
"Nah itu ada di villa dan kata Santi itu villa Cendana milik pak Bonowo dan yang memasakan ku sarapan adalah istrinya" tambah ku lagi
"Iya itu villa milik keluarga om Wowo, tapi saat kakak ku menikah villa itu dihadiahkan orang tua Om Wowo pada kakak ku, jadi setelah kakak ku menikah mereka tinggal disana"
"Dan setiap malam tahun baru selalu ada pesta meriah disana, yang kemeriahan itu selalu bisa terolah dari kelokan tajam, sebelum terjadi longsor tidak jauh dari kelokan tajam itu adalah pemukiman penduduk"
"Penduduk setempat selalu menikmati keindahan kembang api dari bawah, entah kenapa sejak keluarga kakak ku menghilang termasuk ayah ku, bencana tanah longsor pun terjadi"
"Pemukiman penduduk dibawah sana hancur dan rata menjadi tanah, banyak penduduk yang masih belum ditemukan, termasuk orang tua dari om Wowo yang memiliki rumah paling besar di sana karena pemukim itu adalah termasuk pemukiman keluarga"
"Tapi sudah diambil secara simbolis tanah nya dan dipindahkan ke pemakaman umum, lalu tanah itu dijadikan hutan lindung oleh pemerintah meski Mash termasuk lahan pribadi keluarga om Wowo"
"Banyak kecelakaan di kelokan tajam pun terjadi, kita tidak tahu apa ada kaitannya semua tragedi tersebut dengan hilang nya keluarga ku"
Wida menceritakan dengan sedikit menahan air mata, tampak kesedihan yang sangat dalam di matanya
"Tengku bada adalah orang pintar yang mengatakan semua kejadian itu adalah rangkaian rasa dendam yang belum kelar"
Tanpa diminta wida melanjutkan ceritanya lagi
"Waktu itu usia ku baru 13 tahun tapi aku ingat betul setiap kejadian dan peristiwa yang terjadi, kehilangan 4 orang yang aku sayangi sekaligus tidak akan bisa dengan gampang melupakannya"
"Belum lagi setiap tahun aku selalu kerasukan arwah kakak ku yang selalu menuntut balas dan menuntut untuk menyatukannya dengan keluarganya, itu sebab nya, Tengku bada mengatakan ada dendam yang belum selesai"
Wida terdiam dan dia menangis, mom endang merangkul bahunya untuk menguatkannya
"Itu sebab nya mommy mengungsikan Wida ke Banda, itu atas saran Tengku bada, itu juga demi kesehatan dan keselamatan wida, Wida terlalu lemah untuk selalu menerima kehadiran Yanti dalam dirinya"
Mom endang melanjutkan cerita Wida yah terputus karena tangis nya
"Tengku bada bilang anak perempuan dari rumah ini akan membawa sang terpilih untuk menyelesaikan semua misteri"
"Dan itu akan terjadi 10 tahun lagi dan ini sudah tepat 10 tahun kaluarga kami menghilang"
Tapi aku yakin ayah ku masih hidup"
Wida memotong ucapan Mom endang
"Sudah lah Wida jangan terlalu berharap" mom endang mencoba menenangkan Wida
"Tidak apa-apa mom siapa tau firasat Wida benar" ucap ku lagi
__ADS_1
Entah apa yang membuat ku mengatakan sepeti itu, yang jelas aku merasa ada sesuatu yang harus diungkap dan diselamatkan bisa jadi ini adalah ayah Wida yang masih hidup dan masih disekap oleh penjahat itu
"Apa mungkin ya" tiba-tiba lifa berbicara
"Apa yang mungkin fa??" tanya ku
"Entah lah aku masih tahu tidak berani menuduh takut salah" kata lifa lagi
Sejenak situasi menjadi hening hanya saling tatap satu sama lain nya, semntra Wina masih pingsan setelah kerasukan tadi
'Wina sang perantara, bantu kami" ucap ku dalam hati
"Mbok nem bilang" lifa berhenti berbicara
"Kenapa?? apa kata mbok nem waktu kamu berdua dengannya di villa kemaren" tanya ku lagi
