
Happy reading all....
......................
Sementara di sisi lain, ada Mita dan Adan yang sibuk dengan permainan berbahan stick alias PS didepannya.
"Lu mestinya ke kanan..."
"Kiri, Beb..."
"KANAN!"
"Ya udah... Iya ke kanan."
Terlihat jelas ruangan yang mereka berdua tempati itu sangat mirip dengan kapal pecah. Handuk di atas sofa, remote TV ada di dalam piring bersama dengan cemilan kering, botol minuman kosong dan bungkusan snack bertebaran di sekitar. Belum lagi 3 buah novel yang tergeletak begitu saja di sofa bersama dengan handuk.
Dan dua makhluk itu bahkan tidak ada niat untuk membereskan kekacauan yang terjadi.
"Cepetan tolongin... Gue udah mau mati nih.." teriak Mita keras. Adan yang ada di samping Mita segera mengusap telinganya yang serasa berdenging.
"Suara lu kayak toa amat sih, yank..." ucap-nya memelas.
"Yah yah yah.... game over..." Mita mendengus sebal saat dia kalah dalam permainan. Dengan kesal, dia melempar stick PS yang dipegangnya sejak tadi.
"Jangan dilempar Yank... Sayang kan nanti rusak..." Adan menatap stik PS miliknya yang kini tergeletak begitu saja. "BERISIK.." Mita ngegas sambil bangkit dari duduknya dan pindah ke sofa.
Tak lama kemudian, dari balik pintu yang setengah terbuka, muncul seorang wanita dengan rambut blonde. Mata wanita itu membola. Dia menghitung berapa banyak kekacauan yang terjadi di hadapannya.
"DANDANG..... MIMIN....." teriaknya dengan suara menggelegar.
Mita sampai terlonjak bangun dibuatnya. sedangkan Adan yang masih melanjutkan bermain PS, malah gak bergeming sama sekali. Mita berbalik dan melihat siapa yang kini berkacak pinggang di dekat pintu.
Mampus gue.... Batinnya
"Hehehee, peace Tan...." Mita nyengir sambil mengacungkan dua jarinya ke atas. "Btwol ni yah, tan... My name is Mita... NO Mimin, suka banget sih ganti-ganti nama orang."
"Kagak duli Tante mah. Ini lagi anak satu, pulang sekolah tuh bukannya makan, mandi, malah main PS sampai sore." Diana Prayuda yang tak lain adalah mama dari Syahdan alias Adan itu mendekat dengan wajah galak.
Dan sampai saat ini, Adan belum sadar musibah apa yang akan menimpanya sebentar lagi. Tangan tante Diana terangkat. Tak lama kemudian terdengar teriakan Adan yang menggelegar seantero ruangan.
"AAAAAA....."
Mita bahkan harus menutup kedua telinganya dengan kaki... Eh maksudnya tangan.. Yakali kaki.. 😌😌😌
"Yank, sakit Yank.... Napa asal jewer sih.." ringisnya sambil menggeliat-geliat tanpa melihat siapa yang dengan tega menarik telinganya.
Tapi saat dia menoleh ke samping, membuat jeweran itu semakin mengencang, dia malah melihat Mita yang sedang menampilkan senyum Pepsodent dengan wajah tanpa dosa.
__ADS_1
"Gue gak urus.. Selamat menikmati.." ucap Mita tanpa suara sambil menjulurkan lidahnya bermaksud mengejek.
Barulah Adan sadar, tangan siapa yang masih nangkring dan membuatnya menjerit tadi. "Aduh duh Bun... Udah ya Bun, sakit nih..."
"Bagus ya! Baru juga bunda tinggal 3 jam, udah kayak di tinggal seabad kamu. Mana ini kamar, ya ampun......" tante Diana menghela nafas pelan, merasa kesal dengan anaknya yang satu itu.
Wanita itupun memelintir telinga anak nya lebih keras. "Aduh Bun, lepas...." rengek Adan memelas.
Mita menggelengkan kepala karena tingkah kekanak-kanakan pacarnya itu.
"Udah salat dzuhur belum, kalian berdua?" tanya Tante Diana sambil melotot. Dan tangannya kini udah lepas dari korbannya.
"Udah, Tan." Mita yang menjawab. sedangkan Adan kini mengusap-usap korban sang Bunda yang warnanya jadi sangat kemerahan.
"Pokoknya Bunda gak mau tau! 30 menit dari sekarang, tempat ini harus sudah rapi. Kalau Bunda ke sini masih berantakan, kalian berdua kagak boleh makan. Titik..."
"Yaelah, Bun. Tega amat sama anak sendiri. Masa iya kagak dikasih makan..."
"Bodo amat. Ora urus.." nyinyir tante Diana sambil berlalu pergi, meninggalkan dua anak menyebalkan itu. Salah apa dulu gue presto anak belum keluar dari liang orok? Batinnya mendumel kesal.
