Sebutir Cinta Untuk Nada

Sebutir Cinta Untuk Nada
Ecie... Ngeblush nih...


__ADS_3

Happy reading guys..


Mita :Thor, lo kenapa kemaren kagak up?


Author : Kemarentuh othor caaapeeek..... Jadi nya gak sempet up. Sorry ya guys...


Markijut... Mari kita lanjut....


......................


Berhari-hari kemudian Nada selalu dipusingkan dengan sikap Ghibran yang baginya sangat menyebalkan. Dan lagi, kalau bukan karena sebuah janji, Nada gak akan membiarkan dirinya dibuat seperti boneka oleh cowok itu. Tapi ya sudahlah...


Namun karena keseringan bersama, sedikit demi sedikit dia makin merasa nyaman dengan kehadiran Ghibran di sisinya. Mereka sering pergi bersama dan menikmati kebersamaan dengan begitu banyak hal. Dan tanpa disadari, Nada mulai memupuk perasaan lebih yang tak dia sadar.


Hanya saja, satu hal yang membuatnya selalu menolak bisikan hatinya, yang seringkali meyakinkan kalau dia menyukai cowok dingin dan sering bersamanya itu. Sebuah NAMA yang sampai saat ini masih ada di HATINYA.


Kini, sudah sekitar satu bulan lebih mereka berdua menjalani sebuah hubungan dalam kebohongan. Tapi meskipun begitu, kedekatan keduanya membuat orang lain sangat iri, apalagi yang orang lain tau, mereka berdua memang berpacaran.


Dan itu pun tak luput dari perhatian Tera yang selalu mengepalkan tangan setiap kali melihat dua sejoli itu jalan bersama dihadapannya.


Kita tinggalkan dulu dua remaja itu, okey...


......................


Di sebuah kafe, di salah satu meja nya yang terisi dengan 2 cangkir Cappucino latte dan juga terletak 2 piring dengan kue berbeda jenis, di kursi yang menghadap ke meja itu duduk dua orang berbeda gender yang saling melempar senyum.


"Kenapa kamu ngajak bertemu di sini?" tanya cowok berusia 22 an itu. Dan cewek dengan usia 1 tahun lebih muda di depannya tersenyum manis sebelum menjawab.


Tapi belum juga dia menjawab, wajahnya lalu berubah murung dan terlihat sedih.


"Look me babe, why??" tanya si cowok yang bingung dengan sikap kekasih nya.


"Aku kangen adikku" jawabnya pelan. "Apa dia menerima hubungan kita?" si cewek bertanya.


Cowok itu menghela nafas pelan. "Aku gak tahu. Kau sendiri tahu kan, dia belum bisa lupain adikmu. Belum lagi kembaran adikmu itu selalu menyalahkan nyaa"


Cewek dengan rambut bergelombang itu menatap ke langit-langit kafe. "Aku udah selalu bilang, yank. Kalau ini bukan salah dia, tapi adikku yang satu itu keras kepala. Dia selalu beranggapan kembarannya tiada itu karena adikmu. Padahal adikmu nggak salah apa-apa. Bahkan dia juga menjadi korban."


"Aku juga gak tahu harus gimana, Babe."

__ADS_1


Si cewek menatap cowok yang menjadi kekasihnya itu, "Terus sampai kapan kita harus Backstreet dari keluarga masing-masing, yank? Aku takut Adik kamu gak bisa nerima aku. Mama aku sih udah setuju dengan hubungan kita. Tapi yang jadi masalah, apa Adik kita bisa menerima? Sedangkan mereka berdua saling bermusuhan..."


Cowok itu menyeruput Cappucino nya yang mulai dingin." Aku yakin mereka bisa saling mengerti, Dear. Semoga ini juga bisa jadi jalan supaya mereka kembali dekat seperti dulu.''


"Aku juga berharap begitu." Cewek itu lalu mengaduk-aduk bolu Red Velvet miliknya. "Yank...." ucapnya pelan.


"Ya, kenapa?"


"Aku pengen ketemu adik kamu. Dua bulan sejak adekku pergi, aku gak pernah lagi ketemu dia. Aku juga pengen dia tahu hubungan kita. Aku kangen..."


"Oke dear aku telepon dia dulu."


Cowok itu mengeluarkan ponselnya dan mendial sebuah angka yang langsung tersambung pada nomor ponsel adiknya.


TUT TUT TUT...


Dia menunggu beberapa lama, lalu terdengar suara seorang cewek dari seberang sana. "Ya Kak??"


......................


