Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Cemburu Bilang


__ADS_3

Sudah seminggu lamanya, Leyna tidak masuk sekolah.


Membuat Damar tidak tenang dan terus merasa bersalah.


Pagi sekali Damar buru- buru bersiap untuk pergi ke rumah Leyna mumpung hari minggu.


Ia harus memastikan jika Leyna baik- baik saja setelah kejadian di club kemarin malam.


Damar langsung pergi ke rumah Leyna dengan motor ninjanya.


Damar tidak peduli apa reaksi Leyna nantinya.


Yang jelas ia ingin semua ini cepat selesai, agar Damar tidak terbebani dengan terus menebak- nebak soal kejadian kemarin malam.


Meski berulang kali Damar ingat- ingat dengan jelas tetap saja ia tidak bisa mengingat kejadian malam itu dengan baik.


Yang ia tahu, dia tidur bersama Leyna itupun dengan setengah sadar dari mabuk, karena Damar tidak bisa menahan rasa kantuknya ia kembali melanjutkan tidurnya.


Tapi sepertinya Leyna berpikir jika Damar melakukan hal yang berlebih.


Damar semakin mempercepat laju motornya agar sampai di rumah Leyna.


Tepat pukul 7 Damar sampai di rumah Leyna.


Terlihat sepi sekali, apa mereka belum bangun pikir Damar.


Damar lalu turun dari motor dan berniat untuk mengetuk pintu.


Belum sampai dia mengetuk pintu, Damar mendengar pecahan sesuatu.


Pyarr


Suara pecahan gelas terdengar begitu nyaring sekali.


Damar bersembunyi di balik dinding dekat jendela, mendengarkan suara gaduh dalam rumah.


"Kamu tahu, kamu dan mamamu sama- sama murahan dan jalang," teriak Adi di depan wajah Leyna dengan mata yang memerah.


Desi yang baru saja bangun dan turun dari kamar langsung menghampiri Leyna.


"Sayang, kamu enggak papa kan?" tanya Desi memeluk Leyna dengan erat.


Adi melonggarkan dasinya, berkacak pinggang sembari menatap dua orang di depannya.


"Kamu lihat, karena didikanmu dia mempermalukanku dengan hamil dan menjadi jalang sepertimu," kata Adi membuat rasa nyeri di hati Desi juga Leyna.


"Coba saja kamu tidak memanjakannya dan dia nurut dengan didikkan ku, pasti hal ini tidak akan terjadi," kata Adi yang terlihat tidak bisa mengontrol emosinya.


Desi melepaskan pelukannya pada Leyna lalu berdiri menatap berani pada Adi.


"Kenapa kamu begitu egois dan kasar. Kamu tahu, dia juga putrimu, kenapa kamu....,"


Plak


Satu tamparan keras itu mendarat mulus di pipi Desi.


Desi hanya mengusap pelan pipinya lalu kembali menatap Adi.


"Tidak bisakah kamu bersikap lemah lembut dan jangan selalu bermain tangan?" tanya Desi pelan namun Adi terlalu sensitif.


Bruk


Adi dengan kasar mendorong Desi hingga terjerembab di lantai.


"Papa enggak mau tahu, cari bajingan itu untuk bertanggung jawab, jika kamu tidak mau melihat mamamu kusiksa," kata Adi sembari menarik rambut Desi.


Brak


"Saya yang akan bertanggung jawab," semua menoleh ke ambang pintu dan terlihat Damar menatap sendu Leyna.


"Damar," gumam Leyna yang tak percaya jika Damar akan datang ke rumahnya dan mengaku.


"Oh jadi kamu bajingan itu," kata Adi sembari menghampiri Damar.


"Damar pergi," teriak Leyna yang tidak bisa membantu Damar karena tangannya diikat oleh tali.


Bugh


Terlambat Adi sudah memukul rahang Damar dengan sangat keras.


"Apa kerjaan kamu sampai kamu berani menghamili putriku?" teriak Adi sembari menarik kerah Damar.


Bugh


"Saya akan bertanggung jawab om," kata Damar yang hanya diam saja dan pasrah saat Adi terus memukulinya.