Karena hanya lifa yang menemani mbok nem sampai mbok nem benar-benar pulih dan bisa beraktivitas
"Hati-hati dengan orang disekitar mu dan jangan terkecoh dengan wajah tua dan kasihannya" kata lifa
"Wajah tua dan kasihan??" tanya ku
"Dan aku harus melindungi sang terpilih, karena diantara kita harus ada yang melindungi sang terpilih dan" Lifa berhenti berbicara
"Semua yang akan terungkap penuh bahaya dan kita harus hati-hati, jika tidak nyawa taruhan nya" kata lifa tertunduk
****flasback on****
"Mbok gimana sudah merasa enakan" tanya lifa
"Mbok kenapa" tanya Wida dan yang lainnya saat masuk kekamar
"Tidak apa-apa nak, mbok hanya kecapean aja" jawab mbok nem
"Antarkan mbok kekamar ya nak, biar mbok istirahat dikamar mbok aja, nanti sore mbok ke pasar beli jagung dan sekalian mau belanja untuk siapkan makan malam buat kalian " pinta mbok nem pada lifa
Lifa pun mengantarkan mbok nem kembali ke-kamar nya, sampai dikamar mbok nem menggenggam tangan lifa
"Diantara kalian harus ada yang menjadi pelindung sang terpilih, dan itu mbok lihat ada di kamu"
"Sang terpilih" kata lifa
__ADS_1
"Iya sang terpilih, tolong bantu dia" kata mbok nem
Lifa pun mengantarkan mbok nem ke tempat tidur untuk bebaring
Mbok nem Mash belum melepaskan genggamannya, dan mash terlihat wajah penuh harap menanti jawaban dari lifa
"Semua harus diselesaikan nak walau nyawa taruhannya, kalau tidak setiap tahun entah berapa banyak nyawa lagi yah akan melayang karena dendam yang tak terbalas"
Lifa membalas genggaman tangan mbok nem sambil mengusap perlahan
"Mbok jangan khawatir aku akan menjaga sang terpilih walau nyawa taruhannya, tapi Maslah nya aku tidak tau siapa sang terpilih dan dengan cara apa aku bisa membantu nya mbok" tanya lifa lagi
"Nanti kamu juga tau siapa orang nya, diantara kalian juga ada perantara yang akan menghubungkan kalian dengan dia" mbok nem melepaskan genggaman tangan nya pada lifa dan membuang muka ke kiri
"Dia siapa mbok" tanya lifa lagi
"Dia yang dendamnya mainan belum selesai, mbok hanya tau itu, mbok tidak bisa sebutkan namanya, karena mbok sudah termakan sumpah dengan"
jeeduaar suara seperti petir tapi bukan petir terdengar dari luar
"Cepat pergi nak, hati-hati dengan orang sekitar jangan terkecoh dengan wajah polos tua dan kasihan" kata mbok nem dan menyuruh kau pergi
"Dengan siapa mbok, siapa orang nya" kata lifa
"Pergilah dan tetap diam sampai nanti sang terpilih muncul, lindungi dia, pergi lah" kata mbok nem mendorong tubuh lifa menjauh dari ranjang
"Apapun yang kamu dengar dan terjadi pada saya tetap pergi dan jangan berbalik" pesan mbok nem membuat lifa mempercepat langkahnya keluar kamar
Lifa pun keluar kamar mbok nem dan di pintu mbok nem ketemu degan pak Bono
"Pak" sapa lifa pada pak Bono
"Cepat pergi dan jangan terlalu ikut campur" pak Bono hanya mengucapkan kata itu
Lifa pun buru-buru pergi meninggalkan kamar mbok nem, dan sempat melihat pak Bono masuk ke kamar mbok nem
"Ampun pak ampun" terdengar suara mbok nem berteriak
Tapi lifa tidak berani mendekat dan balik ke kamar, karena teringat pesan mbok nem sebelum lifa keluar kamar, tidak boleh berbalik
Lifa hanya berfikir siapa sang terpilih yang harus dilindungi apakah uni seperti yang mbok nem ucapkan di kamar tamu tadi
__ADS_1
Lifa tetap diam dan kembali kekamar nya dan tidak ikut gabung dengan yang lain di balkon villa
*****Flashback off****