Sang Terpilih, Malam Tahun Baru Yang Menegangkan

Sang Terpilih, Malam Tahun Baru Yang Menegangkan
episode 42


__ADS_3

"Katanya mau menjaga ku tapi semua pada pergi" gumam ku sendiri


"Aku masih disini" ucap Wida yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar mandi


"Eh Wida hehe aku lupa kamu selalu ada didekat ku"


Aku mengambil handuk dan pakaian ganti lalu bergegas masuk ke kamar mandi, tapi saat hendak masuk aq mendengar suara ponsel berbunyi suara ponsel itu unik sekaligus membuat kepala ku mengangguk-angguk mengikuti nadanya


**tit tit tit tilililit tit tit tit tilililit**


Suara itu berkali-kali berbunyi tapi tidak ada satupun yang mengangkatnya, hal itu membuat sifat penasaran ku muncul


Aku berjalan keluar kamar dan aku kaget ternyta aku bukan berada di rumah Wida melainkan di villa Cendana ya aku hafal betul ruangan ini karena sudah beberapa kali kesini


**tit tit tit tilililit tit tit tit tilililit**


Suara ponsel itu berbunyi lagi sampai aku melihat Yanti datang untuk mengangkat ponsel itu


Suara khas ponsel jadul milik Yanti yang masih berantena yang tergolong mewah pada jaman nya, di jaman sekarang aku sudah tidak menemuka. ponsel seperti itu lagi


Yanti yang lagi asik menata ruangan untuk persiapan malam tahun baru bergegas lari mengambil ponsel nya dan terlihat dilayar nama ayah memanggil


"Assalamualaikum yah" Yanti menjawab telpon


"Waalaikumsalam, nak ada Anto? ponsel nya tidak bisa di hubungi"


Terdengar suara ayah menanyakan keberadaan Anto menantunya, yah aku bisa mendengar jelas percakapan mereka karena Yanti menggunakan speaker saat menerima telpon


"Mas Anto lagi pergi ke rumah om Wowo yah, ngambil kembang api lewat jalur kebun teh, kenapa yah??" Yanti bertanya balik pada ayah nya


"Mobil ayah mogok nih tidak tau kenapa tiba-tiba berhenti saja padahal bensin full, ayah mau minta tolong Anto supaya jemput ayah sekalian derek mobil ayah nanti, setelah itu baru nanti jemput momy dan wida" ayah terdengar menjelaskan maksud dan tujuan ayah menelpon

__ADS_1


"Coba ayah telpon om Wowo saja yah, soalnya ponsel mas Anto di tinggal di rumah, siapa tau om Wowo bisa bantu jemput ayah sekalian sebelum berangkat ke villa nanti" Yanti meminta ayah untuk menelpon om Wowo


"Ya sudah kalau begitu, ayah telpon om wowo dulu, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" dan telpon pun terputus


Mendengar percakapan itu aku jadi teringat Wowo terakhir aku disana Wowo sedang memukul ku, aku memegang wajah ku namun tidak ada terasa bekas luka atau memar sedikit pun


Aku melihat Yanti melanjutkan lagi pekerjaan nya, namun tiba-tiba Yanti menoleh ke arah ku dan tersenyum


"Woi mandi"


Aku kaget badan ku terasa ditendang sesuatu hingga hampir membuat ku terjatuh


"Eh hati-hat" Wida berteriak karena melihat ku hampir terjatuh


"Kamu ne ndah kebiasaan banget ngagetin orang, hampir jatuh kan uni nya" Wida menegur Endah


Aku menatap Endah beberapa saat lalu aku mengalihkan pandanganku padabyang lainnya lalu ku tatap kesekeliling ruangan aku berada di kamar ku di rumah Wida bukan di vila


Dan mereka yang tadi aku lihat meninggalkan kamarnini dan ku anggap tidak menjaga ku ternyta masih ada di ruangan ini semua, masih dengan posisi yang sama seperti saat sebelum masing-masing mengatakan akan mandi dan membubarkan diri


