
Jangan lupa like, coment, dan masukkan ke daftar favorit yaaa
...****************...
Hari hari berlalu seperti biasa, nggak ada kegiatan spesial yang harus diceritain. Itu sih bagi Nada yaaa...
Sementara Ghibran malah sibuk dengan pikirannya. Ya... apalagi kalau bukan soal mau pergi ke pantai dengan Nada. Walaupun itu bukan date, kencan, atau semacamnya.
Tapi dia sekarang tegang sendiri.
Oh ayo lah, siapa sih yang enggak bakal tegang atau gelisah, kalau mikirin bakal pergi berduaan ama orang yang disukai. Kalian pernah ngerasain itu??
Di kelas, Ghibran mondar mandir gak jelas, dan kebetulan sekarang belum ada satu pun murid sekelasnya yang datang.
"Gimana besok aja, Nad... Kita ke pantainya" Ghibran sang juara balok es itu lagi belajar gimana cara untuk ngajak Nada.
Maklum kan lah ya, dia itu bukan cowok yang udah pernah dekat dengan cewek, gak pengalaman. Baru kali ini aja, ditambah lagi cewek yang dia sukai itu sama-sama bersifat datar, dingin, cuek, kaku. Yaaa itulah Nada.
"Ah enggak enggak.. Duh... gimana ya gue ngomongnya."
"Ke pantai nya besok yuk, Nad.."
Ya.... Stres sendiri dia. Ghibran mengacak rambutnya karena frustasi.
"Duh... Gue grogi. Bisa nggak ya gue ngomongnya... Aaargh..."
Ghibran bicara sendiri sambil mendudukkan dirinya di kursi nya.
Tiba-tiba dari pintu kelas, ada seseorang yang masuk. Dan mendengar suaranya pun Ghibran tahu itu siapa.
"Baru sekarang oh abang rasakan.... Diputus pacar rasanya kesepian.... E e e e e Neng cantik.. kenapa kau tak pulang-pulang... katanya pergi perawatan... Tapi kini malah menghilang..."
"Berisik, Koplak!" teriak Ghibran mendengar nyanyian gak jelas yang berganti-ganti itu. apalagi kata-katanya juga ikut diganti. Bikin pusing..
Yang diteriaki cuman nyengir gak jelas, sambil memasang wajah innoncent nya.
"Cih... Sok polos lu."
Si koplak yang tak lain adalah Rangga itu pun mendekati Ghibran yang sedang duduk tanpa semangat.
"Kenape lo kas??"
"Kas kas.. Emang uang kas apa?!"
"Kulkas be*o. Bukan uang kas."
"Lah kan lu bilangnya cuma kas doang."
"Kenapa tuh muka lu kusut amat kayak baju Abah gue?" tanya Rangga sambil menghempas kan pantatnya di atas kursi di samping Ghibran.
"Ngomong ama lu mah ntar bukan dapat solusi, malah jadi ember bocor lu."
"Bocor.. Beli no drop... 🤣" Rangga tertawa sendiri. "Lu mah tega..." tambah nya sewaktu melihat Ghibran yang malah gak menggubris nya.
Males mendengarkan Rangga yang bakal mengoceh, Ghibran pun menelungkupkan kepalanya di atas meja, dan kedua tangannya dipakai untuk menutup kupingnya.
"Ghib.... Lu mah enggak etis sebagai seorang sohib. Gue mau ngomong malah lu kacangin. Kacang garing.... Sekilo lima juta...
"Jangan berisik napa lu pekok.!"
Di tengah-tengah keributan mereka berdua, Nada masuk dengan wajah dingin nya.
Di belakang Nada, ada dua anak Onta yang mengintil. Ehh... Salah. Anak orang maksudnya, bukan anak onta..
Suara Mita yang nyaring plus cempreng itu menghentikan ocehan dua orang yang ada di dalam kelas itu.
"Nadya Alifah.... Lihat nih... Kelas masih kosong." teriak Mita.
Nada tetap berjalan tanpa menghiraukan dua orang pengintil itu.
"NADA....." teriak nya lagi.
__ADS_1
"Udah atuh Neng... Nggak capek apa itu pita suara teriak mulu dari tadi.. Gue aja yang dengernya pusing." malah Adan yang menanggapi.
