
Dengan gontai dan fikiran terus menerka-nerka, aku putuskan untuk kembali ke-kamar dan aku terus menyusuri koridor rumah yang serasa panjang dan tidak sampai-sampai menuju kamar ku
Aku merasa aku hanya berputar-putar di koridor dan seputaran ruang tamu ini saja, entah ini hanya sebuah halusinasi atau memang aku yang berjalan lambat dan berjalan di tempat
"Perasaan tadi pagi aku ke ruang makan gak sepanjang ini deh koridor nya, ini kok berasa gak sampe-sampe ya" ucap ku dalam hati
"Sini"
Aku menoleh ke sumber suara
"Wida !! " kata ku
Aku melihat Wida di ujung koridor arah selatan
"Ceek, rumah ini besar sekali buat aku bingung saja" gerutu ku pelan sambil melangkah kan kaki menuju ke arah wida
"Sini" lambai nya lagi pada ku
Aku berjalan sedikit berlari ke arah wida, ada perasaan aneh yang kurasakan kenapa wajah Wida sedikit pucat beda dengan tadi yang ku lihat di ruang makan
Tapi aku tetap mengikuti wida
"Wida kamu sakit" tanya ku pada Wida ketika sudah sampai di dekat Wida
Wida tak menjawab dan hanya tersenyum saja, lalu menarik tangan ku tanpa berkata-kata
Aku dengan spontan mengikuti langkah Wida tanpa banyak tanya pula, ada rasa aneh saat Wida menggenggam tangan ku, rasanya tangan Wida dingin sekali sedingin es yang setengah jadi
"Ah mungkin karena udara di kota ini memang dingin jadi menyebabkan tangan Wida juga ikut dingin", pikir ku lagi sambil terus mengikuti langkah kaki wida
Wida membawa ku sebuah taman yang asri, memang luar biasa kota ini, banyak tempat indah buat dinikmati dan memanjakan mata
"Sini duduk" kata Wida
Aku pun duduk disebelah nya yang masih diam tanpa kata sambil memandangi ke atas bukit, ku ikuti arah pandangan nya dan tepat didepan kami terlihat hijaunya pepohonan dan terdapat beberapa rumah diatas nya
"kamu sering duduk disini ya" tanya ku memecahkan suasana hening yang tercipta dengan sendirinya
Wida hanya menoleh ke arah ku sesaat dan kembali menatap ke arah rumah-rumah diatas bukit sana
__ADS_1
Ada perasaan aneh saat Wida menoleh sesaat ke arah ku wajah Wida sedikit berbeda tidak seperti Wida tapi mirip dengan Wida, cantik tapi pucat
"Kamu kenapa diam saja, kamu sakit??" tanya ku pada Wida
"Aku cuma kangen anak ku" akhirnya Wida bersuara juga
" Anak??" tanya ku heran
"Sejak kapan kamu punya anak, menikah saja belum" bantah ku lagi karena aku tau Wida memang belum menikah
"Aku menikah muda dulu, dulu aku tinggal di rumah diatas sana, keluarga ku bahagia tapi hancur karena orang ketiga, yang tak menginginkan aku bahagia"
"obsesi gila dari seorang pria, yang menyebabkan hancur semua kebahagiaan" Wida menjelaskan dengan pelan dan lirih
Terdengar jelas suaranya seperti menahan kesedihan yang amat dalam
"kenapa kamu gak pernah bilang, selama ini kamu baik-baik saja gak kelihatan kalau kamu sudah pernah menikah juga" jelas ku lagi
"Pelan tapi pasti nanti kamu akan tahu semuanya, tolong aku, bantu aku, kamu lah orang yang bisa mengungkapkan semua tabir misteri ini, aku tidak bisa mengungkapkan dengan sendiri nya karena masih ada yang membelenggu kaki dan tangan ku"
"Tapi aku sudah bersumpah bahwa aku akan membebaskan orang-orang yang aku sayang dan bisa membalaskan dendam ku pada orang yang telah berbuat jahat pada ku dan keluarga ku"
"Orang itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, dia tidak boleh bebas, walau dia bebas dari jeratan hukum dia tidak akan bisa bebas dari ku"
"Tolong aku, tolong cari anak ku, dia tau dimana aku berada tapi aku tidak tau dimana dia berada, satukan kami lagi, tolong "
"Aku yakin dia juga tau dimana ayah dan kakek nya berada, tapi aku tidak tau dimana anak ku sekarang, masih hidup atau sudah mati"
Wida tertunduk setelah mengatakan itu, terlihat dia menangis dari goncangan bahunya
"..hick hiii..hick hick..
Aku mendengar suar tangisan yang sangat piluuu sekali, sampai aku pun merasa ingin menangis tapi juga merasa serem
Sontak aku teringat dengan kalimat dari Santi, Santi juga pernah mengatakan hal yang serupa
"Satukan aku dengan ibu ku"
"Ada apa ini, apa ada hubungan nya dengan Santi" pikir ku lagi
__ADS_1
"Tolong bantu aku, hanya kami yang bisa aku harapkan, setelah aku terpisah oleh adik ku tidak ada yang bisa aku harapkan lagi untuk mengungkapkan semua ini"
Wida terus berbicara dengan tatapan tetap lurus ke depan ke arah bukit, tanpa menghiraukan aku yang dari tadi memandangi nya dengan pandangan aneh dan sedikit serem Karena wajah nya yang pucat
Aku menoleh kearah pandangan Wida yang dari tadi tak pernah putus, tiba-tiba suara Wida menghilang aku seperti tak mendengan suara apapun, aku menoleh ke arah kiri ku dan benar tidak ada Wida tidak ada siapapun disebelah ku
"Wida... Wida.. widaaa" aku terus berteriak memanggil nama Wida sambil berlari kesana kesini mencari keberadaan Wida
"Wida jangan becanda deh, aku g tau jalan arah pulang, rumah kamu gede banget aku bingung, jangan main tinggal gitu aja dong, iseng amat"
aku terus berteriak tapi tak ada pergerakan dari Wida dari arah mana pun
"Wida.. Wid.. widaaa"
"un...un..un, bangun un.kamu kenapa tidur disini" Mbak Marni membangun kan ku
"mbak" aku kaget melihat Mbak Marni sudah ada di dekat ku dengan tatapan heran
Aku lihat sekeliling ternyta aku masih ada di teras rumah dan tidak ada taman indah yang ku lihat tadi, aku melihat mom endang dan Wida lari berbarengan ke arah ku begitu juga dengan teman-teman yang lain
Rupanya teriakan begitu keras hingga semua panik dan lari ke arah ku
" Kamu gak papa un" kata Wida sambil menyelidik badan ku
"cek aku gak papa, kamu kemana aja tadi aku cariin kamu, main tinggal gitu aja, makanya aku teriak dan manggil-manggil"
Jelas ku pada Wida dengan sedikit ngambek
"Aku??" kata Wida heran
"Iya kamu jadi siapa lagi" aku kaget melihat Wida yang kelihatan segar dengan baju yang berbeda dengan yang dipakainya di taman tadi
"Kenapa" Wida bertanya sambil melihat ke arah badannya sendiri
"Tatapan mu aneh banget, aku kenapa??"
Wida terus bertanya, sementara aku masih terpaku melihat Wida yang jelas-jelas beda dengan yang tadi
"Uun" suara lembut mom endang membuyarkan lamunan ku
__ADS_1
Aku tersentak langsung melihat mom endang
"Mom" kata ku masih terpaku