
Jangan lupa like, coment, dan masukkan ke daftar favorit yaaa
......................
Malam semakin larut, dalam perjalanan ke tempat yang ke dua ini, mereka lagi lagi tak banyak bicara. Hanya ada keheningan dan hembusan angin malam.
Oh ya, sebelum nya Nada sempat meminta untuk turun di masjid terdekat dan dia pun melaksanakan sholat magrib.
Dan susah sekali untuk membujuk Ghibran melakukan ibadah yang hanya sebanyak lima kali dalam sehari semalam itu.
Nada tetap masuk ke dalam masjid meskipun dia berjalan sendiri.
Ghibran hanya menatap datar kepergian Nada ke masjid itu. Memang cukup susah untuk di Jabar kan. Dia yang tak terbiasa melakukan ibadah kepada Sang Pencipta, merasa apa yang Nada kerjakan saat ini tak ada artinya.
Selepas Nada selesai beribadah, mereka pun langsung pergi dan kembali melanjutkan perjalanan.
Nada sendiri meskipun selalu membujuk Ghibran untuk sholat setiap kali mereka bersama, hanya menatap Ghibran tanpa ekspresi. Dia sebenarnya merasa heran dan kesal karena Ghibran tidak mau melakukan hal itu.
Tapi Nada juga sadar kalau itu adalah hak nya sendiri. Dan Nada hanya bisa diam dan tak lagi memaksa jika memang Ghibran gak mau melakukan nya..
Langit malam kini bertaburan bintang. Bulan sabit juga menghias malam di tengah tengah bintang yang berserakan.
Setelah sekian waktu mereka berkendara, akhirnya Ghibran menghentikan motor nya di sebuah taman bunga. Nada pun memilih untuk turun dan berjalan menghampiri hamparan bunga yang berupa rupa.
Nada menatap kagum ke segala arah. Dan taman itu menjadi lebih indah di malam hari karena dipasang belasan lampu hias redup dan beberapa lampu yang terang.
Nada lalu berkeliling ke sekitar dan mendapati di satu pojok, ada sebuah kemah yang berdiri tegak.
Dan Nada menoleh ke arah Ghibran yang ternyata sejak tadi mengikuti nya. Raut wajah nya seakan bertanya untuk apa semua ini.
Ghibran mengerti apa yang dia pikirkan. Dan Ghibran hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman kecil.
Ghibran lalu menarik pelan tangan Nada dan mengajak nya duduk di depan kemah. Ghibran lalu berbaring di rerumputan, Nada yang duduk di samping nya hanya menatap. Masih berharap pertanyaan nya dijawab.
Tapi bukan nya menjawab, Ghibran malah kembali menarik Nada agar ikut berbaring. Mereka pun melihat pemandangan langit yang sebenarnya disini.
"Lo pasti mau nanya, buat apa semua ini? Ya kan?" tanya Ghibran setelah mereka cukup lama berdiam.
Nada hanya mengangguk.
__ADS_1
"Yaaaah, anggap aja ini adalah awal dari sebuah hubungan."
Nada yang mendengar ucapan seperti itu pun melirik Ghibran. "Maksudnya?"
"Entahlah..." Ghibran menjawab singkat. "Apa lo suka??"
"Hal yang paling gue sukai di dunia ini adalah melihat keindahan alam. Dan jujur aja, gue shok saat liat tempat ini. Begitu fantastis. Dengan desain yang romantis." jawab Nada sambil tersenyum tipis.
"Berarti gue gak salah dan gak sia sia nyiapin semua ini sejak tadi siang." gumam Ghibran tapi masih bisa terdengar oleh Nada.
Mereka kembali melihat langit yang bertaburan bintang.
Kalau mau mengikuti keinginan nya, Ghibran sudah akan menembak Nada sejak melihat tatapan penuh kekaguman yang dipancarkan sorot mata Nada. Tapi rasa gengsi dan takut akan sebuah penolakan membuat dia gak mampu mengungkapkan nya.
"Lo tau Ghib, lo salah satu orang yang bisa bikin gue nyaman."
Ghibran menaikkan satu alis saat Nada mengatakan hal itu.
"Lo tau, seseorang pernah bilang sama gue, bintang bintang adalah harapan di balik gelap nya malam. Dan doa adalah harapan di balik sebuah keberadaan."
