
“Kamu dimana, mas?”
“Aku di rumah sakit.”
“Siapa yang sakit? Kamu sakit?”
“Kalau aku sakit, gak mungkin aku angkat telpon kamu. Gak akan lah aku buat kamu khawatir, sayang.”
“Terus, siapa yang sakit, mas?”
Butuh waktu sepersekian detik untuk Jonathan menjawab. “Teman.” jawab Jonathan, dia tersenyum simpul. “Teman ku sakit dan dia harus dirawat semalam ini disini. Dia gak punya siapa-siapa lagi, makanya aku yang jagain dia disini.”
“Oh, gitu. Yaudah, kamu istirahat, ya mas. Jangan sampai kamu juga ikutan sakit. Oke?”
“Iya, kamu juga istirahat, ya sayang.”
Edelweis bisa mendengar jelas apa yang sedang dibicarakan Jonathan dan Renata melalui panggilan telepon itu. Dia tak benar-benar tidur sebenarnya, dia hanya memejamkan mata seolah tidur sambil memunggungi Jonathan yang duduk di sofa. Dia hanya mampu tersenyum simpul melihat bagaimana berbeda nya Jonathan padanya juga Renata.
Memang benar, ya. Cinta bisa membedakan segalanya.
***
Edelweis terjaga di tengah malam, dia sama sekali tak bisa untuk memecahkan mata dan tertidur begitu saja saat tahu dimana dirinya saat ini berada. Dia menatap langit-langit kamar, kilasan memori masalalu berputar di benaknya.
Flashback On~
Malam yang senyap itu seketika berubah menjadi gundah. Senyuman yang masih tercetak jelas beberapa saat yang lalu kala mengingat liburan menyenangkan yang mereka rencakan, berubah jadi sendu. Air mata pun tak bisa untuk berhenti mengalir di pipinya.
Seorang gadis remaja dengan setelan piyama tidurnya hanya mampu berdiri kaku bersama air mata di pipinya, bibir dan tubuhnya bergetar, jantungnya berdegup kencang ketika dengan mata kepalanya sendiri, dirinya melihat bagaimana tubuh
yang kini sudah terbujur kaku dengan darah yang membasahi sekujur tubuhnya.
“Mami, Papi.”
“Non Edel,”
Tubuhnya langsung lemas seketika saat seseorang menyentuh kedua pundaknya, dia tak bisa menahan diri lagi hanya untuk berdiri tegak.
“Mami... Papi... Mbak, itu Mami sama Papi, mereka berdarah. Mereka—”
“Non, Non yang tenang, ya. Ibu sama Bapak lagi ditangani sama dokter. Non—”
“Mbak! Gimana aku bisa tenang? Mbak lihat sendiri kan? Gimana Mami sama Papi berdarah-darah?” Dia histeris. “Mbak lihat kan? Aku harus lihat mereka!”
Langkahnya kembali terhenti saat tubuhnya ditahan.
“Non, mbak tahu. Tapi, Non juga harus ingat kondisi Non. Non Edel juga harus diobatin.”
“Enggak, mbak. Aku harus lihat Mami, Papi. Aku—”
Ucapan Edelweis kecil itu terhenti saat tiba-tiba kesadarannya hilang dan saat matanya terbuka dirinya sudah berbaring diranjang rumah sakit dengan beberapa selang infus ditangannya.
“Edel,”
“Tante,”
Edelweis tak bisa menahan air matanya lagi saat dia ingat kejadian yang baru saja menimpanya. Tubuhnya yang ringkih pun langsung dipeluk penuh kasih oleh Emmeline.
“Tante, Mami sama Papi mana? Mereka baik-baik aja kan?”
“Edel yang tenang, ya. Edel jangan dulu pikirin Mami sama Papi, Edel fokus dulu sama kesehatan Edel sekarang.”
Edelweis menggeleng, “Enggak, Edel mau ketemu Mami sama Papi, tante.” mata sendu penuh air mata itu menatap penuh permohonan. “Tan...”
“Dengerin, tante! Tante janji, tante akan bawa Edel ketemu Mami sama Papi, tapi Edel harus sehat dulu. Edel harus pulih dulu.”
“Tapi, tante—”
“Tante, janji!”
“Mami sama Papi, mereka baik-baik aja akan?”
Diam yang justru diberikan oleh Emmeline sebagai jawaban membuat Edelweis semakin histeris dibuatnya. Pikirannya sudah berpikir buruk.
__ADS_1
“Tante...”
“Iya, Edel, iya. Mami sama Papi Edel baik-baik aja.”
“Edel mau ketemu mereka, tante...”
“Iya, sayang... Iya...”
Dan, Emmeline menepati janjinya untuk mempertemukan Edelweis dengan orangtuanya. Namun, bukan lagi sebuah jasad hidup yang dia temui, melainkan gundukan tanah yang masih merah basah dengan nisan bertuliskan nama orangtuanya.
