Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Persami


__ADS_3

Bel pulang sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu.


Tapi Al tidak melihat Luna sejak tadi, kemana dia.


Al melihat Dinda yang duduk tak jauh darinya.


"Din, Luna kemana?" tanya Al membuat Dinda tersenyum menggodanya.


"Nyariin Luna aja kalau enggak kelihatan mata. Tadi dia pamit ke uks buat istirahat, tapi belum balik sampai sekarang," kata Dinda membuat Al hanya mengangguk.


"Gue pulang duluan ya Al," kata Dinda yang pergi dari ruang osis diikuti oleh anggota lainnya.


Al hanya mengangguk sembari membereskan buku dan kertas lainnya.


Setelah selesai, Al langsung mengunci ruang osis dan menuju uks.


Ceklek


Terlihat Luna duduk di brankar dengan wajah lesu.


"Sorry, gue kira lo tadi kemana. Nih tas lo," kata Al sembari meletakkan tas Luna di sampingnya.


"Rapatnya udah selesai?" tanya Luna sembari memakai jaketnya.


"Udah," jawab Al sembari memalingkan wajah karena malu.


"Makasih ya," kata Luna dan Al hanya mengangguk kikuk.


Hellooo, ini Al Gibran kenapa jadi salting gini di depan Luna, biasanya ini anak pelaku ghosting.


"Aku pulang dulu ya, besok suratnya udah selesai kok," kata Luna memberitahu Al jika tugasnya untuk membuat surat bakal selesai.


"Lo pulang sama siapa?" tanya Al saat Luna membuka pintu.


"Aqila," kata Luna dan pergi menuju kelas untuk menjemput Aqila yang mungkin sekarang sudah menunggunya.


Al keluar dari uks untuk menjemput El dan Dante yang mungkin juga sedang menunggunya.


"Ko," panggil El yang sudah berdiri di depan kelas sembari tersenyum lebar.


"Dante mana?" tanya Al saat tidak melihat adik bontotnya.


"Dante nganterin Aqila pulang, dia bilang Aqila sakit," jawab El membuat pikiran Al seketika langsung menuju Luna.


Kalau Aqila diantar Dante, terus Luna sama siapa.


"El pulang sama koko ya?" tanya El pada Al.


"Sorry El, koko mau nganter Luna, dia juga lagi sakit," kata Al yang langsung berlari menuju gerbang untuk mencari Luna.


"Lah kalau mereka nganter Aqila sama Luna, gue pulang sama siapa dodol," kata El meratapi nasibnya yang jomblo.


"Gini nih, kalau enggak laku. Pulang aja enggak ada temennya. Mana Adam sama yang lain udah pulang lagi," gerutunya sembari menuju gerbang utama.


Ting


El meraih ponselnya, ada pesan dari Dante.


Ko bawa o motornya Aqila di parkiran, nanti tak sharlock rumahnya.


"Kan apa gue bilang, ujung- ujungnya gue pulang sendiri kan," omel El dan berbalik menuju parkiran untuk mengambil motor Aqila.


El menganga saat di parkiran hanya ada satu motor.


Vespa.


"Wah gila, bisa- bisanya mereka suruh El Nino Bradsiton Arganta naik vespa. Awas aja kalian berdua waktu pulang," kata El sembari terpaksa menaiki motor Aqila untuk bisa pulang.


Sedangkan Al mencari Luna yang sudah keluar sekolah, Al menyusuri jalanan.


Dan ketemu, Luna duduk di halte dengan kepala yang menunduk.


Al langsung menghampirinya.


"Ayo pulang," Luna langsung mendongak saat melihat motor berhenti di depannya.


"Enggak usah Al, aku naik bus aja," kata Luna menolak tawaran Al.


Al turun dan menghampiri Luna. Ia memeriksa kening Luna yang sedikit hangat membuat Luna beberapa detik tadi menahan napas.


"Sakit gini masih ngeyel, buruan naik," perintah Al yang terdengar tegas tak terbantahkan.


Luna melirik motor ninja Al yang sangat tinggi, apalagi ia mengenakan rok, mana mungkin.


