
''Apakah kau sudah bosan bekerja Max?, mengerjakan hal semudah ini saja tidak becus''. Alex melemparkan map yang berisi berkas-berkas penting itu ke hadapan Max.
''Maaf tuan, akan saya perbaiki''. Ucap Max sambil menundukkan kepala, pasalnya setelah sang tuan kembali ke kantor, ada saja sesuatu yang tidak berkenan di hati sang tuan. Max berharap semoga jam kerjanya cepat berlalu, kalau mood sang tuan sudah tidak stabil seperti ini, pasti apapun yang Max kerjakan akan tetap salah di mata sang tuan, padahal menurut Max pekerjaan yang ia lakukan sudah benar.
''Kalau begitu saya permisi dulu tuan''. Ucap Max menunduk hormat dan cepat-cepat berjalan keluar.
Setelah kepergian Max, Alex memijit kepalanya yang terasa amat pusing. Bukan hanya kepalanya saja yang pusing, tapi hatinya juga terasa panas. Entahlah sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya, padahal Alex berharap setelah bertemu langsung dengan wanita itu hatinya akan terasa lapang, Namun ini malah sebaliknya.
''Anda tidak perlu risau, karena kedua anak saya sudah biasa besar Tampa seorang papa dalam hidup mereka. Yang mereka tahu, bahwa papa mereka sudah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya''. Kata-kata dari wanita itu bagaikan kaset rusak , yang selalu berputar-putar dalam kepalanya. Padahal sebisa mungkin, Alex melupakan pertemuannya dengan wanita itu, tetapi tetap saja wajah yang terlihat menyimpan emosi tersendiri saat mengucapkan kata-katanya, serasa menghantui Alex. Belum lagi wajah menggemaskan Arsy dengan suara cadelnya, serta Arsya yang berwajah datar dan sangat mirip sekali dengan dirinya. Bahkan pihak kolega yang pernah hadir dalam acara syukuran Kenan sang putra, banyak di antara mereka yang mengatakan kalau anak kecil yang di gandeng oleh wanita itu, terlihat mirip sekali dengannya. Bahkan sebagian dari mereka dengan terang-terangan mengatakan, bahwa Arsya adalah putranya. Karena sebagian dari mereka, memang tidak mengetahui wajah Kenan putranya. Banyak di antara mereka yang mengatakan, bahwa Kenan sama sekali tidak memiliki kemiripan dengannya, makanya di antara mereka banyak yang salah menduga.
Tiba-tiba terlintas di pikiran Alex, wajah sedih Kenan saat Bella sang mama, yang jarang memiliki waktu bermain dengan Kenan. Apakah seperti itu juga, wajah Arsya dan Arsy?, yang bersedih saat mengharapkan sang papa. Apakah anak-anaknya juga merindukannya?.
__ADS_1
Di lain tempat...
Terlihat Rara tengah memandangi ke dua wajah buah hatinya, yang tengah tertidur lelap. Rara berjanji dalam hatinya, apapun yang terjadi nanti kedepannya, Rara harus bisa membahagiakan kedua permata hatinya. Rara akan berusaha, untuk selalu memberikan kasih sayang dan ke bahagian untuk mereka. Walaupun Meraka tidak merasa kasih sayang dari seorang papa, tapi Rara akan menjadi mama sekaligus papa untuk ke duanya. Bagaimana kalau sampai mereka tahu?, kalau sang papa bahkan tidak pernah mengharapkan kehadiran mereka. Rara tidak bisa membayangkannya, biarlah waktu yang menjawab semuanya.
Pagi-pagi sekali, rumah Rara sangat ramai dengan celoteh Arsy,
''Om ganteng, benelan mau ajak Aci ke kebun binatangnya?''.
''Apa enggak ngerepotin kak''. Ucap Rara, merasa tidak enak terhadap Sandy.
''Ngerepotin bagaimana?, lagian ini kan hari weekend Ra, lagipula sudah lama kakak enggak ajak anak-anak main Ra''. Ucap Sandy sambil tersenyum manis.
__ADS_1
''Baiklah, Rara gantiin baju anak-anak sebentar ya kak''. Sebenarnya, sudah beberapa kali Sandy mengajak Rara untuk menjalin hubungan serius, bukan hanya sekedar teman. Tapi, Rara tidak bisa menerimanya. Bukan Karena Sandy kurang baik, tapi sangat baik malahan. Tetapi, ketika Rara ingin mencoba membuka hatinya, ucapan Tante Ineke selalu melintas dalam benaknya. ''Jauhin anak saya, saya tau kalau kamu hanya ingin menumpang hidup dengan anak saya saja. Karena, Selain tampan, anak saya juga sudah mapan. Dan wanita seperti kamu, sangat tidak pantas untuk anak saya. Jangan karena anak saya sangat mencintai mu, sehingga kamu memanfaatkannya. Karena sampai kapan pun, saya tidak akan merestuinya''. Ucapan Tante Ineke, beberapa bulan lalu selalu terlintas dalam ingatannya.
''Mama!, Mama!. Kenapa kucil ekol kudanya Aci melot sebelah?''. Ucap Arsy, memprotes sang mama, sambil memanyunkan bibirnya.
''Huh''. Rara, menggaruk lehernya yang tidak gatal. Karena ia sibuk dengan pemikiran sendiri, sampai-sampai kunciran anaknya tidaklah Rapi. ''Maaf ya sayang, akan mama perbaiki, oke''.
''Oke''. Harus lapi ya ma, bial Aci nya cantik.
''Selesai!, anak mama sudah cantik seperti princess''. Ucap Rara, sambil mengacungkan ibu jarinya. Kalau untuk Arsya sendiri, Rara tak perlu repot lagi. Karena sang putra, sangatlah mandiri. Kalau untuk masalah memakai baju, sang putra tidak ingin di bantu lagi dengannya. '' Arsya sudah besar ma, jadi Arsya bisa mandi dan memakai baju sendiri''. Protes Arsya, saat Rara ingin memandikannya.
To Be Continue....
__ADS_1