Sandiwara

Sandiwara
Ep.43 - Perkara Seblak dan Nasi Uduk


__ADS_3

“Yakin, masih mau makan yang namanya seblak itu?”


Edelweis menoleh pada Jonathan saat pria itu melontarkan pertanyaan demikian. Dia mengerutkan keningnya, mengangguk yakin. “Iyalah. Ngapain kita jauh-jauh kesini, tapi gak makan seblak seblak itu. Kan sayang.”


“Lo gak lihat itu antriannya? Bisa kebagian siang kita.”


Antriannya memang begitu parah, sampai-sampai kedai seblak nya saja tertutup oleh lautan manusia itu. Jadi, besar kemungkinan jika mereka tetap memesan seblak tersebut, maka akan kebagian disaat jam makan siang.


Namun, itu bukan masalah bagi Edelweis. Dia Edelweis, dia punya kuasa.


Edelweis tertawa, dia memutar tubuhnya menghadap Jonathan. “Gak usah bingung dan khawatir gitu kali, Jo. Kita tinggal sebut nama kita, terus kita tinggal bilang kalau kita bisa bayar berkali-kali lipat makanan yang namanya seblak itu. Kita bisa minta di duluin. Terus—”


“Gak semuanya harus pakai cara gitu, Del. Yang lain datang lebih dulu, mereka ngantri lebih dulu. Dan, lo dengan egoisnya mau pakai kekuasaan buat nyela nya.” Jonathan menggeleng heran, “Gila sih lo, bahkan buat hal sesederhana ngantri aja lo gak mau.” Jonathan tertawa miris.


Senyum Edelweis hilang, kembali buruk sudah citranya di mata Edelweis.


“Ya, kan lo yang gak mau ngantri. Makanya, gue kasih usulan yang paling cepat gitu. Yaudah, kalau lo bersedia ngantri, gue juga bersedia kok.” jawab Edelweis, bohong jika dia bersedia. Dia malas sebenarnya jika harus mengantri.


Jonathan menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. Dia segera melepas seatbelt, kemudian keluar dari mobilnya tanpa berucap apapun, meninggalkan Edelweis yang cepat-cepat menyusul pria itu.


“Ih, Jo! Tungguin dong.”


Edelweis langsung meraih tangan Jonathan, mendekap erat lengan pria itu meskipun Jonathan terus mencoba melepaskannya. Tak ada pilihan bagi Jonathan sehingga dia memilih membiarkan.


Edelweis meringis pelan saat dia bersentuhan dengan beberapa orang, dia mendengus kesal saat beberapa orang justru saling dorong mendorong. “Eh, gak usah dorong-dorong dong.”


“Gak usah cari ribut, Del.”


Edelweis menatap kesal Jonathan, “Siapa yang ngajak ribut? Orang dia senggol-senggol gue.”


“Mba, mas, ngantri dong. Main serobot antrian aja.”


“Eh, maaf-maaf. Saya pikir harus ambil nomor antrian dulu, makanya saya nyela buat ngambil nomornya.” ucap Jonathan, dia meringis saat dirinya ternyata salah.


“Ya, emang ambil nomor antrian. Tapi, ngambilnya juga ngantri.”


“Oke, oke, thank you buat infonya.”


Jonathan bergegas kembali ke belakang, mengantri untuk mengambil nomor antrian bersama yang lainnya. Edelweis disampingnya terkekeh saat melihat Jonathan yang dimarahi, lebih tepatnya ditegur. Untungnya, yang ditegur itu Jonathan jadi masih bisa ditahan, coba kalau Edelweis, sudah pasti terjadi peperangan.


“Ngantri, Jo... Gimana sih lo!” goda Edelweis, dia mengulum senyumnya.


“Berisik!”


Hingga pada akhirnya, mereka sampai untuk mengambil antrian. Hanya bisa menggeleng heran dan tak percaya melihat nomor antrian yang tertera.


“Beneran sih ini mah, Jo kita dapat kebagian yang siang.”


“Yaudah, mau gimana lagi.”