Al yang tahu pikiran Luna langsung melepaskan hoodienya.


"Berdiri," kata Al yang terdengar ambigu namun Luna langsung menurutinya.


Al melilitkan hoodienya pada rok pendek Luna dan mengikatnya.


"Udah, ayo pulang," kata Al yang sudah naik ke atas motor.


Luna dengan kikuk dan segala rasa canggung naik ke atas motor.


Lalu ia bingung harus pegangan di mana.


Yaudah daripada jatuhkan, Luna berpegangan pada pundak Al.


"Lo kira gue ojek apa pakai pegangan dipundak," kata Al yang sedikit menoleh ke belakang.


Bugh

__ADS_1


"Udah jalan aja, bawel banget jadi orang," kata Luna sembari menepuk punggung Al.


"Awas aja lo jatuh nyalahin gue," kata Al yang melajukan motornya menuju rumah Luna.


Sedangkan Dante sudah sampai di depan rumah Aqila.


"Buset dah La gue boceng lo. Dari sekolah sampai rumah lo nyubitin pinggang gue ditambah mukul kepala kenceng banget," omel Dante yang kesal dengan Aqila.


"Lagian lo ngeselin amat jadi orang, jangan ngebut juga," runtuk Aqila sembari merapikan rambutnya.


"Kan gue udah bilang, pegangan Aqila, lo enggak mau malah pegangan jok belakang, mana persis banget gayanya kayak kakek- kakek dibocengi," ejek Dante yang membuat Aqila tambah sebel.


Bugh


"Masih mending gue pegangan jok belakang daripada pegangan pundak lo kayak tukang ojek," omel Aqila dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa berucap terima kasih.


"Lah enak bener tuh bocah main masuk aja. Mana enggak bilang makasih lagi," dumel Dante yang masih bisa didengar oleh Aqila.


"Dante goblok makasih ye," teriak Aqila dari dalam gerbang rumahnya.


"Dasar mulut mercon, nyesel gue nganterin lo," kata Dante lalu melajukan motornya untuk pulang tanpa ada beban.


15 menit kemudian El baru sampai di depan rumah dengan alamat yang Dante kirimkan.


"Lah kok sepi amat, ini bener rumahnya bukan sih," gumam El sembari menatap ke dalam.


"Cari siapa den?" tanya tukang kebun yang sedang memotong rumput.


"Pak ini benar rumahnya Aqila?" tanya El pada bapak itu.


"Iya den benar," jawabnya.


"Aqila udah pulang belum pak?" tanya El yang sedikit was- was saat tidak melihat motor Dante.


"Sudah den sejak tadi, kayaknya tadi diantar anak laki naik motor besar itu," kata bapak kebun itu membuat El mengusap gusar mukanya.


"Kan apa gue bilang, jangan percaya Dante El," kata El yang menyesali dirinya percaya sama Dante.


"Terus gue pulangnya naik apa coba. Ya kali gue naik vespa buat pulang," kata El yang sangat kasihan sekali melihatnya.


Sedangkan Al baru sampai di rumah Luna.


"Kalau tahu kamu naik motornya selelet ini, lebih baik tadi naik bus aja," dumel Luna sembari mengembalikan hoodie Al.


"Kan lo tadi yang nyuruh buat pelan- pelan," kata Al tidak mau kalah dengan Luna.


"Ya tapi enggak pelan juga Allll," kata Luna yang merasa kesal dan frustasi bicara dengan Al.


"Udah sana pulang, makasih," kata Luna yang langsung naik tangga tanpa mendengar jawaban Al.


"Astaga, serba salah gue sama cewek," gumam Al sembari menatap Luna yang menaiki tangga.


Setelah Luna masuk rumah baru Al pulang.


Sabtu kemudian


Al sudah siap dengan segala persiapan untuk kemahnya.


"Ko udah dicheck barang- barangnya? Takut ada yang tertinggal," kata Sela mengingatkan pada Al.


"Udah ma," jawab Al sembari sarapan terlebih dulu sebelum berangkat.