Leyna menggelengkan kepalanya memberikan kode agar Damar tidak melakukan hal itu.


"Tidak Damar, gue enggak mau," tolak Leyna saat Damar ingin bertanggung jawab.


Leyna tidak mencintai Damar, cintanya hanya pada Eros seorang bukan yang lainnya.


"Diam kamu jalang," bentak Adi pada Leyna membuat Desi menatap tajam Adi sedangkan Damar mengepalkan kedua tangannya saat Adi memanggil putrinya sendiri seorang 'jalang'.


"Udah syukur dia mau bertanggung jawab, kamu malah milih orang lain," teriak Adi pada Leyna.


"Dan kamu, tanggung jawabmu enggak sebanding sama kesalahan yang telah kamu perbuat. Bagaimana jika mereka tahu tentang aib ini, betapa malunya diriku nanti," kata Adi yang tak melepaskan cengkraman di kerah baju Damar.


"Setelah kelulusan saya akan langsung menikahi Leyna om, saya akan mempertanggung jawabkan perbuatan saya," kata Damar terdengar sangat tulus sekali.

__ADS_1


"Asal jangan sakiti Leyna dan juga mamanya," Adi tersenyum miring mendengar perkataan Damar.


"Berani juga kamu. Memang apa pekerjaanmu, putriku harus menikah dengan seorang lelaki yang sebanding," perkataan Adi membuat Desi lama- lama geram.


"Berhentilah bertanya dan bersikap kasar padanya, sudah sangat bagus dia mengakui kesalahan dan juga bertanggung jawab," kata Desi angkat bicara.


Plak


Adi melepaskan cengkraman di kerah Damar dan menampar Desi.


"Diamlah, aku tahu apa yang harus aku lakukan," kata Adi kembali menatap Damar untuk mendengar jawabannya.


"Saya pewaris tunggal perusahaan Crope Fashion," Adi tersenyum lebar saat ia mendengar kata perusahaan yang masuk nominasi 10 besar dengan kualitas terbaik.


"Selesai kelulusan, bawa orang tuamu kemari, kita bicarakan pernikahan itu," Leyna menggelengkan kepalanya membuat Damar hanya bisa menatapnya sendu.


Setidaknya ia bisa menolong Leyna dan mamanya dari kekerasan bokapnya.


《♡♡♡》


Sedangkan di bumi perkemahan, persami telah usai dan kini mereka sedang berberes untuk segera kembali ke rumah masing- masing.


Al sudah selesai berkemas dan duduk di bawah pohon sembari menunggu yang lainnya selesai.


Tatapan Al tidak sengaja melihat Luna yang duduk di samping tenda PMR mengobati lukanya sendiri.


Terlihat lututnya begitu merah dan sedikit lebam.


Apa separah itu, pikir Al.


Daretha datang menghampiri Luna. Lalu dengan segala modusnya ia membantu Luna meski Luna sudah menolaknya.


Al memalingkan wajahnya ke arah lain dan ngeselinnya Dante dan yang lainnya sedang mengejek dirinya saat ketahuan diam- diam memperhatikan Luna.


"Astaga, kenapa harus mereka?" gumam Al pelan lalu pergi untuk berkumpul bersama osis yang lainnya.


"Koko kalau cemburu lucu ya," gumam Daffa sembari cekikikan saat tahu Al diam- diam memperhatikan Luna.


"Gue jamin, besok- besok kalau tuh mereka berdua udah jadian, koko pasti bakal bucin banget sama Luna," kata El yang yakin akan perasaannya.


"Ok kita taruhan, kalau koko sampai bucin sama Luna, kita liburan tanpa koko, gimana?" usul Dante yang seketika membuat semua menatap heran Dante.


"Emang boleh sama papa mama apalagi liburannya tanpa koko?" tanya El membuat Dante tersenyum lebar.


"Tenang aja, selama dek Dante yang bilang, semua bisa dibicarakan baik- baik," jawabnya dengan sangat bangga.


"Danteeee," panggil Aqila membuat Dante dan yang lainnya terkejut.