Edelweis mengerucutkan bibirnya, dia menatap melas Jonathan. Sudah satu jam mereka mengantri, menunggu nomor antrian mereka disebutkan. “Gue lapar Jo sekarang. Tadi pagi belum sarapan.” keluh Edelweis, dia mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat menonjol. “Baby nya juga lapar tahu.”


Jonathan menghela napas kasar, “Banyak mau. Yaudah tunggu disini, gue beli makanan yang lain dulu.”

__ADS_1


“Gak mau, pengen ikut.”


“Nanti pesanan kita gimana?” tanya Jonathan malas, lebih tepatnya dia tak mau Edelweis ikut dengannya.


“Kan masih lama. Pokoknya gue mau ikut.”


“Kalau cepat gimana?”


“Tapi, kan—”


“Udah, lo tunggu aja disini.”


Edelweis mendengus meskipun pada akhirnya dia mengiyakan itu semua. Dan, benar dugaan Jonathan jika nomor pesanan mereka disebut setelah setengah jam kepergian pria itu yang entah mencari makanan apa.


“Terimakasih, ya, mbak.”


Bukan Edelweis yang berucap, namun pelayan yang menyerahkan pesanannya lah yang berucap demikian. Edelweis sendiri hanya mengangguk dan segera bergegas pergi dari lautan orang-orang yang masih berdesak-desakan. Semakin siang, pengunjung semakin berdatangan.


Edelweis memilih berteduh di bawah pohon yang rindang sambil menunggu Jonathan yang tak kunjung datang. Ini Jonathan sebenarnya membeli makanan dimana dan apa? Sampai-sampai tak kunjung datang juga.


“Lama banget sih,”


Edelweis membuka penutup seblak tersebut, berdecak kagum dan bingung melihat bentukan dari makanan tersebut. Antara menarik dan tidak menarik sebenarnya, namun aroma dari makanan tersebut tak bisa dia sangkal. Aromanya benar-benar menggugah selera.


“Gakpapa kali, ya nyobain sesuap. Gak bakalan sakit perut kan?”


Air liur rasanya sudah berkumpul di mulut Edelweis dan dia sudah tak bisa menahannya lagi. Di sendoknya seblak tersebut, siap meluncur di mulutnya. Namun, satu tangan lain menahannya membuat niatnya ter urungkan.


“Lo bisa sakit perut kalau makan itu. Lo kan belum makan apapun.”


“Iya.”


Bukannya marah karena Jonathan yang pergi terlalu lama, Edelweis justru mengangguk sambil tersenyum pada Jonathan. Rasa kagum tiba-tiba terpancar dari matanya. Jonathan dimatanya terlihat luar biasa kini. Tapi, bukannya selalu luar biasa?


“Nih, makan dulu ini.” ucap Jonathan, dia duduk disamping Edelweis dan menyerahkan bungkusan berisikan makanan yang dia beli.


“Itu apa?”


“Lo tahu nasi uduk, gak?”


Pertanyaan itu membuat Edelweis memutar bola matanya jengah. “Apa sih, Jo? Gila banget lo! Mana mungkin gue gak tahu nasi uduk. Aneh lo!” kesal Edelweis.


Jonathan mengedikkan bahunya, “Ya, siapa tahu orang kayak lo gak tahu nasi uduk. Lo kan serba gak tahu.”


“Sembarangan!”


“Yaudah, buruan lo makan dulu itu nasinya. Baru abis itu lo cobain tuh makanan yang namanya seblak itu.”


Edelweis membuka bungkusannya. Dari aroma dan penampilannya, nasi uduk yang dibawa Jonathan ini cukup membuatnya menelan air liurnya sendiri.


“Tapi, kok satu doang sih?” Edelweis menoleh pada Jonathan dengan raut bingung, namun senyum lebar langsung tercipta. “Aish! Gue tahu nih! Lo pasti sengaja beli satu buat berdua. Jadi, kita makannya, satu tempat. Oh my God... Sweet banget sih lo, Jo! Uh...”


Jonathan memutar jengah bola matanya melihat ekspresi yang ditunjukkan Edelweis. “Jangan mimpi! Gue udah makan duluan tadi, gue makan langsung ditempatnya. Malas banget harus makan berdua sama lo.”

__ADS_1


Edelweis tersentak kaget dibuatnya. “Ih, parah banget! Pantesan lo lama banget beli makanan doang. Ih, parah, parah, parah!”


