
Rara terlihat bingung, bagaimana cara untuk mengatakan kepada kedua anaknya, tentang siapa sebenarnya papa mereka. Apakah anak-anaknya akan marah pada dirinya?, setelah tahu tentang kebenarannya. Rara berharap kedua anaknya itu akan mengerti.
Pagi-pagi sekali, raut wajah Rara tidak seperti biasanya. Lulu yang melihat wajah sang kakak pun sedikit merasa heran, pasalnya tadi malam wajah sang kakak masih terlihat ceria, namun ini terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Lulu ingin menanyakan langsung kepada sang kakak, namun melihat masih ada kedua ponakannya tengah lahap menyantap sarapan, Lulu pun mengurungkan niatnya. ''Nanti saja, kalau dua bocil ini sudah selesai sarapan, baru Lulu bicara dengan kak Rara''. Batin Lulu
"Makan yang banyak ya sayang, biar cepat besar." Ucap Rara kepada kedua anaknya
''Kalau Aci makan banyak-banyak bukannya cepat besal Ma, tapi Mala jadi gendut, kalau sudah gendut badan Aci enggak bagus lagi dong.''
''Ye, kalau badan Arsy gendut, Arsy semangkin terlihat gemoy tau.'' Ujar Lily menimpali
''Emang benal seperti itu Ma, tapi temannya Aci di sekolah ada yang gendut namanya Zula, tapi enggak gemoy kayak yang aunty lily bilang. Mukanya selem, kalena cembelut telus.''
''Sayang, tidak baik berkata seperti itu. Lagian mungkin memang raut wajahnya seperti itu, jadi Arsy enggak boleh menilai seperti itu.''
''Tapi kan Ma! kata temen Aci, Si Zula itu suka sama kak Aca loh ma. Lucu sekali, kalau kak Aca pacal-pacalan sama si Zula.'' Hihihi
Mereka semua pun tercengang, mendengar penuturan Arsy. Begitu juga dengan Arsya, bisa-bisanya sang adik berkata demikian.
''Arsy dengar dari mana kata-kata seperti itu? anak seusia Arsy itu, engga baik berkata seperti itu sayang.'' Tegur Rara
''Dari teman-teman Aci Ma, teman Aci aja ada yang Uda punya pacal.''
__ADS_1
Rara menepuk jidatnya, mendengar perkataan sang putri. Berpacaran. Kata-kata yang belum pantas di ucapkan oleh sang putri.
''Kan sudah pernah Arsya bilang Ma, Arsy itu kalau di sekolah kecentilan, apalagi semenjak berteman dengan kedua temannya itu. Semakin menjadi saja tingkahnya, Lihatlah sekarang! omongan saja seperti itu.''
Arsy yang mendengar ucapan sang kakak pun, merasa tidak terima. ''Kakak kenapa bicara seperti itu, dasar tukang ngadu.''
''Kakak bicara sesuai fakta.'' Jawab Arsya dengan cuek.
''Sudah-sudah! kenapa jadi pada ribut. Arsy dengarkan perkataan mama ya, Arsy itu masih kecil, masih anak-anak belum waktunya membahas masalah pacar-pacaran. Mama menyekolahkan Arsy dan kak Arsya itu, agar kalian pandai. Jadi mama minta fokuslah dengan pelajaran, terutama Arsy. Mengerti!.''
Arsy yang mendengar suara sang mama pun, terlihat menundukkan kepalanya.
''Cepat habiskan sarapan kalian, setelah itu kita berangkat! nanti kalian telat ke sekolahnya". Ucap Rara
"Enggak breakfast dulu yank?".
"Maaf yank, nanti aku sarapan di kantor aja. soalnya Aku ada meeting pagi ini, takut enggak ke buru nanti yank. Papa berangkat dulu ya boy." Setelah mencium kening sang anak beserta sang istri, Alex pun berjalan cepat menuju mobil. Hari ini, Alex mengemudi sendiri, karena Max sedang melakukan pekerjaan ke luar kota. Seharusnya mereka pergi bersama, namun berhubung hari ini anak buahnya sudah mendapatkan hasil penyelidikan tentang sang istri, maka Alex memutuskan Max saja yang berangkat.
πHallo tuan...
πHm.
__ADS_1
πSaya sekarang sudah ada di parkir perusahaan anda, tuan.
π Tunggu saja, sebentar lagi saya akan sampai.
πBaik tuan
Tut...tut...tut....
Sesampainya di perusahaan, terlihat orang-orang suruhannya, berjalan mendekat ke arahnya.
''Ini hasil yang tuan minta kemarin, saya sudah berusaha semaksimal mungkin menyelidikinya.''
Alex mengambil berkas tersebut, lalu hanya sekilas saja memandangnya.
''Baiklah, untuk bayaran kalian akan langsung saya transfer.''
''Baik Tuan, kalau begitu kami permisi dulu.''
**To Be Continue....
Annyeong**....
__ADS_1
Maaf yaπ hari ini cuma bisa Up sedikit, berhubungan karena saya lagi kurang sehat. Ini juga berusaha untuk Up, Walaupun pikiran lagi blank, bener-beber enggak konsen mau nulis apa.πππ