Aneh sekali, apa yang sedang terjadi pada ku, aku seperti dibawah melewati lorong waktu yang bisa loncat sana sini melewati batas waktu dengan sesuka hati, entah ini hanya sekedar penglihatan atau memang raga ku yang sedang di bawa kesana


Wina berdiri dan menghampiri ku, sambil memikul pundak ku Wina berkata "Nikmati setiap prosesnya"


Lalu aku melihat Wina berjalan kearah pintu hendak keluar namun tembus dengan begitu saja tanpa membuka pintu


"Wina" aku berteriak memanggil Wina


"Kenapa un, aku disini bukan di sana" Wina menjawab panggilan ku

__ADS_1


Aku menoleh kearah sumber suara Wina dan benar Wina masih duduk diposisi semula


Aku terduduk lemas didekat pintu kamar mandi dengan handuk dan pakaian ganti ku masih tetap ku genggam, "aku bisa gila kalau begini cara nya" pikir ku


Tiba-tiba aku merasakan kebingungan dan sedih yang teramat dalam, aku tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana cara mencerna setiap kejadian ini semua, loncatan-loncatan waktu kejadian yang kurasakan membuat ku lelah dan sedikit gila


"Aaaaaaaaaaaaaaa" aku berteriak sekuat-kuatnya dan menangis sejadi-jadinya berharap rasa lelah dan bingung yang mendera ku hilang saat itu juga


Semua orang di ruangan kaget seketika mendengar teriakan ku, Wida yang paling khawatir langsung loncat dan memeluk tubuh ku dan menenangkan ku


"Tenang un tenang, kamu tidak sendirian aku minta maaf melibatkan mu dalam urusan keluarga ku, aku juga tidak tahu kenapa peristiwa ini bisa muncul lagi"


Wida yang memeluk ku terus berbicara sambil ikut menangis juga, mungkin dia khawatir dengan ku, di ikuti oleh mom endang sementara yang lain hanya bisa diam terpaku menatap kami


"Aku juga tidak tahu kenapa harus kamu yang mengalami ini semua dan bukan aku, aku ini keluarganya aku ini saudaranya tantenya anak nya, kenapa harus kamu dan wina orang lain dalam keluarga ini,"


Wida terus menyalahkan diri nya karena mungkin merasa tidak adil kenapa bukan dia yang menjadi sang terpilih atau perantara tanpa harus melibatkan orang lain


Aku yang tadinya menangis dengan lepas tiba-tiba diam mendengar ucapan Wida dan hanya menyisakan sesenggukan pada diriku, dan aku membalas pelukan Wida seolah yang harus ditenangkan adalah Wida bukan aku


Aku menangis dan berteriak karena merasa lelah saja dan merasa bingung dengan semua peristiwa yang terjadi, tapi mungkin Wida dia yang menanggung semua rasa


"Mari nak jangan duduk disini, kita harus tenang dan tidak boleh seperti ini" mom endang mengajak kami untuk pindah posisi dan mengajak kami untuk tetap tenang


Aku dan Wida menuruti ajakan mom endang yang terlihat ikut menangis juga, terlihat beban yang berat diraut wajah wanita tua itu,


"Kasihan mom endang padahal diantara kami semua dia yang lebih menderita dengan semua kejadian ini, mungkin Lika lama yang coba dia tutupi dan tetap bertahan hidup demi Wida malah terbuka kembali"


"Aku Harus lebih kuat lagi, aku tidak boleh lemah, sedikit lagi misteri ini akan terungkap" gumam ku dalam hati


Dan sejak melihat wajah mom endang menjadi lebih tenang dan aku bertekad untuk lebih kuat lagi dan menyelesaikan misteri ini dengan segera, aku yakin penggalan demi penggalan penglihatan dan peristiwa yang aku alami adalah suatu rangkaian yang harus aku simpulkan sendiri untuk mengungkap misteri ini

__ADS_1


__ADS_2