“Edel,” panggil Emmeline pelan, dia menahan air matanya melihat bagaimana Edelweis saat ini.
Edelweis masih diam terpaku, masih tak percaya dengan apa yang terjadi padanya juga dengan apa yang dia lihat didepan matanya.
Plak!
“Edel!” pekik Emmeline saat melihat Edelweis menampar dirinya sendiri. Dia bersimpuh disamping gadis itu yang masih tak henti menyakiti dirinya sendiri.
“Edel, cukup!”
“Ini mimpi kan? Ini semua gak nyata kan, tante? Mami sama Papi gak mungkin meninggal kan?” Edelweis menatap Emmeline dengan mata berkaca-kaca, bibirnya mencoba tersenyum untuk memastikan semuanya baik-baik saja. “Mereka masih di rumah sakit kan, tante? Iya, kan?”
Edelweis beranjak cepat, “Iya. Mami sama Papi masih di rumah sakit, pasti mereka masih ditangani dokter, aku yakin itu.” Edelweis tersenyum, “Ayo, tante kita ke rumah sakit sekarang!”
“Edel...”
“Tante, Edel gak suka kayak ginian. Edel tahu, Edel bukan anak yang baik. Edel ukan anak yang selalu nurut sama Mami, Papi, tapi bukan berarti kalian bisa bohongin Edel kayak gini.”
Emmeline tak bisa menahan tangisnya lagi.
“Edel...”
Edelweis menangis pilu kini, “Tante... Ayo, kita ke rumah sakit ketemu Mami sama Papi. Ayo, tanten...” lirih Edelweis, dia masih memaksa.
“Edel...” Emmeline langsung memeluk Edelweis yang semakin kencang tangisnya.
“Tante, Edel mau ketemu Mami, Edel mau ketemu Papi. Tante...”
Edelweis menggeleng keras, “Enggak, tante. Enggak. Mami sama Papi gak mungkin ninggalin Edel, gak mungkin.”
“Edel...”
“Tante, ayo... Kita ketemu Mami sama Papi.” Edelweis melepas pelukan Emmeline dengan paksa, dia menatap lekat Emmeline dengan matanya yang basah dan merah. “Ayo, kita ke rumah sakit! Ayo, tante!”
Emmeline kembali menahan Edelweis, dia mendekap wajah Edelweis. “Edel, sadar! Mami sama Papi kamu udah meninggal dan itu,” Emmeline menatap gundukan tanah kuburan. “Itu makam orangtua kamu Edel. Itu makam Mami, Papi kamu.”
Edelweis diam, dia tak merespon untuk beberapa saat. Namun, air matanya tak berhenti mengalir. Lututnya langsung lemas seketika, Edelweis jatuh terduduk dengan tatapan tak percaya.
Flashback Off~
Tak terasa, air mata mengalir saat kilasan menyakitkan itu kembali berputar di benaknya. Edelweis memejamkan matanya, mencoba mengenyahkan semua memori menyakitkan itu.
“Aku jadi takut ke rumah sakit. Karena setiap ke rumah sakit aku jadi ingat kalian. Ingat dimana hari terakhir aku gak bisa ketemu kalian untuk selamanya.”
Tanpa disadari, ada Jonathan yang tak sengaja mendengar gumaman Edelweis. Baru kali ini, dia melihat perempuan itu begitu rapuhnya. Sekarang dia sedikit tahu alasan Edelweis yang tak pernah mau pergi ke rumah sakit.
***
“Mau pulang kan? Ayo!”
Edelweis menoleh seketika, terkejut dengan kedatangan Jonathan yang tiba-tiba. Padahal tadi saat dia terbangun, pria itu tak ada dikamarnya. Namun, sekarang tiba-tiba muncul dan berkata demikian.
“Udah boleh?”
“Kalaupun gak boleh, lo tetap mau pulang kan?”
Edelweis mengangguk pelan.
Jonathan mengangguk-angguk, “Yaudah, buruan. Kita pulang.”
Edelweis tersenyum lebar, “Oke? Yaudah, gue ganti baju dulu.” ucap Edelweis, dia bergegas beranjak dari ranjang yang ditempatinya, tanpa sadar jika tangannya masih terpasang infus.
Beruntung Jonathan sadar lebih dulu, sehingga dia bisa menahan tubuh Edelweis sebelum tangan perempuan itu menarik tangannya yang terpasang infus itu.
__ADS_1
“Eh?”
Edelweis menatap terkejut Jonathan, sedangkan yang ditatap justru melayangkan tatapan datarnya.
“Bisa, gak, gak ceroboh?”
Edelweis mengerjap-ngerjapkan matanya, dia mengangguk pelan sambil tersenyum simpul. “Bisa. Makasih, ya suami udah selametin istrinya dari bahaya.” ucap Edelweis, dia semakin melebarkan senyumnya.
