Sandiwara

Sandiwara
Ep.16 - Teringat Masa lalu


__ADS_3

“Si Adinda mana sih? Giliran dicari aja tuh anak gak nongol, giliran gue gak butuh tuh anak ada di mana-mana.”


Saat ini, Edelweis tengah mencari keberadaan Adinda. Dia butuh sesuatu dari perempuan itu. Keberadaan Adinda sudah dicarinya sejak tadi, namun perempuan itu tak kunjung ditemukan. Entah kemana sebenarnya Adinda pergi.


“Sinta!” Edelweis melihat Sinta yang tengah bergegas hendak pergi. Sinta pun segera menghampiri Edelweis saat namanya dipanggil perempuan itu.


“Iya, mbak. Ada apa?”


“Lo, lihat cewek itu gak?”


Sinta mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Edelweis yang tak dimengerti nya. “Cewek siapa, mbak?”


“Cewek itu...”


“Ya, siapa?”


“Itu loh, yang suka bareng sama lo.” Tiba-tiba Edelweis lupa dengan nama Adinda atau karena sejak awal dia tak peduli dengan perkenalan perempuan itu.


Sinta berohria, “Adinda kan, mbak maksudnya?” tanya Sinta yang langsung diangguki Edelweis. “Iya, dimana dia?”


“Biasanya sih, jam makan siang Adinda di kantin mbak.”


“Kantin?”


“Iya, biasanya kami makan siang disana. Mbak, mau ketemu dia?”


“Di kantin berarti?”


“Iya, mbak. Kalau mau, ayo bareng aku aja. Adinda juga disana nungguin aku.”


Kalau bukan karena ada urusan, mungkin Edelweis akan menolaknya. Namun, karena keterpaksaan akhirnya dia mengiyakan ajakan Sinta itu.


“Yaudah.”


Kedatangan Edelweis sejak awal ke perusahaan saja sudah membuat heboh satu gedung ini, ditambah perempuan itu kini berjalan masuk ke kantin yang diisi oleh karyawan-karyawan biasa. Orang penting seperti Edelweis, biasanya jarang datang ke sini. Jadi, tak ayal jika kedatangan Edelweis kali ini banyak menyita perhatian.


Suasana yang tadinya ramai, seketika hening. Semua mata tertuju pada Edelweis kini. Sinta yang berjalan berdampingan bersama Edelweis, tak kalah jadi pusat perhatian, pun begitu dengan Adinda yang jadi tujuan Edelweis datang kesini.


“Kenapa jadi hening gini?”


Teman satu meja Adinda, bukannya menjawab langsung namun justru mengedikkan dagunya menunjuk pada Edelweis yang tak jauh dari mereka kini.


Adinda menoleh, bola matanya membelalak seketika saat melihat Edelweis disini, dia menatap Sinta bertanya yang langsung mendapat gelengan pelan dari perempuan itu. Adinda langsung beranjak, memutar tubuhnya menghadap Edelweis. “Mbak Edel, ada apa mbak?” tanya Adinda, dia tersenyum lebar.


Edelweis tak langsung menjawab, dia mengedarkan atensinya pada semua yang ada disini. “Kenapa jadi pada diam semua?” tanya Edelweis, tentu dengan nada juteknya. “Apa kehadiran gue mengganggu disini?” tanya Edelweis lagi.


Adinda menggeleng cepat, “Enggak kok, mbak.” jawab Adinda cepat, dia mengintrupsikan pada Sinta yang berdiri di belakang Edelweis.


Sinta yang paham dengan apa maksud Adinda pun mengangguk, dia segera menggerak-gerakkan semua anggota tubuhnya untuk mengintrupsikan semua orang. Beruntungnya, semuanya langsung paham dan kembali ke aktifkan mereka sebelumnya.


Sinta tersenyum kikuk saat Edelweis menoleh padanya, sedangkan Adinda menghela napas lega saat semuanya kembali normal.


“Duduk, mbak. Duduk.”


Edelweis dengan tatapan tak sukanya yang tak bisa dibohongi langsung duduk di kursi yang dimaksud Adinda, dia melirik beberapa orang yang ada dimeja. Mereka semua yang tertangkap basah menatapnya, seketika langsung memalingkan wajah, berpura-pura tak memperhatikan Edelweis.


