
''Holle!, hari ini Aci mau jalan-jalan''.
''Arsy, senang?''.
''Senang sekali aunty''. Jawab Arsy antusias.
Rara tersenyum senang, melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Arsy.
''Lu!, kalau nanti Arsy minta yang aneh-aneh ataupun sesuatu yang mahal jangan kamu turutin ya. Belikan mereka sesuatu yang wajar-wajar saja. Mubazir duitnya, lebih baik kamu simpan uangnya untuk keperluan mu sendiri, lu. Lagian, jangan terlalu memanjakan si kembar dengan selalu membeli mainan yang sudah mereka Memilikinya''.
''Sesekali kan boleh kak. Lagian, ini juga gaji pertama Lulu setelah sekian bulan menganggur. Kadang, kalau bukan kita yang memanjakan mereka, mau siapa lagi kak?''.
''Iya kakak tahu. Kakak hanya tidak ingin membuat mereka manja, kakak takut di kemudian hari, bila mereka menginginkan sesuatu harus di turutin. Di Kehidupan kedepannya juga, kita tidak tau akan seperti apa''.
''Iya, iya Lulu ngerti. Lagian juga, Lalu hanya ingin membawa mereka bermain di Timezone saja. Lagipula, mereka juga belum pernah main ke sana kak''.
''Terserah kamu saja. Yang penting seperti kakak bilang tadi, jangan membeli mainan yang akan menguras isi dompetmu''.
''Siap bos!''.
Arsya menyimak semua perkataan sang mama kepada aunty Lulu. Arsya paham akan maksud ucapan sang Mama. Arsya berjanji dalam hati kecilnya, jika ia besar nanti, ia akan membahagiakan sang mama, adiknya, serta kedua aunty nya, Arsya tidak akan membuat mereka merasa kesusahan. Arsya bertekad dalam hati, bahwa dia akan menjadi pelindung untuk mereka kelak. Arsya akan membuktikan kepada seseorang, bahwa Meraka bisa sukses Tampa sosok lelaki yang tega membiarkan sang mama, membesarkan mereka seorang diri.
''Mama, benelan enggak ikut?''.
''Maaf ya sayang, mama lagi banyak pesanan kue. Jadi, mama tidak bisa ikut Arsy bermain''.
''Hem, padahal kalau mama ikut pasti akan lebih seru''. Ucap Arsya, dengan bibir manyun.
''Berarti, kalau pergi bareng aunty tidak seru ni?''. Ucap Lulu, pura-pura merajuk.
''Bukan tidak selu, hanya saja kalau ada mama pasti lebih menyenangkan''.
''Ya sudah, kalau begitu kita pergi Minggu depan saja deh''. Ucap Lulu
__ADS_1
''Pergi dengan aunty juga selu kok. Jadi, ayok! kita belangkat''.
''Ada yang yang takut enggak jadi pergi nih''. Goda Lily pada sang ponakan.
''Kamu beneran enggak mau ikut juga Ly?''. Ucap Rara.
''Sebenernya, Lily pingin ikut. Tapi, Lily ada tugas kelompok jam sepuluh nanti kak''.
''Enggak terasa, tahun depan kamu sudah masuk SMA ya Ly. Padahal rasanya baru kemarin, adik-adik kakak masih belepotan karena ingus, dan Lily juga masih sering ngompol di celana. Tapi sekarang, sudah pada gadis semua.'' Ucap Rara dengan mata berkaca-kaca, siapa sangka dia mampu membesarkan kedua adiknya serta anak-anaknya seorang diri. Rara sangat bersyukur dengan rezeki yang Allah berikan saat ini, Alhamdulillah Toko kuenya selalu ramai peminatnya. Sehingga, sedikit-sedikit Rara bisa menabung untuk membeli tanah serta membangun rumah . Rasanya tidak mungkin selamanya mereka harus mengontrak rumah terus. Rara ingin tempat tinggalnya dan toko kuenya nanti, jadi dalam satu tempat. Rara berharap, semoga apa yang ia inginkan suatu saat bisa terkabulkan.
''Kakak kenapa membicarakan Lily, yang tukang ngompol di celana di depan mereka si. Lily kan malu kak''. Ucap Lyly, pasalnya Lily tahu seperti apa keponakan itu, Arsy pasti akan mengusilinya dan akan membocorkan rahasianya kepada teman-temannya.
Hahahaha...
mereka semua tertawa, melihat wajah tertekan Lily.
''Ternyata Aunty dulu seling mengompol ya, Pasti lucu sekali. Kami saja tidak pernah mengompol di celana, benarkan Ma?''.