"Astaga toa satu ini bener- bener meresahkan warga hutan, bisa- bisa bukan gue yang datang tapi raja hutan mampus lo," gerutu Dante sembari menatap Aqila yang sedang menatapnya kesal karena tak kunjung datang.


"Udah sana pergi, panggil bini lo noh," kata El membuat Adam dan lainnya tertawa.


"Apa sih manggil- manggil?" tanya Dante kesal.


"Entar kalau naik ke bus, tolong bawain tas gue ya, gue bawain tasnya Luna," kata Aqila berwajah gemas saat dia ada sesuatu pada Dante.


"Ogah, bawa tas gue aja udah berat lo malah suruh gue bawain," tolak Dante tanpa ragu membuat Aqila langsung merengut.


"Ayolah Dante, bawain aja ke busnya entar kalau pulang gue yang bawa," kata Aqila masih memaksa.


"Anak- anak ayo kumpul, kita akan segera pulang," panggil pak Budi membuat semua siswa langsung berkumpul.


"Dante bawain tas gue," teriak Aqila yang langsung berlari untuk berkumpul.


"Astaga gini amat nasib gue, sebenernya gue nih kuli angkut atau apa," gumamnya pelan sembari berjalan menuju tenda Aqila untuk membawakan tas Aqila.


"Serasa bawain tas istri gue," gumamnya pelan saat Dante mengangkat tas Aqila.


"Persami telah usai dan semua kegiatan juga berjalan dengan lancar meski kemarin ada beberapa masalah sedikit," kata pak Budi pada semua siswanya.


"Untuk anggota osis, pramuka dan juga PMR terima kasih banyak atas kerja keras kalian untuk melancarkan acara persami ini, begitu juga pembina pramuka dan PMR, saya ucapkan terima kasih banyak atas waktunya untuk mendampingi anak- anak di acara persami ini," kata pak Budi mengucapkan terima kasih pada semua tim.


"Sekarang sudah pukul 10, sudah waktunya untuk kita pulang. Namun, sebelumnya kita berdoa terlebih dahulu sebelum menutup acara ini," pandu pak Budi untuk berdoa.


Selesai berdoa mereka langsung menuju bus untuk segera pulang.


Satu persatu bus penuh terisi dan tidak sesuai kelompok.


Luna dan Aqila masuk di bus rombongan pembina karena di rombongan osis sudah penuh.


Terlihat Daretha ikut masuk ke dalam rombongan pembina mengikuti Luna dari belakang.


"Wahh si Daretha nempel mulu perasaan kalau sama Luna," kata Dante yang kesal saat melihat Daretha masuk rombongan bersama Luna.


"Wahh parah bisa- bisanya ia duduk sama kak Luna," teriak Adam saat Daretha duduk bersebelahan dengan Luna.


Tanpa sengaja tatapan Luna yang melihat ke luar jendela bertemu dengan mata hazel Al.


Al langsung masuk ke dalam mobil membuat Luna mengangkat sebelah alisnya.


"Eh buruan masuk, koko udah nunggu," kata Agam yang langsung masuk ke dalam mobil.


Satu persatu bus jalan untuk mengantarkan mereka pulang.


Dan mobil Al berada di paling belakang mengikuti rombongan bus.


"Ya allah ko pelan- pelan, Dante masih pengin nikah muda," kata Dante yang berpegangan erat karena Al melajukan mobilnya dengan sangat cepat.


"Ko Adam masih pengin jadi tentara ko, pelan- pelan ko," kata Adam yang juga berpegangan kuat pada Agam.

__ADS_1


"Ini namanya bunuh diri berjamaah ye kan," gumam El yang mencoba tetap cool.


"Setelah ini bakal ada berita, putra Aldebaran mengalami kecelakaan parah dikarenakan patah hati yang berlebihan. Di duga korban menyetir dengan ugal- ugalan setelah melihat kekasihnya bersama pria lain," kata Dante yang menirukan reporter dengan sangat persis.


Seketika semua tertawa keras kecuali Al.