Adan mendengus. "Udah tuh muka kagak usah begitu... Cepet kerjain.." Mita langsung mengambil dan merapikan apa yang ada di sekitarnya. Mau gak mau ada pun mengikutinya.
"BTW Yank..." panggil Adan.
"Hmm, apa?" jawab Mita sambil melipat handuk yang tadi ada di sofa.
''Si Nada, itu benar pacaran sama kulkas berjalan?? "tanya Adan penasaran." Kelihatannya sih.... Iya.'' ucap Mita santai.
"Ya udah sih beb. Yang penting sahabat kita itu bahagia. Selama hampir dua tahun ini kan, dia udah terpuruk banget." lirih Mita yang mengerti arah keraguan pacarnya itu.
"Huuuft" Adan menghembuskan nafas resah. "Gue cuma takut, Yank. Tau sendiri kan. Gimana cinta dan sayangnya si Nada sama Bagas. Gue cuma takut, dia hanya nyari pelampiasan. itu bakal berdampak buruk buat dia sendiri."
"Yaaaah.... Kita cuma bisa mendukung keputusan Nada, Beb. Semoga aja Nada benar-benar membuka hati dan ngelupain Bagas, yang bahkan nggak akan kembali."
"Huh.... Iya. Kita harus selalu mendukung dia."
"Lagian nih ya, si Ghibran itu tulus kok, sayang ama Nada. Belum lagi, dia itu tipe cowok yang setia. Dia juga belum pernah pacaran loh." tutur Mita yang nggak sadar, raut wajah Adan berubah masam.
"Kenal banget kayaknya ama si kulkas.." sindirnya.
"Dih.... Bukan gitu ya..." Mita jadi sebal sendiri.
"Sekarang tuh anak di mana, Yank?" Adan bertanya untuk mengalihkan pembicaraan. Soalnya dengan tensi Mita yang mulai terlihat ngambek, padahal harusnya dia yang marah... Adan nggak akan tahan kena amukan nya.
Mita mengedikkan bahu acuh. "Lagi pacaran kali."
Mereka berdua sejak tadi mengobrol dengan tangan yang berhenti bekerja. Otomatis kamar itu masih berantakan. Cuma handuk dan piring snack yang udah kembali ke tempat asalnya.
__ADS_1
"DANDANG... MIMIN...." teriak tante Diana saat masuk dan masih melihat kekacauan di mana-mana.
Wkwkwkwk.. Mamam tuh amukan..🤣 🤣 🤣
......................
Sport hitam itu kini melaju cepat diatas jalanan beraspal, mengarah ke tujuan berikutnya. Setelah hampir 15 menit keduanya terus diam tanpa suara, akhirnya Ghibran menghentikan mobilnya di depan sebuah taman bunga yang sangat sepi.
"Nad..." panggil Ghibran menyadarkan Nada dari lamunan.
Nada yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh, dan mendapati senyum manis Ghibran.
"Li pake ini dulu, ya." ucap Ghibran sambil mengeluarkan secarik kain penutup mata.
"Buat apa tuh?"
"Kejutan, lah. Makanya tutup dulu mata lo."
"Elo gak ada niatan culik gue, kan?"
Senyum Ghibran terganti dengan dengusan sebal. "Ya kali gue nyulik lo. Kagak ada ruginya."
"Hah??!"
"Eh salah. Kagak ada untungnya. Udah lo pake aja. Gue gak bakal gigit kok." Nada pun mengalah dan memakainya.
Kemudian dia dituntun oleh Ghibran, menuju ke tengah-tengah taman yang disana terdapat banyak balon berbentuk hati, lengkap dengan sebuah meja bundar dengan lilin menyala di atasnya. Ghibran membuka kain yang menutup mata Nada.
Dan saat ia membuka matanya, dia cukup terkejut. karena yang dilihatnya menurutnya sangat indah. "Apaan nih?" tanya Nada.
Ghibran mengambil salah satu balon, lalu berdiri dihadapan nada. "Nad, mungkin gue terlalu cepet buat bilang ini. Tapi jujur, gue pengen ngungkapin kalau gue..." Ghibran begitu tegang saat mengatakannya. Bahkan dia terlihat sedikit gugup.
Melihat ekspresi Ghibran yang tegang, Nada pun ikut ikutan tegang.
"Kalau gue..." Ghibran yang akan menyelesaikan ucapannya itu, tiba-tiba terhenti. Karena terdengar suara dering telepon Nada yang cukup nyaring.
"Bentar-bentar,.." ucap Nada lalu sedikit menjauh dan mengangkat teleponnya.
"Halo.. Iya kak???"
Begitu selesai di dunia perteleponan, Nada segera menghampiri Ghibran.
"Sorry, Ghib... Bisa nggak kita pulang sekarang? Kak Rey bilang ada yang pengen nemuin gue." ucap Nada yang langsung lupa dengan kejadian sebelumnya.
Gibran mengangguk lesu.
Gagal deh.....
__ADS_1
......................
Bye all....