"Maksud lo?" Ghibran bertanya pelan sedangkan mata nya kini kembali melihat cewek yang ada di sisi nya itu.
Ghibran berfikir sesaat, "Gue gak nyangka sih awalnya. Tapi lama kelamaan gue maklum aja." Ghibran lalu memejamkan matanya. "Tapi yang gue heran, lo kan masuk dunia jalanan, kok lo suka sholat sih?"
Nada terkekeh pelan mendengar pertanyaan Ghibran yang baginya cukup aneh. Dia berfikir apakah ada yang salah ketika seorang anak jalanan melakukan sebuah ritual ibadah yang wajib dilaksanakan oleh orang muslim.
"Salah ya, kalau anak jalanan suka sholat?" Nada malah balik bertanya.
"Bukan gitu..." Ghibran malah jadi kebingungan sendiri gimana dia mau mengatakan nya.
"Lo tau Ghib, gue emang cewek liar, tapi gue juga berprinsip. Yah, jujur sih. Dulu gue juga jarang sholat. Tapi ada orang yang menyadarkan gue. Lagi pula, apa yang gue lakuin kan akan kembali ke diri gue sendiri. Dia bilang...." ucapan Nada terhenti sebentar. Dia terlihat menerawang.
Mengingat wajah seseorang yang sangat berharga dan berarti. Wajah yang sekarang gak akan pernah bisa dia lihat lagi langsung. Cuman bisa mengenang masa lalu dan melepas rindu lewat foto.
" Dia bilang..... Kamu tau, kita boleh aja nakal, tapi kita tetep harus sadar, kita ini adalah makhluk yang di ciptakan buat ibadah. Sebelum kamu mau meminta kepada Allah, kamu harus nya menyembah Nya dulu kan. Karena kalau kita meminta tanpa mau berusaha, maka jatuh nya kita jadi gak tau diri. "
Nada kembali tersenyum. Tapi kali ini Ghibran melihat senyum itu lebih seperti senyum miris.
"Itu adalah beberapa kata terakhir nya sebelum dia pergi. Dan gue gak pernah bisa liat dia lagi. Dan kata kata itu jadi sebuah pegangan buat gue. Pegangan yang akan terus gue genggam."
__ADS_1
Ghibran mendengar kan dengan seksama. Dan dia akhirnya memiliki pikiran bahwa sholat memang harus dilakukan.
Entah apa yang terjadi dengan pemikiran nya, dia yang sebelumnya begitu sulit sekali untuk di bujuk oleh Nada, kini hanya oleh beberapa kalimat yang Nada ucapkan, dia menjadi sadar akan pentingnya ibadah yang mengandung sebuah makna.
Malam itu, ditengah ribuan bintang, mereka larut dalam renungan masing-masing. Dan Ghibran mempunyai sebuah hal baru yang harus ia lakukan. Sholat..
Saat mereka saling terdiam dan memandang langit, Ghibran kemudian memikirkan ucapan Nada tadi. Siapa yang mengatakan hal itu pada Nada?
"Nad, boleh gue tanya satu hal?" Ghibran bertanya dengan sedikit ragu ragu.
"Mau nanya apa emang?" jawab Nada dengan melontarkan pertanyaan tanpa memandang Ghibran.
"Siapa yang lo maksud?"
Nada mengernyit. "Gue gak nge maksud siapa siapa..."
Ghibran mendengar itu menghela napas. Haruskah dia menjelaskan dengan detail?
"Siapa yang bilang kayak gitu ke elo? Apakah orang itu orang yang lo sayang?"
"Yaaah, dia orang yang sangat gue sayang."
Jantung Ghibran serasa bergetar mendengar nya. "Siapa?"
"Namanya Bagas."
"Bagas? Siapa?" tanya Ghibran lagi.
"Lo mau tau dia siapa?" tanya Nada yang mendapat anggukan dari Ghibran. "Dia adalah......."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hei hei hei dear readers....
Maaf ya, author baru up lagi... Ada aja kesibukan di real life yang bikin author gak bisa mikirin kelanjutan kisah Nada.
Jangan lupa pantengin terus kisah Ghibran and Nada yaaaa... Dan jangan lupa tinggalkan jejak.... Gampang kok... Tinggal pencet jempol ajaaa.
Love you, see you in the next episode... Babay...
__ADS_1