
Jangan lupa like, coment, dan masukkan ke daftar favorit yaaa
...****************...
Mereka berdua pun sampai ke tempat yang dituju. Dan ternyata itu adalah tempat untuk berkumpulnya orang-orang bermotor. Bisa dibilang tempat nongkrong yang dimaksud mereka, adalah tempat anak-anak jalanan.
Ghibran sendiri kaget ngelihatnya. Apalagi melihat nada yang kelihatan cukup akrab dengan orang-orang di sana.
"Lo gak salah tempat apa?" tanya Gibran yang masih merasa heran.
"Enggak kok, ini emang tempat nongkrong gue biasa nya" jawab nada dengan intonasi santai.
"Maksud gue, emang cewek sedingin lo mau main ke tempat begini? Ini mah tempat anak-anak brandal Nad," ucap Ghibran.
Nada melotot dan mendesis tidak suka mendengar omongan Gibran itu.
"Dya, lu disini?" tanya seorang cowok yang menghampiri mereka, memotong obrolan keduanya.
"Enggak.. ini roh gue." kata Nada ketus.
Dya...? batin Gibran
"Ayolah Dya, gak asik lo. Datang-datang malah main marah mulu." ucap Cowok itu sambil nyengir gak jelas.
"Oh jadi maksud lo? Lo maunya gue nggak dateng gitu? Ya udah gue pulang." kata nada sambil melangkah pergi saat mendengar ucapan cowok itu.
Tapi baru juga beberapa langkah, cowok itu pun menghalangi Nada, pada akhirnya mereka berdebat. Dan setelah cukup alot, Nada pun mengurungkan niatnya.
Gibran sendiri dari tadi sibuk jadi pendengar setia, nggak mengganggu mereka berdua yang sibuk berdebat.
Kemudian Nada mengenalkan Gibran pada orang itu, "Kenalin nih, temen gue."
"Ghibran" kata Ghibran memperkenalkan diri nya.
"Gue Adi, elo sabar sabar aja ya, sama adek gue yang satu ini. Udah lama marah-marah mulu."
Ghibran cuma diam menanggapinya. Sedangkan Nada melotot kesal mendengar omongan cowok yang bernama Adi itu.
Kemudian mereka pun mencari Mita dan Adan ke posisi yang sebelumnya sempat ditunjukkan oleh Adi. Karena tadi Nada memang bertanya dimana mereka berdua.
...----------------...
Sementara itu, yang dicari malah sedang sibuk pacaran. Ckckck....
Mita dan Adan duduk berhadap-hadapan di motor yang sedang terparkir rapi.
Mereka berdua malah begitu asyik nya ngobrol sampai tanpa sadar bahwa ponsel masing-masing dari tadi sering berdering. Disebabkan Nada yang sejak tadi misscall mereka, karena gak juga ketemu di mana tempat keduanya berada.
Nada dan Ghibran mencari ke tempat yang tadi ditunjukkan, tapi di sana kedua nya gak ada. Ternyata mereka berdua udah pindah posisi dari tempat itu.
"Yank, Nada bakal ke sini nggak ya? Jujur aja gue kangen ama masa dulu pas kita berempat sering kumpul di sini." ucap Adan sambil mengenang masa masa bandel.
"Lo kira lo aja yang kangen? gue juga tahu... Andai aja Bagas masih ama kita.. Pasti Nada masih kayak dulu ya." jawab Mita
"Ya namanya juga nasib, yaah... Nggak nyangka juga, kita bakal pisah secepat ini dari si Bagas."
Siapa Bagas??
Mita yang ngobrol sambil makan es krim pun nggak sadar kalau cara makannya membuat mulutnya blepotan.
Dan Adan yang melihat hal itu, dia pun berdiri dan mendekat ke arah Mita.
" Lo mau ngapain, deh?" tanya Mita begitu melihat Adan yang bergerak mendekati nya.
"Diam" kata Adan. Jari telunjuk nya mengarah ke bibir Mita. Dan dengan pelan-pelan membersihkan bekas es krim yang masih nempel di sana.
Mita mematung seolah tersengat listrik.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan bibir minta dengan jarinya, Adan malah menghisap jari itu.