"Lagian, lihat tuh temen lo..."
"Temen lo juga kaliii"
"Bodo ah."
"BERISIK...."sentak Nada.
"Lagian ngapain berangkat nya harus sepagi ini sih?? Kayak gak ada kerjaan aja.."
Nada gak menyahut. dia tetap jalan ke tempat duduknya sambil memegang tali tas yang nyampir di pundak nya.
Tapi Nada ternyata cuma menyimpan tasnya itu secara sembarangan, kemudian berlalu pergi dari kelas. Mita yang bertanya pun enggak digubris oleh cewek itu, membuat cewek yang terkenal dulunya Cupu itu memaki berkali-kali.
Ghibran sejak tadi malah dia menjadi pendengar setia tanpa berucap apa-apa. Sedangkan di sampingnya, Rangga malah menganga dengan nggak etis nya.
Dia masih belum terbiasa dengan sikap bar bar si cewek yang sering dia ledek cupu itu.
Melihat Nada yang berlalu begitu aja di kelas, Ghibran akhirnya memilih mengikuti. Waktu ditanya Rangga, dia malah beralasan mau ke toilet.
...****************...
Di depan kelas Gibran berjalan linglung, karena Nada ternyata udah gak ada, menghilang dari pandangan, bagaikan sebutir debu yang tertiup angin.. Wkwkwkwk.. Sorry sorry... Author lagi halu..
Tanpa dia sadar, dia malah berkeliling koridor seperti orang yang gak ada kerjaan. Ghibran melirik jam tangan berwarna coklat yang melingkar di tangan kirinya.
Buset dah.... Bentar lagi bel. Tapi tuh cewek belum ketemu. Kemana ni anak.. batin Ghibran yang ngedumel kesal.
karena dia masih melirik kearah tangan kirinya itu, dia gak menyadari kalau dia berjalan searah dengan seorang cewek yang wajahnya tertutup dengan tumpukan buku.
Dan ya ya ya.... Pasti kalian tahu lah kan ya... Apa yang akan terjadi...
BRUKKKK......
Keduanya bertabrakan.
Di ujung koridor, Nada yang baru saja akan kembali ke kelas nya, setelah puas di ruangan beribu buku, ya dari mana lagi kalau bukan dari perpus.. Dia melihat pemandangan itu sambil berdiri diam dan menyedekapkan dua tangannya.
Ghibran yang masih kaget karena terjatuh tadi masih diam saja. Dia tersadar sewaktu cewek itu berkali-kali mengatakan maaf sambil membereskan buku-buku yang masih berserakan.
Di ujung sana, Nada mengerutkan keningnya melihat Ghibran yang masih diam dan bersikap bodoh.
Ghibran akhirnya membantu merapikannya. Dia juga minta maaf atas keteledoran nya tadi. Setelah selesai Ghibran langsung berbalik pergi ke kelasnya tanpa menghiraukan cewek yang dibantu tadi.
Toh gue udah minta maaf, kan... Ghibran membatin. Dia pergi tanpa memperhatikan ujung koridor tempat cewek yang dia cari itu berdiri.
Melihat sikap Ghibran yang seperti itu, Nada mengulum senyum tipis. Lama-lama lu makin mirip ama dia...
Nada pun berjalan lagi untuk kembali ke kelasnya.
...****************...
Skip bae lah...
Ting Ting Ting... Bel istirahat berbunyi.
Murid-murid itu pun pergi ke tujuan masing-masing. Ada yang pergi ke perpus, ada yang ke kantin, ada yang ke lapangan basket, dan ada juga yang cuma bergerombol nggak jelas.
Sementara Nada yang berniat ke perpus lagi, emang dasar kutu buku tuh bocah.. 🤣.. Malah ditarik ke arah lain, ke kantin, karena Nada sedang males berdebat... Akhirnya dia pun pasrah saja ditarik-tarik begitu.
Ghibran pun cuma geleng-geleng kepala melihat interaksi mereka. Dia sendiri emang sedang jalan ke arah yang sama dengan sohib koplaknya itu.
"Kenapa lu geleng-geleng nggak jelas begitu?" tanya Rangga yang fokus jalan sambil mengotak atik ponsel nya. Jadi dia ga melihat insiden tarik-tarikan Mita dan Nada.
