
Setelah memarkirkan sepeda motornya, Lulu menggandeng kedua ponakannya, berjalan masuk ke dalam Mall.
''Wah, besal sekali tempatnya. Lihatlah aunty! boneka-bonekanya sangat cantik-cantik sekali''. Ucap Arsy sangat antusias, bola matanya bersinar saat menatap boneka-boneka Barbie yang tersusun rapi di etalase.
''Arsy menginginkannya?''. tanya Lulu
Arsy terlihat menatap sang kakak, melihat sang kakak menggelengkan kepala, membuat Arsy sedikit merasa sedih.
''Bukankah kita ke sini hanya untuk bermain-main, bukan untuk membeli sesuatu. lagi pula bukannya Arsy sudah janji dengan mama, kalau tidak akan meminta sesuatu yang aneh-aneh''. Ucap Arsya,
''Kalau Arsy mau, Ayo! kita ke dalam melihatnya. Uang aunty cukup untuk membelikan Arsy satu boneka''. Ajak Lulu
''Tidak aunty, Aci tidak menginginkannya. Uang aunty simpan saja, untuk Aci belmain nanti. Lagian benal kata kak Aca, Aci tadi sudah janji tidak akan meminta yang aneh-aneh dengan aunty. Lagian mama juga sudah janji sama Aci, kalau uang pesanan kue mama sudah kumpul, mama mau membelikan Aci balbie. Jadi Arsy harus nulut omongan aunty dan tidak boleh nakal''. Ucap Arsy sambil tersenyum, tetapi tatap saja matanya menyiratkan ke sedihan.
''Kalau begitu, ayo! kita bermain sepuasnya''. Ajak Lulu
''Ayo!''
Lulu tidak menyadari, bahwa sedari tadi ada yang mengikuti mereka. Alex mencari posisi persembunyian yang dekat dengan mereka, supaya Alex bisa mendengar pembicaraan mereka. Betapa Sakit hatinya, melihat sang putri saat menatap boneka yang terlihat sangat menarik di matanya, namun dengan bijak ia menolak saat di ajak sang aunty melihat-lihat ke dalam. Alex merasa harta yang di milikinya saat ini seperti tak berharga, Alex selalu hidup dengan kemewahan, apa yang di inginkan mereka hanya tinggal menunjuk saja. Tapi saat melihat anak-anaknya yang hidup jauh dari kata mewah, membuat hatinya benar-benar sangat sakit.
Setibanya mereka di taman bermain, Arsy dengan antusias mencoba wahana-wahana yang ada di sana. Matanya terlihat memancarkan kebahagiaan.
''Kakak tidak ingin mencobanya, ayo! kita main belsama''.
''Arsy saja yang main, kakak di sini saja, mengawasimu bermain. Kau itukan ceroboh, nanti kalau Arsy jatuh dan terluka itu pasti akan membuat mama bersedih''.
''Alolo... Pandai nya ponakan aunty ini. Tapi kan ada aunty yang bisa menjaga Arsy. Jadi, kalau Arsya ingin bermain, main saja. Jangan risaukan Arsy''. Ucap Lulu
''Tidak aunty. Arsy di sini saja''. Arsya terlihat enggan bermain, menurutnya itu sangat membosankan. Berbeda dengan Arsy yang sangat gembira, baru sebentar saja bermain tapi ia sudah mendapatkan seorang teman.
Dahi Lulu mengkerut, saat Arsy berjalan menghampirinya dengan wajah di tekuk.
''Arsy, kenapa sayang? apa ada yang sakit?''.
__ADS_1
Arsy menggelengkan kepalanya.
''Lalu, kenapa bersedih?''.
Tiba-tiba Arsy menatap ke arah seoi anak yang tengah bermain bersama dengan mama dan papanya.
''Huh''. Sekarang Lulu paham, apa yang membuat Arsy bersedih.
''Aci juga ingin sepelti meleka Aunty, main baleng sama papa dan mama, pasti akan sangat menyenangkan. Kenapa papa Aci tidak pelnah pulang, apa papa tidak Lindu dengan kami. Mama bilang Dulu papa Bekelja, supaya bisa membelikan Aci mainan Balbie. Padahal kalau papa tidak bisa membelikan Aci boneka, Aci tidak kebelatan. Yang penting papa pulang, Aci ingin main baleng-baleng sama papa, Aci juga ingin bobok di tepuk-tepuk sama papa. Aci ingin sekali lihat wajah papa seperti apa. Tapi sekalang kalau Aci tanyak papa lagi sama mama, kata mama papa sekalang uda pelgi jauh, mama bilang papa enggak akan pelnah pulang lagi, padahalkan Aci Lindu sekali''. Hiks...hiks...
''Arsy Lindu banyak-banyak sama papa. Mungkin benel yang di bilang teman-teman Aci di sekolah kemalin. Papa Aci pelgi karena memang enggak sayang sama Aci, makanya papa pelgi. Aci janji, kalau papa pulang, Aci akan jadi anak yang baik''. Hiks...hiks...