"Eeew.... Adan.. Lo jorok ih." ucap Mita waktu melihat hal itu.
"Nggak papa, yang penting bekas lo. Soalnya rasanya manis sih." Adan cengengesan.
"Ya iyalah manis. Kan es krim. Ya kali pahit."
"Beda dong.. Ini asalnya dari bibir lo, jadi lebih manis. Soalnya lo aja udah manis banget. Bikin gue mau diabetes."
Mita pun langsung blushing seketika. Dia juga memalingkan mukanya ke arah lain.
Disaat begitu Adan masih sempat-sempatnya mengambil kesempatan dalam kesempitan, langsung mencium pipi Mita membuat wajah Mita yang udah memerah jadi lebih mirip tomat.
EKHEEEEM......
Seseorang berdehem dari samping mereka, membuat keduanya langsung berpaling ke asal suara.
Dan mereka berdua pun akhirnya cengengesan melihat siapa yang ada di sana.
Siapa lagi kalau bukan Nada yang sedang menyilangkan ke dua tangan di depan dada sambil geleng-geleng kepala melihat adegan mereka tadi.
Tapi cengiran mereka gak berlangsung lama ketika melihat Gibran yang memasang ekspresi kagetnya.
Mereka berdua pun memasang tampang detektif dan menanyai Nada, kenapa bisa membawa cowok itu ke tempat ini.
Nada yang lagi malas bicara pun cuma melenggang pergi meninggalkan mereka bertiga, tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tadi ditanyakan.
Dan hal itu membuat Gibran yang masih diam di sana langsung jadi pusat pelototan maut dari keduanya.
"Lo ada apa nih ama Nada?" tanya Mita sambil memandang Gibran dan Nada yang udah jauh secara bergantian.
"Nggak ada apa-apa, gue sama dia cuma temenan aja." kata Gibran dengan wajah datarnya.
"Gue sih gak percaya sama omongan lo." kata Adan sambil tertawa ringan.
Adan yang melihat ekspresi Gibran pun mengerti apa yang ada dipikirannya.
"Kenapa gue gak percaya??! Coba aja tanya sama diri lo sendiri, ngapain lo bela-belain datang kemari ama Nada, sedangkan di sekolah gue nggak pernah lihat lo deket sama satupun cewek."
"Lu suka kan ama Nada?" Adan bertanya dengan pertanyaan yang lebih milih suatu pernyataan.
Gibran tertegun dengan kata-kata Adan. Dia nggak bisa mengelak, karena itu memang yang dirasakan.
Tapi Gibran juga gak bisa semudah itu berbicara jujur, karena rasa gengsinya lebih besar.
"Nggak, gue cuma mau temenan doang"
Adan tersenyum miring, "Kita lihat aja nanti, lo bakal gimana sama dia." kemudian Adan pun pergi menyusul Nada sambil mengajak Mita, "Ayo Yank."
Tapi Mita malah berkata, "Lo duluan Dan.. Gue mau ngomong dulu ama nih cowok."
Dan Adan pun mengiyakan aja.
Mita memandang Ghibran dengan serius.
Apa yang bakal diomongkan dengan Ghibran coba?
...****************...
"Ghibran, lo benar-benar suka ama Nada? Jangan berusaha mengelak. Gue bisa lihat kok, di kelas aja sikap lo beda."
Gibran menggaruk kepalanya yang nggak gatal. Tapi Ghibran fikir, gak apa-apa kan kalau sahabat Nada tau, siapa tau dia bisa ngasih masukan yang bagus kan...
"Emang kentara banget ya, kalau gue suka sama dia?" tanya Gibran.
"Sebagai cowok yang terkenal dinginnya di kelas, dengan perubahan lo yang cuma ke satu cewek begini. Apa itu gak bisa dibilang hal yang aneh? Jelas jelas lo suka ama Nada."
__ADS_1
Gibran cuma diam mendengarkan ucapan Mita yang kali itu panjang lebar.
"Gue cuma mau bilang satu hal sama lo," kata Mita.
Gibran menelengkan kepalanya.
"Jangan menyerah..." kata-kata yang membuat Gibran malah menjadi bingung.
