
''Kita lihat saya dulu bagaimana kedepannya yank. Jika mereka menjadi ancaman kita, langsung saja kita singkirkan mereka semua. Jangan sampai kedepannya, karena mereka rencana yang sudah lama kita rancang gagal. Bukanya dari jauh-jauh hari sudah pernah ku katakan padamu, segera alihkan aset-aset milik Alex atas namamu, tapi lihatlah kau tidak mendengarkan ucapan ku.''
''Aku bukan tak mau mendengarkan ucapan mu yank. Tapi itu semua tak semua yang kau ucapkan, kalau sampai aku terlalu terburu-buru mendesak Alex mengalihkan aset-aset miliknya menjadi atas namaku, bukan tak mungkin dia nanti akan curiga.''
''Dia tidak akan curiga padamu Bel, Alex itu terlalu bucin denganmu. Aku yakin dia akan menuruti keinginanmu itu. Jadi percayalah padaku, segera bicarakan perihal keinginanmu kepada Alex. Jangan sampai kau sendiri nanti yang menyesal karena tidak mendapatkan sebagai besar harta miliknya. Jangan lupa pula minta saham di perusahaan Alex atas nama Kenan. Apa kau mengerti dear! lagian aku bicara seperti ini kepadamu, agar kedepannya hidup kita akan tetap akan enak andai kau nanti berpisah dari Alex dear.''
Sebenarnya itu juga keinginan Bella, tapi melihat gelagat Alex akhir-akhir ini, Bella sedikit takut untuk mengungkap keinginannya itu.
Melihat Bella yang tak menjawab perkataan, Willy pun angkat bicara lagi. ''Gunakan jurus andalan seperti biasa dear. Carilah cela-cela kesalahan Alex, lalu mulailah kau mainkan akting mu dear. Aku yakin pasti dia akan melakukan apapun supaya kau tidak lagi marah dengannya.''
''Tapi bagaimana__
''Masalah seperti ini itu sangat mudah dear. Kau datang saja ke kantornya dengan sedikit marah, sambil kau tunjukan foto saat Alex memeluk anak perempuan itu, dan dengan sedikit Akting mu, aku jamin Alex pasti akan menuruti keinginanmu, supaya kau tidak lagi marah dengannya dear.''
Bella membenarkan ucapan Willy, kenapa ia jadi lemot seperti ini. Padahal memperdayai Alex sangatlah gampang. Bella tersenyum senang, ia yakin rencananya kali ini akan berhasil.
''Baiklah, kalau gitu aku langsung pergi ke kantor Alex yank. Semangkin cepat aku mendapatkan hartanya, maka semangkin cepat pula aku meninggalkan. Aku bosan sekali berci*ta dengan laki-laki seperti Alex, dia terlalu lembut untukku''.
''Aku mendukung keputusan dear. Lagian hanya aku yang bisa memuaskanmu''. Ucap Willy di telinga Bella.
Wajah Bella merona, saat mendengar ucapan Willy. Ya memang Bella akui hanya Willy saja yang bisa memuaskan fantasi liarnya.
''Aku pergi dulu yank.'' Sebelum pergi Bella mengecup singkat bibir sang kekasih.
Setelah kepergian Bella, Willy tersenyum smirk. Entah apa yang tengah Willy pikirkan saat ini, hanya dia seorang saja yang tahu.''
Di tempat yang berbeda, Alex tengah memijit pelipisnya. Rasanya kepalanya terasa pusing sekali, pekerjaan yang menumpuk, belum lagi masalah di real life nya, membuat kepala benar-benar merasa akan pecah. Fokusnya saat ini benar-benar terbagi, tapi melihat wanita itu sedikit takut dengan ancaman Alex yang ingin merebut hak asu anak-anaknya, membuat Alex sedikit merasa lebih tenang, Alex yakin wanita itu pasti bisa ia kendalikan. Padahal sebenarnya Alex pun tidak akan tega untuk memisahkan wanita itu dari kedua anaknya, Alex tahu pasti tak mudah bagi wanita itu membesar kedua anaknya. Apalagi di lihat dari latar belakangnya, wanita itu seorang anak yatim piatu, serta tulang punggung untuk adik-adiknya.
