Sang Terpilih, Malam Tahun Baru Yang Menegangkan

Sang Terpilih, Malam Tahun Baru Yang Menegangkan
episode 36


__ADS_3

Ku matikan telpon nya dan aku bergegas ke kamar Wida melalu pintu tembus, kebetulan pintu tak pernah di kunci oleh Wida dari sebelah kamar nya


Aku masuk dengan pelan-pelan gak enak juga kalau membangun kan Wida kelihatan nya pulas sekali, tapi aku takut dikamar sendiri


Aku duduk di tepi ranjang Wida dengan pelan karena takut Wida terbangun


..driit .driit.. driiit..


Ponsel ku bergetar lagi, ku lihat masih dengan penelpon yang sama, tapi kali ini ku abaikan panggilan itu dan aku pun memposisikan tidur disebelah Wida, namun baru saja akan menjamin mata Wida berbalik badan menghadap ku Dan


"Aaaaaaa"


Aku kaget dan spontan berteriak karena kulihat wajah Wida yang sangat seram sepeti mayat yang hampir membusuk


Wida langsung kaget dan terbangun begitu juga aku yang auto lompat dari kasur karena takutnya


"Uni kamu kenapa berteriak gitu buat aku kaget saja, untung gak jantungan, kalau tidak bisa stroke tiba-tiba aku" Wida berteriak sangat keras mungkin dia kesal karena tidur nya terganggu


"Uni.. kamu ngapain dikamar ku, terus ngapain kamu berdiri disitu pakai teriak segala"


Wida bertanya pada ku tapi aku masih belum bergeming dari tempat ku berdiri masih dengan gemetar dan tangan menutup wajah


"Uni".. guncang Wida pada tubuh ku


Aku pun melihat kearah Wida dan ku pegangi semua badan dan wajah Wida, sekilas semua normal dan aku melihat kearah tempat tidur tidak ada siapa-siapa


"Kamu Wida kan" tanya ku


"Gak, aku setan, ya Wida lah" jawab Wida ketus


..driit.. driit..driit..


Ponsel yang ku letakankan diatas meja samping tempat tidur bergetar lagi, aku cuma menoleh saja masih belum bersuara karena masih mengatur tubuh ku yang Mash kaki karena gemetar


"Sini duduk" Wida memapah ku ke kasur


Dan aku terus menatap wajah Wida memastikan kalau dia benar Wida dan bukan makhluk yang aku lihat saat di tempat tidur tadi, apakah ketakutan ku tidur dikamar sendiri malam ini ada kaitan nya dengan yang aku alami ini


"Kamu kenapa terus ngapain ke kamar ku jam segini" Wida mulai melembutkan suaranya karena Wida melihat ku sangat ketakutan dan masih gemetaran


"Wida..tok..tok..tok. Wida ada apa didakam ribut-ribut" suara mommy terdengar memanggil dari luar

__ADS_1


Wida membuka kan pintu kamar nya dan mempersilahkan mommy masuk


"Ada apa kalian ribut malam-malam begini, loh ini kenapa ada apa dengan uni" mom endang langsung menghampiri ku dan memeluk ku


"Kenapa dia bisa bisa gemetaran seperti ini" mom endang kembali bertanya


"Gak tau mom, tadi dia tiba-tiba berteriak di samping wida, Wida lagi tidur aja langsung kaget, entah ngapain dia di kamar Wida malam-malam gini, biasanya juga tidur dikamar nya sendiri, jawab Wida pada mommy


..driit .driit..driit.


Ponsel berbunyi lagi, dan aku cuma melirik doang karena masih belum bisa berkata-kata, badan mu mulai terasah dingin dan kaku


"Dingin sekali badan uni, selimuti dia" kata mom endang


"Kenapa?? ada apa??" teman-teman yang lain mulai berdatangan


"Kenapa uni, tadi dia nelpon aku tapi aku gak denger" lifa kelihatan panik


Ku tatap satu persatu orang-orang yang ada dihadapan ku namun mataku menangkap satu orang yang berbeda sedang duduk di kursi yang ada di sudut kamar


Aku melihat seorang wanita berambut panjang sedang tertunduk dan tiba-tiba aku mendengar suara tangisan yang sangat nyaring dan memilukan, sungguh menyayat hati


Aku menutup kedua telinga ku berusaha tidak mendengar suara tangisan itu tapi percuma saja suara itu masih terdengar


"Diaaam" teriakan ku semangkin kencang


..driit..driiit.. driiit..