Ghibran nggak menjawab, membuat Rangga mendengus.
Sampai di kantin, Ghibran merasa heran karena keadaan yang begitu hening. Dia pun mengedarkan pandangan nya.
Dan Ghibran terkejut dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
Apa kah itu.....?
Di ujung sana, seorang cewek sedang bersandar sambil menyilangkan dua tangan di depan dada. Di depannya ada seorang cowok yang Ghibran cukup kenal.
Ketua basket sekolah.
Dia menyandarkan sebelah tangannya seolah-olah menghalangi si cewek agar tidak kabur.
Di belakangnya, berdiri dua orang cowok cewek dan tiga orang cowok. Jelas tiga orang cowok itu dari kelompok si ketua basket. Dan cowok cewek itu pendukung si cewek yang bersandar santai.
Mereka yang membuat kantin begitu hening dan sepi, karena banyak yang penasaran dengan pembicaraannya.
Yang membuat Ghibran lebih terkejut lagi adalah, si cewek yang sedang bersandar itu.
Rangga juga ikut melihatnya. "Lah Ghib... Itu kan si Nada.." kata Rangga ketika menyadari siapa yang ada di depan sana.
"Set dah tuh kutub.. Maen nyelonong aja." kata Rangga melihat sohib nya itu udah mendekati mereka. Rangga pun memilih untuk menyusul langkah Ghibran.
"Gimana... simple kan, permintaan gue?" suara si ketua tim basket itu terdengar nyaring.
Kantin serasa suram sebab begitu hening.
Ghibran mengerutkan keningnya, Permintaan... batin Ghibran.
"Heh Reza, nggak bosen apa sih sejak dulu lo gangguin Nada terus? nggak ada bosen-bosennya ya lo." suara cewek di belakangnya yang tak lain adalah Mita..
Ketua basket bernama Reza itu menoleh kearah Mita, "Ternyata seorang Nona muda Adinata suka ikut campur urusan orang lain ya.." ucap cowok itu dengan nada merendahkan.
Mita tersenyum miring. "Heh... Selama yang lu usik adalah orang yang ada di sekitar gue, gue gak akan tinggal diam. Gak nyangka gue, seorang Reza yang terkenal kharisma nya karena jadi seorang ketua basket sekolah, ternyata gagal move on dari cewek temennya sendiri. Dasar pengkhianat!!"
Ucapan terakhir Mita itu membuat Reza membalikan badannya." Apa lo bilang?!"
"Udah kan tadi gue bilang.. PENGKHIANAT...."
"Apa maksud ucapan lo?!"
"Oooh... Apakah harus gue absen satu per satu kesalahan lo? Gak cukup ya dulu elo selalu berusaha misahin Nada sama Bagas? Gak cukup persahabatan kita hancur karena keegoisan lo?.."
"STOP..... Mita diem.." Nada menekankan ucapannya. "Ini masalah gue sama dia"
"Tapi kan, Nad.."
"Kalo lo cuma mau bahas masa lalu, jangan di hadapan banyak orang."
Mita mengedarkan pandangannya, "Sorry sorry" dia pun sadar karena ternyata mereka sejak tadi menjadi bahan tontonan.
"Masalah lo... Sama gue." kata Nada kepada Reza.
"Ayolah by, lo gak berubah sejak dulu. Ini yang bikin gue pengen dapetin lo."
"Lo kira gue babi!!"
"Okelah.. Kita balik ke topik awal. Jadi gimana? Lo pilih Kita tanding basket, tapi kalau kalah lu harus jadi pacar gue. Atau lo pilih kita balapan. Kalau kalah lu jadi tunangan gue?" tanya Reza dengan santainya.
Tapi ucapan itu membuat Mita dan Adan meng gertakkan giginya, dan membuat Ghibran kaget setengah mati dengan kata-kata ketua tim basket nya itu.
Nada sendiri memutar bola matanya malas, seolah ucapan itu gak penting sama sekali.
"Lo nantangin gue??" kata nada datar dan dingin...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai hai hai dear readers...
Sorry aku baru Come back.....
Soalnya begitu banyak permasalahan yang sekarang ak hadapin... Maaf ya.. Gak bisa sesuai keinginan kalian...
Jangan lupa like coment dan VOTE...
Tinggal kan jejak yaaaa
__ADS_1