"Maksud lo"
"Kalo emang lo bener-bener tulus suka ama Nada, gue mohon.. Please jangan nyerah. Gue tahu perjuangan lo nanti pasti bakal berat, karena susah buat buka hati dia.
"Nada itu udah terpaku sama satu cowok yaitu Bagas. Tapi Bagas udah ninggalin dia. Membuat Nada bersikap kayak sekarang.
Gibran serius mendengarkan omongan Mita.
"Gue minta sama lo, tolong buat Nada yang gue kenal balik lagi, Nada yang perang, Nada yang ceria, Nada yang selalu tersenyum. Bukan Nada yang sekarang, yang begitu pendiam, begitu dingin, kaku, cuek, dan datar."
"Gue percaya lo pasti bisa buka hati nya. Tolong jangan lo tambah lagi lukanya. Dia udah terlalu lama terpaku sama satu cowok, yang jelas-jelas nggak bakal balik lagi ke sampingnya."
Tiba-tiba Gibran memotong omongan Mita. "Kayak gimana sih cowok yang namanya Bagas itu?"
"Dia baik, perhatian, selalu lebih mentingin Nada dari dirinya sendiri, dia juga setia. Sebenarnya dia kriteria cowok yang baik dan sempurna. Sampai akhirnya dia ninggalin kita semua, dan kepergiannya itu merubah sifat nada."
"Ninggalin gimana maksud lo?"
"Sorry Ghib, bukan gue yang harus ngejelasinnya. Gue gak ada hak buat nyeritain detail cerita tentang cowok nada dulu."
"Lo suatu saat nanti bakal tahu, tapi bukan sekarang dan bukan dari gue. Gue nggak mau sampai sampai Nada salah paham dan marah ama gue gara-gara hal ini."
"Maksud gue, apa tuh cowok selingkuh? Nggak setia gitu?"
"Kan udah gue bilang, Bagas itu cowok setia. Makanya sampai sekarang Nada gak bisa lupa sama dia."
Mita yang melihat Gibran mau bertanya lagi langsung mengajaknya menyusul Nada dan Adan.
...****************, ...
Nada menghabiskan waktunya di sana bersama Mita dan Adan, juga Ghibran.
Mereka juga ditemani beberapa orang yang kelihatannya begitu mengenal ketiganya dengan baik. Dan Gibran sesekali mendengar salah satu dari mereka membicarakan orang bernama Bagas. Tapi itu pun mendapat pelototan dari Mita.
Dan ketika jam 8.30 malam, mereka berdua akhirnya pulang. Sedangkan Mita dan Adan masih berdiam di sana.
Selama di perjalanan, mereka berdua lebih banyak diam dengan pikiran masing-masing.
Di satu sisi, Nada sibuk melihat ke jalanan yang mereka lewati. Padahal hanya matanya yang fokus dengan pemandangan. Hatinya sendiri melamun.
Sedangkan di sisi lain, Gibran juga fokus menyetir. Tapi hati dan pikirannya selalu memikirkan ucapan-ucapan Mita.
Teka-teki, gimana Bagas meninggalkan Nada. Kenapa? Apa alasannya? Padahal kalau mendengar dari ucapan Mita, orang yang bernama Bagas itu setia.
Gimana Bagas menyikapi Nada yang kadang begitu menjengkelkan, dengan ucapan-ucapan tajamnya.
Dan satu hal yang masih terus mengganjal di hati Gibran, di mana Bagas sekarang?? Karena bisa jadi kan, suatu saat nanti, ketika dia udah bersama nada, ketika dia udah menyayangi nada sepenuh hati, ketika mereka udah bersama...
Tiba-tiba Bagas kembali ke samping Nada, menghancurkan apa yang udah Gibran perjuangkan saat ini. Dan gimana cara dia menghadapinya nanti, sedangkan sekarang, dia tahu kalau cewek yang dia suka itu bener-bener sayang sama cowok bernama Bagas itu.
Gimana kalau misalkan Nada lebih memilih cowok yang udah pergi meninggalkan dia itu, suatu saat nanti?
Apa yang harus dilakukan Ghibran?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo dear readers.... Back lagi ama Ghibran and Nada nih....
Jangan lupa pencet jempol nya ya... tinggal kan 🐾...
__ADS_1
Love you all....