''Sayang''. Lulu bingung menjawab perkataan Arsy. Perkataan yang membuat hatinya sangat sakit. Lulu paham seperti apa merindukan seseorang yang tidak akan pernah kita temui lagi, sama halnya dengan dirinya saat merindukan orang tuanya. Hanya saja Arsya dan Arsy, lebih menyedihkan di banding dirinya. Mereka bahkan tidak pernah tau, seperti apa wajah sang Papa.
''Aunty jangan bilang mama ya, kalau Aci nangis. Aci enggak mau buat mama sedih, Apalagi Aci nangis kalena Lindu sama papa''. Ucap Arsy mencoba menghentikan tangisannya.
''Arsy hari ini boleh menangis sepuasnya karena rindu dengan papa, tapi kakak minta, cukup kali ini saja! kakak melihat Arsy menangis seperti ini. Jangan pernah memikirkan seseorang yang sudah pergi meninggalkan kita, itu akan membuatmu semangkin sakit. Belum tentu juga, orang yang kita pikirkan itu juga memikirkan kita''. Ucap Arsya.
''Maaf''. Ucap Arsy
''Aunty mau dong, di peluk juga''.
Arsya dan Arsy langsung saja berhamburan ke pelukan saat aunty.
Lihatlah kak, anak-anak mu ternyata sudah sangat dewasa dan mampu untuk saling menguatkan satu sama lain. Keadaan, membuat mereka sangat kuat. Lulu selalu berharap, semoga kelak kebahagiaan selalu menyertai kakak serta anak-anak kakak. Dimana pun kaki kakak melangkah nanti, semoga sakit yang kakak rasanya selama ini, kedepannya akan tergantikan oleh kebahagiaan yang tiada berkesudahan.
Tampa terasa Alex menangis. Hatinya sangat sakit sekali, mendengar perkataan anak-anaknya. Melihat Arsy menangis terguguh merindukan dirinya. Alex merasa Betapa jahat dirinya sebagai seorang papa. Kalau saja sedari awal Alex tahu wanita itu hamil, pasti sedikit banyaknya Alex tetap bertanggung jawab, bagaimana pun caranya. Sehingga anak-anaknya tidak akan menjadi korban seperti ini. Walaupun tidak bisa untuk menikah perempuan itu, tapi setidaknya anak-anaknya merasakan kasih sayang dari. Ingin rasanya Alex datang ke hadapan ke dua anaknya lalu memeluk mereka, tapi itu pasti akan membuat anak-anaknya merasa takut.
''Kau sudah membelikan yang saya minta tadi max?''.
''Hah. Sudah tuan, ini boneka serta robot Transformer yang tuan minta''. Max saja yang buka siapa-siapa merasa sedih, melihat anak sang tuan menangis seperti itu. Apalagi tuan Alex, pasti amat merasa bersalah kepada si twins. Selama Max bekerja dengan Alex, baru kali ini melihat tuannya menangis. Max sendiri pun tidak sepenuhnya menyalakan Alex. Kalau saja sedari awal Alex tau wanita itu hamil, Max yakin, Tuannya tidak akan lari dari tanggung jawab.
Alex memegang boneka serta robot tersebut, ia bingung bagaimana cara menyerahkan. Setelah di pikir-pikir, akhirnya Alex menemukan cara untuk menemui anak-anaknya.
__ADS_1
Alex berjalan dengan perasaan gugup, padahal biasanya kalau Alex memimpin rapat dan juga menemui klien untuk membahas proyek-proyek penting tidak pernah merasa segugup ini.
''Hy''. Sapa Alex dengan sedikit gugup.
''Siapa?''.
''Oh, kenalin saya papanya Kenan''.
''Papa kenan?''. Lulu terlihat berpikir, pasalnya Lulu merasa ke dua ponakannya tidak memiliki teman yang bernama Kenan.
''Saya anaknya Tante Risa, yang beberapa bulan lalu mengundang Meraka Di acara syukuran anak saya''.
''Oh, anak Tante Risa. Iya, iya saya ingat kalau dengan Tante Risa. Ada keperluankah dengan kami?''.
''Tidak. kebetulan tadi saat saya membeli mainan untuk anak saya. Saya melihat kalian, jadi sekalian saya membelikan untuk mereka''.
''Maaf, tidak perlu repot-repot''. Ucap Lulu sedikit sungkan.
''tidak perlu merasa sungkan''.
Alex berjongkok, mensejajarkan tinggi badannya dengan sang putri.
''Hy anak cantik''. Sapa Alex pada sang putri
''Hy om''.
''Om punya boneka cantik nih, yang sama cantiknya dengan arsy''. Alex menyodorkan boneka ke hadapan Arsy. Saat Arsy akan mengambil boneka tersebut tiba-tiba_
''Maaf, tapi kami tidak boleh menerima pemberian dari orang asing''. Jawab Arsya Dingin, sambil memandang ke arah sang adik.
Lulu sedikit terkejut, mendengar perkataan Arsya. Sama halnya dengan Alex, yang merasa terkejut dengan penuturan sang putra.
**To Be Continue....
__ADS_1
Annyeong Haseyo 👋☺️**
Jangan lupa tinggalkan like, coment, serta votenya ya🙏🥰