
“Del?”
Edelweis seketika memejamkan matanya saat lampu elevator mengerjap-ngerjap. Suasana gelap juga ketakutan yang dia rasakan saat ini, kembali membuatnya teringat akan kejadian masalalu yang pernah dia alami. Memori buruk pun terlintas begitu saja di benaknya bagaikan kaset rusak yang terus berputar tanpa henti. Tak ayal, air mata sudah membasahi wajahnya kini.
“Del, lo ngapain nangis?” tanya Jonathan, Edelweis menangis begitu saja. Dan, cengkraman perempuan itu ditangannya pun semakin kuat.
Edelweis menangis tersedu, “Jo, ini kapan nyalanya sih? Gue benar-benar takut. Ini sempit banget, Jo. Gelap juga. Gue sesak.” ucap Edelweis, dia semakin menangis menjadi.
Jonathan mengerutkan keningnya bingung. Lift ini besar, cukup banyak menampung banyak orang. Dan, kalau hanya ada mereka berdua, sudah dipastikan jika sempit tak akan terjadi. Ini luas hanya untuk mereka berdua. Masalah gelap, gelap darimana coba? Meskipun lampu elevator kedap-kedip, namun cahaya masih ada, temaram lebih tepatnya.
Tapi, Jonathan jadi ingat kembali malam itu. Saat yang sama Edelweis ketakutan hanya karena lampu kamar yang dia matikan. Sepertinya, Edelweis memang ada trauma tersendiri dengan kegelapan.
“Del, buka mata lo. Ini gak gelap, ada cahaya. Buka mata lo.”
Edelweis menggeleng, air mata sudah membasahi wajahnya dan dia tak peduli dengan itu. “Enggak, enggak, gue takut. Ini gelap.”
“Enggak, ini gak gelap. Buka mata lo sekarang! Edel!”
Perlahan mata Edelweis terbuka, namun dia kembali memejamkan mata saat dia rasa cahaya yang dia butuhkan kurang. Dia mencengkram kuat tangan Jonathan.
“Enggak, enggak, masih gelap. Buruan, Jo telpon orang lo! Suruh benerin ini lift nya. Gue takut...”
“Udah, Del, udah. Gue udah telpon orangnya, emang lagi di benerin ini. Lo yang sabar. Lagian, lo jangan nangis lah, nanti lo tambah sesak lagi.”
“Gue takut,”
Jonathan mengeluarkan kembali ponselnya, bertepatan dengan itu ada panggilan masuk dari orang nya.
“Halo, gimana?”
“Iya, pak. Ini saya udah bawa teknisi nya dan akan langsung diperbaiki. Kemungkinan ada kesalahan teknis, jadi mungkin memang cukup makan banyak waktu nantinya. Jadinya, mohon maaf nanti bapak mungkin akan terjebak di lift nya cukup lama. Gakpapa, pak?”
“Ya, mau gimana lagi. Segera percepatan perbaikannya.”
“Baik, pak. Mohon maaf, pak. Itu bapak bersama siapa?”
Ada CCTV di lift ini, jadi wajar jika orangnya sampai tahu ada orang yang bersamanya. “Edel,”
“Baik, pak. Kami akan percepat prosesnya.”
“Ya.”
“Gimana, Jo?”
“Masih diperbaiki dan mungkin bakal makan banyak waktu. Jadi,—”
“Berarti kita kejebak disini lama, Jo? Iya, gitu?” tanya Edelweis cemas yang mendapat deheman dari Jonathan. Dia segera mengeratkan pegangannya pada pria itu, dia takut sekali. Dan, hanya Jonathan satu-satunya harapannya kali ini.
“Gue pegal dan mau duduk, jadi lepasin tangan lo.”
“Enggak mau.”
Jonathan menghela napas kasar, dia membiarkan Edelweis tetap mencengkram lengannya. Perbaikan lift ini cukup memakan banyak waktu dan sepertinya duduk adalah pilihan yang tepat. Jonathan duduk lesehan, meluruskan kakinya sedang sebelah kakinya tertekuk. Pun begitu dengan Edelweis yang ikut duduk perlahan masih dengan mata yang terpejam juga air mata yang masih menetes deras.
“Udah deh, Del. Berhenti nangisnya, pusing gue dengarnya.”
