
Di Rumah Nenek ( Emeh) ramai malam ini ,mau mengadakan tahlilan . Ruang tamu yang semula dikosongkan dari beragam perabotan, sekarang mulai diisi para santri dan ibu ibu pengajian. Mereka semua akan mendoakan nenek Emeh, alhamdulillah ternyata banyak yang sayang sama nenek.
Sementara itu, orang tua Elisa ,pamam dan beberapa Saudara sibuk di dapur, menyiapkan hidangan. panas dari kuah sayur dan nasi yang baru saja matang, menguap harum sampai keluar. Kue bolu dan puding cokelat mulai dipotong dan diletakkan di piring-piring.
"Coba aku cicipi mah." Elisa menyodorkan semangkuk kecil buat sayur opor ayam. "Enak tidak?"ucapan Elisa
orang tua nya Elisa mengambil sendok dan menciduk sayur opor ayam itu. Mencicipinya. Rasa rempah-rempah yang bercampur dengan kaldu.
"Enak, mah!"ucapan Elisa "Elisa suka."
orang tuanya pun tersenyum mendengar pujian dari anak nya.
Elisa balas tersenyum. Ia merasa amat bahagia mempunyai Tetangga dan saudara yang sangat baik, mau membantunya menyiapkan prosesi tahlilan demi mengenang sosok nenek Emeh. orang tuanya Elisa dan saudara nya menawarkan diri untuk jadi juru masak di acara tahlilan ibu(nenek). Katanya, biar lebih akrab dengan warga warga di sanah.
"Sebentar, saya tinggal dulu." orang tua Elisa meninggalkan dapur dulu, saat ia mendengar ada yang memanggilnya.
orang tua Elisa tahu apa maksudnya. Ia mengambil sesobek kertas dan menuliskan nama suami dan nama Nenek. Lantas menuju ruang tamu dan menyerahkan kertas itu pada ustaz yang bakal memimpin tahlilan.
Kemudian, orang tua Elisa bergegas kembali ke dapur lagi. Menginstruksikan untuk bersiap-siap mengisi piring-piring dengan nasi, sebelum nantinya diguyur dengan sayur opor ayam, menjelang akhir acara.
"Banyak yang datang?" tanya Elisa.
"Sekitar seratusan orang mungkin," jawab orang tuanya, semua membereskan sayur opor ayam , capcay, nasi,piring ,kerupuk ,lalap dan sambal menyusunnya di meja.
orang tua Elisa melirik meja di tengah dapur, yang seperempat bagiannya sudah diisi barisan piring—nasi dan kue.
"Kita siapkan separuhnya saja dulu, separuhnya lagi nanti," ucapan orang tua Elisa memberi usul, sambil meletakkan dua potong daging ayam di tiap piring berisi nasi.
Semua menjawab setuju.
Di ruang tamu orang-orang mulai membaca surat Yasin.
"apa mereka nanti bakal suka dengan pasakan mamah apa ga ya EL?" uacapan orang tua Elisa sambil sibuk di dapur.
__ADS_1
" justru Elisa yakin bahwa semua pasakan mamah habis dan semua pada suka" ucapan Elisa ke orang tuanya.
Orang tua Elisa menjawb pujian dari anak nya itu.
"justru mamah khawatir takut ada yang kurang. Soalnya sudah lama sekali mamah tidak masak" ucapan orang tuanya Elisa.
"Terakhir kapan ,mamah memasak kaya gini?" ucapan Elisa.
"waktu mamah baru nikah sama ayah kamu, dua puluh tahunan mungkin. Tapi ... entahlah, mamah lupa."
" lama betul, mah?" tanya Elisa.
orang tuanya Elisa, malah senyum. "orang tuanya pun menceritakan kepada Elisa". mamah biasanya masak itu buat ayah kamu EL, "ucapan orang tua Elisa
Tiba-tiba semuanya bungkam. Elisa menatap dengan bingung sama mamah nya , tapi tidak mau bertanya.
" sejak mamah bercerai dan ayah mu pergi, mamah sudah tidak pernah masak sayur opor ayam lagi," ucapan orang tuanya Elisa. "Memang siapa yang mau makan sayur opor ayam mah"?.tanya Elisa ke orang tuanya",Semua orang ikut tersenyum.
