. Kejadian yang baru saja terjadi dalam hidupnya kembali berputar, pengalaman pertamanya dalam hal berhubungan badan itu dia lakukan bersama Jonathan. Untuk sisi lain, Edelweis merasa menyesal karena melakukan hubungan badan dengan pria yang sama sekali tidak mencintai juga di... dicintai nya. Namun, di sisi lain dia juga bersyukur karena yang menghilangkan jejak pria brengsek yang melecehkannya adalah suaminya sendiri.
Edelweis menghela napas kasar, dia mengeratkan selimut yang membelit tubuhnya. Entah setelah ini apa yang akan terjadi pada kehidupannya selanjutnya. Yang jelas, untuk saat ini dia berhutang budi pada Jonathan untuk segala hal yang telah pria itu lakukan.
Meskipun ternyata setelah melakukan itu, Jonathan pergi meninggalkannya seorang diri disini.
***
Retha segera bergegas menuju pintu saat terdengar suara bel rumahnya. Dia tersenyum senang saat melihat siapa yang datang berkunjung.
“Mas Jo,”
Jonathan tersenyum tipis, dia melangkah mendekat pada Retha sebelum akhirnya tanpa bicara apapun dia memeluk perempuan itu. Retha yang terkejutnya tak melakukan apapun, dia hanya diam dan membiarkan Jonathan memeluknya.
“Mas Jo, kamu kenapa?”
Jonathan tak menjawab, dia justru semakin mengeratkan pelukannya. Dia menelusup kan wajahnya ke ceruk leher Retha. “Maafin aku, Tha.” lirih Jonathan, dia merasa bersalah kepada Retha atas apa yang dia lakukan bersama Edelweis.
“Maaf, kenapa?” Retha bingung. “Bentar, kita masuk dulu. Aku takut ada media yang lihat kita.” ucap Retha, dia mengajak Jonathan masuk ke rumahnya.
Jonathan melepas pelukannya, dia mengangguk dan ikut masuk ke rumah Retha. Mereka duduk di sofa.
“Ada apa, mas? Kamu kenapa tiba-tiba minta maaf sama aku coba?” tanya Retha bingung, dia tak merasa Jonathan mempunyai salah padanya jadi tak ada alasan untuk pria itu meminta maaf.
Jonathan terdiam, ditatapnya lekat perempuan itu. Dia menggeleng, tak mungkin dia menceritakan yang sebenarnya. “Gakpapa. Cuma, aku merasa bersalah aja karena akhir-akhir ini jarang hubungin kamu.” elak Jonathan, namun jawabannya jujur, bukan mengada-ada.
__ADS_1
Retha terkekeh pelan, "Ya ampun, mas. Aku pikir kenapa. Lagian, gakpapa kali. Aku juga ngerti. Kita kan sama-sama punya urusan masing-masing, jadi aku sih gak masalah. Lagipula kita harus ngerti satu sama lain.” jawab Retha, dia tersenyum lebar.
“Makasih, ya, Tha. Kamu udah ngertiin aku.” ucap Jonathan tulus yang mendapat anggukan juga senyuman penuh ketenangan dari Retha.
“Yaudah, kebetulan karena mas Jo datang kesini. Jadi, ayo kita makan!” Retha beranjak berdiri sambil menarik tangan Jonathan agar pria itu mengikutinya. “Aku buat soto hari ini mas. Semoga kamu suka, ya.”
“Aku pasti suka lah.”
“Kamu duduk disini, biar aku siapin makanannya, ya.”
Jonathan mengangguk, dia menatap lekat Retha yang tengah menyiapkan makanan untuknya. Senyum tak lepas dari bibirnya melihat bagaimana telatennya Retha melakukan itu, seperti bukan hal aneh lagi. Sepertinya Retha memang sudah terbiasa dengan dapur.
“Nih buat kamu, hati-hati ya masih panas. Soalnya baru banget matang.”
Jonathan mengangguk-angguk, "Makasih, ya.” Jonathan tersenyum lebar. “Aromanya aja udah enak, pasti rasanya jauh lebih enak.”
“Semoga aja, ya... Kadang aroma sama tampilan suka menipu.” Retha duduk disamping Jonathan, sotonya juga ada di hadapannya. “Nih, pakein kecap dulu.”
“Makasih, ya, Tha.”
“Iya, Sama-sama. Mas Jo bilang makasih terus. Buruan dimakan, mas.”
Mereka pun menikmati soto tersebut sambil sesekali mengobrol mengenai beberapa hal yang mengalir begitu saja diantara mereka.
“Jadi, gimana film terbaru kamu?”
“Semuanya berjalan lancar mas, alhamdulillah. Jadwal shooting nya pun sekitar satu bulanan lagi.”
“Syukurlah kalau begitu. Berarti kamu benar-benar enjoy ngejalaninnya.”
“Ya, enjoy gak enjoy, harus tetap aku jalanin juga kan, mas. Tapi, sejauh ini sih lebih banyak yang bikin aku enjoy.” Retha tersenyum senang. “Oh, iya mas. Untuk pertanyaan mas Jo hari itu...” Retha tersipu malu.
Jonathan terdiam, dia mengerutkan kening bingung.
“Kayaknya, hubungan kita bisa mas lanjut ke yang lebih serius. Mengingat, mas Jo juga gak punya hubungan khusus sama Mbak Edel, rasanya gak ada yang salah dengan hubungan kita. Dan, soal orang tua mas Jo, kayaknya emang benar deh ucapan mas Jo kalau kita bisa sama-sama menyakinkan mereka.”
Jonathan terkejut mendengarnya.
“Aku terima tawaran kamu untuk jadi pacar kamu.”
Seharusnya, Jonathan senang mendengar pernyataan yang dilontarkan Retha. Namun, mengingat keadaan yang baru saja terjadi, rasanya akan sulit untuk melakukan apa yang Retha ucapkan.
Retha mengerutkan keningnya bingung melihat keterdiaman Jonathan, tangannya menyentuh punggung tangan Jonathan di atas meja. “Mas Jo?”
Jonathan tersentak, dia menatap Retha yang tersenyum miris.
“Mas Jo, kenapa diam aja? Mas Jo, gak senang sama jawaban aku? Oh, apa mungkin mas udah berubah pikiran? Mas Jo—”
__ADS_1
“Enggak, Tha, enggak. Aku senang kok dengarnya.” Jonathan mencoba tersenyum lebar. "Jadi, kita sekarang resmi pacaran? Artinya, kita punya hubungan?” tanya Jonathan yang mendapat anggukan serta senyuman malu dari Retha.
“Makasih, ya, Tha. Makasih karena kamu udah membalas cinta aku.”