
''Pantas saja, wanita itu tidak meminta pertanggung jawaban ku, serta menolak uang bulanan yang akan ku berikan, Rupanya dia sedang dekat dengan seorang pria, ternyata dia pandai juga mencari pria kaya''. Batin Alex dalam hati.
''Tuan, apa bisa kita mulai meetingnya?''. Ucap Max, pasalnya sedari tadi tuanya terlihat tidak fokus.
''Hem''.
Telinga Alex, mencoba fokus mendengarkan penjelasan dari kliennya, tapi tidak dengan matanya. Pandangan Alex fokus tertuju ke arah Rara, ibu dari anak-anaknya. Matanya dengan jeli, memperhatikan interaksi antar Rara, dan pria tersebut. Entah kenapa, hatinya seperti tidak terima saat melihat kedekatan antar pria tersebut dan anak-anaknya. ''Sepertinya, aku mengenal pria itu? . Wajahnya, seperti tidak asing''. Batin Alex.
'' Ah, aku mengingatnya''. Guman Alex,
''Tuan, mengingat apa?''. Ucap Max dengan sedikit bingung.
''Hah''. Alex Merutuki kebodohan, bisa-bisanya dia keceplosan. ''Maaf, saya baru mengingat bahwa, anak saya tadi menitip sesuatu kepada saya, namun saya lupa membelinya''. Terang Alex, saat melihat wajah kebingungan asisten beserta kliennya.
''selain hebat dalam dunia bisnis,Ternyata anda seorang great father. Saya sangat salut dengan anda, walaupun anda sangat sibuk, namun tetap bisa meluangkan waktu untuk anak dan keluarga''.
Alex hanya tersenyum, mendengar ucapan dari kliennya.
''Apa bisa Kita lanjut kembali Tuan?''. Ucap Klien tersebut.
''Ya, lanjutkan!''. Pikiran Alex, benar-benar sangat tidak fokus. Saat Menyaksikan kebahagiaan Rara dana anak-anaknya, mereka terlihat seperti satu keluarga bahagia.
''Wah, ayam golengnya enak sekali''. Ucap Arsy antusias.
''Arsy suka?''. Tanya Sandy,
__ADS_1
''Suka sekali, Om ganteng''.
''Kalau Arsy suka, kapan-kapan kita makan kemari lagi ya''.
''Wah, benelan ya om, Janji!''.
''Janji''. Sandy dan Arsy, terlihat menautkan jari kelingking mereka, sebagai tanda janji.
Alex melonggarkan dasinya, serta melepas kancing atas kemeja nya. Dada Alex, Rasanya seperti terbakar. Melihat interaksi anaknya dengan Sandy. Ya, Alex mengingat lelaki yang saat ini sedang bersama anak-anaknya. Sandy, Adalah adik kelasnya dulu, saat masih SMA. "Kenapa mereka bisa saling kenal ?''. Batin Alex.
''Bagaimana, Apakah tuan berminat untuk bekerja sama dengan perusahaan kami?''. tanya klien tersebut.
''Huh''. Alex menghelah nafas. ''Bagaimana, aku menyetujuinya. Bahkan, aku sama sekali tidak menyimak apa yang dia ucapkan''. Pikir Alex.
''Untuk hasilnya, saya serahkan kepada asisten saya''.
''Begini tuan, Bagaiman kalau berkasnya kami bawak dulu?, nanti untuk hasilnya akan saya kirim lewat email''. Terang Max.
''Baiklah, kalau memang seperti itu. Kalau begitu saya permisi dulu''. Ucap klien tersebut, menunduk hormat ke arah Alex, sebelum berlalu pergi.
''Max, selidiki lelaki yang sedang duduk di meja nomor 7 itu!. Sejak kapan lelaki itu, dekat dengan anak-anakku''.
''Baik Tuan''. Sekarang max paham, apa yang membuat sang tuan tidak fokus dengan rapat Mereka.
''Jangan sampai ada yang terlewatkan!, walau hal sekecil apapun''.
__ADS_1
''Baik Tuan''.
''Bella!''.
Bella menoleh, saat mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.
''Bella!, benerkan elo Bella?''.
''Iya''. Bella seperti tidak asing, dengan wanita di hadapannya ini.
''Lo, enggak inget sama gua ya?, gue indah!. Masak elo lupa si''.
''Ya ampun. Sorry ya ndah, gue bener-beber lupa. Habis sudah lama jugakan kita enggak jumpa, terakhir saat SMP ya?''. Ucap Bella.
''Its okay, gue ngerti kok. Tapi kan, seharusnya gue yang enggak tanda sama Lo, habis Lo semangkin cantik aja, sampai-sampai gue pangling tau enggak?. Tadi aja, pas gue panggil nama Lo, Gue takut salah orang''. Ucap Indah.
''Ah, elo bisa aja ndah. Jadi malu nih gue. Oh iya, kenalin ni Nila, Sahabat gue sekaligus merangkap sebagai asisten gue''.
''Hy, Indah''.
''Nila''.
''Btw, kita kan Uda lama nih enggak ketemu, gimana kalau kita minum-minum sebentar?''.
''Boleh, ayo!''. Jawab Bella.
__ADS_1
Mereka bertiga pun, berjalan menuju ke sebuah kafe yang terletak di Mall tersebut.
To Be Continue....