Nah benarkan, firasat Lily mengatakan. Perkara ia dulu sering ngompol di celana, pasti akan menjadi pembahasan paling menyenangkan bagi sang ponakan.
''Pergi bareng saja kak, Biar Lulu antar kakak dulu. Baru kami berangkat ke Timezone''.
''Boleh deh''.
Mereka pun berangkat dengan Lulu yang mengendarai sepeda motornya.
''Nanti kalau Arsya sudah besar, Arsya ingin sukses, supaya Arsya bisa membeli mobil. Jadi kita tidak perlu sempit-sempitan seperti ini, dan kita bisa pergi bareng-bareng semua''. Ucap Arsya dengan sedikit berteriak, agar suaranya terdengar oleh sang mama.
Rara yang mendengarnya merasa terharu dengan perkataan sang putra. ''Amin, mama doakan semoga kelak Arsya dan Arsy menjadi anak yang sukses di Kemudian hari. Dan kalau sudah sukses, jangan lupa harus rajin bersedekah dan yang paling penting jangan pernah sombong''.
''Itu pasti''. Jawab mereka kompak.
Mereka semua tertawa, bisa-bisanya mereka menjawab dengan perkataan yang sama.
__ADS_1
Lulu menghentikan sepeda motornya, saat melihat lampu merah di depannya.
''Tuan, bukankah itu nona Rara?''. Tunjuk Max, pada kendaraan di samping mereka.
Alex pun langsung menoleh ke arah samping. Melihat anak-anaknya tersenyum ceria, Cuaca hari ini sangat terik, walaupun masih jam sembilan pagi. Tapi tidak menyurutkan keceriaan di wajah anak-anak. Terkadang sesekali mereka tertawa, entah apa yang mereka bicarakan. Membuat tawa mereka menukar dengannya, Alex pun tersenyum melihat kerandoman mereka.
Letih yang Alex rasakan, saat baru kembali menyelesaikan perjalanan bisnis, sepertinya langsung sirnah. Saat melihat wajah ceria kedua anaknya. Tapi melihat mereka, mengendarai sepeda motor seperti itu, membuat perasaan Alex sedikit khawatir.
Lulu menjalankan kembali sepeda motornya, saat lampu menunjukan warna hijau.
''Ikutin mereka Max!. Dan tetap sedikit menjaga jarak, agar mereka tidak merasa di ikuti''.
Alex merasa jantungan, saat melihat kendaraan yang membawa anaknya dengan santainya menyalip-nyalip kendaraan lainnya. ''Wanita itu apakah tidak tahu?, bahwa membawa kendaraan seperti itu dapat membahayakan keselamatan meraka''. umpat Alex.
Tidak hanya bosnya saja sang khawatir, ia pun ikut merasa deg-degan. Melihat sepeda motor itu menyalip dengan lincahnya.
''Wanita itu benar-benar. Tidak bisakah dia melarang adiknya untuk pelan saat berkendara''. Lagi-lagi Alex mengumpat, Alex sangat tahu, wanita yang mengendarai motor itu adalah adiknya Rara. karena sebelumnya Alex sudah pernah melihatnya.
Alex merasa sedikit Lega saat melihat sepeda motor itu, berhenti tepat di depan toko milik Rara. Namun ternyata, perasaan khawatir kembali meliputinya. Saat sepeda motor itu kembali melaju, dengan posisinya yang awalnya Arsya duduk di jok depan, sekarang beralih ke jok belakang. Dan Rara terlihat melenggang masuk ke dalam tokonya.
''Wah...wah... Wanita ini benar-benar!. Tetap ikuti mereka Max, jangan sampai kehilangan jejak''.
''Kau itu sebenarnya bisa membawa mobil tidak Max?. bisa-bisanya kita tertinggal jauh dari wanita itu, kalau sampai kita kehilangan jejaknya, akan ku potong gajimu bulan ini''.
"saya bukannya tidak bisa berkendara tuan, hanya saja wanita itu terlalu lihai saat menyalip kendaraan lainnya". Ucap Max dalam hati.
''Lebih cepat Max!''. Geram Alex.
''Baik tuan''. Bagaimana bisa cepat, kalau jalanan ramai seperti ini. Max heran melihat wanita itu, bisa-bisanya dia berkendara sepeda pembalap ahli. Membuat Max, ke sulitan saat mengejar.
**To Be Continue.....
Annyeong Haseyo πβΊοΈ
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkankan like, coment, serta votenya ya ππ₯°**.