“Jadi, mbak. Ada apa?”


Sinta duduk disamping Adinda, dia pun sama penasarannya dengan Adinda kenapa sampai-sampai Edelweis menemui perempuan itu. Terlebih mendengar cerita tentang Edelweis yang membela Adinda kemarin, semakin membuatmu penasaran jadinya.

__ADS_1


“Brownies yang kemarin, beneran lo yang bikin?”


Adinda mengangguk. “Iya. Kenapa, mbak? Mbak gak kenapa-napa kan karena makan brownies buatan aku itu? Please, mbak baik-baik aja kan?” tanya Adinda cemas, dia takut terjadi sesuatu pada Edelweis dan takut jika dirinya juga yang bermasalah nantinya.


Edelweis mendengus, dia menyingkirkan tangan Adinda yang meraba-raba tangannya. “Ih, gak usah pegang-pegang gue. Gak usah lebay juga deh.”


“Aku kan takut mbak kenapa-napa.”


Edelweis memutar jengah bola matanya, dia menatap Adinda kembali. “Gue mau setiap akhir pekan itu brownies ada di meja gue. Dan, kalau soal bayaran, lo gak usah khawatir. Gue bisa bayar berkali-kali lipat, brownies lo itu. Lo tinggal kasih tahu gue aja nomor rekening lo, saat itu juga gue akan langsung bayar. Paham sampai sini?”


Adinda masih melongo mendengar ucapan atau lebih tepatnya perintah dari Edelweis, bahkan bukan hanya Adinda, namun juga Sinta dan beberapa orang dimeja yang sama dengan mereka yang mendengar apa yang diucapkan Edelweis.


“Gue harap, lo paham sih. Soalnya gak mungkin karyawan yang ada di perusahaan ini, gak ngerti sama bahasa sederhana yang gue ucapin tadi.”


Edelweis berdiri, membenarkan penampilannya dan langsung pergi begitu saja tanpa berucap apapun. Dengan langkah anggun nan elegan, juga kesombongan yang terpancar, Edelweis pergi dengan tatapan semua orang yang tak lepas darinya.


Dan, seperti yang diucapkan Edelweis. Adinda melakukan itu.


Ini minggu pertama sejak Edelweis mengatakan perintah itu, di tangannya sudah ada kotak bekal yang isinya brownies buatannya yang dipesan Edelweis hari itu.


“Ini, aku langsung taruh di meja nya aja?” tanya Adinda, dia melirik Sinta yang dia temui langsung sebelum dia pergi ke meja Edelweis. Meskipun, meja Edelweis berada sangat dekat dengan meja Sinta.


Sinta mengangguk, “Iya. Kan waktu itu mbak Edel suruh nya langsung ditaruh di mejanya. Udah, taruh aja.”


Adinda mengangguk, meletakkan kotak bekal itu. Post-it note dengan tulisan tangannya langsung tak lupa dia tempelkan diatasnya.


“Yaudah, yuk! Kita makan siang aja, udah lapar nih.” ajak Sinta, cacing diperut nya sudah minta diisi sejak tadi.


Adinda mengangguk, “Ayo! Aku juga lapar sih sebenarnya.”


Mereka pun beranjak pergi meninggalkan ruangan ini untuk pergi ke kantin hendak makan siang.


***


Edelweis duduk, mengambil notes tersebut.


...‘Mbak Edel, ini brownies yang sama yang aku buat kayak kemarin. Semoga rasanya masih sama, ya mbak. Oh, iya. Gak usah dibayar mbak, gakpapa. Aku senang kok kalau ada yang suka sama kue buatan aku. Diabisin, ya mbak.’...


...Salam hangat, Adinda yang rempong....


Tanpa sadar, sudut bibir Edelweis tersenyum membaca isi notes tersebut. Namun, dia dengan cepat menormalkan kembali ekspresi wajahnya sepeda biasa.


“Lebay,” komentar Edelweis.