__ADS_1
“Lo tuh gak ngerasain yang gue rasain, Jo! Ini tuh gelap, sumpek dan bikin gue sesek. Gimana bisa gue gak nangis coba!”
Jonathan mengeluarkan ponselnya kembali, dia menyalakan senter dari ponselnya yang seketika membuat ruangan ini jadi lebih terang dari sebelumnya.
“Buka mata lo, ini udah terang.”
“Enggak, tadi aja masih gelap.”
“Buka, Edel!”
Karena paksaan dari Jonathan membuat Edelweis perlahan membuka matanya. Satu hal yang harus dia syukuri, Jonathan tak berbohong dengan apa yang dia ucapkan sebelumnya. Ruangan ini lebih terang dari sebelumnya.
“Udah terangkan?”
Edelweis melirik cahaya yang berasal dari ponsel Jonathan. Untuk sesaat dia menghentikan tangisnya, namun tak melepas sedikitpun cengkraman tangannya dari Jonathan.
“Udah kan? Udah terang. Jadi, lepasin tangan lo.”
“Gak mau,”
“Udahlah, Del. Ini juga ruangan gak sempit, luas buat kita berdua doang. Dan juga, gue kan udah kasih penerangan ini. Udahlah, lepasin tangan gue.”
“Gak mau, Jo. Gak mau. Lagian, pelit banget sih. Cuma pinjem tangan aja gak mau. Gue juga gak ngapa-ngapain lo ini, udah sih.”
“Batu!”
“Bodoh amat!”
Edelweis tak peduli, seberapa keras Jonathan memintanya untuk melepaskan tangan pria itu yang ada dalam cengkraman nya, bahkan kini sudah ada dalam pelukannya. Dia tak akan melepaskan tangan pria itu. Trauma mendalam akan ruangan sempit dan gelap, membuat dia takut barang sedetik melepaskan pegangan nya itu.
“Jo, gelap lagi.”
“Baterai handphone gue abis, pake handphone lo.”
Edelweis segera meronggoh tasnya, mencari keberadaan ponselnya namun tak kunjung dia temukan. Satu persatu barangnya pun Jonathan keluarkan untuk mencari benda pintar itu, namun nihil. Ponsel Edelweis tak ada.
“Handphone lo dimana?”
“Gue gak tahu,” Edelweis terdiam, mengingat-ingat dimana terakhir kali dia menggunakan ponselnya itu. “Ah, itu ketinggalan di laci gue.”
Jonathan berdecak, "Ceroboh.”
Edelweis mengerucutkan bibirnya. “Terus gimana, Jo? Ini gelap lagi.”
“Yaudah, mau gimana lagi. Kita gak punya sesuatu yang bisa jadi cahaya. Tunggu aja sampe lift nya selesai.”
“Kalau gak selesai.”
“Gue pecat semuanya, gak becus banget kerja.”
“Tapi, Jo. Ini gelap.”
Jonathan kembali berdecak kesal, dia memutar jengah bola matanya. “Gelap, gelap mulu. Pusing gue dengarnya.”
Edelweis langsung menyikut Jonathan, membuat pria itu langsung meringis pelan. “Lo tuh gak ngerasain jadi gue sih. Gimana rasanya ada di tempat gelap, ruangan sempit itu. Sesek, Jo. Sesek disini tuh!” Edelweis hampir menangis lagi, namun dia tahan. Dia sudah cukup lemah tadi di hadapan Jonathan, tak mau dianggap lebih lemah lagi.
__ADS_1
“Dengerin gue! Kalau lo punya trauma tersendiri, coba lo pikirin lagi. Gimana cara lo bisa survive di trauma lo.”
“Lo tuh ngomong gampang! Lo gak ngerasain!”
“Coba, tenangin diri lo. Pikirin hal-hal positif yang pernah terjadi sama lo. Tutup mata sebentar dan coba lagi buat buka. Bayangin, kalau tempat ini tuh gak gelap sama sekali, ada cahaya, tempat ini terang. Bayangin...”
Jika biasanya Edelweis akan menolak perintah Jonathan, namun kali ini dia menuruti apa yang pria itu katakan. Satu persatu saran Jonathan, Edelweis lakukan. Lumayan, ternyata ada sedikit ketenangan.
Jonathan yang melihat Edelweis sedikit lebih tenang pun, tersenyum tipis. Bukan karena apa, tapi karena dia senang sedikit terbebas dari cengkraman tangan Edelweis yang lumayan kuat di lengannya.
