
Jangan lupa like, coment, dan masukkan ke daftar favorit yaaa
......................
Biasa kan like sebelum membaca
......................
Yaaaah, tanpa Ghibran sadar... Dia mulai menceritakan keadaannya saat berada di rumah. Di mana Mama dan Papa nya jarang sekali memberikan waktu luang untuk bersama.
Dia yang mencoba menarik perhatian, dengan cara mendapatkan peringkat terbaik di kelas maupun di sekolah. Tapi orang tuanya tetap sibuk dengan dunia kantornya sendiri.
Dan banyak keluh kesah yang disampaikan pada Nada pagi itu...
"Liat gue Ghib..." kata Nada begitu Ghibran berhenti bicara.
Ghibran mengangkat matanya dan melihat ke arah manik mata Nada.
"Lo beruntung...." ucap Nada pelan.
Ghibran mengernyit, merasa bingung dengan ucapan Nada barusan.. Beruntung?? Beruntung Dari mananya coba? Dia baru akan merasa beruntung kalau keluarganya bisa seperti keluarga normal lain yang bertebaran di sekitarnya.
" Gue tahu, lo pasti berkata sebaliknya dari ucapan gue.." tambah Nada melihat Ghibran yang malah termenung. "Tapi satu hal yang perlu lo tahu, satu hal yang perlu lo ingat, keluarga lo itu sempurna"
Ghibran mau memotong ucapan Nada, tapi Nada lebih dulu berkata, "Jangan, jangan dulu lo potong. Lo pasti berpikir, keluarga lo jauh dari kata sempurna. Tapi menurut gue, pemikiran lu itu salah... Lo masih punya orang tua lengkap. Mama dan papa lo masih ada.. Ya..... Meskipun mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tapi itu semua buat lo, bukan buat orang lain. Mereka sayang sama lo..."
" Kalau emang sayang, kenapa nyokap gue bahkan selalu bicara sinis sama gue? Anaknya sendiri?" tanya Ghibran sarkas.
Nada menghembuskan napas pelan. "Enggak semua orang itu bersifat sama, Ghibran... Lo yang udah kenal lama dengan nyokap lo, lo yang tahu sikap dia gimana.. Dan lo cuma perlu ngertiin.. Itu adalah hal yang sulit untuk kita ubah..
Pada dasarnya, semua orang tua itu pasti sayang sama anak-anaknya. Bahkan meskipun anak itu selalu membuat mereka malu.. Tapi rasa sayang mereka seringkali disampai kan dengan cara yang salah. Enggak semua orang Master dalam menyampaikan perasaan."
Ghibran kembali merenung memikirkan ucapan Nada.
"Keluarga lo sempurna. Lo bahkan masih bisa menatap wajah mereka secara langsung. Mereka masih hidup dan masih berjuang untuk kehidupan lo yang lebih baik. Lo harusnya sadar, diluar sana masih banyak orang, masih banyak anak, yang keadaannya bahkan jauh lebih buruk daripada lo.
Orang tua mereka udah gak ada, mereka gak bisa lagi menatap wajah Ayah dan Ibunya. Cuma bisa mengingat lewat kenangan-kenangan yang enggak bisa lagi dia gapai."
Nada terdiam sebentar, yang diucapkan nya itu tentang orang lain, atau dirinya sendiri??
" Lo tahu? Lo masih lebih beruntung, bahkan lebih dari Gue.. Orang tua gue udah gak ada. Mereka udah bahagia di surga. Sedangkan lo masih lengkap, dan mereka ada disamping lo. Ghib...."
__ADS_1
Mata Nada terlihat berkaca-kaca, suaranya juga mulai serak. Dan sekuat apapun Nada mencoba menyembunyikan nya, Ghibran tetap masih bisa melihat raut kesedihan dari mimik muka Nada.
"Dulu, keluarga gue utuh. Sampai saatnya, mereka harus pergi dan gue masih belum bisa menerima hal itu. Gue ingat, dulu mungkin umur gue sekitar 10 atau 11 tahun. Pulang sekolah, ngambil mangga tetangga adalah kebiasaan gue. Gue mau nunjukin hal itu sama Papa dan Mama.
Tapi sampai rumah......"
Ucapan Nada kembali terhenti. Dia mencoba menetralkan perasaannya, bayang-bayang Masa lalu itu tergambar jelas seperti TV rusak yang terus mengulang adegan sama di hadapan nya.
Dia ingat sekali, saat itu dia masih belum bisa menerima kepergian orang tuanya.
Dulu dia biasanya sangat suka mengambil mangga di rumah salah satu tetangganya. Kebiasaan yang sering membuat mama nya geleng-geleng kepala dan Papa nya cuma tertawa.
Dia biasa mengambil mangga dari pohon milik tante Katarina, terpisah empat rumah dari rumah nya. Dan tante Katarina pun udah hafal dengan kegiatan Nada yang satu itu. Dia juga gak pernah mempermasalahkan nya.
