
"Siapa??" tanya lifa
"Orang ini" jawab ku
"Simpan saja, ambil beberapa foto yang menurut mu bisa jadi petunjuk, fokus pada apa yang kita cari sekarang" kata lifa
Aku pun menuruti nya ku buka semua lembaran album dan ku ambil beberapa foto yang terkait dalam mimpi ku, lalu ku letakan Kemnali dan ku simpan dalam saku foto yang telah ku ambil
Saat aku hendak berdiri, aku melihat ada amplop usang yang di tempel pada langit-langit lemari
Kuambil amplop itu dan isinya ternyata kunci dan sebuah surat yang bertuliskan,
"KAU PENGHALANG CINTAKU MAKA KAU AKAN MENDERITA SEUMUR HIDUP MU, AKU SUDAH PUAS SAAT MELIHAT KEMATIAN ORANG YANG AKU CINTAI DARI PADA MELIHAT KEBAHAGIAAN NYA BERSAMA YANG LAIN"
Ada foto yang mirip sekali dengan wajah Wida, di foto itu bertuliskan
"CINTAKU AKAN TETAP BERSEMI SELAMANYA BERSAMA MU WALAU MAUT TELAH MEMISAHKAN KITA"
"Lifa, lihat ini mirip dengan.."
"Wida" kata lifa
"Kamu sudah menemukan yang kamu cari, cepat bereskan kembali semua dan kita gabung bersama yang lain sebelum mereka curiga" kata lifa memerintahkan untuk segera pergi
"Luka mu bagaimana" kata lifa
"Ini, loh kok gak ada" kata ku
"Fix itu halusinasi kita semua, kita harus berhati-hati, ini mungkin pertanda bahwa apa yang akan kita lewati gak gampang, ini seperti perkataan mbok nem" kata lifa
"Kita balik kekamar dulu ambil jaket" kata ku
Kami kembali kemar untuk mengambil jaket, sampai kamar aku bertanya lagi pada lifa soal perkataan mbok nem
Lifa hanya menjawab nanti saja jika keadaan sudah aman dan malam ini harus hati-hati jangan sampai terlalu lelap tidur nya
Selesai mengambil jaket kami keluar kamar lagi untuk bergabung dengan yang lain, foto dan kunci aku masukan dalam saku dalam jaket dan ku tutup resleting nya, menurut ku lebih aman jika ku bawa bersama ku
Saat hendak keluar pak Bono menghalangi jalan kami, dan seperti tidak memberikan akses jalan keluar, matanya terus menatap ku tanpa putus
"Permisi pak, kata Lifa" yang membuat mata oak Bono beralih ke lifa lalu menyingkir dari hadapan kami
Ku genggam tangan lifa, jelas terasa badan ku gemetar karena ketakutan, ada rasa serem ketika pak Bono menatap ku tadi
__ADS_1
"Tenang jangan terlalu kelihatan, netralkan diri mu" bisik lifa ditelinga ku
" Hei un gimana lengan mu" kata Wina
"tidak apa-apa udah sembuh kok tadi tu cuma goresan tinta aja bukan luka" jawab ku sedikit berbohong
"Kau simpan dimana??" bisik lifa
"Aman" jawab ku singkat
Bukti yang harus di simpan, sebentar lagi semua akan terungkap,
" Apa sebaiknya aku lapor polisi ya!!"
