
Malam itu aku di suruh nginap di rumah mertua ,karena mertua aku tidak ada teman buat ngobrol. dia tidak punya anak lagi selain Ridwan, sedangkan anaknya tidak punya waktu buat orang tuanya. boro boro sama orang tuanya ,sama aku juga cuek bahkan tidak ada waktu sama sekali untuk merperhatkan aku. malah asik sama teman temanya.
Walaupun aku malas nginap di rumah mertua, dengan ke adan perut aku sudah besar. melahirkan aku tinggal beberapa hari / jam lagi,mau ga mau aku nginap di rumah mertua.
Sesampainya di rumah mertua, perutku sudah merasakan sakit dan pinggang sangat panas. aku sakit seperti itu , aku kira kurang minum/ aku kecapean.bahkan panas pinggang setiap 5 menit sekali, aku tidak tau tanda tanda mau melahirkan.
Kelahiran anak pertama adalah pengalaman yang lucu sekali buat aku. Pada saat ketuban pecah, aku bahkan tidak menyadarinya karena aku kira ketuban pecah akan berupa semburan air, bukannya seperti air mengalir biasa begitu aja.
Tiga jam kemudian, aku mulai mengalami kontraksi, namun lucunya aku masih belum menyadari bahwa proses persalinan sudah akan segera berlangsung. Akhirnya ketika aku melihat ada darah di celana aku, dan aku memutuskan untuk ke rumah bidan terdekat.
Dalam perjalanan ke rumah bidan, aku masih sempat mampir dulu ke rumah orang tua aku, karena mau memberi tau ke pada mamah ku , kalau aku mau melahirkan. Karena tidak menyadari bahwa aku akan segera melahirkan, aku jalan kaki ke rumah mamah aku,karena hanya berjarak 10 rumah dari rumah suami aku.
Kemudian dari rumah orang tua aku, aku balik lagi ke rumah mertua, aku membangun kan dan menunggu suami untuk antar ke rumah bidan. jam 3 pagi aku bulak balik ke rumah orang tua aku, tidak ada yang bangun satu pun. di jalan juga masih sepi dan di jalan pun masih kosong belum ada ojeg satu pun.tapi sudah ada beberapa orang yang menunggu ojeg di jalan , mau pergi ke pasar.
Karena tidak sabar menunggu mertua dan orang tua ku, bahkan suami pun susah di bangun kan, akhirnya aku pergi sendiri ke rumah bidan itu. sangkan menahan rasa sakit dan mules aku rasakan, tak kerasa sepanjang jalan air ke tuban aku mengalir. sesampainya di rumah bidan, aku langsung di tangani sama bidan, bidan kaget dan bertanya, sama siapa ibu ke sini? ,aku tidak bisa jawab karena aku sedang merasakan rasa sakit dan mules yang sangat sangat ga karuan.
__ADS_1
Akhirnya aku tiba di rumah bidan. Sambil menuju ruang pemeriksaan, aku meminta kepada suster supaya dapat mamberi tahukan kepada keluarga aku, kalau aku sudah ada di bidan. Suster itu menatap aku dengan wajah sedih dan tidak mengijinkan saya untuk pergi ke mana mana.
Di rumah bidan itu aku di kasih sarapan, di kasih air teh manis panas, kata bidan "biar kuat air teh manis nya habiskan". bahkan perut aku di elus elus dan aku makan di suapin sama bidan itu. aku nangis" ya Alloh seandainya suami aku yang nyuapin aku, pasti aku senang" ,ucapan Elisa sambil meneteskan air mata.
Akhirnya, aku dicek di ruang bidan, ternyata aku belum ada pembukaan /tanda tanda mau melahirkan, karena itu kontraksi palsu katanya.padahal aku sudah tidak kuat menahan rasa sakit, terus di tambah lagi aku sedih, aku mau melahirkan tidak ada seorangpun yang menemani aku .mengajak suami malah susah di bangunin. sedangkan aku tidak sempat memberi tahukan mertua dan orang tua aku kalau aku sudah ada di bidan.
