
"Papa denger, perusahaan kita mengalami kerugian besar Lex?''. Graham D'lemos angkat bicara, setelah beberapa saat mereka bertemu.
''Hem''. Jawab Alex sekenanya, ini yang membuat Alex malam berkunjung ke rumah orangtuanya. Pasti mereka penasaran tentang apa yang membuat perusahaannya mengalami kerugian besar, walau mereka sudah mencari tahu sendiri. Tapi mereka tetap saja menanyakan langsung kepala Alex.
''Bagaimana bisa kau tidak teliti?, bukankah kau selalu teliti dalam mengerjakan sesuatu?. Apa ada sesuatu yang menggangu pikiran mu?''. Walau sudah pensiun, tetapi Graham tetap memantau perkembangan perusahaannya. Yang membuat Graham heran adalah, sang anak yang terkenal sangat teliti mengerjakan sesuatu tapi bisa sampai kecolongan.
''Bukankah dalam berbisnis untung dan Rugi adalah hal yang biasa pa?, lagi pula aku sudah mengatasinya. Jadi tidak ada yang perlu di risaukan, masalah seperti ini tidak akan membuat perusahaan bangkrut''.
''Haahhh''. Graham membuang nafas secara kasar, kalau sang putra sudah berbicara seperti itu, itu tandanya Graham harus menghentikan pembicaraan nya.
''Opa!, Daddy!!''. Kenan menghampiri mereka di ruangan keluarga.
''Ada apa?, kesayangan opa''.
''Kata Oma, makan malam sudah siap. Jadi Kenan kemali untuk memanggil Opa dan Daddy''.
''Kalau begitu, ayo kita makan!''. Alex langsung mengangkat tubuh sang putra.
''Daddy!, Tulunkan kenan!, Kenan kan Uda besal jadi Uda enggak boleh di gendong lagi''.
ucap Kenan melayangkan protes pada sang Daddy.
''Kata siapa Kenan sudah besar?, Kalau sudah besar itu seharusnya kenan sudah bisa bilang huruf R''.
Kenan langsung mencebik mendengar penuturan sang Daddy.
__ADS_1
''Baiklah''. Alex menurutkan tubuh sang anak, saat melihat Kenan yang memasang wajah merajuk.
''Hahahha, cucu Opa ternyata sudah besar ya. Sudah tidak mau di gendong lagi ternyata''. Graham senang sekali mengganggui Kenan.
''Kenapa sayang?''. Tanya Bella pada Alex setibanya di meja makan, saat melihat muka merajuk sang putra.
''Enggak papa sayang. Hanya saja ternyata anak kita ini sudah besar, jadi dia sudah tidak mau ku gendong''. Alex mengacak-ngacak rambut sang anak.
''Moomy, Lihatlah suami moomy ini!''. Kenan mengadu pada sang moomy.
Hahahha, tawa menggelegar terdengar dari ruang makan, saat mendengar ucapan Kenan.
''Bukankah suami moomy adalah Daddy mu?''. Ucap Bella menjawab pertanyaan kenan setelah tertawanya sedikit mereda. ''Kau ini Kenan ada-ada saja''.
Alex tersenyum melihat suasana yang sudah lama tidak ia rasakan. Jarang-jarang bisa berkumpul seperti ini, maksudnya bareng dengan sang istri. Sudah lama Bella tidak pernah ikut acara makan malam keluarga seperti ini. Entah ada gerangan apa, akhir-akhir ini sikap Bella sedikit berubah. Banyak meluangkan waktu untuk nya dan Kenan. Alex berharap semoga sikap Bella selalu bisa seperti ini terus.
Kalau Alex yang tengah bahagia, berkumpul dengan orang-orang terkasih nya. Berbeda dengan Rara, yang tengah kewalahan meladeni sang putri Arsy yang tengah bersemangat menyiapkan alat-alat sekolah nya.
''Sayang, kita tidur dulu yuk!. sudah malam, bukannya sudah kita periksa dari tadi, semua alat-alat tulis nya lengkap''. Rara dengan sabar membujuk sang putri.
''Sebental ya Ma, Aci peliksa sekali lagi ya ma''.
''Allah''. Rara menepuk jidatnya, melihat Tingkah sang putri. Pasalnya dari sehabis magrib tadi, hingga sekarang sudah hampir jam 9 malam. Tetapi Arsya dan Arsy tidak selesai-selesai menyusun perelatan sekolah mereka, entah apa yang mereka lakukan dengan barang-barang tersebut.
''Perlengkapan Arsya sudah semua kan?, kalau sudah di dalam tas semua, Tasnya simpan dulu ya nak. Sudah malam, sudah waktunya Arsya dan Arsy tidur''.
__ADS_1
''Hem, sudah Ma. Tapi Arsya belum ngantuk. Kita tidurnya sebentar lagi aja ma''.
''Tapi, besok kalian susah untuk mama di bangunin. Lagiankan masuk sekolah nya juga masih lusa sayang?''. Akhirnya Rara mengalah, saat melihat tatapan mata sang anak. Biasanya jika Rara bersuara Arsya akan nurut, namun kali ini tidak. Entahlah, mungkin mereka sudah tidak sabar untuk pergi ke kesekolah.
''Assalamualaikum'' Ucap Lulu, dengan wajah lesunya.
''Waalaikumsalam''. Jawab Rara, yang sedikit heran melihat wajah sang adik. ''Tumben, pulang-pulang wajahnya lesu?''.
''Huh, Lulu di pecat kak''. Jawab Lulu lesu.
''kenapa?, Lulu ada buat kesalahan apa rupanya?''.
''Lulu enggak sengaja numpahin minuman ke pelanggan emak-emak, padahal itu bukan murni kesalahan Lulu, tapi kesalahan anak ibu itu juga, anak itu nyenggol tangan Lulu, saat Lulu sedang menyajikan minuman''.
''Lulu sudah bilang, kronologi bagaimana?''.
''Sudah, tapi tetap saja Lulu di pecat. Sebenarnya karena pengaruh ibu itu juga Lulu di pecat, kalau tidak mungkin saat ini Lulu masih bekerja''.
''Sudah periksa melalui cctv?''. tanya Rara lagi.
Lulu menggelengkan kepala. ''Tidak ada gunanya kak, ibu itu orang kaya, makanya songong. Manager tempat Lulu bekerja pun tidak bisa melakukan apa-apa''.
''Ya sudah. Berarti rezeki Lulu mengais rezeki di cafe itu hanya sampai sini. Sudahlah, Lulu fokus saja dengan kuliah Lulu dulu. Nanti kalau sudah Lulus, insyaallah Lulu bisa mencari pekerjaan yang lebih bagus dari sekarang. Jangan terlalu di pikirkan, namanya kerja memang seperti itu''. Ucap Rara, memberikan nasehat.
To Be Continue.....
__ADS_1