
Alex yang awalnya ingin menyelidiki tentang Rara dan anak kembarnya, harus mengurungkan niatnya. Karena masalah perusahaan yang sedang mengalami kerugian cukup besar. Alex yang awalnya sangat teliti, harus kecolongan dengan poin-poin yang sangat merugikan perusahaan nya. Pikiran yang kurang fokus sehingga perusahaan Cempaka Group berhasil menjebaknya.
''Bagaimana?, apakah kau sudah mendapatkan apa yang saya minta?''.
''Sudah tuan, seperti yang tuan minta. Perusahaan Cempaka Group memanipulasi pajak beberapa tahun belakangan ini dan ada beberapa catatan hitam yang akan semangkin memberatkan mereka jika berita ini tercium oleh media''. Ucap Max.
Alex tersenyum smirk. ''Berani bermain-main dengan ku!, Maka rasakan kehancuran mu!''.
''Dan tentang wanita itu, apakah ada yang mencurigakan?''.
''Orang-orang kita mengatakan, gerak-gerik nya tidak ada yang mencurigakan tuan. Seperti biasanya''.
''Baiklah, kau boleh keluar Max!''.
''Baik tuan, permisi''. Max melangkah kaki kembali ke mejanya,
''Mama!, Mama nanti Aci mau tas yang ada gambal belbienya ya, dan belwalna pink ya ma''. Arsy terlihat sangat antusias saat sang mama, mengajak mereka untuk mencari peralatan sekolah.
''Baiklah sayang, nanti kita cari yang berwarna pink dan ada Barbie ya. Kak Arsya mau tas seperti apa nanti?''.
''Kita Lihat nanti saja ya Ma!, soalnya Arsya bingung mau beli yang bagaimana Ma''.
''Baiklah, Ayo! kita berangkat. taksinya sudah menunggu''. Rara menggandeng kedua anaknya.
''Mir!, saya keluar bentar ya mau nyarik perelatan sekolah si kembar. Nanti kalau ada apa-apa hubungan saja saya''.
__ADS_1
''Iya mbak. Hati-hati mbak''. Jawab Mira. Mira karyawan baru di toko Rara, sudah sekitar 1 Minggu lebih Mira mulai bekerja.
Sepanjang jalan Arsy tak berhenti berceloteh, Mengomentari dan bertanya sesuatu yang menarik perhatian, membuat Rara kebingungan menjawab dan menanggapi omongan Arsy.
Rara sepanjang jalan terus merasa bersyukur dengan hidup nya sekarang, setelah tahun-tahun lalu melewati kesulitan hidup sebagai single mom untuk si kembar dan dan sandaran bagi adik-adiknya. Tak pernah terlintas dalam pikiran Rara, ia bisa sampai di titik seperti sekarang. Walaupun belum mempunyai toko dan rumah sendiri, tapi Rara tetap mensyukuri nya. Untuk kebutuhan anak-anak dan adiknya terpenuhi, dan tidak merasa kekurangan saja Rara sudah sangat bersyukur.
Walaupun kadang terbesit keinginan nya memiliki rumah dan Toko sendiri, Namun Rara harus bersabar. Rara yakin suatu saat nanti Rara akan bisa mewujudkan nya.
''Wooaah, Besal sekali tempat nya Ma''. Arsy bersorak senang saat mereka sampai ke tempat tujuan. Ini pertama kalinya sang mama mengajak mereka ke mall terbesar di daerah nya. Walau Mall tersebut tidaklah jauh dari rumah mereka, namun mereka tidak pernah mendatangi nya.
Arsya pun terlihat takjub menatap sekeliling nya, sama halnya dengan sang adik. Arsya pun juga mengagumi tempat tersebut, hanya saja tidak seperti sang adik yang terlihat heboh, Arsya masih bisa mengendalikan diri.
''Arsya dan Arsy suka tempat nya''. Tanya Rara
Rara hanya tersenyum menanggapi ucapan sang putri,
''Arsy!, pelankan sedikit suaramu. Lihatlah mereka semua menatap ke arah kita''. Arsya memperingati sang adik.
Bukan Arsy namanya kalau menurut ucapan sang kakak, Diam nya hanya untuk beberapa saat saja, setelahnya mulai heboh kembali. Apalagi saat melihat tas berwarna pink dengan berbagai model gambar Barbie.
''Woaahh, semuanya telihat cantik-cantik Ma. Aci bingung cekali mau pilih yang mana Ma?''. Arsy sangat kebingungan memilih tas nya Ma, pasalnya dia menyukai semua model dan warna-warna tasnya.
''Mau Mama pilihkan tidak?''. Tanya Rara, saat melihat sang anak kebingungan.
''Mau Ma!, Kila-kila bagus yang gambal Eca atau lapusel Ma''.
__ADS_1
"Ekhm, Sebentar!. Mama Rasa kalau buat Arsy pilih yang ini saja sayang, yang gambar Elsa. Tidak terlalu besar kalau Arsy pakai''. Ucap Rara memberikan saran.
''Baiklah Ma, Aci pilih Eca aja. Woaahh,, Aci suka sekali''.
''Kalau Arsya, pilih yang mana sayang?''. Setelah dari tadi fokus dengan Arsy, Baru lah Rara menanyakan sang putra.
''Sepertinya, Arsya mau yang ini saja Ma''. Setelah puas melihat-lihat, pilihan Arsya jatuh pada tas yang bergambar Iron Man.
''Baiklah, karena kalian sudah mendapat tas nya. Sekarang kita tinggal cari sepatu, Let's go!''...
''Oke, Let's go''. Ucap Arsya dan Arsy bersamaan.
Tampa Rara sadari, sedari tadi ada mata yang selalu mengawasi setiap pergerakannya.
Leo, Pria yang di tugaskan Max untuk memantau pergerakan Rara, Atas perintah Alex.
Alex mulai memantau pergerakan Rara, setelah membaca data diri Rara. Entah kenapa, Alex sampai melakukan. Alex seperti memiliki daya tarik tersendiri kepada si kembar, apalagi saat melihat tatapan anak lelaki itu, Tatapan yang sama persis seperti miliknya, terlihat mengintimidasi.
Sebenarnya Alex sendiri mempunyai rencana, untuk melakukan Tes DNA secara diam-diam, namun untuk sekarang mungkin belum bisa. Alex tidak mau terlalu buru-buru, karena takut Rara merasa curiga.
Alex akan melakukan rencana nya, saat si kembar mulai bersekolah nanti. karena menurut orang-orang, dalam waktu dekat ini si kembar akan mulai masuk taman kanak-kanak. Dan di situ lah Alex akan menjalankan rencana. Alex merasa, dengan melakukan tes DNA akan membuat pikiran tenang serta menghilangkan praduga yang hingga di kepala nya. Bertanya langsung dengan wanita itu pun percuma, karena Alex yakin, Rara akan menghindar darinya.
Kalau untuk bagaimana hasilnya nanti, Alex tidak mau memikirkan nya sekarang. Alex berharap bahwa si kembar itu bukan darah daging nya, supaya hidupnya bisa tenang dan tidak menjadi ancaman untuk rumah tangga nya dengan Bella ke depannya.
To Be Continue....
__ADS_1