
Jangan lupa like, coment, dan masukkan ke daftar favorit yaaa
......................
Rasa bingung Ghibran masih berlanjut sampai seminggu. Dia masih belum bisa memutuskan mau mengajak Nada pergi ke mana. Maklum kan aja lah yaaaa... Dia kan bukan tipe cowok yang pernah romantis pada seseorang.
Dan di malam minggu sekarang ini, sudah lewat seminggu sejak dia meminta izin dari kak Rey. Di sekolah, dia yang ingin bertanya pada Mita selalu aja ada penghalang yang membuat nya gak bisa menanyakan dimana tempat favorit Nada.
Bahkan Ghibran sempat mau bertanya kepada Reza, karena dia berfikir kalo ketua basket yang pernah menantang Nada itu mungkin tau.
Tapi gengsi nya yang tinggi membuat dia gak bisa menanyakan hal itu pada Reza.
......................
Malam minggu kelabu.....
Itu sebutan yang cocok untuk malam ini, bagi Ghibran tentunya.
Saat ini dia seorang diri ada di rumah. Mama nya seperti biasa belum pulang. Begitu juga papa.
Dia memilih bermalas malasan dengan tiduran di depan tv yang menyala tapi matanya malah tertuju pada ponsel.
Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan nya.
"Tv nyala bukan nya diliat malah di anggurin. Sampe gak denger ya ada yang masuk." kata seseorang yang kini ada di belakang nya.
Rasanya kenal suara ini... Tapi siapa yaa? Kata Ghibran dalam hati. Dia mendongak dan melirik ke belakang sofa, dimana orang itu masih setia berdiri.
Dan demi melihat siapa yang ada disana, orang yang sangat familiar tentu nya, Ghibran pun dengan cepat ikut berdiri.
"PAPA?!"
Tapi Ghibran terlalu terburu buru, dan itu membuat kakinya kelibet sendiri. Dan yaaah, kalian pasti tau lah, apa yang akan terjadi.. 🤣 🤣
Ghibran jatuh dengan gak elitnya. Ponsel nya terlempar, sebelah kakinya terantuk sofa, dan sebelah lagi malah terlipat di depan perut. Tangan nya yang satu menahan kepala, yang satu lagi terangkat ke atas (yang sebelumnya memegang ponsel).
"😂😂😂😂, kalo mau saltoo jangan di rumah Ghib.... Tapi di lapangan.."
Kalian ingat papa Ghibran?? Ya, dia lah yang sekarang menertawakan anak satu satunya ini.
Sanjaya Alvaska.
Ghibran segera bangun dari posisi gak etis nya itu. "Duuh... Papa bukan nya bantuin malah ngetawain.." ucap Ghibran sambil mengelus kaki nya yang tadi terantuk sofa. Untung di depan nya gak ada meja, kalau ada, maka kepalanya yang bakal jadi samsak.
Ghibran duduk lagi. Dia gak mempedulikan ke arah mana ponsel nya kelempar.
Papa Ghibran yang masih saja tertawa meletakkan bawaan dia di lantai. Dia pun mendudukkan diri nya di samping Ghibran.
__ADS_1
"Papa tumben pulang jam segini?.." tanya Ghibran sambil memicingkan mata. Dia bertanya karena papa nya itu biasanya pulang larut malam. Itu pun kalau ada di dalam negeri.
Maklum, papa Ghibran kan seorang CEO yang cukup sibuk sebab selalu turun tangan atas setiap proyek yang dibangun.
Sedangkan mama Ghibran adalah seorang pebisnis yang juga sangat sibuk. Pokoknya kedua orang tuanya itu selalu pulang larut dan berangkat pagi pagi. Bahkan kadang dalam seharian Ghibran melihat orang tua nya itu cuma di waktu sarapan aja.
Apalagi kalau keduanya udah pergi ke luar kota atau luar negeri, Ghibran jadi seperti anak yang kesepian di rumah.
Karena itu lah saat melihat papa nya ada di hadapan nya dan jam menunjuk angka 8, dia kaget sekaligus heran.
"Jadi gak mau nih kalo papa pulang jam segini?" bukan nya menjawab pertanyaan Ghibran, papa malah kembali bertanya. Sementara pandangan nya melihat ke arah tv yang menyala.
"Ya bukan gitu.... Ghib herman aja ama papa.."
"Heran Ghib, heran.... Pak Herman tetangga kita malah kamu bawa bawa... 🤣 🤣" papa tertawa lagi mendengar ucapan Ghibran.
Sifat dalam Ghibran memang aslinya itu receh... Tapi dia jarang menampilkan nya. Cuma pada mama dan papa nya dia kadang bersikap begitu. Itu pun kalau dia sedang dalam mood yang baik.
