
"Harta.. tahta.. wanita, ahahahaha" teriak pria bertopeng sambil berdiri dan memutar-mutar badannya sambil tertawa-tawa
"Kau mau tau siapa aku" tanya nya pada laki-laki yang di rantai, sambil menodongkan pisau belati yang dipegangnya ke wajah korban
"uhuk..uhukk, mamaa" suara Santi terdengar dan sepertinya dia baru siuman dari pingsannya
Pria bertopeng berjalan menghampiri Santi
"Jangan sakiti cucu ku" teriak laki-laki yang dirantai, dia tidak bisa apa-apa karena rantai yang mengikat begitu kuat
"Cucu" pikir ku
"Hei, hentikan" teriak ku
Namun semua sia-sia saja seperti tadi siang suara mu hanya hilang dibawa angin, sepertinya ini adalah cerita yang harus aku saksikan agar semua misteri terbuka
"Baiklah aku akan ikuti jalan cerita ini, sampai mana, sampai kau puas?? kita lihat siapa pemenang nya, kau akan merasakan akibat nya hai pria jahat" aku berteriak kencang berharap dia mendengar
Ternyta pria bertopeng itu mendengar teriakkan ku dan tiba-tiba pria bertopeng itu mendekat pada ku dan aku kaget, dia berusaha mencengkram ku dan aku berusaha melawan sekuat tenaga, sampai akhirnya topeng nya berhasil ku buka
Aku terkejut itu adalah pria yang kulihat mengejar Santi waktu Santi berlari menyebrang jalan saat berada di villa Cendana
"Jangan ikut campur urusan ku" pria tersbut berusaha membunuh ku
"Aaaaaaa.. lepaskan.." aku berteriak dan melawan sekuat tenaga untuk melepaskan kan diri dan ku tendang ************ pria tersebut dan
Sreeet, pria tersebut berhasil melukai lengan ku dengan pisaunya, saat dia melepaskan cengkraman nya pada ku dan menahan rasa sakit pada ************ nya
"Aaaaa" teriak ku histeris menahan sakit pada lengan dan kulihat darah segar mengalir dari lengan ku
"Un.. un.. bangun un, kamu mimpi apa??" kata lifa
Ternyta lifa terus mengawasi ku dan tidak mau jauh dari ku, dia benar-benar menjaga mu
"Kamu melihat nya lagi" tanya lifa
Aku kaget dengan pertanyaan lifa, kenapa dia bertanya seperti itu, apa kah sebelumnya dia sudah tau??
"Un kamu semangkin aneh deh, udah suka tidur sering mimpi aneh pula bikin kami takut aja, suasana jadi kacau tau" kata Sri yang emang dia tukang ngambek
"Sri jaga bicara mu" kata lifa
__ADS_1
"Un tangan mu berdarah" tiba-tiba Wina berteriak melihat tangan ku yang luka
" Tangan ku memang terluka, kejadian tadi berarti nyata, apa aku sudah masuk kedalam dunia misteri ini" tanya ku dalam hati
"Cepat bawa masuk dan obati" mbok nem berteriak meminta untuk membawa ku masuk
"Tidak apa-apa mbok disini saja, aku tidak mau merusak suana, lengan ku tidak apa-apa kok" jawab ku menolak untuk di bawa masuk
"Mbok ada kotak P3K tidak?" tanya lifa pada mbok nem
"Makanya jangan ikut campur yang bukan urusan kamu" tiba-tiba pak Bono bersuara padahal dari tadi dia diam saja
"Maksudnya apa pak?" tanya lifa
"Sudah tidak apa jangan diteruskan" kataku lagi pada lifa
Lifa benar-benar berusaha menjadi pelindung, tapi kenapa bisa lengan ku terluka ya, padahal jelas-jelas yang aku alami tadi hanyalah ilusi, tapi ilusi itu???
Aku terus memikirkan kejadian tadi, kenapa hanya aku yang mengalami kejadian tersebut sementara yang lain tidak mengetahui nya
Sepertinya ini akan lebih berbahaya dari dugaan ku, berapa banyak misteri yang harus aku ungkapkan, apa hubungan nya kejadian ini semua dengan kelokan tajam, Santi dan villa Cendana
Kenapa tidak ada foto-foto keluarga di dalam rumah Wida, bahkan foto ayah nya juga tidak ada satupun terpasang hanya foto Wida dan momy saja
Berjuta pertanyaan mengalir dalam otak ku malam ini, semua membingungkan, semua masih rancu dan samar, setiap kejadian terpenggal tidak ada yang menyatu dan berurutan
"Apa aku yang harus menyatukan nya" gumam ku
"iya"
Aku menoleh ke samping kanan, aku pikir lifa yang menjawab tapi tidak ada siapapun di samping ku
"Santi kah?? tapi suaranya bukan suara santi" pikir ku
"Aku antar kami istirahat didalam aja ya" ajak Wida
"Baik lah, tapi ajak lifa" pinta ku pada Wida
"Iya" jawab Wida singkat
"Lifa, ayo kita kedalam" ajak ku pada Wida
__ADS_1
"Semua aku kedalam dulu ya" kata ku pada yang lain dan di oke kan oleh mereka
"Un mau bawa jagung bakar nya" kata Sri
"Gak usah, nanti aku keluar dan gabung lagi kok" jawab ku sambil berlalu kedalam
"Wida, ada yang mau aku tanyakan pada mu" ucap ku pada Wida
"Aku lifa un bukan" kata lifa
"Iya aku tau tapi aku gak ngomong sama kamu tapi sama Wida" jawab ku lagi
"Kamu kedinginan ya di luar Ampe ngajak masuk, tangan mu dingin banget tau, Kalau kamu gak tahan mending kamu di dalam aja" kataku pada wida
"Un, kita ini cuma berdua loh, mana ada Wida, Wida masih di luar" kata lifa saat kami sudah sampai di dalam
Aku kaget, dan melihat ke samping kanan, memang tidak ada siapapun yang menggandeng lengan ku saat masuk tadi
Aku diam saja karena tidak mau lifa menjadi takut, sepertinya ini saatnya mencari kunci
"Lifa kita sudah didalam yang lain masih di luar termasuk mbok nem dan pak Bono, aku pikir ini saat nya kamu bantu aku cari kunci itu, kunci itu bisa jadi kunci untuk membuka tabir misteri ini" ucap ku pada lifa
"Baik lah" kata lifa
"Kamu lihat semua lemari ini, pasti ada yang paling tua" kata ku pada lifa
"Sudah periksa aja semua lemari biar cepet" lifa menjawab sekena nya saja, mungkin dia gak mau berlama-lama
Satu persatu lemari kami buka, sampai pada lemari terakhir yang berada di pojok ruangan agak sedikit besar tapi hanya lemari itu yang berisikan tumpukan buku-buku tua
"Apa ini lemari nya" pikir ku
"Lifa" panggil ku
Dan lifa langsung mendekat pada ku dan tanpa basa basi dia membuka lemari dan mulai memeriksa isi lemari
Aku tertarik pada sebuah album foto yang sudah berdebu dan usang, ku ambil dan ku buka satu persatu lembaran nya, mata ku berhenti pada sebuah foto dua orang laki-laki muda yang ganteng
Ku ambil foto itu dan ku perhatikan Seperti mengenal yang satu Nya, aku kaget dan tercengang, aku baru ingat kalau foto pria tampan bejenggot ini adalah orang yang waktu itu aku lihat sama mimpi sedang mengejar Santi
"Siapa dia??" gumam ku
__ADS_1