"Nanti ini kasihkan Luna ya bilang dari calon mama," goda Sela membuat Bara tertawa.


"Apaan sih ma, enggak usah lah," kata Al yang malu terus digoda oleh mamanya.


"Ko tungguin Dante ko," teriak Dante yang keluar dari lift dengan tergesa- gesa bersama El.


"Kalian ngapain ikut, ini kan kemah buat anak kelas 1?" tanya Al yang dijawab dengan senyuman lebar oleh mereka berdua.


"Kami berdua yang jadi perwakilan kelas," kata Dante sembari meminum susunya.


"Apa?" kaget Al saat kedua adiknya yang menjadi perwakilan kelas.


"Iya ko Luna yang milih. Kita enggak bakal ganggu koko kok waktu sama Luna, janji dehh," kata El membuat Al ingin sekali menendang mereka.


Sayang, mama dan papa ada di sini.


"Kita bakal jaga nona Luna buat koko Al," kata Dante yang terlihat sangat bersemangat sekali.


"Kalian hati- hati di sana ya, saling jaga satu sama lain dan jangan sampai terluka. Pokok berangkat bertiga pulang harus lengkap," kata Sela yang panjang lebar membuat Bara kagum akan istri cantiknya ini.


"Iya mama sayang," jawab mereka serempak.


"Ko mau enggak ngasih ke Luna, kalau enggak mau biar Dante aja yang ngasih," kata Sela membuat Bara dan El menahan tawa.


Al melihat bekal yang sudah mamanya siapkan.



"Ma Luna makannya enggak sebanyak itu, kenapa rantangnya besar banget," kata Al protes yang langsung dijulidi oleh Dante.


"Hayo koko kok tahu kalau Luna makannya enggak sebanyak itu?" Sela tertawa pelan sembari menata rantangnya.


"Kan nanti bisa dimakan sama koko," kata Sela sembari meletakkan rantang makannya di samping Al.


"Mana warnanya pink lagi, Al kan malu bawanya," Al terus saja mengomel karena Sela memaksanya.


"Ini bukan pink ko," tegas Sela pada Al agar tidak banyak protes.


"Yaudah kita berangkat dulu ma," kata Al pamit sembari mencium pipi kanan dan kiri Sela.

__ADS_1


"Hati- hati ya sayang," kata Sela sembari mencium ketiga putranya satu persatu.


"Ko tunggu ko," teriak Agam membuat mereka bertiga menoleh dan melihat ketiga adiknya sudah siap dengan baju pramukanya.


"Loh kalian juga ikut?" tanya Dante pada mereka bertiga.


"Iya ko kita yang jadi perwakilan kelas," jawab Daffa yang sangat bersemangat.


"Yes kita bisa tidur bareng di sana nanti," sorak Dante dan ketiga adiknya.


"Kenapa bisa mereka ikut semua ya tuhan. Ini namanya bukan persami yang ada piknik keluarga," gerutu Al membuat semua tertawa.


"Ko jaga adiknya ya," teriak Sela pada Al.


"Ini aja jaga siswa kelas 1 udah pusing apalagi tambah mereka," kata Al sembari masuk ke dalam mobil.


"Yok berangkat," sorak Dante paling semangat dari yang lain.


Al melajukan mobilnya menuju sekolah, karena mereka semua ikut Al terpaksa harus membawa mobil sendiri.


Tadinya Al ingin naik bus saja bersama rombongan osis, tapi berhubung semua adiknya ini ikut, terpaksa Al membawa mobil agar siswa lain ada tempat di bus nanti.


.


.



Terlihat rombongan bus sudah datang dan para siswa sudah bersiap untuk berangkat.


Al turun untuk ikut membantu para osis mengatur siswa masuk ke dalam bus dengan teratur sesuai kelompok.


"Allllll," teriak Leyna dan Bianca heboh. Al mendengus sebal saat mengetahui mereka juga ikut menjadi perwakilan kelas.


"Al udah semua, pak Budi sama pembina yang lain nanti di depan buat mandu busnya," lapor Dinda pada Al.