Jonathan mendengus kesal mendengar ucapan Edelweis, dia melepaskan tangannya dari tangan Edelweis. “Lebay.” ketus Jonathan. “Buruan siap-siap, gue tungguin.”
“Permisi, pak. Saya mau cabut infus nya ibu Edelweis.”
“Oh, iya Sus. Silahkan.”
***
“Jo... Kita langsung pulang?”
Edelweis menoleh pada Jonathan disampingnya yang tengah fokus menyetir. Tak henti sejak tadi dia mengagumi pria itu. Dalam diamnya Jonathan, justru aura dan kharisma pria itu semakin keluar, membuat Edelweis tak henti-hentinya takjub dengan pria itu. Kenal Jonathan sejak lama, kenapa baru sekarang dia sadar jika Jonathan benar-benar luar biasa.
“Hem.”
“Padahal gue gak mau pulang dulu,” Edelweis kembali menatap Jonathan, namun sepertinya pria itu tak peduli dengan ucapannya. “Iya, gue gak mau pulang dulu. Gue tuh pengen makan diluar dulu.”
“Pesan online aja, biar diantar ke apartemen.”
“Tapikan gue pengennya makan di tempat.” ucap Edelweis, dia cepat-cepat melanjutkan bicaranya sebelum Jonathan membalas. “Ini yang mau makanannya anaknya loh. Gue lagi ngidam deh kayaknya.”
Tak ada respon dari Jonathan untuk beberapa saat.
“Katanya kalau gak diturutin, anaknya bisa ileran loh. Gue kan gak mau anak ini ileran, Jo. Nanti anaknya, ganteng atau cantik, eh masa ileran. Gak mau Jo...”
“Yaudah, pengen apa? Cepetan.”
Edelweis tersenyum lebar, dia senang Jonathan mau. “Kan udah bilang semalam kalau gue tuh pengen banget makan bakso. Nah, jadinya, gue pengen bakso deh. Makan bakso, yuk!”
“Dimana?”
“Nah, itu juga masalahnya. Gue gak terlalu tahu bakso yang enak tuh dimana. Kalau menurut lo dimana? Gue ikutin lo aja deh.”
Jonathan tersenyum miring, “Yakin ikutin gue? Lo kan tahu, selera gue gak setinggi lo.”
“Gakpapa kok. Gue yakin meskipun selera lo dibawah gue,” Jonathan terkejut mendengarnya, tapi ini memang lah Edelweis. “Tapi, rasanya gak mungkin akan hancur banget.”
Jonathan memgendikkan bahunya, “Yaudah.”
Tak lama kemudian sampailah mereka didepan sebuah ruko berukuran lumayan besar. Sudah terparkir beberapa motor didepan tempat ini. Dibagian dalamnya pun sudah banyak pengunjung yang tengah menikmati semangkuk bakso yang mereka pesan.
“Jadi, ini tempatnya?”
“Iya. Gak sesuai ekspektasi lo kan?” Jonathan tersenyum miring, Edelweis dan kehidupan mewahnya pasti meronta melihat tempat makan pinggir jalan seperti ini. “Yakin, mau tetap makan bakso di sini?” tanya Jonathan, dia senang melihat diamnya Edelweis karena dia sudah tahu apa jawabannya.
Yang sayangnya, tebakan Jonathan kali ini salah.
“Iya, gak papa kok. Yuk, kita turun terus makan bakso disini.” ajak Edelweis, dia tersenyum lebar.
Jonathan mengerutkan keningnya, masih tak percaya.
“Ayolah, Jo... Ngapain diam aja? Buruan, gue udah pengen banget makan bakso.”
“Lo serius?”
“Yaiyalah, masa bohong sih. Buat apa kita datang ke sini tapi gak makan bakso juga. Buang-buang waktu. Ayo, buruan!”
Edelweis segera membuka pintu mobil, dia sudah bergegas menghampiri penjual bakso tersebut. Dia bergegas memesan dua porsi baksonya, untuknya juga Jonathan.
Sedangkan, di mobil Jonathan berniat memarkirkan mobilnya. Namun, dering ponsel miliknya membuatnya mengurungkan niat. Dan, apa yang baru saja dia dengar seketika membuatnya terdiam, rasa cemas pun langsung dirasakannya. Tanpa berpikir ataupun ingat dengan Edelweis, Jonathan segera melajukan mobilnya pergi meninggalkan tempat ini.
Sementara Edelweis, dia pikir Jonathan akan memarkirkan mobil dan ikut menyusulnya. Namun, Jonathan justru melajukan mobilnya pergi. Menyadarkan Edelweis kembali jika apa yang diucapkan Jonathan memang benar adanya.
Dia sendiri, tak punya siapa-siapa. Dan, mungkin tak berharga.
“Jo!”
__ADS_1