Kita kembali kepada sang pasangan pura-pura yang kini sedang berjalan menuju sebuah mobil sport yang terparkir. Nada dan Ghibran menenteng belanjaan dan sudah keluar dari sebuah minimarket, setelah sebelumnya mereka berdua baru saja selesai makan di warung tenda pecel lele yang ada di pinggir jalan, seberang minimarket yang mereka masuki.


Dan sekarang dia merasa cukup lelah...


Tapi Ghibran nggak menggubris nya, dia malah menarik Nada yang baginya berjalan lambat. "Satu tempat lagi, Naaad... Sabar dulu...." ucap Ghibran dengan wajah memelas.


Tempat terakhir ini, adalah tempat utama yang dirancang nya sejak seminggu lalu. Dan hari ini Ghibran mengajak Nada untuk pergi kesana.


Setelah memasukkan belanjaan mereka ke jok belakang, yang tidak memiliki kursi penumpang lagi, karena mobil sport nya itu adalah mobil yang hanya memiliki dua kursi, Ghibran membukakan pintu sebelah untuk Nada. Lalu dia pun masuk lewat pintu satunya lagi.


"Pasang sabuk pengamannya, Nad..." ucap Ghibran sambil memainkan spion dalam, menggerak-gerakkan nya ke kanan dan ke kiri.


Nada mendengus, dia lalu mencoba untuk memasang sabuk pengaman, tapi entah kenapa, benda yang sebelumnya bisa terpasang itu saat ini malah tiba-tiba macet.


Trek trek trek...


suara sabuk pengaman yang dipaksakan masuk oleh Nada terdengar di dalam mobil. Dan Ghibran yang mendengarnya tertawa kecil. "Ya ampun Naaad... Masa gak bisa?" tanya nya terkekeh.


"Dihhhh.... Bukannya bantuin." ucap Nada dengan wajah julid.

__ADS_1


Keduanya itu kini nggak lagi berbicara dengan dingin, bahkan sikap barbar Nada yang sebelumnya tertutup oleh sifat dinginnya, kini mulai kembali mencuat.


"Gigi..... bantuin gue..." Nada merengek pelan tapi masih memberikan muka julidnya pada Ghibran. "Lu kira gua gigi ompong kali..." Ghibran mendengus sebal dengan panggilan yang Nada berikan sejak seminggu lalu.


"Bantuin cepet.... Kalau kagak gue gaplok loh." Nada berkata galak.


"Iya iya..." Ghibran lalu mensejajarkan badannya dengan Nada sambil membantu memasangkan sabuk pengaman.


Dan saat itulah ada sebuah waktu di mana terdapat klik yang mengunci pandangan keduanya.


Dag dig dug... Jantung keduanya seolah berdisko ketika mata mereka bertemu.


Ganteng..... Batin Nada yang tanpa sadar malah memperhatikan wajah Ghibran.


Gue suka sama lo, Nad... Ghibran membatin sambil menatap netra Nada yang masih sibuk meneliti wajahnya.


Setelah cukup lama, sepertinya Ghibran lah yang sadar lebih dulu. Dia berdehem pelan. Tapi Nada gak bergeming, sehingga membuat Ghibran akhirnya melambaikan tangan tepat di depan muka Nada.


"Naaaad, Naaad, Naaad...." dibutuhkan tiga kali panggilan untuk mengembalikan Nada menuju alam sadarnya.


Dan ketika dia sadar, dia melihat Ghibran sedang nyengir didepan nya. "Gue tahu gue ganteng, tapi nggak segitunya kali..."


"Dih, ke-gr-an lu... Siapa yang lihatin lu, coba." Nada mencoba berkilah.


"Nah... Kan lo ngaku sendiri, kalo lu lihatin gue.."


Skakmat...


Nada yang biasanya bisa berdebat dengan mudah dan mampu membalikkan ucapkan lawan itu, kini malah seperti kehabisan kata-kata. Dia hanya bisa mengalihkan pandangan ke arah lain dengan wajahnya yang memerah.


" Ecie... ngeblush nih.." Ghibran menoel noel telinga Nada yang ikut terlihat merah. Cowok itu juga sempat-sempatnya mengerlingkan mata dan mengangkatkan alis, berniat menggoda Nada.


Wajah Nada makin memerah. "Jalan cepeeet..... Gue udah ngantuk..." ucapnya mengalihkan pembicaraan. Padahal rasa ngantuknya itu udah hilang semenjak mereka berdua saling pandang-pandangan tadi.


Ghibran tersenyum tipis, berhenti mengganggu Nada dan melanjutkan perjalanan yang tertunda.


Kemana mereka??


......................

__ADS_1


Bye all....


__ADS_2