
"Aku tadi berada di rumah itu" jawab ku sambil memandang mom endang
"Kecelakaan yang aku lihat tempo hari, aku melihat nya kembali, dan sekarang aku tau siapa orang yang meninggal dalam kecelakaan itu akibat di tabrak mobil" aku terdiam semua hening
"Dan kecelakaan itu disengaja" ucap ku lagi melanjutkan cerita
"Kamu yakin" tanya Wida
"Siapa itu" lagi-lagi aku seperti melihat ada yang sendang mengintip dan menguping percakapan kami
Aku mengejar dan sama seperti kemaren zonk alias kosong tak ada satupun disana, dan aku kembali ke posisi ku semula
Sementra yang lain hanya diam dan mendengarkan, mungkin karena bingung atau karena takut
"Heran setiap kita lagi membahas sesuatu yang penting seperti ada yang mengintip dan menguping pembicaraan kita" ucap ku
"Apa jangan-jangan ada mata-mata dirumah ini" gumam ku
"Maksud kamu?" Wida bertanya
"Duh kepala ku pusing"
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Wida, Wina terbangun dari pingsannya
"un, kamu tidak apa-apa, muka mu bengkak begitu, ndah tolong ambilkan kunyit dan minyak kelapa"
Mungkin itu obat untuk menyembuhkan memar ku, entah dari mana ide nya yang jelas dia adalah pelindung ku dalam misteri ini, percaya atau tidak beberapa kali ini terbukti
Entah dari mana awal nya semua ini terjadi yang jelas disinilah aku dan kami semua sedang dihadapkan pada sebuah misteri dua dunia
"Mom ngambilnya dimana? minyak kelapa ada?" Endah bertanya pada mom endang
"Tidak ada minyak kelapa minyak goreng pun jadi" Wina menambhakan lagi
Heran seperti mau memasak saja permintaannya bumbu dapur dan minyak goreng
"Minta sama Mbak Marni saja di dapur" ucap mom endang
"Ndah" aku menghampiri Endah yang sudah berjalan ke arah pintu
Setelah aku membisikan sesuatu ketelingan Endah, Endah pun mengangguk dan pergi
__ADS_1
"Kalau Mbak marni tanya untuk apa, jawab saja buat masak" ucap Wina pada Endah sebelum Endah keluar dari kamar
"Kamu bisikan apa tadi" tanya Wida
"Owh tidak apa-apa cuma pesan jangan beritahu kalau wajah ku memar" jawab ku
Sejenak ruangan sepi tak ada yang berbicara atau bergerak semua diam dan hanyut dalam fikiran nya masing-masing, begitu juga dengan aku yang masih memikirkan kejadian tadi
"Kenapa tiba-tiba dia bisa melihat ku ya, padahal di awal aman-aman saja, dan kemana perginya Santi ya" pikiran ku terus bertanya-tanya dan masih mencari keberadaan Santi, khawatir dengan gadis cilik itu, padahal aku sadar betul Santi bukan dari dunia yang sama dengan ku
"Ya" aku sedikit kaget dan menoleh ke kanan, seperti ada yang menyentuh bahu ku tapi tidak ada satupun diantara mereka yang sedang menyentuh bahu ku
"hmm kenapa" tanya lifa yang tak jauh dari ku
"tadi ada yang menyentuh bahu ku"
Semua terdiam dan hanya saling melihat dengan mimik wajah yang bertanya-tanya satu sama lain nya
"Nah ini pesanannya sudah datang" Endah datang dengan membawa pesanan Wina
"Sini"
"Lain kali kalau kamu bertemu dengan nya lagi, lihat waktu dan ingat pulang" Wina berkata sesuatu pada ku
"Maksudnya" tanya ku
"Mulai detik ini kamu tidak boleh sendirian harus ada yang menjaga"
Wina tidak menjawab pertanyaan ku, namun malah meminta semua yang ada untuk tidak meninggalkan ku sendirian
"win, apa maksudnya lihat waktu dan ingat pulang"?? aku bertanya lagi pada Wina
Wina menatap berhenti mengoleskan obat dan menatap ku dengan tajam, namun tidak berkata apa-apa dan melanjutkan lagi pekerjaan nya
"Luka pertama hilang dengan sendirinya, luka kedua harus dilakukan pengobatan" Kalai tidak hati-hati luka yang kau dapat akan lebih parah lagi"
Wina malah melanjutkan omongan nya lagi tanpa menjawab pertanyaan ku
Aku terdiam mendengar ucapan Wina dan teringat akan luka pertama yang kudapat, waktu itu luka pertama yang kudapatkan adalah saat menginap di villa perkebunan,
Saat aku melihat seorang lelaki menyeret lelaki lain dan saat aku berusaha menolong saat itu tangan ku terluka, namun saat hendak di obati lukanya sudah hilang
__ADS_1
"Kenapa kami diam? kamu lagi ingat ya kapan luka pertama mu didapatkan??