Aku tetap cuek pada ponsel ku ya g terus berdering


"Siapa ya g menelpon malam-malam begini, nomor nya tidak dikenal lagi" lifa memegang ponsel ku dan meletakkan nya kembali


"Wida panggil Mbak Marni suruh buatkan teh manis hangat, badan uni dingin sekali ini" mom endang menyuruh Wida memanggil Mbak Marni


Tak lama Marni datang dengan teh manis hangat dan menyuguhkan nya pada ku, setelah aku minum perasaan ku agak tenang dan badan ku mulai terasa hangat


"Apa kamu sudah merasa tenang nak" tanya mom endang


"Sudah mom" jawab ku singkat


"Coba cerita kamu habis melihat apa sampai kamu syok begini" tanya mom endang

__ADS_1


"Tadi saat dikamar perasan un gak enak mom, berasa takut tidur sendirian, ditambah lagi ada penelpon asing yang tidak dikenal mengancam uni supaya untuk tidak ikut campur dengan urusan nya" jawab ku


"Nomor yang barusan nelpon kah" tanya lifa dan hanya ku balas dengan anggukan


"Lalu uni putuskan buat tidur dikamar Wida aja, tapi saat mau tidur di samping wida, wajah Wida berubah serem banget seperti mayat yang hampir busuk dan kayak mau menerkam uni gitu" lanjut mu bercerita


"Tadi juga di situ" aku menunjuk ke arah kursi yang sedang di duduki Sri


"Ada seorang perempuan berambut panjang menangis sangat pilu sekali sampai gak tahan mendengar nya, makanya uni berteriak supaya dia diam"


Sri yang melihat ku menunjuk kearah kursi ya g di duduki nya saat ini, langsung lompat dan berdiri didekat Endah


..Driit..driit.. driiit..


Ponsel ku bergetar lagi, ku ambil ponsel dan ku pencet tombol terima telpon langsung berteriak


"Kamu mau apa, apa maksud kamu meneror ku seperti ini, aku tidak kenal kamu, apa masalah mu pada ku"


Ku pencet tombol loud speaker pada ponsel ku, berharap laki-laki itu berbicara dan didengar semua orang, namun tak ada suara sama sekali dari seberang sana, suasana hening


Tut..Tut. Tut. telpon terputus


"Aaaaaa si**an" maki ku pada si penelpon dan ku banting ke kasur ponsel ku


"Kenapa un, siapa dia" lifa mulai bertanya


"Aku juga gak tau siapa dia, dia bilang kita tidak boleh ikut campur dengan urusan nya, urusan apa coba" ucap ku


"Apa jangan-jangan, urusan yang dia bilang adalah adalah yang sedang kita hadapi ini" kata lifa lagi


Aku tidak terlalu mendengarkan lifa aku melirik kembali kearah kursi dimana aku melihat seorang wanita menangis menyayat hati yang sempat di duduki oleh Sri, tapi sudah tidak ada lagi


"Oh iya tadi aku pergi ke villa lagi, aku ikut di mobil Yanti dan keluarga nya" aku memberitahu pada yang lain soal aku pergi ke villa


... driiit.. driiit..driiit..


Ponsel ku bergetar lagi, kulihat masih penelpon misterius yang memanggil


"Hallo" ucap ku saat mengangkat telpon itu


"Apa yang kamu rasakan barusan akan lebih parah lagi jika kau masih ikut campur dengan urusan orang lain dan masih tidak mau mundur dengan semua ini" Suara laki-laki terdengar Seperti ancaman lagi

__ADS_1


__ADS_2