Namun sebenarnya, Elisa sedikit penasaran dengan alasan perceraian mamah sama ayah . Elisa tidak percaya kalau mendengar kan dari omongan orang lain, sekarang Elisa tau kesimpulan bahwa mamah dan ayah berpisah karena masalah ayah selingkuh dan suka main judi. "berarti hidup kita sama sama tidak beruntung memilih laki-laki,"ucapan Elisa, sambil memeluk orang tuanya.
Elisa mencium kening mamah nya. sambil menguatkan hati satu sama lain.
" Kamu tidak boleh bersedih,kamu harus tetep bertahan demi anak kamu.seberat cobaa yang menimpa kita,kita harus tetep semangat."ucapan orang tuanaya
"Aku sedih mah, mamah dan aku kehidupannya tidak jauh beda dengan kehidupan aku. kita sama sama di sakiti sama laki laki," ucapan Elisa, sambil menyusun piring-piring berisi nasi di atas meja.
untung nya semua orang tidak ada yang mendengar curhatan Elisa sama orang tuanya ,karena mereka pikir kita lagi membicarakan Nenek, karena mereka melihat nya sedang bersedih. Dan sudah tau betapa menyedihkan bila kita ke hilangan keluarga yang kita sangat sayangin
"Kalau boleh Elisa tau, menurut mamah, siapa di antara kita yang nasibnya paling menyedihkan?"
orang tua Elisa mencium kening anak nya,dan menjawab pertanyaan dari anak nya itu. tanpa peduli dengan orang-orang di sekelilingnya.
"mamah hanya bisa mendoakan kamu,biar kamu selalau bahagia yah EL," jawab orang tuanya.
__ADS_1
"ya mamah makasih, mamah juga sama harus bahagia terus, Elisa selalau mendoakan yang terbaik buat mamah", ucapan Elisa.
"Elisa yakin: orang bisa membedakan antara
baik dan buruk nya,maka kita jangan kuatir masih ada Alloh yang bisa menolong kita."
"Elisa tidak berpikir demikian mah."
"Tapi Elisa yakin, kalau kita di beri cobaan terus menerus pasti ada jalan keluarnya untuk menuju bahagia"
"Elisa rasa: kita pasrahkan kepada Alloh semunya."
"itu benar kan mah?
Tapi Elisa tidak peduli orang orang mau bilang apa juga yang penting kita tidak membuat masalah dengan orang lain.betul tidak mah?"
Tiba-tiba pamanya Elisa, muncul di dapur mendekati orang tuanya Elisa dan Elisa. dia merasa lega dengan kedatangan Elisa dan orang tuanya itu, sehingga dia tidak perlu menjawab pertanyaan dari semua orang.
orang tua Elisa mengisi semua makanan ke dalam piring-piring berisi kue.
Seorang pria berusia lanjut masuk ke dapur, dan memberitahukan bahwa tahlilan sudah hampir beres. Elisa, pamannya,mamah nya, dan saudara saudara makin sibuk menyajikan hidangan ke dalam, Piring-piring berisi kue dan semangka, mulai dikeluarkan ke para undangan. Sementara piring-piring berisi nasi dan dua potong ayam , mulai di sajian dengan sayur opor nya.semuanya telah menyantap pasakan orang tua Elisa ,banyak yang bilang enak dan sangat lezat,
Satu persatu para undangan sudah pulang. Sedangkan para perempuan masih sibuk mencuci piring-piring dan membersihkan dapur yang kotor.
Para perempuan menyusul pulang, sejam kemudian.orang tua Elisa memberikan sedikit uang imbalan yang ia taruh di amplop. Juga mengizinkan mereka untuk membawa kue, buah, dan makanan yang begitu melimpah di dapur.
Orang tua Elisa berkali-kali membujuk tetangga itu, tetapi tidak menerimanya mereka tidak mau di bayar.
"kalau begitu orang tua Elisa ber terima kasih ke pada tetangga dan saudara, karena sudah membantu di acara tahlilan ini.
"orang tua Elisa minta maaf kalau makanan dan sajian nya kurang kumplit," ucapan orang tua Elisa. setelah pamitan dengan tetangga dan sodarah,sedangkan paman sudah merapihkan kembali ruang tamu itu, dengan segala perabotan yang sudah diletakkan kembali.
orang tua Elisa di dapur,menyiapkan kue dan sayur opor ayam ke dalam rantang, yang hendak dia bawa buat Elisa nanti di sanah.
__ADS_1