"Ah nanti aja kalau memang ini bukan hanya sekedar alam bawah sadar atau alam ghaib, kalau ini berkaitan dengan dunia nyata dan butuh pertolongan polisi maka akan ku telpon polisi, yang perlu di cari tau nomor penting polisi daerah sini"
"Mikirin apa lu" bisik Wina
"Eh tidak ada" jawab ku
"Mikirin soal penglihatan ya" Tiba-tiba Wina bertanya soal penglihatan
"Aku akan coba membantu mu, tenang saja, aku tau misi ini sedikit berbahaya, sikap mata nyawa taruhan nya" ucapan Wina semangkin membuat ku merinding
"Sudah diam jangan terlalu difikirkan, nanti gelagat mu ketauan karena mencurigakan, santai aja dulu nikmati waktu yang terus bergulir malam ini"
Ucapan ku terpotong karena Wina terus berbicara, aku tidak tau Wina atau bukan yang berbicara, entah kenapa Wina tiba-tiba berbicara seperti itu
Apa selama beberapa hari ini dia mengetahui semua kejadian yang aku alami tapi dia pura-pura tidak tau, semua itu masih misteri
Entah sampai kapan misteri demi misteri terus bermunculan dalam cerita ini, yang jelas semua harus terungkap
"Sudah larut malam yuk kita masuk dan beristirahat" ajak Wida untuk masuk
Kami pun beranjak dari perapian dan masuk ke dalam untuk istirahat, tapi tidak dengan Wina dia masih asik menikmati jagung bakar yang belum habis dimakan nya
"Win ayo" kata Endah
Tapi tak sedikit pun Wina bergeming dia tetap asik memakan jagung bakar
Apa jangan-jangan yang berbicara tadi benar bukan Wina tapi makhluk lain yang sudah merasuki nya
"Win, ayo masuk" ajak ku pada Wina sambil menyentuh pundak nya
__ADS_1
Wina menoleh ke arah ku dan tersenyum lalu bangkit dan masuk ke dalam tanpa menoleh siapa pun dengan jagung bakar yang masih tetap dibawa nya
Aneh nya Wina masuk bukan ke kamar yang sudah disediakan namun Wina berjalan terus mengarah ke kamar antik, yah aku mengatakan kamar antik karena bentuk pintu nya yang unik dan terkesan antik
"Win", panggil yang lain tapi dia tidak menoleh
"Biarkan saja dia tidur dikamar itu" kata pak Bono
"Wid, kita temenin Wina ya" kata ku pada Wida
"Iya, mungkin dia tau kita akan tidur disana jadi dia duluan masuk" kata Wida yang mengingatkan ku soal rencana tidur disana malam ini
"Oh iya juga ya" jawab ku
Wina berhenti didepan pintu kamar namun tidak masuk hanya berdiri sambil makan jagung
"Kamar nya masih di kunci" kata mbok nem
"Sebentar saya ambilkan" kata mbok nem lagi sambil beranjak menuju kamar nya dan mengambil kunci dan menyerahkan nya pada Wida
" Kenapa Wina aneh sekali ya, tadi sore perasaan hanya aku dan Wida saja yang berencana tidur dikamar itu tapi kenapa Wina..!! Ah sudah lah" pikir ku lagi yang malas berfikir
Semua sudah masuk kekamar dan aku mengambil perlengkapan ku seperlunya dan kubawa ke kamar antik
Wida membuka pintu kamar tersebut, semerbak aroma bunga melati langsung tercium dari dalam kamar, terasa dingin dan lembab kamar ini
Wina masuk tanpa di suruh, dia langsung meletakkan jagung di atas meja dan menuju ke tempat tidur lalu berbalik menatap kami dan tersenyum lalu membanting kan diri di kasur
Terlihat Wina sepeti mengejang sebentar lalu tertidur pulas, aku dan Wida saling berpandangan merasa aneh dengan Wina dan tiba-tiba pintu tertutup dengan sendiri nya
Aku langsung lompat karena kaget, dan terdiam sejenak tanpa berkata apapun hanya melihat ke arah pintu
"Tenang mungkin itu angin" kata Wida menenangkan
"Kan kamu yang mau tidur dikamar ini" lanjut Wida
Aku merasa aneh dan paling merasa adalah rasa takut, yah ada perasaan takut ketika berada didalam kamar ini, sepeti ada aura negatif
"Kamu sering tidur disini" tanya ku pada Wida
"Iya sering tapi dulu sudah lama sekali sebelum ayah ku menghilang dan" Wina berhenti berbicara hanya air mata yang terlihat di pipi nya
" Ya sudah cerita nya besok saja saat kita di rumah ya, memang ada yang ingin kutanyakan pada mu dan momy" ucap ku pada Wina agar dia tidak bersedih lagi
__ADS_1
"Hah entah bisa atau tidak aku tidur malam ini" gumam ku dalam hati