Sang Terpilih, Malam Tahun Baru Yang Menegangkan

Sang Terpilih, Malam Tahun Baru Yang Menegangkan
episode 34


__ADS_3

"Uni, Wina hayuk kita jalan lagi keburu sore loh, memang nya kalian mau lihat danau terus sampai malam" Sri memanggil kami untuk melanjutkan perjalanan


Aku mencoba untuk menikmati setiap perjalan yang kami lakukan menjelajahi tempat wisata yang ada di kota dingin ini, Hingga sore pun tiba dan kami berencana untuk kembali ke rumah wida


Didalam mobil kami semua hanya terdiam tidak ada satupun yang bersuara, apa lagi aku, fikiran ku masih tertuju dengan kejadian yang aku alami tadi, hanya suara deru mobil yang saling berselisihan karena jalur pulang dan pergi masih tergolong ramai


"Ada yang lapar? atau hanya sekedar mau nyantai di cafe nanas" tiba-tiba Wida bersuara dan memecahkan kesunyian


"Cafe nanas?" Endah dan lifa serentak bertanya


"Kenapa nama cafenya nanas?" lifa bertanya lagi


"Karena cafe itu menyediakan menu special mereka rujak nanas yang bisa dipetik sendiri dikebun nya, dan cafe itu juga di kelilingi kebun nanas, cuma karena sekarang udah sore kita g usah metik nanas, cuma nyantai aja disana juga enak kok" Wida menjelaskan lagi kenapa nama cafe tersebut diberi nama nanas


"Boleh lah yuk kita makan disana" semua saling bersuara tanda setuju kalau kami mampir lagi di cafe nanas


"Pak kita ke cafe nanas ya" pinta Wida pada sopir


Benar saja begitu sampai di cafe nanas, mata kami dimanjakan dengan perkebunan nanas yang sangat luas, meski hari sudah sore tapi masih terlihat jelas hijau nya perkebunan nanas ini dengan daun berduri nya yang bertahta bak mahkota


Seperti teka teki yang selalu kami mainkan "apa yang bersisik tapi memakai mahkota" hehe pasti sudah tau jawaban nya


Pelayan cafe mempersilahkan kami masuk dan mengantar ke tempat duduk yang ternyata sudah dipesan Wida sebelum nya, pertanyaan Wida di mobil tadi sepertinya hanya basa basi saja padahal dia memang sudah merencanakan untuk pergi ke cafe ini


"Villa Cendana bawah meja"


Aku terkejut dan menoleh ke kanan karena Seperi ada yang membisikan ditelinga soal villa Cendana dan bawah meja, dan suara nya terdengar seperti suara anak kecil


"Petunjuk kah ini" fikir Ku


Saat aku melihat ke sekeliling semua orang yang ada di cafe serasa aneh, Seperi menatap ke arah ku dan tak berkedip sedikit pun, aku merasa kaku dan tak bisa bergerak


"Hei un sini duduk, ngapain berdiri saja disitu" Wina berteriak memanggil ku dan berhasil membuyarkan lamunan ku

__ADS_1


Dan aku bergegas bergabung dengan yang lain nya dan memesan makanan sesuai selera kami masing-masing.


Masih terasa aneh tapi aku mencoba untuk cuek dan berbaur dengan suasana yang ada


Rasa lelah mendera, begitu sampai di rumah Wida, kami langsung kembali ke kamar masing-masing berhubung perut sudah kenyang karena sebelum pulang kami singgah di salah satu cafe untuk makan malam


Aku melihat mom endang hanya tersenyum melihat kami masuk kedalam rumah dalam keadaan lelah, bagaimana tidak semua terlihat langsung membantingkan diri ke sofa yang ada diruang tamu


Entah karena lelah atau karena kekenyangan dan merasa ngantuk yang jelas semua seperti diam dan sibuk masing-masing dengan ponsel nya


"Bagaimana jalan-jalan nya tadi" mom endang bertanya tapi entah pada siapa


" Asik sekaligus melelahkan mom" jawab wini sementra yang lain hanya tersenyum


"Ya sudah semua pada bersih-bersih badan dulu nanti kita makan malam bersama ya"


