
Pagi ini semua sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumah Wida, setelah sarapan kami pun kembali berjalan menyusuri jalan setapak yang kemaren kami lalui, tak lupa pula masing-masing dari kami menenteng 1 kresek jeruk hasil panen sendiri, bukan karena kemaruk dan tak pernah makan jeruk tapi rasa senang saja bisa menenteng sendiri-sendiri hasil petikan langsung dari pohon
Aku yang memimpin jalan di depan, aku berbelok ke kanan padahal jalan kembali menuju rumah Wida harusnya lurus saja, aku sadar itu tapi entah kenapa kaki ku tergerak untuk berbelok ke jalan setapak sebelah kanan
"Un kamu yakin gak salah jalan" teriak Enda
"Udah ikuti aja" kata lifa
Aku masih tidak menjawab dan terus berjalan menyusuri jalan setapak yang masih asing dan belum pernah ada dalam mimpi atau yang memberitahu sebelum nya
Aku melihat kebelakang dan ku lihat teman-teman masih mengikuti jalan ku, Wida yang asli daerah sini juga tidak banyak conent dengan arah jalan ku
Jalan setapak ini seperti sering dilewati mungkin ini jalur para pemetik daun teh dan jeruk jadi tidak begitu ekstrim hanya saja jalan tetap harus hati-hati karena masih sedikit basah dan licin karena masih pagi, kalau tidak hati-hati bisa tergelincir dan terjun bebas kembali lagi ke bawah
Ternyta jalan ini tembus ke jalan raya, dan aku berhenti sejenak
"Kenapa berhenti, terus kita lanjut ke arah mana ne, udah jalan raya kan sekarang" kata Sri si Miss panik
"Ke kiri aja ikuti jalan raya ntar juga sampai rumah kok" kata Wida
"Hei Un jalan" kata Endah
Aku terdiam memandang jalan ini seperti pernah ku lihat
"Apa semua jalan ini terhubung ke suatu tempat" pikir ku masih memandangi sekitar
"Kenapa??" bisik lifa
"Aku seperti pernah melihat jalan ini, waktu itu Santi Seperti berlari kearah sini saat di kejar oleh pria berjenggot" Jawab ku
"Kamu yakin" tanya lifa lagi
Dan aku cuma mengangguk
"Ikuti feeling mu, kita lihat kebenaran nya" kata lifa lagi
"Bagaimana dengan yang lain" tanya ku balik
"Wei kita nunggu apa disini" kata Sri lagi
"Kami mau jalan-jalan dulu, kalian kalau mau lanjut pulang tidak apa-apa duluan aja" kata lifa
__ADS_1
"Mau kemana aku ikut" kata Wina dan di timoali yang lain juga mengatakan ingin ikut
"Kalian pulang saja takunya ini berbahaya" kata lifa lagi
"Aaah pokok nya ikut, petualangan itu kalau g ad bahayanya g asik" Wina bersikeras ingin ikut dan mulai menantang
Lifa menatap ku dan aku mengangguk, lalu aku mengikuti insting ku untuk mengikuti gambaran yang aku lihat waktu itu
Aku berjalan ke kiri dan lalu menyebrang jalan masuk lagi ke jalan setapak di seberang jalan membelah perkebunan teh yang agak menanjak, aku berhenti sejenak melihat kebelakang untuk memastikan dimana rumah yang waktu itu aku lihat
Apakah benar ini jalan nya atau memang rumah itu sudah tidak ada lagi, karena seingat ku waktu Santi berhenti di sebuah rumah yang agak tua dan tak terawat
Atau mungkin ini jalan lain dan rumah itu terletak di sisi lain jalan ini, lama aku terdiam melihat ke sekitar
"Un jalan nunggu apa lagi" kata yang lain
"Aku ragu, kita pulang aja" tiba-tiba aku mengurungkan niat ku untuk menyusuri jalan setapak itu, karena ada perasaan ragu dan tidak enak saat itu
Aku merasa sedang ada yang menunggu kami diatas dan itu berbahaya, dan aku pikir buka. ini saat nya untuk menjelajah, nanti setelah ada kejelasan dari cerita mom endang dan Wida baru aku bisa bertindak
Harus ada kesesuaian antara yang aku alami dengan keadaan 10 tahun lalu, pasti ada kaitannya, dan teman-teman juga harus tau cerita yang sebenarnya, agar mereka bisa membantu ku
Sepanjang jalan aku terus mengingat kejadian hari dimana Santi berlari karena dikejar, aku perhatikan setiap jalan yang kami lewati dan benar rumah yang waktu itu aku lihat ada dan nyata di hadapan ku saat ini
Aku berhenti dan cukup lama memperhatikan rumah itu, kenapa waktu itu Santi berhenti lama dan menatap rumah ini
"Kenapa un??" tanya Wida
*Rumah siapa ini" tanya ku
"Rumah keluarga pak Bono, tapi sudah lama sekali tidak ditempati
"Pak Bono?? kenapa selalu ada nama Bono??" tanya ku
"Maksud kamu??" tanya Wida lagi
"Ah tidak apa-apa" nanti saja kita cerita kita pulang dulu
Aku melanjutkan perjalanan dan melirik ke kiri dan aku melihat jalan setapak yang pernah aku lewati bersama Santi waktu itu
Ini semua semangkin memperkuat ku bahwa yang aku alami adalah sebuah pertanda kalau Santi lah orang yang meminta pertolongan
__ADS_1
"Anak kecil yang malang apa sebenarnya yang terjadi pada mu" gumam ku
"Siapa" Wida bertanya
Ternyta gumaman ku didegar Wida
"Denger aja sih aku ngomong apa" kata ku lagi sambil tertawa agar suasana g terlalu kaku
"Hei lihat villa diatas sana kelihatan bagus ya" Wina menunjuk ke atas
"Yah itu lah villa Cendana" aku spontan menjawab dan semua langsung memandang ku
"Kenapa?? aku pernah kesana dan aku pernah lewat jalan itu" aku menunjuk ke jaka setapak yang tak jauh dari kami
Semua terdiam dengan wajah kebingungan dan ada yang menatap ku aneh
"Jangan ngaco sejak kapan kamu pernah kesana kan kita baru pertama kali ke sini dan baru sampe kemaren" kata Sri
"Kita pulang dulu nanti aku ceritakan semua nya, asal kalian mau membantu ku" kata ku lagi
Dan tiba-tiba
teeeeeeen,
awaaas
Aku berteriak saat melihat seorang laki-laki ditabrak oleh mobil, dan aku melihat mobil itu berhenti dan ada laki-laki yang turun dan itu adalah orang yang sama yang mengejar Santi dan orang yang ada dalam foto
Dibalik nya badan orang yang sudah ditabrak nya tadi jelas sekali wajah laki-laki itu sudah tak bernyawa, dan si penabrak tertawa terbahak-bahak
"Matilah kau Santoso" kata pria itu senang, dan dia mengangkat tubuh korbannya dan menggendong nya ke atas bukit
"Un kenapa kamu teriak" aku mendengar suara teman-teman memanggil ku
"Ada kecelakaan kalian lihat tidak" jawab ku
"Mana ada kamu ngaco deh dari tadi kita lagi nungguin kamu yang melamun Mulu, makanya kalau lagi jalan jangan melamun nikmati aja perjalanan ini" Sri terus mengoceh
"Cepat pulang" kata ku sambil berlari
"un hei un" yang lain berteriak dan aku terus berlari tanpa menghiraukan panggilan teman-teman
__ADS_1