Edelweis langsung membuka kotak makan tersebut, senyumnya pun langsung tercetak melihat beberapa potong brownies yang memenuhi kotak bekal itu. Diambilnya satu brownies tersebut menggunakan garpu yang kebetulan diselipkan didalamnya, dia memakan kue manis itu.


Untuk beberapa saat, Edelweis terdiam merasakan brownies di mulutnya. Dan, saat dirasanya brownies ini masih memiliki rasa yang sama, matanya pun perlahan buram. Air mata, menggenang dimatanya.


“Mami...” gumam Edelweis, rasa sesak mulai dia rasakan.


flashback on~


“Sayang, cobain deh. Mami bikin brownies ini buat kamu.”


Edelweis kecil langsung saja membuka mulutnya saat Mami nya menyuapi nya brownies begitu saja. Bola matanya langsung membelakakan sempurna, dia tersenyum lebar sambil mengunyah brownies di mulutnya. Edelweis mengangguk-angguk.


“Enak, sayang?”


Edelweis kembali mengangguk, dia mencengkram kedua pundak Mami nya dengan sayang. “Ih, mami. Beneran Mami buat ini?” Mami nya mengangguk sambil tersenyum simpul. “Enak banget, Mam... Ih, Edel suka pokoknya!”

__ADS_1


“Beneran sayang? Kamu gak lagi bohong didepan Mami kan? Jangan mentang-mentang ada Mami disini, kamu puji-puji. Nanti giliran Mami gak ada, ternyata brownies nya gak seenak itu.”


Edelweis menggeleng, "Enggak, Mam. Aku gak bohong. Ini beneran brownies terenak yang pernah aku makan!” puji Edelweis, dia segera merangkul Mami nya. “Mana, mana? Aku pengen lagi.”


Mami Edelweis terkekeh, dia segera menarik tangan Edelweis untuk ikut bersama menuju ruang makan. Melihat brownies yang banyak diatas meja, dengan cepat Edelweis mengambil satu potongan yang berukuran besar dan melahap nya tanpa banyak bicara.


“Sayang... Pelan-pelan dong. Gak ada yang akan minta juga, lagian ini masih banyak. Nanti kamu keselek, ah.”


Edelweis menggeleng, mulutnya penuh dengan brownies buatan Mami nya itu. “Gak bisa, Mam. Ini terlalu enak buat aku anggurin gitu aja. Fix sih, Mam. Ini mah wajib! Mami harus bikin ini setiap akhir pekan. Aku mau makan ini pokoknya, gak mau tahu.” ucap Edelweis kekeh, dia terkekeh.


“Siap, siap. Apa sih yang enggak buat princess Mami ini? Hm?”


flashback off


Harusnya setiap akhir pekan, Edelweis memakan brownies yang dibuatkan Mami nya seperti apa yang dia minta, yang sudah mendapat persetujuan Mami nya. Namun, kebiasaan itu hilang seketika beberapa tahun terakhir ini. Kebiasaan itu hilang bersama perginya sang Mami.


Edelweis menutup wajahnya menggunakan telapak tangan, dia menangis saat ini kala mengingat almarhumah Mami nya. Entah bagaimana bisa, Adinda membuat brownies dengan rasa yang mirip seperti yang pernah dibuat Mami nya. Kala pertama kali mencobanya, Edelweis langsung hapal dengan rasanya. Rasa yang sama seperti yang pernah dibuatkan Mami nya.


Dan, Adinda berhasil membuatnya kembali mengingat sang ibunda.


Tanpa disadari, ada Adinda dan Sinta yang melihat Edelweis yang menangis saat ini. Mereka berdiri tak jauh dari tempat Edelweis. Niatnya tadi hendak pergi ke kantin harus diurungkan saat dompet dan handphone Sinta tertinggal. Alih-alih menggunakan uang Adinda terlebih dahulu, namun mereka justru memilih kembali ke meja Sinta untuk mengambil barang perempuan itu. Namun, mereka justru dikejutkan dengan pemandangan yang baru kali ini terlihat.


“Itu, beneran mbak Edel yang nangis?” tanya Sinta tak percaya, matanya tak lepas dari Edelweis yang menangis sambil memakan brownies yang dibawakan Adinda.