"Iyadeh. Oh ya, bus untuk osis emang jadi satu sama perwakilan kelas?" tanya Al pada Dinda.


"Iya nih, kayaknya bakal enggak muat, karena ada yang ikut sampai 3 perwakilan juga, termasuk mak lampir itu," kata Dinda sembari menatap Leyna dan Bianca.


"Oh ya Luna mana?" tanya Al membuat Dinda tersenyum menggoda Al.


"Bu negaranya lagi ngambil peralatan P3K sama Aqila, bentar lagi juga ke sini," kata Dinda membuat Al hanya mengangguk.


Al melihat banyak perwakila kelas yang antusias untuk ikut.


Apa nanti muat jika mereka dalam satu bus.


Al menyesali dirinya hanya membawa satu mobil.


"Nah itu Luna," kata Dinda yang langsung menghampiri Luna dan Aqila.


Luna hanya melirik sekilas Al lalu masuk ke dalam bus bersama Aqila dan Dinda.


Al tak kunjung masuk mobilnya, ia menatap apakah Luna dapat tempat duduk atau enggak.


Ternyata Luna duduk bersama Aqila dan Dinda di depan.


Al langsung masuk mobil dan mengikuti bus dari belakang.


"Ko kok enggak naik rombongan osis, entar kalau Luna diambil Daretha gimana?" goda Dante membuat semua cekikikan.


"Kalian ingat ya, jangan buat rusuh atau buat masalah di sana. Koko nanti bakal sibuk ngurus siswa kelas 1 jadi enggak bisa awasi kalian dengan ketat," kata Al memperingati mereka untuk tidak ceroboh atau buat masalah.


"Siap ko, tenang aja Dante bakal jaga mereka kok," kata Dante dengan bangganya.


"Awas aja lo entar malan kencing minta anter," ancam El yang sibuk bermain game bersama Agam.


"Gak papa ko nanti Adam anter," El dan Daffa tertawa mendengar ejekan Adam.


Al melajukan mobilnya mengikuti bus untuk menuju bumi perkemahan.


Sekitar 45 menit lamanya dan mereka telah sampai.


Al harus cepat membantu anggota osis yang lain untuk mengatur mereka agar tidak terpecah dengan kelompoknya.


"Baik anak- anak sekarang semua berkumpul dengan kelompoknya masing- masing. Selama persami ini, jangan sampai kalian terpisah dari kelompok kalian, kalian mengerti?" tanya bu Sari yang menjadi pembina osisnya.


"Siap mengerti bu," jawab mereka serempak.


"Yasudah sekarang kalian bersama kelompoknya, bekerja sama untuk mendirikan tenda sebelum sore karena masih banyak kegiatan yang lainnya," kata bu Sari memberitahu kegiatan yang harus mereka lakukan.


Mereka langsung bekerja sama untuk mendirikan tenda sebelum sore.


Terlihat para siswa sangat kompak dan gotong royong dalam mendirikan tenda.


Al dan rekan osis lainnya sedang mendirikan tenda untuk para pembina.


Sedang anggota osis yang perempuan sedang mendirikan tenda untuk para osis nanti.


"Gak ilang kok Al Lunanya," kata Arka saat melihat Al sesekali melirik Luna.


"Apaan sih lo," ketus Al saat ketahuan melirik Luna.


"Sini- sini kita bantuin, lo duduk aja Lun," Al menoleh saat mendengar suara Dante dan adik- adiknya.


"Cihh, tendanya aja belum berdiri udah bantuin yang lain. Dasar modus," gumam Al yang didengar oleh Arka.


"Hekm dari tadi perasaan pasang tendanya di sini tapi yang dilirik sebelah sana mulu," sindir Arka membuat Al menggampar punggung Arka.


"Apaan sih lo," ketus Al kesal dengan Arka.

__ADS_1


"Bukan apa- apa sih, takutnya salah masang besinya, kan berabe urusannya," kata Arka sembari sedikit menjauh dari Al agar tidak kena pukul lagi.


__ADS_2