Hari itu, sekitar dua bulan setelah orang tuanya berpulang. Dia yang udah kembali masuk sekolah, begitu pulang dari sekolah dia mengambil mangga di tempat yang sama. Langsung dari pohon tante Katarina.
Dan kebetulan sekali, dia mendapatkan sebuah mangga yang besar dan matang.
Dia berlari pulang.
Tiba di halaman depan rumah, dia berteriak berkali-kali memanggil mama dan Papa nya. Dan teriakan nyaring Nada membuat Rey yang baru saja selesai homeschooling, terkaget.
Dia mengedarkan pandangan. Biasanya mama nya akan buru-buru menuruni tangga, dan papa akan langsung menyambutnya. Tapi ini...
Kosong....
Mangga itu terlepas dari tangannya, jatuh berdebam di atas lantai. Lalu Kak Rey datang dan melihatnya yang terdiam. Mata Nada terasa perih, kemudian air mata mengalir.
Dia sendiri kembali menyebut mama dan Papanya. Berharap dua orang dewasa yang selalu menemaninya itu segera datang. Tapi bukan mereka, justru Rey lah yang kini menghampiri dan memeluknya.
"Dek.... mereka udah nggak ada..." kata Rey lirih tapi masih bisa Nada dengar dengan jelas.
Nada mematung, masih merasa gak percaya dengan apa yang terjadi. Dia berharap ini semua cuma mimpi.. Tak lama, tangisnya pun pecah.
Ghibran kembali mengerjap kan mata...
Nada mendongak, mencegah air mata yang akan kembali membasahi pipinya. Ghibran terdiam mendengar cerita Nada yang begitu memilukan itu.
"Seenggaknya, lo masih ada di tempat yang sama dengan mereka, lo harusnya lebih bersyukur, Ghib... Karena di luar sana, banyak orang yang penderitaan nya berkali-kali lipat jauh di atas lo.
Mereka mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaan, tapi itu cuma buat lo. Mereka gak mau lo kekurangan dari segi materi. Lagipula, lambat laun salah satu dari mereka akan sadar lebih dulu.. Lo cuma perlu bersabar dan berdoa."
__ADS_1
Mendengar ucapan Nada tersebut, Ghibran kembali termenung. Dia mengingat papanya yang sekarang mulai sering ada di rumah saat malam hari, bahkan memberikan solusi atas apa yang harus dia lakukan.
Mungkin ucapan Nada benar, dia cuma harus sedikit bersabar, dan dia masih punya kesempatan.
Berbeda dengan orang lain yang nasibnya kurang beruntung.
Melihat Nada yang masih menahan air matanya, Ghibran pun secara refleks memeluknya dengan lembut. Dia cuma ingin memberikan sedikit kehangatan. Enggak ada niat macam-macam.
"Tangisin aja, Nad... nggak usah lo tahan." Ghibran berkata sambil mengusap punggung Nada.
Nada seketika merasa nyaman. Dia pun menggelengkan kepala. Dia udah capek untuk menangis lagi. Kali ini, dia ingin berusaha menahan air matanya.
Lagipula saat ini dia udah mengikhlaskan kepergian orang tuanya.
Setiap yang hidup pasti akan mati, kita hanya bisa menunggu giliran. Kapan nama kita akan gugur dari pohon catatan, dan itu adalah takdir yang nggak akan bisa kita ganggu gugat lagi.
Sekuat apapun kita berusaha..
Nada menghembuskan nafasnya, menetralisir air mata yang akan turun. Toh dia menangis pun orang tuanya tidak akan kembali.
Nada lalu menghilangkan bekas air matanya, setelah itu bangkit dan kembali duduk seperti semula..
"Yaaaa... Gue mulai sadar Nad, setelah denger cerita Lu... Mungkin selama ini gue terlalu fokus dengan diri gue sendiri, kehidupan gue sendiri. Sampai-sampai Gue gak sadar, kalau orang lain bahkan lebih parah kehidupannya." kata Ghibran..
"Syukur kalau lo udah bisa mengerti, karena bagaimanapun juga sikap mereka..."
"Mereka tetap orang tua gue..." Ghibran memotong perkataan Nada.
Mereka saling pandang, lalu tertawa renyah bersama. Ghibran tersenyum melihat Nada yang kini kembali tertawa..
Gue pengen selalu liat senyum dan tawa lo, Nad.... batin Ghibran dalam hatinya...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai hai hai.....
Makasih yaaa, kalian masih mau tetep stay di sini..
Jangan lupa pantengin terus kisah Ghibran and Nada yaaaa... Dan jangan lupa tinggalkan jejak.... Gampang kok... Tinggal pencet jempol ajaaa.
Love you, see you in the next episode... Babay...
__ADS_1