"Udah ngelawak juga tapi jantung gue tetep berdebar kayak yang mau lompat dari tempatnya, cepet banget detaknya," gumam Dante sembari memegangi dadanya.


"Daffa udah ketawa tapi jantung Daffa masih berdetak ini ko," seketika semua melongo mendengar ucapan Daffa.


Bugh


Dante memukul bahu Daffa karena kesal.


"Kalau enggak berdetak itu mati bego," kata Dante kesal pada Daffa.


.


.


.


Setelah 45 menit mereka sampai di sekolah dengan selamat.


Terlihat deretan mobil orang tua mereka yang sedang menunggu kedatangan putra- putrinya.


Satu persatu dari mereka langsung pulang satunya lagi ada yang masih menunggu di pos satpam karena belum dijemput.


Terlihat Aqila dan Luna duduk di pos satpam.


Al berjalan menuju pos satpam saat melihat Daretha juga berjalan menuju pos satpam.


"Wah persaingan sengit nih kayaknya,"


"Kira- kira siapa yang bakal sampe duluan?"


"Kayaknya mulai sekarang kalau koko cemburu gara- gara Daretha kayaknya kita deh yang bakal jadi sasaran empuknya,"


Ucapan Dante seketika membuat mereka mengangguk.


Sedangkan di satu sisi, Al ternyata kalah cepat dengan Daretha.


Daretha menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang.


"Gimana, mau enggak?" tanya Daretha membuat Luna dan Aqila saling menatap.


"Mereka pulang sama gue," sahut Al membuat Luna dan Aqila bersamaan mengangkat kedua alisnya.


"Tapi bukannya lo sama adik- adik lo?" tanya Daretha sembari menatap kelima adiknya sedang menunggunya di dekat mobil.


"Mereka bisa pulang dijemput sopir," jawab Al cuek karena ia terlalu malas berbicara dengan Daretha.


"Biar gue aja, gue sendirian kok, kasian adik- adik lo nungguin," kata Daretha yang terdengar seperti mengejek.


Sedangkan mobil Aqila sudah datang, Aqila memberikan kode pada Luna untuk meninggalkan dua laki- laki yang sibuk berdebat ini.


"Dasar cowok banyak modusnya," gerutu Aqila sembari membantu Aqila masuk ke dalam mobil.


Sedangkan di sisi lain Dante dan yang lainnya melihat Luna dan Aqila yang sudah pulang tanpa sepengetahuan Al juga Daretha yang sibuk berdebat.


"Wah gawat kayaknya setelah ini koko bakal tambah marah nih,"


"Sebelum koko ngamuk, buruan masuk kamar,"


"Bale bale bale bale," kata Dante dengan bahasa Korea bergegas untuk masuk ke dalam mobil.


"Gue ngerasa kayak hidup di jaman kolosal," gumam Adam membuat Agam cekikikan.


Dan Al berjalan menuju mobil saat mengetahui Luna dan Aqila sudah pulang.


Terlihat wajah Al begitu dingin dan cuek sekali.


Sangat mengerikan.


Brak


Al membanting pintu mobil membuat mereka mengusap dada masing- masing karena terkejut.


"Ko beli es krim yuk," ajak Dante membuat semua langsung membungkam mulut Dante agar tidak berbicara.


Sekitar 2 menit lamanya, Al tidak kunjung menjalankan mobilnya.


"Dante periksa keluar mesinnya," perintah Al pada Dante.


"Iya ko," jawab Dante yang bergegas untuk memeriksa mesin mobilnya.


"Enggak papa nih ko mesinnya," kata Dante yang kembali masuk ke dalam mobil.


"Tapi kok enggak bisa nyala," kata Al yang bingung.


"Masak sih?" Dante sedikit memajukan tubuhnya untuk melihat.


"Gimana mau nyala belum dihidupkan sama koko," Al benar- benar sangat malu saat ini.


Dante cekikikan melihat wajah kokonya.


"Tenang ko, jangan panik karena hatinya panas," kata Dante membuat Al melirik sekilas.


"Kalau cemburu bilang ko," gumam mereka pelan secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2