Bahkan Rangga yang notabene adalah teman dekat dan sangat dekat nya, dia juga gak tau sifat receh Ghibran.
"Papa cuma pengen nyempetin waktu buat kamu. Apa gak boleh?" tanya papa Ghibran sambil menunduk melepas sepatu nya.
Pak Sanjaya lalu melirik ke arah Ghibran, dan anaknya itu kelihatan lesu, seperti ada beban pikiran.
Pak Sanjaya kemudian kembali duduk menyandar dan menyilang kan kedua tangan nya di depan dada. "Kamu ada masalah Ghib?"
"Kenapa papa udah pulang tapi mama belum?" tanya Ghibran mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Mama mu masih sibuk. Kan perusahaan mama dan papa berbeda." jawab papa. "Cerita aja sama papa. Kamu ada masalah apa? Siapa tau kan papa bisa bantu.. Atau papa bisa kasih solusi."
Ghibran kembali melirik papa nya. Dia masih ada rasa sangsi untuk menceritakan problem nya. Apa lagi ini kan soal hati... Tapi, dia juga merasa butuh tempat curhat yang bisa memberi dia pencerahan. Dan manik mata papa juga menunjukkan keseriusan mau mendengar kan ceritanya.
Akhirnya dia pun memilih untuk bercerita tentang Nada. Bahkan Ghibran cerita dari awal pertemuan nya yang gak sengaja di malam hari, sampai akhirnya saat ini dia yang suka pada Nada tapi gak tau gimana cara mengungkap kan nya.
Papa Ghibran mendengar kan dengan seksama. Sesekali dia malah terbahak saat mendengar anak nya yang jadi idola di SMA nya, malah di cuekin oleh cewek bernama Nada itu. Dan hal itu sontak membuat pak Sanjaya jadi penasaran dengan sosok seseorang yang bisa meluluhkan hati beku anaknya.
Panjang lebar Ghibran berkata kata...
"Kalau papa dengar dari cerita mu, boy... Dia ini tipe anak cewek yang berbeda ya.." tanya papa Ghibran setelah Ghibran selesai berkisah.
Ghibran mengangguk.
Papa Ghibran kelihatan merenung sebentar. Dia berpikir, bagaimana mencairkan hati anak bernama Nada.
"Papa pikir, kalau kamu mengajak nya dinner, dia gak akan mau."
Lagi lagi Ghibran mengangguk.
__ADS_1
"Papa ada ide, boy... Dan ini untuk membuktikan kalau dia memang beda dan juga termasuk anak baik."
"Jadi maksud papa, dia gak baik gitu?" tanya Ghibran ketus.
"Bukan begitu boy, tapi papa cuma ingin kamu gak salah memilih. Dari cerita mu tadi, dia memang terlihat anak baik, tapi selalu ada seseorang yang menutup sifat asli nya."
"Terus menurut papa,, Ghibran harus gimana?"
"Kamu ajak dia bermalam di Puncak Bogor. BERDUA..." kata papa sambil menekan kan kata berdua.
"WHAT..... PAPA GILA...." Ghibran berteriak karena gak paham dengan pemikiran papanya ini.
Papa Ghibran menabok mulut Ghibran yang tadi mengatakan kalau dia gila.
"Autch...." Ghibran meringis.
"Makanya.... Ini tuh cara supaya kamu tau, dia itu bener-bener baik atau cuma bohong..."
Kali ini Ghibran mendengar kan dengan serius.
"Kalau dia setuju, berarti dia gak bener bener baik. Dan papa bakal menentang keputusan kamu buat bersama dia."
Ghibran membulatkan matanya.
"Dan kalau dia gak setuju, maka papa akan jadi orang pertama yang mendukung kamu...."
Perkataan papanya itu membuat Ghibran tersenyum.
Ghibran baru aja mau bertanya, tapi papa keburu melanjutkan perkataannya.
"Kalau dia nolak ajakan pertama mu, boy. Maka ini saran papa." kata papa kemudian membisikkan sesuatu kepada Ghibran...
Jangan dulu tau.... Ini masih rahasia... 🤣 🤣 🤣 🤣.
Wajah Ghibran sekarang berseri seri...
"Deal.... Rencana papa yang terbaik..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai hai dear readers.....
Kangen gak nih sama author....
Penasaran gak? Kalo penasaran, tetep pantengin the story ya.....
Jangan lupa pantengin terus kisah Ghibran and Nada yaaaa... Dan jgn lupa pencet jempol. Tinggal kan jejak... Jangan jadi pembaca gaib... Wkwkwkwk...
__ADS_1
Love you....