“Ternyata, mbak Edel gak sekuat yang kita kira, ya. Ternyata, mbak Edel yang kita lihat kuat, auranya dominan, bahkan mbak Edel yang suka ngomong pedas. Ada sisi lemahnya juga. Mbak Edel bisa nangis juga ternyata.”


***


Jujur, Edelweis masih marah pada Jonathan karena ucapan pria itu tempo lalu. Rasa sakit itu masih dia rasakan, sulit rasanya melupakan begitu saja ucapan yang dilontarkan Jonathan padanya.


Bahkan, saat berpapasan dengan Jonathan pun dia sengaja menghindar. Biar saja pria itu tahu rasa, biar hidupnya menderita karena sikap yang dia tunjukkan. Namun, ternyata Edelweis salah. Jonathan tak terpengaruh sedikitpun. Bahkan, sepertinya pria itu menikmati hidup dengan ketidakpedulian Edelweis. Dan, Edelweis tak suka dengan hal itu.


Dan, sialnya dia justru harus bertemu dengan Jonathan yang berada di lift. Ingin pergi saja, mengurungkan niatnya. Namun, dia tak mau membuat Jonathan semakin berbesar hati. Akhirnya dengan terpaksa, Edelweis melangkahkan kakinya masuk dan di lift ini hanya ada mereka berdua. Ingat, berdua. Tak ada obrolan apapun, hanya keheningan. Jangankan obrolan, sekedar menyapa saja tak mereka lakukan.


“Males banget sih,” dengus Edelweis, dia menatap pantulan Jonathan dari cermin lift ini.


Awalnya, lift berjalan dengan sempurna. Hingga tiba di lantai 5, pergerakan lift terasa berbeda. Tanpa sadar, Edelweis menggerakan kakinya satu langkah lebih dekat pada Jonathan. Rasa cemas tiba-tiba dia rasakan. Dan, benar saja. Kecemasan itu jadi nyata, lift tiba-tiba berhenti bergerak.


“Loh, loh, kok berhenti gini sih?” tanya Edelweis cemas, dia melirik Jonathan yang sepertinya juga sama cemas nya. “Jo, ini kenapa bisa kayak gini?”


“Gue juga gak tahu,”


Jonathan mencoba menekan tombol-tombol di lift, berharap lift kembali beroperasi lagi. Namun, bukannya lebih baik, justru ada guncangan yang membuat Edelweis dengan cepat mencengkram lengan Jonathan.


Takut, Edelweis mulai merasakan itu. Apalagi saat lampu yang tadinya terang benderang, perlahan berkelip-kelip seperti hendak mati.


“Jo, Jo, ini lampunya kenapa? Jo, gue gak mau gelap. Gue gak mau.”


Jika sudah cemas seperti ini, otak Edelweis tak bisa lagi diajak berpikir. Ketakutan itu dia rasakan saat ini.


“Jo, buruan cari bantuan. Gue gak mau kejebak disini.” Edelweis mengerjap-ngerjapkan matanya, dia tak mau menangis meskipun sekarang rasanya sulit menahan tangis itu.


“Iya, iya. Ini gue juga lagi cari bantuan.”


“Hallo, Feb. Ini lift satu kenapa tiba-tiba berhenti, ya? Lampunya juga kedip-kedip ini. Tolong, kayaknya ada kesalahan teknis ini. Coba kamu langsung minta ke teknisi nya buat nge benerin ini. Saya kejebak ini di lift nya. Iya, buruan. Secepatnya saya gak mau tahu.”


Jonathan menghela napas kasar. Bisa-bisanya kantornya yang sebagus dan secanggih ini punya lift yang bermasalah, ditambah lift tersebut adalah lift khusus pejabat tinggi perusahaan.


Jonathan melirik jam di pergelangan tangannya, melirik Edelweis pula yang masih setia mencengkram erat lengan bajunya. Dia yang berniat melepaskan tangan perempuan itu dari lengannya, terhenti saat Edelweis menolaknya.

__ADS_1


“Please, Jo. Biarin gue pegang tangan lo kali ini. Gue benar-benar takut, Jo. Gue takut.”


Dibawah lampu yang temaram, Jonathan bisa melihat ada ketakutan dimata Edelweis.


__ADS_2