__ADS_1
Biarlah Alex hanya sesekali menemui anak-anaknya, untuk memberi sedikit perhatian. Sebenarnya Alex ingin memberi uang bulanan untuk anak-anak, bukan maksud ingin menghina wanita itu, Alex hanya ingin membantu wanita itu, apalagi anak-anaknya sekarang sudah sekolah, pasti wanita itu sangat membutuhkan biaya banyak, namun sangat kecil bagi Alex. Alex sedikit merasa salut dengan wanita itu, karena di usianya yang masih mudah ia bisa membesarkan adik-adiknya serta kedua anaknya tanpa bantuan siapapun. Walaupun sebenarnya dalam hati Alex sedikitpun merasa marah oleh sikap wanita itu, kalau saja sedari awal wanita itu datang menemuinya dan mengatakan tentang kehamilannya, Alex pasti akan bertanggung jawab atas anak tersebut, Walaupun tidak bisa menikahi wanita itu, tapi Alex pastikan bahwa sang anak tidak akan kehilangan kasih sayang seorang Papa.
Ceklek..
Alex kaget saat mendengar pintu ruangannya terbuka secara kasar. Baru saja Alex ingin memarahi orang tersebut, namun Alex urungkan, saat melihat ternyata orang tersebut adalah sang istri. Huh... Alex menghempaskan nafasnya secara kasar, melihat dari gelagat sang istri pasti ada sesuatu yang tak berkenan di hatinya.
''Sayang, tumben kemari enggak ngabarin dulu?''
''Jadi? maksudnya aku engga boleh ke kantor suami aku gitu.''
''Bukan, bukan seperti itu sayang. Biasanya kalau kamu datang selalu ngasi kabar, makanya aku nanya seperti itu yank.''
''Kamu bicara seperti itu bukan karena ada yang lagi di sembunyikan dari aku kan?''.
''Sembunyikan apa? aku tidak menyembunyikan apapun darimu yank.''
Alex sangat terkejut, Darimana Bella mendapat foto tersebut.
''Kau mendapatkan foto ini dari mana yank?''
''Kenapa kamu terlihat terkejut seperti itu yank, Atau jangan-jangan kamu memang menyembuyikan sesuatu dari aku?''
''Enggak yank. Aku__ aku__.
Alex tampak berfikir keras, alasan apa yang akan ia katakan kepada Bella, agar Bella tidak curiga padanya.
''Aku apa? kamu saja enggak bisa jawabnya kan. Berarti benar, kalau kamu lagi nyembuiin sesuatu dari aku.'' Hiks...hiks Bella menangis tersedu-sedu. (haduh, akting si Bella benar-benar totalitas ya guys).
__ADS_1
''Itu__ anak perempuan yang aku peluk itu kan, anak yang pernah di undang Mama saat syukuran Kenan yank. Lagian aku peluk dia, karena anak itu gemesin yank. Sudah Jangan nangis dong yank! lagian enggak mungkin aku menyembunyikan sesuatu darimu yank.''
''Tapi aku tetap enggak percaya sama kamu yank.''
''Lalu, aku harus lakuin apa? supaya kamu percaya sama aku yank.''
Bella merasa senang dalam hati, akhirnya Alex masuk juga ke dalam jebakannya. Bella merasa kalau akting harus di acungi jempol.
''Kelihatanya buru-buru Ra? kamu mau pergi kemana emang nya?.''
Rara pun menoleh ke arah sumber suara. Rara sedikit terkejut saat melihat Tante Risa, pasalnya keberadaan Tante Risa terhalangi oleh customer lainnya, makanya Rara tidak melihat Risa.
''Oh, Rara mau jemput anak-anak ke sekolah Tan. Biasanya enggak lama lagi mereka pulang, jadi Rara mau langsung berangkat sekarang aja, soalnya takut telat.''
''Anak-anak kamu sekolah di mana Ra?''
''Di TK Tunas Karya Tan.''
''Kalau gitu kamu bareng aja sama Tante Ra!, kebetulan Tante mau lewat arah sana.''
''Tapi Tan, emang enggak ngerepotin?.''
''Kamu itu macem sama siapa aja si Ra. lagian enggak ngerepotin juga Ra, kitakan juga searah. Ayo! kita langsung berangkat saja, takutnya telat. Kasian mereka nanti lama nunggunya.''
''Iya, ayo tan!''
To Be Continue....
__ADS_1