
"Kita mau kemana dan" tanya ku pada Santi
" Kita jalan-jalan saja sambil bermain, temenin aku ya kak" jawab Santi sambil terus menarik tangan ku
Dan aku pun menurut saja dan mengikuti langkah kecilnya mengitari taman bunga yang ada di depan vila, ya rumah ini lebih tepat dibilang vila
"San kamu tau ini vila milik siapa" tanya ku pada Santi
"Vila cendana ini milik pak bonowo, tadi istrinya yang memasak sarapan, masakan dia enak loh" kata Santi menjelaskan
"Hmm teman-teman ku dimana ya" pikir ku mengingat sejak tadi bangun mereka tidak kelihatan satu orang pun
Aku terus mengikuti langkah kecil Santi, menyusuri jalan setapak menuruni lereng bukit kearah kebun kopi, ditemani udara sejuk yang memanjakan hari
"Santi jangan lari-lari" teriak ku yang hampir tidak bisa mengikuti langkah santi yang sepertinya berlari semangkin cepat meninggalkan ku dibelakang, dan Santi seperti tak menghiraukan panggilan ku
"Santi jangan jauh-jauh nanti kita tersesat", teriak ku terus sambil berlari mengejar Santi yang hampir saja tidak kelihatan, "hmm mau kemana anak ini" pikir ku sambil terus berlari untuk terus mengejar agar tidak sampai ketinggalan, dengan terus mengingat jalan agar tidak lupa nanti saat akan kembali
Santi terus berlari kesana kemari dengan riang nya, dan tiba-tiba santi berhenti disebuah tanah gundukan kecil yang ditanami pohon kopi disekitarnya dan dia terdiam disana sambil menunjukan wajah sedih dan murung.
"Hei kamu kenapa?? Kamu capek?? Atau ada yang sakit??" Tanyaku bertubi-tubi pada Santi karena khawatir
Suasana begitu sepi ditempat itu, aku melihat ke sekeliling tiada terlihat ada orang yang beraktifitas untuk sekedar lewat, apa lagi bekerja memetik kopi, sepi sekali tidak ada orang hanya suara jangkrik binatang lainnya saja yang sesekali terdengar dan suara orang dari kejauhan yang terdengar dari kampung sebelah
"Santi hei dek kau tidak apa-apa??" Tanya ku lagi sambil menggoyangkan badannya
__ADS_1
Santi hanya diam dan terus memandangi tanah gundukan tersebut sambil mengelus-elus puncak nya, terlihat ada wajah sedih dan buliran air mata diwajah Santi
Santi lalu bangkit dan berjalan lagi tanpa berbicara sepatah pun apa lagi menjawab pertanyaan ku tadi, Santi melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak, menuruni lereng bukit melewati tanaman kopi yang hampir siap dipanen, aku tetap terus mengikuti nya, karena khawatir kehilangan jejak dari nya
Akhirnya kami keluar dari area perkebunan kopi dan sampai ke jalan raya, Santi berhenti sejenak seperti mengatur nafas karena lelah berjalan.. kulihat ke sekeliling tampak beberapa rumah yang tak jauh jarak nya
Dan ku lihat ke atas terlihat jelas vila tempat ku menginap, "owh jangan-jangan Santi mau mengajak kerumahnya" pikir ku lagi Mash dengan nafas yang ngos-ngosan
Terlihat Santi menyeberang jalan aku khawatir Santi akan terserempet mobil yang berlalu-lalang, aku langsung mengejar Santi, namun langkah Santi lebih cepat dari yang ku duga
Santi lalu berhenti pada rumah biru yang terlihat tak terawat namun Mash kelihatan bagus dan mewah, entah lah ini rumah apa vila yang sudah tak dipakai dan dirawat
Santi hanya berdiri dan memandang kerumah biru tersebut tanpa membuka gerbang atau pun berusaha masuk ke dalam dan mengetuk pintu
"Santi..., berhenti disana
Santi.. santii Suara itu terus memanggil santi dan terlihat mengejar Santi, ku lihat laki-laki paruh baya berwajah tampan dan sedikit berewokan dan memiliki tahi lalat di dekat hidung nya
Terlihat dengan tergesa-gesa sambil memakai topeng dan terus berlari dari arah kebun kopi melalui jalan setapak yang kami lalui tadi tanpa menghiraukan keberadaan ku disana, dan sepertinya laki-laki tersebut juga seperti tidak melihat ku, saat aku berteriak menghalangi jalan laki-laki itu
"Hei apa yang akan kau lakukan, kenapa kau mengejar santi "teriak ku menghalangi laki-laki tersebut,
Namun seperti ada yang aneh, laki-laki tersebut hanya melewati ku begitu saja dan menabrak ku namun tidak membuatku terjatuh ataupun merasakan apapun, padahal jelas-jelas aku di tabrak nya karena berusaha menghalangi jalannya untuk mengejar Santi
Ku dengar suara teriakan Santi dari kejauhan dan suara tertawa laki-laki tersebut, dan aku berusaha mengejar namun kaki ku seperti ada yang menahan dan menarik, sehingga membuat aku tak bisa bergerak sama sekali
__ADS_1
Aku terus berteriak memanggil nama Santi dan berusaha lari, namun usaha ku terasa sia-sia, terasa bumi berguncang dengan dahsyatnya, badan ku terasa seperti di pegang oleh tangan-tangan hitam yang terus mengguncang tubuh ku, hingga membuatku oleng, dan terdengar suara-suara lirih sepeti memanggil namaku
"Un.. uni.." suara tersebut membuat ku kaget dan terbangun dari tidurku, dalam keadaan lemas dan bingung aku melihat orang yang ada disampingnya dan dan kiri ku, kulihat Wida dan bang sopir yang sedang memegang tangan ku berusaha untuk membangunkan
"Kamu gak papa" tanya Wida yang terlihat khawatir
"Mbak tidur nya nyenyak banget ya sampe susah dibangunin" kata Anto yang mulai menyetir dari rumah makan tadi malam
"Hmm kenapa?? Kita dah sampe ya?? Ini dimana?? Mana Santi?? Pertanyaan yang bertubi-tubi ku lontarkan saat aku sadar setengah linglung
"Santi?? Tanya Wida keheranan
"Iya Santi anak kecil yang menjual ganti sama aku tadi di rumah makan" jelas ku lagi masih dalam kebingungan
"Kamu ini mangkin aneh ya, dari semalam aku lihat kamu kayak ngomong sendiri, sekarang malah mangkin ngawur" kata Wida yang sudah melihat keanehan pada ku sejak di rumah makan tersebut
***
Flashback on
" Kita istirahat 30 menit ya, setelah itu kita lanjutkan perjalanan, yang mau makan silahkan mau kekamar mandi silahkan"
Suara Supir memecah keheningan dan ketegangan yang baru kami lalui saat melewati belokan tajam, saat mobil sampai di rumah makan pinggir hutan yang seperti rest area tersebut
Wida dan endah turun dari mobil mereka hendak membeli makanan, begitu juga supir dan kondekturnya, mereka menuju rumah makan untuk makan dan istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Sementara yang lain nya masih berada di dalam mobil, apa lagi Wina dan wini yang melanjutkan tidur dan mimpi indah nya yang sempat tertunda karena dibangunkan sebelum belokan tajam tadi
Wida dan endah merasa aneh melihat tingkah uni yang saat turun mobil langsung pergi ke samping rumah makan dan berdiri lama seperti orang mengantri dan terlihat mengobrol entah sama siapa karena tidak ada orang lain disana