Aku mengalami rasa sakit selama lebih dari 30 menit, itupun setelah saya mengalah untuk disuntik.bidan memberi suntikan sampai 5 dosis, namun aku tidak dapat menahan rasa sakit dan mules yang aku rasakan. Akhirnya, stelah 1 jam kemudian, aku di periksa lagi cuman belum ada pembukaan / tanda tanda melahirkan.
Aku mau tidur tapi tidak bisa di rumah bidan itu,malah aku di periksa lagi tapi belum ada hasilnya. aku terus terusan di periksa sama bidan cuman tidak ada reaksi untuk melahirkan. kata bidan, aku masih lama melahirkan nya, sedangkan aku sudah tidak kuat lagi. aku bilang lagi ke bidan berkali kali suruh di periksa lagi, tepi hasil nya masih tetep belum ada pembukaan.
Jam 8 pagi akhirnya suster sudah memberi tahukan keluarga aku, tapi mereka belum datang ke bidan. aku merasa sakit mules di tahan sendiri hanya bisa curhat/ bilang sama bidan yang di sanah, bahkan bidan itu malah meneteskan air mata melihat ke adaan aku seperti itu.
Selama di bidan aku di temani sama bidan, dia yang meluk aku, menyemangatkan aku, me ngelus ngelus pinggang aku di kala aku sedang mules. pokoknya kalau tidak ada bidan itu, aku tidak tau aku harus bagai mana.
Jam 9 pagi akhirnya orang tua dan mertua datang, mamah aku langsung memeluk aku. sedangkan mertua aku bilang ke bidan," kenapa belum di tangani karena menantu saya sudah lama sekali ke sakitan belum ada tindakan sedikit pun", ucapan mertua.
__ADS_1
Bidan pun periksa aku lagi, ternyata dari jam 6 sampai jam 8 c janin nya berada di posisi kepala di atas kaki di bawah. bidan kaget " ko tidak ada reaksi untuk pembukaan/ tanda tanda melahirkan malah posisi janin nya malah sungsang" , kata c bidan.
Aku pun ikut cemas, bingung, kuwatir.aku harus gimana? hati aku makin ga karuan. aku di suruh nungging terus terusan selama 15 menit sekali, biar posisi janin nya normal kembali. aku pun menuruti omongan bidan itu, aku setiap 15 menit sekali terus nungging.
Setengah jam kemudian aku di periksa lagi sama bidan itu. alhamdulillah sudah ada pembukaan ke 2,hati aku sedikit lega walau ada pembukaan cuman 2 . 15 menit kemudian aku di periksa lagi sama bidan, cuman belum ada perubahan lagi,tidak ada pembukaan lagi masih tetep pembukaan 2.
Bidan sudah angkat tangan tidak bisa mengatasinya lagi, karena peralatanya tidak komplit di bidan itu. maka aku harus di rujuk ke rumah sakit besar. katanya anak aku sungsang harus di operasi, hati aku makin ga karuan. aku bingung sedangkan suami aku belum datang juga, terus uang aku tidak banyak. sedangkan operasi harus punya uang banyak
Akhirnya aku di rujuk ke rumah sakit besar, dibawa ke bagian gawat darurat untuk mendapatkan operasi caesar. sebelum di operasi aku di periksa sama dokter terlebih dahulu, pas di periksa sama dokter ternyata aku sudah ada pembukaan 4.
Dokter bilang ke aku, aku tidak jadi di operasi, karena perkembangan janin nya sangat bagus. alhamdulillah aku sangat senang sekali, aku bersyukur sekali karena aku tidak jadi operasi.
Aku di pindahkan ke ruang bersalin, aku harus nunggu pembukaan 8,kalau sudah ada pembukaan aku bisa melahirkan secara normal."ya Alloh gini yah kalau jadi seorang ibu", ucapan Elisa.
Aku jadi teringat pada orang tua aku" gini yah waktu mamah mau melahirkan aku, aku minta maaf mah, aku belum bisa ngebahagiain dan belum bisa ngebuktikn ke mamah. selama hidup aku, aku selalu nyusahin mamah sekali lagi aku minta maaf mah" ucapan Elisa sambil sedih
__ADS_1