Wina menatap ku dan bertanya soal luka pertama dan sempat membuat aku sedikit kaget karena suaranya
"Ehh iya" aku cuma mengangguk saja
"Berapa lama waktu ku untuk tidak terlihat" aku mengganti pertanyaan ku
Wina tersenyum, sepertinya dia senang akhirnya aku menyadari ucapan nya soal lihat waktu ingat pulang
"Tidak lebih dari 3 jam dan kamu harus pulang, lebih dari itu ada dua kemungkinan kalau kami tidak terlihat oleh nya kamu akan kehabisan tenaga" Wina Mulai menjawab pertanyaan ku
"Lalu"
"Sudah-sudah nanti lagi ngobrol nya kita makan dulu aku sudah lapar, mana belum mandi lagi, sekarang udah mau jam 10, memang nya kalian tidak ada yang lapar ya" wini memotong ucapan ku
Aku tau wini bersikap seperti itu karena khawatir dengan kembaran nya, dari awal wini tidak terima Kalai Wina dilibatkan dalam masalah ini, tapi mau tidak mau, entah kapan dia menjadi perantara buat ku
Dan terima atau tidak Wina memang sudah terlibat sejak awal dan bahkan bisa dibilang Wina juga buka hanya perantara tapi sebagai penyelamat ku,
Dan memang wini selalu saja pasang badan untuk menjaga Wina sejak pertama kali mengetahui Wina sebagai perantara
"Ya sudah kita makan dulu, yang mau mandi ya mandi dulu setelah itu kita ketemu di ruang makan" mom endang juga ikut menimpali sambil melihat ku dengan memberi kode anggukan
Mungkin mom Endang juga tau kekhawatiran wini terhadap kembarannya
Tiba-tiba Wina menjauhkan nampan obat yang ada ditangan nya dan pingsan
"Wina" wini berteriak memanggil Wina dan langsung memeluk wina
Aku baru sadar kalau yang sedang berbicara dengan ku bukan Wina tapi sang kasat mata, yang belum di ketahui siapa pemainnya
"Wini lepasin ngapain kamu peluk-peluk aku, dah ah aku mau mandi habis tu mau makan laper" Wina langsung bangkit dan pergi meninggalkan kami seperti tidak ada masalah dan seperti tidak ada kejadian apapun
Kami hanya saling menatap keheranan satu sama lain, dan masing-masing membubarkan diri tanpa berkata apa-apa
"Mandi dulu habis itu kita sarapan bareng" mom endang menyuruh ku mandi
Aku hanya mengangguk tapi masih sedikit bingung kenapa semua orang pada bubar dan meninggalkanku ku sendirian padahal tadi kata Wina mulai detik ini aku tidak boleh ditinggalkan sendirian
Aku hanya bisa garuk-garuk kepala ku yang tidak gatal karena memikirkan kejadian pagi ini, memikirkan ucapan Wina soal lihat waktu dan ingat pulang
__ADS_1