
''Masih inget juga kamu ternyata sama rumah Tante?, Tante kira kamu sudah lupa''. Ucap Risa menyindir sang keponakan.
''Ya enggak lah Tan, masa si sama rumah Tante sendiri Lira lupa. Memang Lira lagi baru ada waktu aja Tan untuk main kemari, Maaf ya''.
''Enggak ada waktu, atau memang kamu yang males main kerumah tante''.
''Suer deh Tan, Lira enggak bohong. Gimana Lira mau Main kemari, kalau tugas kuliah Lira aja menumpuk. Kepala Lira rasanya saja mau pecah, tau enggak Tan? lagian ini juga Lira main kemari karena sudah kangen banget sama Tante tau?''.
Lira memeluk tubuh Risa dengan sangat Erat. ''Kangen banget-banget''.
Lira yang besar tanpa sosok seorang ibu, sangat bersyukur memiliki seorang Tante seperti Risa. Risa sudah seperti mama bagi Alira, Risa menjadi tempat bermanja, serta tempat untuk Alira berkeluh kesah. Alira sendiri seorang anak tunggal, sedari bayi sudah tidak pernah merasakan kasih sayang dari sang Ibu. Karena ibunya pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya, setelah berjuang untuk mengantarkan ia ke dunia ini.
Papa Alira adalah adik kandung Risa. Risa sangat tahu bagaimana dulu sang adik sangat terpuruk, Atas kehilangan sosok seseorang yang sangat di cintai oleh sang adik. Gustav Awalnya beranggapan bahwa karena alira lah sang istri meninggal dunia. Gustav bahkan membenci bayi merah yang tidak berdosa itu. Namun lama-kelamaan gustav sadar, bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Ya, menyia-nyiakan serta membenci bayi kecil tak berdosa itu adalah sebuah kesalahan, Sang istri yang sudah berjuang, sampai merenggang nyawa untuk menghadirkan buah hati mereka ke dunia, Namun dengan bodohnya Gustav Mala ingin menyia-nyiakan Alira.
''Om kemana Tan?''.
''Om mu itu ya seperti biasa, tu duduk di gazebo samping sambil memantau perkembangan bisnis kakakmu''.
Di lain tempat, terlihat Bella sangat murka. Saat mendapat laporan dari orang-orang suruhan.
📞Maaf bos, kami tidak bisa mengetahui ada hubungan apa antara tuan Alex dengan anak-anak itu. Sepertinya mereka memang sengaja menutupinya, sehingga kami sangat susah untuk mengulik informasinya.
📞Bodoh! mencari informasi seperti itu saja kalian tidak becus. Dan saya tidak mau tahu! bagaimana pun caranya kalian harus bisa mendapatkan informasi tentang hubungan mereka. Kalau kalian tidak berhasil, jangan harap! saya akan melunasi sisa bayaran kalian".
📞Tapi bos_
__ADS_1
Tut...Tut..Tut...
Bella memutuskan panggilan secara sepihak.
''Dasar payah, mencari informasi seperti itu saja mereka tidak becus. Dasar manusia bodoh tak berguna''.
Aakkkhhh...
''Manusia payah. Apa yang sedang kau tutupi dariku sebenarnya Lex, kau pikir aku tidak akan mengetahuinya?. Kau salah Lex, aku pastikan bahwa aku akan segera mengetahuinya. Seorang Bella Antonio D'lemos harus bisa mendapatkan sesuatu yang ia inginkan''. Bella terlihat terus bergumam, sambil memandang pantulan dirinya di depan cermin.
Rara terlihat tengah bersiap untuk menyusul si twins ke sekolahnya. Rara sengaja berangkat sedikit cepat, karena takut membuat twins menunggu dirinya terlalu lama seperti kemarin-kemarin.
Setibanya di sekolah Tunas Karya, Rara melihat mobil yang sangat familiar. Mobil seseorang yang akhir-akhir ini membuat pikirannya tidak tenang. Rara bertekad untuk menemui pemilik mobil tersebut, kalau Rara diam saja, Rara takut bahwa lelaki itu akan ngelunjak.
Rara mengetuk kaca mobil tersebut dengan tidak sabaran.
''Bisa kita bicara sebentar Tuan!''. Ucap Rara saat melihat kaca mobil terbuka,
''Hm''.
Alex membuka pintu mobilnya, berdiri tegak di depan Rara.
''Ada tujuan apa sebenarnya tuan datang menemui anak-anakku?, bukankah kita sepakat bahwa kita tidak akan mengganggu kehidupan satu sama lain. Tapi sepertinya tuan sudah mengingkarinya. Saya tekankan sekali lagi! jangan pernah datang mengganggu kehidupan kami apalagi anak-anakku''.
''Sudah bicaranya? sekarang biarkan gantian saya yang berbicara. Saya ini adalah papa mereka, apakah ada peraturan yang melarang seseorang papa untuk menemui anak-anaknya. Lagipula saya juga memiliki hak atas mereka''.
__ADS_1
''Hah. Hak seperti apa yang tuan maksud? bahkan anda bertemu mereka saja baru sekarang. Jadi, jangan pernah membicarakan masalah hak anda kepada saya''. Sanggah Rara
''Saya tidak salah dengar, kamu menyalakan saya? karena saya tidak mengetahui keberadaan mereka. Padahal kamu adalah pemeran utamanya, lalu kenapa sekarang malah menyalakan saya?. Kamu punya mulut dan otak kan? jadi pergunakanlah sebagai mana mestinya!. Jadi, jangan pernah sekalipun melarang saya untuk menemui mereka! kalau tidak, saya pastikan bahwa saya akan merebut hak asuh atas mereka''.
''Picik sekali pikiran anda tuan, saya katakan sekali lagi__
''Mama''. Teriak Arsy sambil berlari ke arah Rara,
''Arsy, hati-hati! jangan berlarian seperti itu. Nanti kau jatuh sayang''.
Arsy tidak mendengar ucapan sang mama, dan benar saja apa yang Rara ucapkan jadi kenyataan. Arsy hampir saja terjatuh, karena tersandung kaki sendiri. Beruntung Alex dengan sigap menangkap tubuh sang putri.
''Are you oke gils?''. Alex memastikan keadaan sang putri.
''Oke, telima kasih om ganteng''. Ucap Arsy setelah tersadar dari keterkejutannya.
Rara langsung mengambil alih tubuh sang putri dari pelukan Alex. ''Kan sudah sering mama katakan! Arsy tidak boleh berlarian seperti tadi''.
''Maaf Ma''. Ucap Arsy menundukkan kepalanya
''Dasar ceroboh''. Sarkas Arsya,
Tanpa Alex dan Rara sadari, bahwa sedari tadi percakapan mereka telah di rekam oleh seseorang. Orang tersebut pun tersenyum smirk,
To Be Continue....
__ADS_1