Mendengar ucapan mom endang kami hanya bisa saling menatap saling memberi kode seolah-olah bertanya dalam hati "bagaimana ne sudah kenyang banget" dan kami pun hanya bisa tersenyum tanpa menjawab


Wida bersuara juga akhirnya mungkin Wida susah menebak raut wajah kami yang kebingungan karena sudah kenyang, makan lagi kenyang menolak segan


"Owh kenapa gak bilang kalau sudah kenyang, ya sudah sana istrahat di kamar" mom endang tersenyum


"Selamat-selamat" akhirnya bisa bernafas lega karena tidak jadi makan, dan kami pun beranjak kembali kekamar masing-masing


Sampai di kamar aku langsung membuka atribut yang ku pakai dari luar dan sebelum mandi aku membanting badan ku ke kasur yang begitu empuk dan nyaman


Aku memperhatikan langit-langit kamar dengan tatapan kosong, suasana hening namun tak lama aku mendengar suara ramai, riuh dan tertawa di ruang tamu


Aku penasaran kenapa tiba-tiba di ruang tamu begitu ramai, padahal tadi sunyi sekali, aku mengintip sedikit dari pintu kamar ku


Aku melihat mereka lagi, mau kemana mereka sepertinya pada mau berangkat, Aku pemasaran dan buru-buru aku ambil baju dan jaket, akan ku ikuti kemana mereka pergi


Kalau ini adalah petunjuk berarti aku bisa mengikuti siapa saja yang aku mau tanpa harus takut ketauan

__ADS_1


"Belajar dari pengalaman sebelum nya, pasti tidak akan ada yang melihat ku, mau kemana kalian akan ku ikuti, hayuk tuntun aku, aku sudah siap berpetualang dengan Misteri ini" gumam ku dalam hati


Aku keluar kamar, tepat sekali tak ada yang memperdulikan ku, kecuali ada satu perempuan yang menoleh kearah ku dan tersenyum lalu menatap kearah laki-laki gagah dan tampan


"Apa dia yang harus aku ikuti terlebih dahulu, apa dia adalah ayah Santi, itu aku sepeti pernah melihat dia tapi dimana ya" Aku menggumam sendiri karena seperti mengenal laki-laki itu


"Astaghfirullah, itu kan laki-laki yang aku lihat di tabrak mobil kemaren" aku berteriak dalam hati


Aku masih terdiam di depan pintu kamar ku dan masih terus berfikir mana yang harus aku lakukan terlebih dahulu, rasanya aku ingin tahu kemana kalian semua pergi


kalau raga ku bisa membelah maka akan ku bagi ke semua tempat untuk melihat kemana kalian pergi dan apa yang kalian lakukan


sejenak aku teringan kejadian kemarin


"Matilah kau Santoso" kata pria itu senang, dan dia mengangkat tubuh korbannya dan menggendong nya ke atas bukit


"Un kenapa kamu teriak" aku mendengar suara teman-teman memanggil ku


"Ada kecelakaan kalian lihat tidak" jawab ku


"Mana ada kamu ngaco deh dari tadi kita lagi nungguin kamu yang melamun Mulu, makanya kalau lagi jalan jangan melamun nikmati aja perjalanan ini" Sri terus mengoceh


"Cepat pulang" kata ku sambil berlari


"un hei un" yang lain berteriak dan aku terus berlari tanpa menghiraukan panggilan teman-teman


waktu itu aku sedikit kacau yang ada di otak ku cuma ucapan


"Matilah kau Santoso" kata pria itu senang, dan dia mengangkat tubuh korbannya dan menggendong nya ke atas bukit


terus berulang-ulang membuat aku kalut dan tau tau harus berbuat apa lagi dan terus berlari, yang ku tau saat itu aku harus cepat sampai dirumah dan menceritakan semua nya pada Wida dan mom endang


Ingatan ku tentang kejadian kemaren buyar karena ada suara dari seorang laki-laki

__ADS_1


__ADS_2