
Aku merasa aneh setiap kali aku berada diruang tamu selalu mendengar suara-suara orang ngobrol tapi tidak ada orang dan keanehan ini tidak pernah ada yang merasakannya
"Oke kita lewat jalan mana ne" kata Wina yang memecahkan lamunan ku
"Jalan utama aja, biar lebih ceper nanti kita naik mobil aja dianter bang Jack" kata Wida menjawab pertanyaan Wina
"Yah baik mobil lagi?? masih mabok aku gak ada jalan lain kan selain naik mobil" ucap Sri yang Mash merasa mabok perjalanan
Aku melihat sekitar teras rumah yang cukup besar dan aku sepeti tak asing dengan pagar sebelah kanan, aku sepeti pernah masuk kedalam dan itu adalah jalan setapak
"Wid, lewat jalan pintas aja", kata ku pada Wida
"Dari mana kamu tau ada jalan pintas", tanya Wida lagi
"Ah gak pasti selalu ada jalan pintas kan menuju perkebunan" jawab ku mengelak
"Btw km tadi kenapa sih pas ada suara dari kamar mu dan kita masuk kamu kayak patung gitu gak berani gerak" tanya ku pada Wida
"Ah gak papa ayo kita jalan" jawab Wida yang masih enggan menceritakan kejadian tadi di kamar
Wida hanya terdiam dan tak berani bercerita bahwa
**flasback on***
Wida terpaku melihat sosok perempuan yang sedang duduk di sofa yang ada didalam kamar Wida
Perempuan itu duduk sambil tertunduk menatap kearah pecahan kaca yang berantakan di lantai
Lalu perempuan itu berlari keluar kamar dan membiarkan pintu terbuka
**Flasback off**
Dan kami pun mulai berjalan, Wida membawa teman-teman masuk ke mobil, sementara aku tidak mau melainkan tanpa sengaja kaki ku melangkah ke jalan setapak yang ada di samping rumah
"un, lewat sini" teriak Wida pada ku
"Lewat sini aja, dari sana jauh, sekalian aku mau memastikan sesuatu" jawab ku pada wida dan membuat yang lain bingung
"Udah hayuk lewat sini, Wina hayuk" aku melihat Wina sedikit ragu
__ADS_1
**** flash back on****
Pagi itu setelah kita sampai di rumah Wida aku melihat Santi sedang duduk di teras rumah wida, tapi entah kenapa tidak ada yang menyapa nya atau memperdulikan nya yang kelihatan duduk termenung dengan wajah pucat nya
Ya aku pikir karena semua masih sibuk jadi cuek saja pada Santi
" Hei san kamu disini" tanya ku pada Santi anak kecil si penjual ganci, yang lagi duduk di teras rumah wida
Entah kenapa aku selalu bertemu dengan dia di tempat yang berbeda pula, rasanya dalam satu makam aku bertemu dia di tiga tempat, di rest area, di villa dan di sini.
"Kamu sama siapa disini, rumah kamu dekat sini" tanya ku berkali-kali tapi Santi tetap diam
"Kak hayo ikut aku" ucap nya pada ku sambil menarik tangan ku
Aku tak bisa menolak, ku ikuti saja langkah kaki gadis kecil berwajah pucat itu
"Sob aku jalan dulu ya" teriak ku pada teman-teman yang lagi asik menurunkan barang, tapi sepertinya mereka tidak mendengar ku
Santi membawa ku ke jalan setapak samping rumah Wida, jalan itu hampir tidak terlihat karena tertutup oleh rimbun nya tumbuhan pagar pucuk merah
Pucuk Merah merupakan tanaman yang paling umum digunakan untuk dekorasi taman. Pucuk daun berwarna oranye-merah dan berubah menjadi kuning, hijau pucat dan hijau tua saat dewasa. Pucuk Merah dapat ditanam berdekatan dan dipangkas menyerupai pagar. Tanaman ini juga dapat dipangkas menjadi bentuk unik yang siap memanjakan mata Anda.
Tanaman ini tumbuh dengan cepat meskipun telah dipangkas. Pucuk Merah sering dijadikan sebagai pagar tanaman tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Thailand dan negara Asia Tenggara lainnya. Pagar dari tanaman ini akan membuat halaman rumah Anda menjadi sangat asri dan rimbun.
"Seperti jalan rahasia saja pikir ku"
"San kita mau kemana?" tanya ku lagi
"Kakak harus tau jalan ini, karena Kaka nanti yang akan memandu semua teman kakak melewati jalan ini" jelas Santi sambil menggandeng tangan ku menyusuri jalan setapak
Dibalik rimbunnya pagar pucuk merah ternyata terdapat perkebunan teh yang memanjakan mata, luar biasa pikir ku
"Ini kemana" tanya ku lagi
"Villa perkebunan, tolong ambil kunci yang ada dalam lemari tua di villa itu, tolong bantu satukan aku dengan ibu ku", Santi menunjuk ke arah villa yang terlihat tua tapi masih terawat
Aku melihat kearah yang di tunjuk oleh Santi
"Tapi kunci apa dan lemari nya dimana?" saat aku bertanya dan melihat ke kanan Santi sudah tidak ada
__ADS_1
Aku berteriak memanggil Santi namun tak ada tanda-tanda keberadaan santi, dan aku tersadar setelah di kagetkan oleh Endah yang memanggil ku untuk ikut membantu mengangkat barang
***flash back off ***
"Lewat jalan sini aja, ayoo cepetan masuk mobil" kata Wida lagi
"Enggak lewat sini aja, ayo lah aku jamin lebih dekat" pinta ku lagi
Mom endang berjalan mendekati Wida
"Pergilah ikuti dia, mom yakin diantara teman-teman mu adalah sang terpilih, ciri-ciri nya seperti yang diceritakan Tengku bada" bisik mom endang pada Wida
" Apakah uni??" tanya Wida
"Ya apa Wid" tanya ku karena aku mendengar nama ku disebut
"Ah gak papa" jawab Wida singkat
"Mom juga gak tau, yang jelas ikuti aja apa yang teman-teman mu minta" jawab mom endang lagi
"Kita jalan lewat situ aja" tiba-tiba Wina berbicara lalu berjalan ke arah jalan yang ku tunjukan
Ada perasaan aneh yang ku lihat pada Wina, Seperi ada yang menuntun nya
"Mom" kata Wida
"Ikuti mom sudah bilang kan tidak tau siapa yang diantara mereka" kata mom endang lagi
"Iya mom" jawab Wida
Kami pun berjalan menuju jalan setapak dibalik pagar pucuk merah, aku memimpin, di ikuti Wina lalu yang lain nya
Dibalik pagar udara sejuk langsung menerima kami, bisa dibilang dingin bukan sejuk lagi, pantas saja perlengkapan yang disiapkan oleh entah siapa semuanya penangkal dingin, mungkin jika malam hari udara akan semangkin dingin
Terdapat perkebunan teh persis seperti yang aku lihat saat Santi membawa ku kejalan ini
Pemandangan hijau benar-benar memanjakan mata, serasa pengen berlama-lama ditempat ini, paru-paru juga serasa dingin dan segar karena udara nya yang bersih dan bebas dari polusi
"Kunci ya kunci, akan aku cari, ada apa dengan kunci itu, sepenting apa kah kunci itu" pikir ku terus sepanjang perjalanan
__ADS_1
Apakah kunci itu nanti bisa membawa ku pada ruangan yang tadi aku lihat terkunci, ada apa dibalik ruangan itu
Pikiran ku Mash terfokus pada kunci dan pintu yang terkunci