Jonathan berdecak, “Udah deh, gak usah banyak omong. Buruan dimakan, kita pulang abis itu.”


“Iya, iya, sabar sih!”


Dan, bola mata Edelweis langsung membulat sempurna saat lidahnya merasakan nikmat yang diciptakan dari makanan di mulutnya. Binar dimatanya membuktikan jika dirinya tak berdusta akan nikmat ini.


“Ih, Jo... Enak banget, ih!”


Jonathan tersenyum miring, “Jelas. Lidah gue gak mungkin salah nilai makanan.”


“Ih... Enak, enak, pokoknya!” Kening Edelweis sampai mengerut dalam karena saking nikmatnya makanannya itu. Dia menoleh pada Jonathan, “Kok lo bisa tahu sih ada makanan seenak ini? Tell me, why? Kenapa lo bisa tahu gitu?”


“Jelas lah, tahu. Semua hal yang disukai Retha, udah jelas gue tahu.”


Jawaban Jonathan itu berhasil membuat kunyahan Edelweis terhenti, seketika tatapan matanya jadi terkesan malas. Sendok ditangannya pun dia lepaskan, malas.


“Gak enak!” ketus Edelweis, dia menyerahkan bungkusan nasi uduk itu pada Jonathan.


“Lo bilang tadi enak.”


Enak, kalau saja tak ada unsur Retha didalamnya. Edelweis saja langsung jatuh cinta sejak suapan pertama. Namun, tidak kini, Retha menghancurkan rasa nikmat itu.


“Gak! Seblak lebih enak.” jawab Edelweis, dia memilih untuk mencoba makanan bernama seblak tersebut.


Harap-harap cemas Edelweis menatap bentukan seblak itu dan sesuap seblak berhasil mendarat di mulutnya. Awalnya terasa aneh, kenyal-kenyal. Namun, saat dikunyah dan dirasakan ternyata rasanya tak seburuk yang dia kira. Enak, lumayan.


Jonathan menatap tak berselera makanan yang tengah dinikmati Edelweis, “Gak lebih enak dari nasi uduk ini kan?” tanya Jonathan dan dia yakin dengan pemikirannya itu.


Iya. Edelweis ingin mengatakan itu. Namun, gengsinya terlalu tinggi jika dia mengakuinya. Nanti dikira seleranya sama lagi seperti Retha. No! Big no! Dia tak mau disamakan dengan perempuan itu.


“Enggak! Lebih enak seblak kemana-mana. Nasi uduk pilihan cewek itu gak enak. Pantes sih gak enak, orang selera cewek itu dibawah gue.”


“Eh, Retha itu—”


“Rendahan.” potong Edelweis cepat, dia menatap tajam Jonathan yang terlihat begitu kesal dengan ucapannya. Namun, perlahan tatapan Jonathan terasa menusuk begitu tajam, membuat ada sedikit rasa takut yang Edelweis rasakan.


“Apa?” Edelweis gelagapan, dia mengendikkan bahunya. “Emang benar kan dia itu rendahan. Mana ada cewek high class tapi deketin suami orang.” ucap Edelweis, dia sadar betul dengan apa yang dia ucapkan.


“Sadar, gak kalau lo tuh lagi ngerendahin diri lo sendiri.”


Edelweis mengerutkan keningnya bingung.


Jonathan menggeleng pelan, dia beranjak berdiri. “Coba lo pikirin lagi. Siapa yang rebut siapa? Siapa yang rebut cowok orang?”


Edelweis terdiam dan diamnya perempuan itu membuat Jonathan tersenyum sinis. “Jadi, jelaskan siapa yang rendahan disini?” tukas Jonathan, dia berbalik hendak meninggalkan Edelweis.


“Lo mau kemana, Jo?”


“Pulang.”


“Gue belum mau pulang.”

__ADS_1


Jonathan tak berucap, tetap melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Edelweis yang masih belum juga beranjak dari tempatnya.


“Tapi, cewek itu emang rendahan, Jo. Dia rebut apa yang seharusnya bukan milik dia.” gumam Edelweis saat memori itu terlintas jelas di benaknya.


__ADS_2