Tak terasa, hampir satu jam mereka terkurung di lift ini. Segala bantuan pun sudah dikerahkan, namun belum ada tanda-tanda lift akan kembali beroperasi normal. Bahkan, sedikit celah di pintu lift pun sudah dibuka paksa oleh petugas guna mengeluarkan Jonathan dan Edelweis yang masih terjebak di sana.
“Jo, haus.” ucap Edelweis lemas, rasanya semua tenaganya habis terkuras sia-sia. Bahkan dia tak tahu bagaimana bentukannya saat ini.
“Gak ada minum, Del.”
“Tapi, haus banget.”
Jonathan beranjak berdiri, bagian atas yang sengaja dilubangi agar oksigen tetap masuk juga tengah dicoba untuk jalan alternatif nantinya jika pintu lift tak bisa terbuka.
“Feb, saya minta air minum tolong.”
“Baik, pak. Segera saya bawakan.”
Tak lama pun, orang suruhan Jonathan memberikan sebotol air mineral lewat celah dengan cara dilempar dan langsung ditangkap oleh Jonathan.
Jonathan kembali menghampiri Edelweis, menyerahkan botol air mineral yang telah dia buka. “Nih, minum.” ucap Jonathan.
Edelweis menerimanya, dia langsung meneguk seketika air tersebut. Rasanya, dahaga yang dia tahan tuntas sudah. “Lo, gak mau Jo?” tanya Edelweis, dia menunjuk air minumnya.
Jonathan tak menjawab, dia hanya mengambil kembali botol itu dan langsung menegak isinya tanpa menyentuh bibir botol tersebut. Hal tersebut tak lepas dari penglihatan Edelweis, perempuan itu memperhatikan dengan jelas apa yang dilakukan Jonathan.
“Jo, masih lama kah?”
“Gue gak tahu, Del.”
Edelweis menghela napas kasar, dia menyandarkan kembali tubuhnya dengan lemas. Menit demi menit pun berlalu begitu saja, rasa lemas dan lelah pun bercampur, ditambah waktu sudah mulai larut. Tanpa sadar, Edelweis pun sudah memejamkan matanya.
Jonathan melirik Edelweis yang menjatuhkan kepala di pundaknya, perempuan itu tertidur. Di liriknya Edelweis, perempuan itu memakai pakaian kerja dengan rok diatas paha sehingga kaki jenjang dengan sepatu hak tinggi pun terpampang jelas.
Jonathan menghela napas kasar, dia mengangkat pelan kepala Edelweis yang bersandar di pundaknya. Lalu, dia melepaskan jas yang melapisi kemejanya, kemudian diletakkan jas tersebut diatas paha Edelweis. Lumayan, setidaknya kaki perempuan itu tak terlalu terpampang jelas.
Menunggu perbaikan lift ternyata banyak memakan waktu, bahkan hampir satu jam mereka terjebak disini. Hingga akhirnya waktu itu pun tiba, lift pun hampir terbuka setelah dibuka paksa oleh banyak orang. Dan, sudah dipastikan jika saat ini sudah banyak orang yang berkerumun didepan lift tersebut.
“Del, bangun. Lift nya udah mau kebuka.”
Edelweis membuka matanya perlahan, dia melihat sebuah jas yang menutupi kakinya. Di tatap nya Jonathan dan ternyata jas tersebut milik pria itu. Tatapan penuh arti pun tersirat jelas dimata Edelweis.
“Buruan bangun, lift nya udah mau kebuka.”
Jonathan sudah berdiri terlebih dahulu, dia tak sabar untuk keluar dari tempat yang benar kata Edelweis, sumpek itu. Ditambah, dia harus berduaan dengan Edelweis didalamnya.
Lain halnya dengan Edelweis yang masih mencoba untuk berdiri, dia lemas ditambah kepalanya terasa pening sekali.
Tepat sebelum lift terbuka, Edelweis memanggil Jonathan dan saat tangannya menggapai tangan pria itu, tubuhnya jatuh pingsan. Beruntung Jonathan dengan cepat menangkap tubuh Edelweis dan Edelweis pun jatuh pingsan dalam dekapan Jonathan. Hal tersebut pun tak lepas dari tatapan semua orang yang kebetulan saat itu lift terbuka lebar.
__ADS_1